
"Sherlyna buka mulutnya."
"Nggak mau, Astaga!"
"Sherlyna makan dulu, elah... Gue udah baik hati ini mau nyuapin lo."
"Gue nggak mau Michael, itu makanannya hambar."
"Ck! Yang namanya orang sakit makanannya emang kayak gini."
"Gue nggak sakit."
Michael menghembuskan nafas lelah, entah sudah berapa lama ia membujuk Sherlyna untuk makan. Tapi hanya satu suap saja yang masuk kedalam mulut Sherlyna. Michael tau jika Sherlyna sebenarnya lapar, karena sejak kemarin kan dia tidak makan apa pun.
"Pagi." ucap dokter yang baru saja masuk keruangan Sherlyna, tentu saja dengan seorang suster yang selalu bersamanya.
"Pagi dokter." Michael sapa balik.
"Dokter katanya hari ini gue boleh pulang, kenapa sampe sekarang gue masih ada disini?" tanya Sherlyna langsung. Dia sangat bosan berada di rumah sakit yang hanya tiduran saja, karena Michael tidak mengizinkan ia untuk keluar ruangan.
Jangankan keluar ruangan, ke kamar mandi saja harus di temani Michael. Ya walau Michael hanya berdiri di luar kamar mandi, tapi kan itu sangat berlebihan baginya.
Seperti biasa sangat dokter akan selalu tersenyum kearah pasien. "Kenapa sarapannya nggak di makan?" ucapnya malah balik bertanya membuat Sherlyna memutar bola matanya kesal.
"Saya sudah membujuknya untuk makan dok, tapi sepertinya istri saya memang betah di rumah sakit." ucap Michael.
"Nggak doyan gue di suruh makan makanan hambar kayak gitu." balas Sherlyna kesal.
"Tapi Anda harus memakannya dan menghabiskan dan setelahnya Anda juga harus minum obat." ucap dokternya.
Sherlyna menggelengkan kepalanya.
"Anda ingin segera pulang bukan?"
Sherlyna pun menganggukkan kepalanya, sudah dari kemaren ia ingin pulang.
"Kalau begitu Anda harus memakan sarapan ini dulu, lalu minum obatnya... Baru Anda bisa pulang." ucap dokter lagi.
"Nggak ada makanan lain apa? Gue nggak doyan sumpah."
"Nggak, Anda memang harus memakan itu."
"Oke, tapi setelah itu gue pulang."
Dokter itu tersenyum lalu mengangguk dan menyuruh suster yang bersamanya tadi untuk mengambil sesuatu.
Dengan amat sangat terpaksa akhirnya Sherlyna pun menghabiskan sup dan bubur tanpa rasa itu, lalu minum obat yang di bantu oleh Michael.
Suster yang tadi pergi sudah kembali datang yang di kira nya akan melepas infusan Sherlyna malah menggantinya dengan yang baru.
"Kenapa malah di ganti yang baru, gue mau pulang." ucap Sherlyna.
"Ya Anda akan pulang nanti setelah cairan infusan ini habis karena kami Nggak bisa membiarkan Anda pulang jika kondisi tekanan darah Anda masih belum stabil... Kami permisi dulu." ucap dokter itu lalu pergi bersama dokter.
Dan Sherlyna melotot tidak percaya, bahwa barusan dirinya telah di bodohi oleh dokter itu.
__ADS_1
"Sialan!" gerutunya.
Sherlyna menatap Michael yang memegangi perutnya karena menahan tawa. "Puas lo."
Sherlyna menggelengkan kepalanya, lalu berdeham untuk meredakan tenggorokannya. "Sabar ya."
"Terus aja bilang gitu sampe gue mati berdiri di rumah sakit!" pekik Sherlyna.
"Tapi lo kan tiduran." ucap Michael menggoda Sherlyna.
Sherlyna menggeram kesal, "tau ah gue capek mau tidur."
"Eh tadi Ayah nelfon dan nanyain kabar lo." ucap Michael, ia duduk di kursi samping ranjang Sherlyna.
"Terus lo bilang apa? Lo nggak bilang yang sebenarnya kan?" tanya Sherlyna.
"Nggak... Gue cuma bilang kalau lo lagi di rumah sakit karena kecapean." ucap Michael.
Sherlyna menatap Michael kesal. "Itu sama aja bego!"
"Ya nggak lah, beda. Kan yang sebenarnya lo masuk rumah sakit karena keguguran bukan karena kecapean." balas Michael.
"Tau ah."
"Ayah lo nggak bisa datang kesini... Dia cuma bilang kalau lo nggak boleh terlalu capek."
Pukul 11.30 WIB.
"Akhirnya gue bisa pulang juga." ucap Sherlyna senang lalu melompat turun dari mobil. Saat ini memang ia sudah pulang ke rumah Michael.
Michael yang melihat Sherlyna turun dari mobil dengan cara seperti itu langsung panik. "Sherlyna hati-hati."
Sherlyna menghentikan langkahnya lalu menatap Michael yang kini juga berdiri di sampingnya. "Nggak usah lebay deh lo."
"Ya Tuhan Sherlyna, bukanya gue lebay... Tapi lo itu kan baru aja keguguran, emang nggak sakit apa?"
"Kagak."
"Eh, masa?"
Sherlyna pun kembali berjalan dan meninggalkan Michael yang menurutnya terlalu lebay. Dia tidak apa-apa kok, dia kuat, liat saja dia bahkan bisa menyembunyikan rasa sedihnya dari Michael kan?.
Sherlyna membuka pintu rumah, namun sebelum ia membuka pintu itu sudah terbuka dari dalam. Sherlyna melotot saat tau siapa yang membuka pintu.
Seorang lelaki tersenyum kearah nya membuat Sherlyna menelan ludah dengan gugup. Bagaimana dia bisa ada di sini?
Sherlyna memang sangat merindukan sosok di depannya itu, tapi masalahnya ini adalah rumahnya Michael dan bagaimana----
"Lo nggak mau peluk gue?" tanyanya.
__ADS_1
Sherlyna melelan ludah pahitnya, ia melihat kearah Michael yang ternyata berdiri di sampingnya, lalu kembali melihat kearah depannya. Lelaki itu masih saja memasang senyum manisnya, berbeda dengan Michael yang hanya memasang wajah datar.
"Mario, bagaimana lo bisa ada di sini?"
"Memangnya gue nggak boleh ya nemuin pacar gue sendiri." ucap Mario seraya menekan kata pacar dan ia melirik Michael saat mengatakannya.
"Bukan\-bukan seperti itu, tapi kan\-\-
Ucapan Sherlyna berhenti karena tiba-tiba saja Mario telah memeluknya di hadapan Michael. Oke, Sherlyna senang karena pada akhirnya ia bertemu dengan Mario tapi masalahnya di sini ada Michael dan dia merasa tidak enak akan hal itu.
"Gue kangen banget sama lo." ucap Mario lirih.
"Gue juga kangen sama lo." ucap Sherlyna tidak kalah lirih dan berharap Michael tidak mendengarkan ucapannya.
Mario melepas pelukannya lalu menggenggam tangan Sherlyna dan membawanya memasuki rumah.
"Lo baik\-baik aja kan?" tanya Mario, saat ini ia berada di sofa ruang tamu.
"Hah?"
Jujur Sherlyna tidak terlalu fokus dengan apa saja yang telah Mario bicarakan. Karena ia sibuk mencari keberadaan Michael di mana.
"Lo lagi mikirin apa sih?" tanya Mario seraya menangkup kedua pipi Sherlyna.
"Gue nggak mikirin apa\-apa kok."
Mario menggelengkan kepalanya. "Lo nyari Michael, ya."
"Eh bagaimana lo tau... Maksud gue bukan begitu tapi\-\-\-\-
Sherlyna mengejapkan matanya saat tiba tiba Mario mencium bibirnya.
"Gue ada disini, kenapa lo mikirin dia." ucap Mario.
"Gue\-\-\-
"Lo mencintai Michael?" tanya Mario.
Sherlyna menggelengkan kepalanya membuat Mario tersenyum. "Bagus, gue nggak mau kalau sampe lo mencintai dia... Lo itu milik gue dan tetap akan jadi seperti itu."
Sherlyna masih bingung dengan kenapa Mario bisa ada dirumah Michael dan bahkan Michael sepertinya tidak perduli dengan keberadaan Mario. Dia juga bingung kenapa ia merasa sangat bersalah saat bersama Mario. Dia merasa bahwa ini semua terasa salah.
"*Gue nggak* akan pernah melepaskan apa pun yang sudah menjadi *milik Gue, Sherlyna itu* milik *Gue* dan akan tetap seperti itu!" ucap seseorang dalam *hati seraya menatap Mario dan Sherlyna*.
__ADS_1