
Michael mengerutkan keningnya saat melihat Sherlyna yang tiba-tiba meringis sambil memegangi perutnya.
"Sherlyna Kamu kenapa?" tanya Michael dengan bahasa aku-kamu.
Sherlyna mengelengkan kepalanya karena tidak tau kenapa tiba-tiba saja perutnya terasa melilit.
"Astaga! Aku baru ingat, Kamu belum minum obat... Tadi kamu juga makan, makanan pedas." pekik Michael panik lalu ia beranjak mencari obat Sherlyna.
"Ini minum dulu obatnya." ucap Michael menyodorkan empat butir obat dengan berbeda beda ukuran.
Sherlyna menatap Michael mengeri lalu menggelengkan kepalanya tidak mau. "Nggak mau."
"Kamu mau sembuhkan?" tanya Michael.
"Tapi itu pasti pait banget."
"Nggak kok, kalau Kamu langsung telan obatnya nggak terasa pahit." ucap Michael menaruh obat di telapak tangan Sherlyna dan juga menyodorkan segelas air putih.
Sherlyna menatap empat butir obat di tangannya dengan horor, dari kecil dia paling menghindari sakit karena tidak bisa menelan obat. jangankan pil, sirup saja Sherlyna tidak bisa menelannya.
"Minum Sherlyna." ucap Michael geram.
Sherlyna menatap Michael. "Nggak mau, lebih baik gue sakit dari pada minum obat." ucap Sherlyna lalu memberikan obat itu kembali pada Michael.
Michael menghela nafas panjang, melihat Sherlyna kesakitan dan tidak mau minum obat membuatnya kesal sendiri.
"Baiklah, sepertinya Aku harus membantu Kamu minum obat." putus Michael lalu memasukkan empat butir obat ke dalam mulutnya sendiri.
Sherlyna pikir Michael akan menelan obat itu, namun kenyataannya Sherlyna salah. karena setelah Michael minum air, Michael langsung menyambar bibir Sherlyna untuk memindahkan obat dari mulut Michael ke Sherlyna.
"Gimana?" tanya Michael. Sherlyna mengerut kan dahinya bingung dengan pertanyaan Michael yang mengarah kemana.
Perutnya? Atau rasa obatnya? Atau rasa bibirnya?
Seakan mengerti kebingungan Sherlyna, Michael lalu melanjutkan. "Obatnya nggak pahit kan?"
Sherlyna mengangguk dengan pipi yang merona merah. "Sedikit." ucapnya pelan.
"Sakit banget ya?" tanya Michael lagi karena melihat dahi Sherlyna yang berkeringat dan pipi yang merona merah.
Sherlyna pun kembali mengangguk. "Lumayan."
"Ya udah Kamu tiduran aja dulu, nanti sakitnya pasti reda." ucap Michael membantu Sherlyna berbaring di ranjang.
__ADS_1
Sherlyna pun berbaring dan mencoba untuk memejamkan matanya, untuk tidur. Namun sudah hampir tiga puluh menit sejak ia minum obat, perutnya masih saja sakit.
"Ini bahkan lebih sakit dari pada saat gue keguguran waktu itu." ucap Sherlyna lirih.
"Michael kemana sih." ucap Sherlyna karena setelah membantunya tiduran tadi Michael keluar dari kamar dan belum kembali lagi.
"Ya Tuhan sakit banget... Bunda." lirih nya karena di rasa perutnya semakin melilit seperti di tusuk tusuk jarum.
Sherlyna mengambil ponsel di meja dekat ranjang lalu mencari nomer asal dan langsung menelfonnya.
"Sherlyna, ada apa?"
"Astaga lo dimana? Sakit banget sumpah." ucap Sherlyna langsung saat tau siapa yang dia telfon dengan mendengar suaranya dari sebrang sana.
[Michael Verrali Blackwell.]
Gue menghembuskan nafas kasar lalu menghempaskan diri ke sofa.
"Whooo liat siapa yang dateng. Tumben lo kesini?"
Gue mengabaikan ucapan Kirun memilih memesan minuman. Memang sih sudah lama gue nggak kemari, biasanya hampir setiap malem gue menghabiskan waktu di tempat ini. Tapi itu kan dulu. Dulu banget!
"Kenapa lo? Lagi ada masalah?" tanya Kirun lagi.
"Wah apa lo udah bosen sama yang di rumah?"
"Anggun jangan gitu, Michael udah punya istri."
"Bodo---
Ucapan Anggun terputus karena dering ponsel gue.
"Hallo." ucap Gue menempelkan benda pipih itu ke telinga tanpa melihat siapa yang menelfon setelah menggeser layarnya.
Gue menjauhkan ponsel gue dari telinga dan melihat layar karena tidak mendengar suara dari sebrang. Ternyata Sherlyna yang menelfon gue.
"Sherlyna, ada apa?" tanya gue lagi.
"Astaga! lo di mana? Sakit banget sumpah." ucap Sherlyna dengan suara yang merintih seperti menahan sakit.
Astaga!
Michael bego! Kenapa lo tinggalin Sherlyna di rumah sih, seharusnya gue nggak ada di sini sekarang.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan panggilan Kirun dan Anggun, gue langsung bergegas meninggalkan club untuk pulang. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai dirumah.
Maafin gue Sherlyna.
Setelah sampai di parkiran rumah, gue pun langsung berlari memasuki rumah dan langsung mencari Sherlyna di kamar.
"Sherlyna."
Gue menghampiri Sherlyna yang masih berada di atas ranjang. "Sherlyna Kamu kenapa?"
"Sakit banget astaga..." ucapnya seraya memegangi perutnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya...." ucap gue dan langsung mengangkat tubuh Sherlyna, nggak peduli dengannya yang menggelengkan kepalanya.
"Maafin Aku, harusnya Aku nggak ninggalin Kamu tadi." ucap gue saat kami dalam perjalanan rumah ke rumah sakit.
Sherlyna nggak membalas ucapan gue dan itu membuat gue bertambah panik karena sepertinya Sherlyna sudah nggak sadarkan diri. Oh tuhan, tolong lindungi istriku.
Setelah sampai di rumah sakit, Gue pun langsung mengangkat tubuh Sherlyna dan membawanya masuk kedalam. "Dokter, Suster tolong istri saya."
Gue berlarian masuk ke dalam agar Sherlyna cepat mendapatkan penanganan. Nggak lama, seorang pria dengan baju serba putih membawa brankar dan nyuruh Gue menaruh Sherlyna di atasnya.
"Tolong dia dok."
"Bapak tenang saja... Saya akan menolongnya." ucapnya seraya mendorong brankar itu ke dalam ruangan UDG.
"Maaf, tapi Anda harus menunggu di luar." ucap suster yang menahan gue saat akan mengikuti mereka masuk.
Gue mengangguk lemah dan menyandarkan diri di tembok. Ini semua salah gue, gue udah ngebiarin Sherlyna makan pedas lalu di tambah gue meninggalkan Sherlyna di rumah dan malah pergi ke Club. Sialan!
Gue emang pria **** sialan!
[Annastasia Sherlyna Veronica.]
Gue mengerjapkan mata gue karena merasa silau dengan cahaya terang yang menyinari kelopak mata gue.
"Sepertinya Anda nggak bisa jauh dari saya ya, baru tadi siang Anda pulang dan sekarang sudah kembali ke sini." ucapan seseorang membuat gue langsung tau di mana gue sekarang.
"Saya sudah memberikan obat pereda sakit... " dokter itu menghela nafas panjang lalu kembali berkata. "Bukankah Saya sudah menjelaskan pada Anda, jika Anda belom boleh makan pedas untuk beberapa minggu ini."
"Tapi sepertinya Anda terlalu keras kepala." lanjutnya karena gue cuma diem aja.
Gue nggak menghiraukan ucapanya dan membiarkan suster dan dokter melakukan apapun yang ingin mereka lakukan. Karena sekarang bukan perut gue yang sakit, tapi kepala gue pusing terasa seperti berputar-putar.
__ADS_1
Dan nggak lama kemudian gue kembali memejamkan mata gue dan kehilangan kesadaran seutuhnya.