BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 17. Karenalo istri gue


__ADS_3

[  Author ]


Sherlyna memperhatikan rumahnya dengan nanar, tadi Pak Satpam penjaga rumahnya bilang jika Ayah dan kedua adiknya sudah tidak tinggal di rumah ini lagi sejak kemarin. Beliau bilang, Bu Marinka sudah mengusir mereka dari rumah ini dan sekarang Sherlyna tidak tau di mana keberadaan Ayah dan kedua adiknya.


Apa karna hal ini, makanya kemarin mereka buru-buru pulang? Tanya Sherlyna dalam hati.


Michael merangkul bahu Sherlyna dan berkata, "jangan sedih, sebaiknya sekarang lo hubungi Ayah atau adik-adik lo."


Sherlyna menatap Michael sekilas, lalu ia pun mengangguk. Mereka pun kembali memasuki mobil, Sherlyna mengambil ponselnya di dalam tas lalu menghubungi Ramma.


"Hallo."


"Ramma, kalian dimana?" tanya Sherlyna dengan air mata yang sudah mengalir deras dari kedua sudut matanya.


"Kak, jangan menangis. Kami baik-baik saja sekarang." ucap Ramma.


"Ramma."


"Kakak jangan khawatirkan kami ya, kami memang di usir oleh Bunda. Tapi sekarang kami sudah punya tempat tinggal yang baru, kami sedang beres beres saat ini. Nanti kalau kita sudah selesai dengan acara beberesnya, kami main deh kerumah suami kakak." ucap Ramma panjang lebar, dari nada bicaranya tidak terdengar sama sekali jika ia sedang sedih. Malah suara Ramma terdengar sangat ceria.


"Oke, udah dulu ya kak Sherlyna. Nanti pulsa Ramma habis, bye kakak cantik."


Tut! Tut!


Ramma memutuskan sambungan telfon secara sepihak, membuat Sherlyna mendengus kasar. kebiasaan adiknya, selalu mengatakan pulsanya akan habis jika ingin mengakhiri panggilan telfon. padahal jelas jelas Sherlyna yang menelfon, bukan Rama.


"Sudah jangan menangis lagi, adikmu sudah bilang kan bahwa mereka baik-baik saja." ucap Michael yang mendengar ucapan Ramma tadi.


Sherlyna hanya mengangguk, ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya. "Sekarang kita pulang." ucap Michael.


Selama dalam perjalanan, tidak ada yang membuka suara sama sekali. Michael lebih memilih fokus menyetir dan membiarkan Sherlyna untuk tenang. Sementara Sherlyna, ia sedang memikirkan banyak hal. Kenapa Bundanya begitu tega mengusir Ayah dan kedua adiknya, Sherlyna tau jika rumah itu memang milik Bundanya. Tapi apa Bundanya itu tidak memiliki perasaan sehingga mengusir anak-anaknya dari rumah. Bukankah Bundanya itu sangat menyayangi Ramma dan Ferry?


"Sherlyna kita sudah sampai."


Lamunan Sherlyna buyar saat mendengar suara Michael yang mengatakan bahwa mereka telah sampai di rumah Michael. Michael turun lebih dulu dari mobil, lalu ia membukakan pintu penumpang untuk Sherlyna.


"Semua akan baik-baik saja, oke." ucap Michael seraya menggenggam tangan  Sherlyna.


Sherlyna yang sedang sedih hanya bisa mengangguk dan mengikuti kemana Michael akan membawanya.


"Mba, tolong buatkan Sherlyna teh, ya." ucap Michael kepada salah satu pelayan di rumah nya.


Michael pun mengajak Sherlyna untuk duduk di ruang tamu, Michael bingung saat Sherlyna hanya terus diam dengan tatapan kosongnya. Michael menggaruk belalang kepalanya karena jujur Michael sangat bingung bagaimana caranya menghibur seseorang, Michael kan tidak pernah menghibur orang yang lagi sedih?


"Rumah lo sepi banget, orang tua lo pada kemana?" tanya Sherlyna membuka suara.


"Mereka pergi ke Singapura."  balas Michael dan Sherlyna hanya mengangguk.


Kemudian keadaan kembali hening, karen sepertinya Sherlyna kembali pada lamunannya. Salah satu pelayan yang Michael suruh tadi pun sudah menyajikan teh dan juga beberapa cemilan di meja.


Sherlyna menyandarkan kepalanya di kepala sofa, lalu memijat keningnya yang terasa pusing.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan, mereka juga baik baik saja kan." ucap Michael yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sherlyna.

__ADS_1


Sherlyna tidak akan pernah merasa tenang, jika dirinya belum melihat secara langsung keadaan Ayah dan kedua adiknya. Walau tadi Ramma sudah mengatakan untuk jangan khawatir karena mereka baik-baik saja, tapi Sherlyna tetap tidak bisa.


"Maaf." gumam Michael lirih.


Sherlyna menggelengkn kepalanya pelan. "Lo nggak salah, tapi gue nggak akan bisa tenang kalau gue belum tau langsung keadaan mereka." ucap Sherlyna.


Michael bangkit dari duduknya, lalu kembali duduk di sofa sebelah Sherlyna dan langsung memeluk Sherlyna. "Gue yakin mereka pasti baik-baik aja." ucap Michael mencoba menyakinkan Sherlyna.


Sherlyna menghela nafas, ia mengandarkan kepalanya di dada Michael dan tangannya melingkar di pinggang Michael. Hal itu sempat membuat Michael menegang, tapi ia mencoba untuk rileks.


'Sherlyna lagi sedih, tapi kenapa si dedek malah bangun segala, cuma karena Sherlyna peluk pinggang gue?' gerutu Michael dalam hati.


"Michael." panggil Sherlyna.


"Hmm." balas Michael.


"Lo kenapa baik banget sih sama gue?" tanya Sherlyna, kepalanya mendongak untuk menatap Michael yang sedang menunduk menatapnya.


"Karena lo istri gue." balas Michael sungguh sungguh, tatapannya tidak lepas dari bibir merah Sherlyna.


Sherlyna mengerjapkan matanya, lalu memanyunkan bibirnya sebal. "Tapi kan cuma istri boongan."


"Gue nggak pernah bilang kalau kita nikah boongan." balas Michael, ada rasa sakit di ulu hatinya saat Sherlyna hanya menganggap pernikahan itu sandiwara.


poor you Michael 😢


"Tapi---


Sherlyna tidak jadi melanjutkan ucapannya karena dengan tiba-tiba Michael langsung mencium bibirnya. "Terdengar ambigu memang, tapi gue beneran suka sama lo." ucap Michael dengan kedua tangannya menangkup pipi Sherlyna.


Michael mengangguk.


"Jadi maaf kalau gue nggak suka sama lo, gue cuma cinta sama pacar gue." ucap Sherlyna dan itu kembali membuat hati Michael nyess.


Michael menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak apa-apa, gue yakin bahwa suatu saat lo bakalan memilih gue dari pada pacar lo itu."


"Dalam mimpi!"


"Bahkan saat ini lo ada sama gue kan?" ucap Michael tersenyum jahil.


Sherlyna memutar bola matanya kesal. "Gitu kan cantik." ucap Michael mencubit hidung Sherlyna.


"Aduh, sakit tau." ucap Sherlyna mengusap hidungnya yang terlihat menyerah karena sepertinya Michael terlalu kuat mencubit hidung Michael.


"Hehe maaf, maaf... Sini sini gue obat in biar nggak sakit lagi." ucap Michael, lalu ia mendekatkan wajahnya kearah Sherlyna.


Michael mengecup hidung Sherlyna berkali-kali. "Udah nggak sakit kan?" tanyanya.


"Umh." ucap Sherlyna mengangguk dengan pipi merona merah.


"Tadi waktu gue cium bibir lo perasaan biasa aja, tapi kenapa pas gue cium hidung lo... Pipi lo kok jadi merah banget gini?" tanya Michael sambil mengusap kedua pipi Sherlyna.


Sherlyna memalingkan wajahnya. "Apaan deh."

__ADS_1


Michael membalikkan wajah Sherlyna agar kembali menatapnya, hal itu entah kenapa membuat Sherlyna jadi salah tingkah sendiri.


Michael kembali mendekatkan wajahnya kearah Sherlyna dan kembali mencium Sherlyna. Rasanya kalau boleh Michael ingin selalu mencium bibir Sherlyna yang membuatnya ketagihan.


Sherlyna mengatur nafasnya yang memburu karena Michael yang terlalu lama mencium bibirnya, membuat Sherlyna kehabisan oksigen. "Lo mau bunuh gue ya?"


Michael tidak menggubris, Michael malah kembali mencium bibir Sherlyna. Kali ini bukan ciuman lembut seperti tadi, namun kali ini adalah ciuman yang menuntut penuh dengan gairah.


Michael melepaskan ciumannya dan menyatukan keningnya dengan kening Sherlyna.


"Michael."


"Hmm." Michael hanya bergumam pelan menjawab ucapan Sherlyna, ia sedang meredakan gairahnya yang tiba-tiba bergejolak naik.


"Michael" panggil Sherlyna lagi.


"Hmm." dan Michael kembali menjawab dengan deheman.


"Hp lo bunyi, itu ringtone-nya jelek banget sih." ucap Sherlyna.


"Itu suara gue tau."


"Pantes suaranya kayak tikus kecebur empang."


"Kok omongan lo pedes banget sih Sherlyna?"


"Abis makan sambalado tadi."


"Itu lagunya ayu ting-ting kan?"


"Aishhh udah sana angkat tuh yang nelfon."


"Nggak mau."


"Kenapa? Siapa tau itu dari orang penting."


"Bagi gue lo adalah orang yang paling penting."


"Gombal."


"Gombal itu, orang orang yang nggak punya rumah terus tinggal di pinggir jalan itu kan?."


"Itu gembel bego!"


"Gue emang bego udah cinta sama cewek kayak lo."


"Dasar jaka sembung."


"Itu kan judul film jaman gue masih sd ya?"


"Lo jadi orang kok bikin kesel sih."


"Gue pijitin ya biar nggak kesel lagi."

__ADS_1


"(╯︵╰,)"



__ADS_2