BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 30. Mario atau Michael?


__ADS_3

Sherlyna menghembuskan nafas panjang berkali kali, guna untuk meredakan sesak di dadanya. Namun rasa sesak itu tidak kunjung hilang, dia tidak tau kenapa dia bisa seperti ini. Seharusnya apa yang dia lihat dan dia dengar itu tidak akan membuatnya marah, dan sakit hati karena dirinya pun melakukan hal yang sama. Tapi entah kenapa rasanya sangat menyesakkan, apa itu di karenakan dirinya sudah mulai ada rasa dengan Michael?


Tidak!


Sherlyna menggelengkan kepalanya kuat kuat, dia tidak menyukai Michael. Dia hanya mencintai Mario seorang. Mungkin dia merasa marah karena---


Brak!!


Sherlyna melempar ponsel yang sejak tadi ia genggam dengan erat kearah lemari. Tidak peduli jika barang itu akan hancur karena ulahnya. Dia sedang bingung dengan perasaannya sendiri saat ini.


"Sial!" umpatnya kesal.


"Mau kemana sayang?" tanya Ibu mertuanya saat melihat Sherlyna yang terburu buru akan pergi.


Sherlyna tersenyum kearah Ibu mertuanya itu. "Keluar sebentar Ma." balas Sherlyna.


Ibu mertuanya mengerutkan dahinya. "Kemana? Ini sudah jam sembilan malam loh."


"Mini market depan, bentar aja kok Ma." ucap Sherlyna  lalu menyalami Ibu mertuanya sebelum benar benar membawa mobilnya pergi jauh dari rumah.


Sherlyna memukul stir mobil berkali kali karena kesal dengan dirinya sendiri. Bingung dengan dirinya yang merasa marah, sedih, kecewa bercampur jadi satu.


"Apa ini yang Michael rasain waktu gue masih pacaran sama Mario padahal udah nikah dama dia." gumamnya pelan.


"Tapi kan pernikahan ini hanya pura pura. Seharusnya gue nggak boleh marah cuma liat kayak gitu, bukankah dulu juga mereka memang gitu."


Sherlyna menghentikan mobilnya di pinggir jalan, kembali menghela nafas berkali kali untuk mengusir rasa sesak di dadanya yang tidak kunjung pergi.


"Dan bukanya gue juga yang nerima tantangan Anggun buat ngambil Michael dari gue, tapi kenapa setelah itu semua terjadi rasanya dada gue sakit banget."


"Gue nggak rela... Haisss gue kenapa sih!"


Sherlyna berseru kesal lalu kembali menjalankan mobilnya menuju tempat nongkrong teman temannya.


"Wahh liat Sherlyna datang lagi." seru salah satu dari mereka saat melihat Sherlyna turun dari mobil.


Sherlyna yang tersenyum masam dan mengendikkan bahunya acuh.


"Tapi sayangnya Mario nggak ada di sini." ucap yang lainnya.


"Gue lagi nggak nyari Mario kok." balas Sherlyna melewati mereka yang nongkrong di depan markas.


"Sherlyna, apa yang lo lakuin di sini?" Beni terkejut saat melihat Sherlyna datang kemarkas tanpa Mario.


"Kok gitu! Biasanya juga gue di sini kan." ucap Sherlyna acuh lalu menghempaskan diri nya di sofa single.


"Tapi kan lo udah nikah, harusnya lo nggak keluyuran ke sini lagi." ucap Beni.


"Hahaa nikah ya." ucap Sherlyna dengan tertawa garing.


"Apa ada masalah?" tanya Beni lagi.


"Nggak ada, gue cuma pengen main aja. Lagian udah lama kita jarang ketemu." ucap Sherlyna.


"Lo muu ngapain?!" pekik Beni kaget saat Sherlyna meraih sebungkos rokok di meja.


Sherlyna mendengus menatap Beni geli. "Lo kenapa sih Ben, aneh banget."

__ADS_1


Beni mengambil semua bungkus rokok yang ada di meja, menyingkirkannya dari jangkauan Sherlyna.


"Beni!"


Sherlyna berseru sebal saat ia baru saja akan menghisap rokoknya tapi sudah lebih dulu di ambil Beni dan di buangnya ke lantai kemudian di injaknya. Sherlyna hanya bisa menatap nanar rokok yang sudah mati itu.


"Lo kalau ada masalah di selseiin dengan kepala dingin, bukan malah cari masalah lain." ucap Beni, dia merasa ada yang tidak beres dengan Sherlyna.


Selain Sherlyna biasanya tidak datang kesini lagi jika bukan dengan Mario. Beni juga masih bisa melihat bercak air mata di pipi Sherlyna.


Wanita itu baru saja menangis dan siapa pria yang berani membuat wanita ini menangis.


Beni mengepalkan tangannya kuat kuat saat tiba tiba saja ada sebuah pesan dari Mario.


"Dia nggak lebih baik dari gue."


Dan matanya hampir saja keluar saat memutar video yang Mario kirim. Apa ini yang membuat Sherlyna menangis?


"***!"umpatnya kesal.


Sherlyna yang mendengar umpatan Beni pun menatap Beni dengan kening berkerut bingung.


"Lo kenapa Ben?"


"Gue mau nanya sama lo dan lo harus jawab jujur ya." ucap Beni.


"Mau nanya apa dah?" tanya Sherlyna balik.


"Lo itu sebenarnya suka nggak sama Michael? Perasaan lo itu buat Mario atau Michael?" tanya Beni.


"Karena gue mau ngasih tau lo sesuatu."


"Dan apa sesuatu itu?"


"Lo jawab dulu pertanyaan gue tadi, lo sukanya sama Michael apa masih sama Mario?"


Sherlyna mendengus kesal. "Sama Mario." ucap Sherlyna tidak yakin.


"Yakin?"


"Mau ngasih tau apaan sih emang?" Tanya Sherlyna.


"Lo udah tau lah kalau Michael itu keponakan Mario dan lo juga harus tau kalau Om dan Keponakan itu sama sama bangsatnya!"


"Terus?"


"Terus kalau lo masih sukanya sama Mario kenapa lo habis nangis?" Tanya Beni.


"Siapa yang habis nangis." Ucap Sherlyna mengelak.


"Itu masih keliatan dengan jelas bekas air mata di pipi lo." ucap Beni.


Sherlyna menghela nafas panjang, Beni memang paling tau dirinya.


"Jujur, gue nggak tau sama perasaan gue sendiri.... Gue masih cinta sama Mario, tapi gue juga ngerasa di hianati sama Michael..." ucap Sherlyna.


Beni memberi isyarat untuk teman temannya yang lain keluar dulu dari ruangan itu.

__ADS_1


"Lo udah mulai suka sama Michael." ucap Beni.


"Nggak!" bantah Sherlyna.


"Nggak usah ngelak, kalau lo nggak suka sama Michael. Mana mungkin lo nangis karena dia." Ucap Beni.


"Nggak tau, mungkin karena gue istrinya." balas Sherlyna pelan.


"Gue nggak tau harus dukung hubungan lo sama yang mana karena nyatanya mereka berdua sama aja bajingannya... Tapi saran gue sih, lo harusnya sama Mic aja karena kan lo sama dia udah nikah. Siapa tau aja dia bakalan tobat nanti." ucap Beni panjang lebar.


Sherlyna hanya mengendikan bahunya acuh, sekuat tenaga dia menghalau air matanya yang hendak meluncur.


"Michael nelpon gue, emang lo nggak bawa hp." ucap Beni heran.


"Nggak. Hp gue rusak." balas Sherlyna acuh.


"Lo tunggu bentar ya, gue mau nelpon balik Michael dulu." ucap Beni.


Sherlyna mengangguk, lalu tidak lama dari itu Mario datang.


"Kok nggak ngasih tau sih kalau mau ke sini?" tanya Mario langsung.


"Lain kali kabarin dulu kalau mau ke sini, untung tadi anak anak ada yang ngasih tau gue." lanjut Mario.


"Hp gue rusak, nggak bisa ngabarin." balas Sherlyna.


Marip menghela nafas panjang lalu berjalan kearah Sherlyna.


"Lo abis nangis?" tanya Mario seraya mengangkup kedua pipi Sherlyna.


Sherlyna menggelengkan kepalanya. "Nggak."


"Tapi ini bekas air mata." ucap Mario mengusap pipi Sherlyna yang masih ada sisa sisa air matanya yang sudah kering.


"Cuma kelilipan tadi.." balas Sherlyna mengelak.


Mario terawa garing. "Siapa yang buat lo nangis? Apa Michael?"


"Nggak! Gue cuma kangen orang tua gue aja." balas Sherlyna.


"Yakin?" tanya Mario.


Sherlyna mengangguk.


"Hei apa-apaan sih deket deket Sherlyna... Sana jauh jauh."


Mario mendengus saat Beni datang dan menarik tangannya menjauhi Sherlyna.


"Dia udah kayak kakak lo aja Sherlyna." ucap Mario.


Beni melotot garang kearah Mario yang sepertinya sengaja berkata demikian.


"Biarin, dia kan emang kakak gue." balas Sherlyna.


Beni dan Mario menatap Sherlyna tidak percaya, apa Sherlyna sudah tau semua? Batin mereka.


[ an : jangan lupa like, vote atau komentar setelah membaca yah... jangan jadi pembaca gaib yang kabur setelah membaca ;)]

__ADS_1


__ADS_2