
"Dokternya mana sih, Michael, kok lama banget, katanya satu jam elah.... Nggak tau apa ya kalau idung gue terasa aneh pake kayak beginian, rasanya gue jadi pengen bersin terus... Jari telunjuk gue juga keram banget ini di jepit kek gini.... Gue udah kayak orang sekarat mau mati aja tau nggak." cerocos Sherlyna panjang kali lebar.
Dan Michael hanya menanggapi semua itu hanya dengan sebuah senyuman. Walau ia merasa telinganya hampir pekak karena mendengarkan Sherlyna terus berbicara diulang ulang sejak obat biusnya mulai habis dan Sherlyna bisa bicara dan menggerakkan anggota tubuhnya dengan benar.
Michael masih bingung bagaimana caranya memberitahu Sherlyna tentang apa yang telah di alaminya. Apakah Sherlyna tau jika dirinya telah hamil atau belum?
Dan bagaimana kah reaksi Sherlyna saat tau bahwa ia keguguran. Dokter bilang pada Michael bahwa Sherlyna keguguran karena terlalu banyak pikiran yang membuatnya setres dan juga memang karena usia kandungan Sherlyna baru empat atau lima minggu memang masih sangat rentan. Seharusnya Sherlyna tidak boleh banyak pikiran yang membuatnya setres dan berakhir buruk pada kehamilannya seperti sekarang.
"Michael! Elah gue ngomong sama lo apa sama patung sih."
Lagi dan lagi Michael hanya bisa bertesenyum mendengar suara Sherlyna. Dengan tangannya yang menggenggam tangan kanan Sherlyna.
"Sabar ya, nanti juga dokternya datang."
Sherlyna mendengus. "Ini udah lebih dari satu jam."
"Ya mungkin banyak pasien yang harus dokter urus dulu." balas Michael.
"Memangnya di rumah sakit sebesar ini cuma ada satu dokter apa?!" pekiknya sebal.
"Yang sabar ya, jangan teriak teriak terus... Entar malah jadi darah tinggi lo." ucap Michael seraya mengusap punggung tangan Sherlyna lembut.
"Lo sih enak nggak ngerasain, cuma bisa bilang sabar sabar terus... Orang sabar itu ada batasannya Michael." ucap Sherlyna lagi.
"Iya gue tau gue nggak bisa rasain apa yang lo rasaain, tapi percayalah bahwa gue juga ikut sedih liat lo kayak gini." ucap Michael.
Sherlyna menatap Michael dengan kening berkerut. "Sedih."
"Iya, sedih liat muka lo kusem gitu... Udah jelek jadi tambah jelek deh." ucap Michael membuat Sherlyna melotot.
Belum sempat Sherlyna berucap, seorang dokter datang bersama seorang suster dan menghampiri mereka. "Selamat malam, bagaimana keadaan Anda? Apa sudah lebih baik."
"Baik dari mana coba." dengus Sherlyna kesal.
"Maaf ya dok, istri saya memang rada-rada jadi jangan di masukin ke hati omongan dia." ucap Michael tidak enak hati dengan dokter karena ucapan ketus Sherlyna.
Sherlyna menatap Michael kesal dan menatap dokter itu hanya tersenyum dan mengangguk.
"Idung gue gatel, bisa cepat di lepas ini." ucap Sherlyna nggak sabaran.
Dokter itu pun menyuruh suster untuk melepaskan selang oksigen lalu artibut lainnya dan menyisakan selang infus di punggung telapak tangan Sherlyna.
"Ahh akhirnya gue bisa bernapas dengan lega, tangan gue juga udah nggak keram lagi. Eh tapi ini kenapa infusnya nggak di lepas sekalian?"
__ADS_1
"Nggak Bu, itu akan kami lepas besok pagi saat Anda akan pulang." ucap dokter itu.
"Gue udah nggak apa-apa kok, jadi di lepas aja."
"Sebaiknya di lepas besok pagi saja, ini untuk kebaikan Anda sendiri. Kami permisi dulu." ucap dokter itu kemudian pergi bersama suster.
"Nggak sopan banget sih lo bicara sama dokter kayak gitu." Cetus Michael.
"Bodo amat." ucap Sherlyna tidak peduli lalu mengubah posisi nya menjadi miring hendak tidur.
"Oh Ya."
"Apa?"
"Gue lupa nanya tadi sama dokternya." ucap Sherlyna, kini ia sudah mengubah posisinya menjadi terlentang kembali.
"Sebenarnya gue itu kenapa? Lo pasti tau kan?" tanya Sherlyna.
Michael mengangguk ragu. "Iya, gue tau."
"Iya gue kenapa elah?" tanya Sherlyna kesal karena Michael hanya diam seraya menatapnya.
Michael menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya lewat mulut dan seperti itu berulang-ulang kali membuat Sherlyna mengeryit heran.
"Lo nggak lagi mau lahiran kan?" tanya Sherlyna.
Sherlyna mengangguk. "Iya gue tau itu, gue juga inget kok kalau gue emang pingsan di kamar mandi karena ya gue nggak mau ngasih tau lo." ucap Sherlyna dengan pipi bersemu merah.
Michael mengangguk. "Iya lo pingsan---
"Bisa nggak lo ngasih tau gue singkatnya aja." potong Sherlyna sebal.
Michael meraih tangan Sherlyna dan menggenggamnya. "Sebenarnya lo itu keguguran."
Sherlyna melongo. "Hah? Ngaco lo! Keguguran? Kok bisa, emang gue hamil?"
Michael mengangguk. "Iya dan kehamilan lo baru sekitar empat atau lima mingguan... Harusnya gue bisa jagaan lo dan calon anak kita." ucap Michael lirih.
Sherlyna masih diam, dia bingung dan juga kaget karena tidak tau bahwa ternyata dirinya tengah hamil.
"Gue minta maaf karena udah nggak bisa jaga lo dan calon anak kita." ucap Michael lagi.
"Eh ini bukan salah lo kok."
__ADS_1
"Gue janji apapun yang terjadi dan resikonya gue nggak akan pernah ninggalin lo lagi kayak kemaren." ucap Michael lalu mengecup punggung tangan Sherlyna penuh sayang.
Sherlyna yang masih tidak mengerti dengan maksud ucapan Michael dan juga bingung dengan keadaan dirinya sekarang hanya bisa mengangguk lemah.
Jujur saja Sherlyna bingung harus mengepresikan dirinya seperti apa saat tau jika dirinya telah hamil dan juga telah keguguran.
"Lo nggak sedih gitu Sherlyna, habis keguguran?" tanya Michael. Dia sangat penasaran dengan perasaan Sherlyna saat ini, karena Michael tidak bisa menebak raut wajah Sherlyna.
Sherlyna menatap Michael lalu menggelengkan kepalanya lalu mengangguk, membuat Michael jadi bertambah bingung.
"Apaan coba? Iya apa nggak."
"Menurut lo gimana? Gue sedih apa nggak?" tanya Sherlyna masih menatap Michael dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Ya gimana ya, abis lo kelihatannya biasa aja gitu." ucap Michael seraya menggaruk pipinya.
Sherlyna mendengus. "Emang gue harus gimana?"
"Kali aja lo sedih terus nangis kayak film india yang pernah gue liat itu." ucap Michael.
"Huaa....."
Michael terperanjat kaget saat tiba tiba Sherlyna menangis kencang. "Eh eh lo kenapa deh kok malah nangis?" tanya Michael panik.
"Huaaaa.... Hiks, hiks...."
"Sherlyna udah dong diem... Lo kenapa elah, jangan bikin gue panik gitu dong. Aduh gue harus ngapain ini?"
"Huaa... Hiks, hiks... Michael jahat."
"Gue jahat kenapa elah?" tanya Michael bingung.
"Hiks hiks."
"Udah dong Sherlyna jangan nangis, lagian lo kenapa kok tiba tiba nangis kayak anak kecil gini." ucap Michael.
Sherlyna menatap Michael. "Kan tadi lo yang nyuruh gue nangis." ucap Sherlyna dengan raut wajah polos.
Benar benar terlihat sangat polos di mata Michael, bahkan wajahnya terlihat seperti anak-anak balita yang tidak mempunyai dosa membuat Michael rasanya ingin mencium wajah itu.
"Ya, tapi kan nggak gitu juga kali." dengus Michael.
"Terus gimana? Coba lo praktekin dulu... Kan gue nggak ahli."
__ADS_1
(¬_¬)ノ