BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 21. Cinta Butuh Pengorbanan


__ADS_3

[Annastasia Sherlyna Veronica.]


              "Sherlyna"


"Lo masih marah ya sama gue?"


Gue mendengus, menatap kesal kearah Michael yang sedang menatap gue dengan wajah tanpa dosa.


"Gue kan udah minta maaf."


Ya kali dengan hanya minta maaf semua akan kembali seperti awal?! Nggak kan?


"Ini udah hari ke tiga lo diemin gue."


"Maafin gue dong."


"Gue harus ngapain biar lo mau maafin gue."


Gue bangkit dari kursi ruang makan, karena selera makan gue langsung hilang karena Michael.


"Sherlyna, mau kemana?"


Gue nggak menggubris Michael dan tetap melangkahkan kaki meninggalkan ruang makan. Menaiki anak tangga satu persatu, sesampainya di lantai atas, gue langsung memasuki kamar dan menutupnya kembali.


"Sherlyna."


Gue menoleh saat mendengar suara Michael yang memanggil gue, ternyata dia ngikutin gue sampe kamar. Sudah tiga hari ini memang gue sengaja mengabaikan Michael, gue kesel dengan apa yang Michael lakukan waktu itu.


Gue nggak akan mengatakan apa yang telah Michael lakukan, karena itu memalukan! 😊


"Gue harus pergi."


Walau gue nggak pernah mau membalas satupun ucapannya, tapi gue tetap mendengar semua yang dia ucapkan ke gue.


"Gue akan ke Singapura, gue nggak tau kenapa Papa maksa gue buat ke sana."


Emang gue peduli. Batin gue bodo amat.


"Gue nggak tau apa yang mau Papa omongin, sampe-sampe maksa gue harus ke Singapura."


Tinggal pergi aja kok repot.

__ADS_1


"Gue juga nggak tau berapa lama gue bakalan ada disana, tapi secepatnya gue bakalan pulang."


Nggak pulang juga nggak apa-apa kok.


"Sebenarnya gue nggak bisa ninggalin lo, tapi--


"Ahh sudahlah, gue udah nelfon Ayah dan nanti adik lo bakalan kesini buat nemenin lo selama gue di Singapura ."


Dipikir gue anak kecil apa pake harus di temenin segala? Eh tapi gue juga kangen mereka kok😢


"Jaga diri baik baik ya, gue sayang sama lo."


Gue cuma diam dan menutup mata gue saat Michael berjalan kearah gue dan mencium kening gue, nggak cuma itu aja. Karena Michael juga mencium seluruh wajah gue dan berakhir di bibir.


"Gue bakalan kangen sama ini semua."


Gue nggak!


"Ya udah gue pergi dulu ya, kalau ada apa-apa langsung telfon gue."


Mau pergi tinggal pergi elah😡


Gue menghela nafas panjang lalu menghempaskan diri gue ke ranjang, memegang dada gue yang terasa aneh saat Michael pergi. Bukan karena gue nggak rela kalo Michael pergi ke singapure, gue malah seneng kok bisa jauh dari Michael. Kan kalau nggak ada Michael gini gue bisa bebas, ya gue bisa bebas.


"Ck!"


Gue berdecak kesal karena setiap gue menghubungi nomernya Mario, pasti selalu saja hanya tersambung pada mbak mbak operator.


Lo sebenarnya dimana sih, Mario?


Kenapa lo nggak ada kabar kayak gini, ini nggak kayak biasanya. Apa lo udah nggak sayang lagi sama gue dan lo ninggalin gue gitu aja tanpa penjelasan?


Nggak! Nggak! Gue nggak boleh berfikiran kayak gitu, kita udah lama menjalin hubungan ini dan nggak mungkin kalau Mario main ninggalin gue gitu aja tanpa penjelasan.


Tapi nyatanya?


••••


Author Pov.


Michael menatap kedua orangtuanya dengan tidak mengerti, entah penjelasan orang tuanya yang terlalu ribet atau memang Michael yang sengaja tidak ingin mengerti.

__ADS_1


"Ma, aku---


"Michael, kamu sayang oom Mario kan?" tanya Ayah Michael memotong ucapan Michael.


Michael mengangguk. "Ya." gumamnya pelan.


"Kami harap kamu bisa mempertimbangkan permintaan kami, Michael. Kami tau jika itu mungkin saja akan menyakiti kamu, tapi Papa mohon sama kamu... Bukan-nya Papa pilih kasih dan nggak sayang sama kamu, tapi kamu tau kan kalau ahh Papa nggak tau gimana cara jelasinnya." ucap Ayahnya Michael panjang lebar.


Adrian tau apa yang dia minta pada putranya itu bukanlah hal yang mudah, selain itu akan menyakiti anaknya sendiri. Tapi Adrian bisa apa? Dia juga tidak ingin kehilangan adik satu-satunya yang dia miliki.


Katakan Adrian egois, karena pada kenyataannya Michael juga adalah anak satu-satunya. Bukan keputusan yang mudah bagi Adrian untuk meminta hal konyol itu pada Michael, karena ia sudah cukup lama memikirkan hal itu.


"Michael nggak tau, Michael butuh waktu." ucap Michael, ia berdiri dari hadapan orangtuanya, menatap kedua orangtuanya dengan nanar lalu berjalan meningalkan mereka.


Baru saja rasanya Michael merasa sangat bahagia dengan apa yang dimilikinya saat ini, tapi kenapa seakan hidup Michael memang tidak di takdirkan untuk bahagia.


Michael duduk ditaman rumah sakit, karena memang ia tadi ketika baru saja sampai di singapura langsung menuju rumah sakit tempat Mario di rawat.


Michael menatap ponsel Mario yang ia dapat dari kedua orang tuanya. Michael menghidupkan ponsel milik Mario, setelah ponsel itu menyala, langsung banyak sekali notif sms dan panggilan yang tak lain adalah dari Sherlyna.


Dengan sedikit ragu, Michael membuka notif sms, line, wa, bbm dan sebangsanya dari Sherlyna.


Semua isinya membuat hatinya sakit, entahlah Michael tidak bisa menjelaskan. Tapi yang jelas, ia benar benar merasa sangat sesak di bagian dadanya.


"Kok gue ngerasa udah jadi pho di antara hubungan kalian." gumam Michael lirih.


Michael memberanikan diri membuka galery ponsel Mario, walau ia sudah tau jika hal itu akan membuat hatinya sakit, tapi Michael tetap membuka melakukannya.


"Lo kayaknya bahagia banget kalo sama Mario." ucap Michael saat melihat deretan foto-foto Sherlyna dan Mario yang tampak bahagia.


'M & S'


Michael tertawa garing saat mengingat kalung yang Sherlyna pakai itu.


"Mario dan Sherlyna, ya... Kenapa harus Mario dan Sherlyna dan bukan Michael dan Sherlyna saja."


"Ck! Kenapa gue jadi cengeng gini sih cuma gara-gara lo, Sherlyna?"


Sekarang Michael benar benar bingung harus berbuat apa, dia benar benar bimbang.


"Setia Band bilang, cinta adalah pengorbanan dan apakah gue harus mengorbankan lo?"

__ADS_1


"Bedanya disini lo nggak mencintai gue."



__ADS_2