
Bagian 47.
Setelah mengatakan akan tinggal bersama Michael dan Sherlyna, Mario mengabaikan protesan Michael yang tidak mengizinkan dirinya untuk tinggal dan memilih berbicara pada baby Devandra yang hanya diam menatapnya polos.
"Pokoknya gue nggak setuju." Ucap Michael.
"Gue nggak minta persetujuan lo, Ver. Gue cuma bilang kalau mulai hari ini gue tinggal disini." ucap Mario santai.
Michael bersedekap menatap Mario tidak suka. Michael yakin pasti ada maksud lain dari kelakuan Mario saat ini. Mana mungkin hanya karena baby Devandra, bisa jadi karena Mario ingin Sherlyna kembali bersamanya kan?
"Om Mario serius mau tinggal di sini?" tanya Sherlyna.
Mario mengangguk. "Ya."
"Kenapa?" tanya Sherlyna lagi.
Mario menggelengkan kepalanya. "Nggak tau, tapi sejak gue ketemu langsung sama baby Devandra. Gue ngerasa kalau gue itu sayang banget sama dia dan nggak mau pisah sama baby Devandra... Semalam aja gue terus ke pikiran baby Devandra." jelas Mario bingung sendiri.
"Kok bisa?" tanya Sherlyna bingung.
"Nggak tau, tapi hati gue nggak tenang kalau nggak liat baby Devandra dalam waktu lama." ucap Mario.
"Modus." cibir Michael.
"Michael sebaiknya kamu mandi, aku udah siapin air hangat sama pakaian kamu tadi." ucap Sherlyna.
"Terus ngebiarim kamu berduan di kamar dia." ucap Michael seraya menunjuk Mario.
"Dih mandi aja masih di ladeni kayak bocah." ucap Mario mengejek Michael.
"Sirik aja lo kagak punya istri!" seru Michael.
Sherlyna menghela nafas panjang. "Sini baby Devandra nya mau mandi dulu." ucap Sherlyna mengambil baby Devandra dari pangkuan Mario.
"Yaudah gue juga mau siap siap." ucap Mario lalu keluar kamar Michael dan Sherlyna menuju kamar tamu.
"Sayang kamu yakin mau ngebiarin Dia tinggal disini?" tanya Michael tidak rela dengan keputusan sepihak Mario.
"Michael, dia itu Om kamu. Sopan dikit bisa." ucap Sherlyna.
Michael berdecak. "Aku yakin dia itu sengaja tinggal di sini biar bisa pisahin kita. Dia itu kan masih cinta sama kamu."
Sherlyna menghela nafas. "Michael, kamu percaya kan kalau aku cinta sama kamu?" tanya Sherlyna.
__ADS_1
Michael pun mengangguk. "Kalau begitu, yakinlah kalau aku hanya untuk kamu." ucap Sherlyna.
"Aku percaya dan aku yakin kalau cintamu hanya untukku. Tapi aku nggak percaya sama OM Mario." ucap Michael.
"Michael, please deh... Kepalaku lagi pusing, jangan buat tambah pusing lagi." ucap Sherlyna seraya melepaskan pakaian baby Devandra.
"Maaf." ucap Michael lirih. Michael hanya terlalu takut kehilangan Sherlyna.
"Sudah sana mandi." ucap Sherlyna.
"Aku mau bantuin kamu mandiin baby Devandra." ucap Michael.
Sherlyna tidak membalas ucapan Michael dan membiarkan Michael membantunya memandikan baby Devandra.
Michael memperhatikan cara Sherlyna memandikan dan memakaikan baby Devandra. "Kamu belajar dari mana kok pandai banget ngurus bayi?" tanya Michael.
Sherlyna tersenyum, "cari di youtube."
"Hah?!"
"Sudah sana mandi, jangan bilang hari ini nggak mau ngantor lagi." ucap Sherlyna.
Michael cemberut. Dulu bahkan Michael ke kantor bisa di hitung dengan jari karena ada Ayahnya. Tapi sekarang, hanya ada Mario dan dia harus menjalankan perusahaan itu dengan baik baik.
Michael menghembuskan nafas panjang lalu bergegas memakai baju yang telah Sherlyna siapkan. Saat memasang kancing baju, doa baru ingat jika ada Mario di rumah itu. Maka dengan buru buru Michael merapikan dirinya dan langsung keluar kamar.
Michael melihat Mario yang tengah berbicara dengan baby Devandra dengan suara riang. Sepertinya Mario memang bahagia bersama baby Devandra.
"Ikatan hati memang kuat." gumamnya dalam hati.
Michael menghampiri Sherlyna yang tengah memasak sesuatu di dapur. "Sayang, kamu itu lagi hamil loh. Biarkan para pelayan aja yang masak, aku nggak mau ya bayi kita kenapa napa kaerena kamu ke capek'an." ucap Michael.
Sherlyna tersenyum. "Cuma masak sarapan. Nggak akan membuat aku lelah Michael, kamu jangan lebay."
"Sayang, aku bukan lebay. Tapi--
"Selagi aku belum ngerasa mual lagi, biarkan aku melakukan apa yang aku mau Michael." ucap Sherlyna.
Michael menghela nafas, sepertinya hari ini dia sudah banyak menghela nafas. Mempunyai istri yang keras kepala memang harus ekrta sabar.
Michael pun mengalah dan memilih menatap para pelayan yang berdiri tidak jauh dari Sherlyna.
"Kalian bertiga siapa yang sudah punya anak, bantu Sherlyna menjaga baby Devandra."
__ADS_1
Sementara itu di ruangan lain, Mario masih asik berbicara dengan baby Devandra.
"Kenapa aku ngerasa nggak asing sama wajah kamu ya." ucap Mario.
"Aku kayak pernah liat wajah kamu, tapi versi dewasa." ucap Mario lagi.
"Ck! Iyalah, kamu mirip sama Michael. Huh, kenapa sih kamu harus jadi anak Michael, nggak jadi anakku aja." ucap Mario kesal.
'Aku mah gitu orangnya, nggak suka marah marah. Di duain nggak apa-apa di putusin okelah.'
Mario mendengus saat mendengar nada dering dari ponselnya yang menurutnya sangat ngena di hati.
"Ada apa?" tanya Mario saat melihat yang menelponnya adalah salah satu temannya.
"Gue udah tau keberadaan Widya bos."
"Widya siapa?" tanya Mario bingung.
"Ck! Widya yang dulu hamil anak lo."
"Oh dia, dimana dia sekarang. Dia beneran gugurin anak itu kan?" tanya Mario lagi.
"Iya dia, hmm dia ternyata nggak gugurin mandi waktu itu bos dan udah lahiran beberapa bulan yang lalu."
"Apa?!"
Mario berseru kaget mendengar kabar itu, Widya adalah salah satu wanita yang dia menangkan dalam taruhan balap mobil. Dan tidak sengaja Mario membuat wanita itu hamil, namun Mario sudah memberikan banyak uang pada wanita itu untuk menggugurkan kandungannya.
Tidak di sangka jika wanita itu tetap mempertahankan kadungannya dan sampai melahirkan, padahal wanita itu anak kuliahan.
"Bos lo masih denger gue ngomong kan?"
"Ya, lo tau dimana sekarang dia tinggal."
"Nah itu masalahnya bos, Widya meninggal setelah beberapa hari lahiran dan nggak tau siapa yang adopsi bayi itu... Pihak rumah sakit bungkam soal itu."
Mario menelan ludahnya. "Widya meninggal?"
"Widya siapa?"
Mario langsung memutuskan sambungan telponnya saat mendengar suara Sherlyna yang kini berjalan ke arah nya bersama dengan Michael.
"Widya, itu salah satu temennya temen gue." ucap Andre gugup.
__ADS_1
Sherlyna hanya mengendikkan bahunya acuh, sementara Michael sudah menatapnya curiga.