
[Annatasia Sherlyna Veronica]
Nggak kerasa udah seminggu gue menyandang status sebagai istri Michael dan juga tinggal di rumahnya. Selama seminggu itu pula gue ngerasa entahlah, menurut gue sikap Michael terkadang terlalu berlebihan, tapi gue suka hahaa.
Suka bukan berarti gue cinta sama Michael ya, gue masih setia kok sama Mario 😢. Udah seminggu juga Mario nggak ada kabar, gue jadi kangen. Apa Mario nggak kangen gue ya? Setiap gue nelfon hp-nya, nggak pernah di angkat... Malah mbak mbak operator yang ngoceh-ngoceh nggak jelas 😡.
Hal itu ngebuat gue semakin kangen sama Mario, semoga aja di mana pun Mario berada dia akan baik baik aja.
Gue ngerasa bersalah sama Mario, gue udah nikah sama orang lain tanpa sepengetahuan Mario. Walau gue nggak cinta sama Michael, tapi secara nggak langsung gue udah hianatin cintanya Mario. Maafin gue Mario, di hati gue cuma ada nama lo kok.
Dan kemarin kedua adik gue juga Ayah gue udah berkunjung ke sini. Mereka terlihat baik-baik aja, walau nggak ngasih tau mereka tingal di mana. Hal itu membuat gue kesel, gue kan keluarga mereka? Masa mereka nggak mau ngasih tau di mana mereka tinggal, mereka cuma bilang kalo gue kangen, gue tinggal hubungi mereka aja nanti mereka yang nyamperin gue di sini.
Nyebelin kan?
"Mikirin apa sih? Gue udah ngomong sampe mulut gue berbusa, tapi nggak di dengerin!"
Gue mengerutkan dahi, menatap Michael yang terlihat kesal karena gue abaikan sejak tadi. Bukan-nya gue nggak denger ocehan dia, tapi ucapan Michael sejak tadi itu nggak bermutu sama sekali. Jadi gue cuma denger dan langsung lupain gitu aja.
"Perasaan mulut lo nggak ada busanya tuh." ucap gue asal.
Gue cuma nyengir kuda 😬 saat Michael melotot kearah gue, awas jangan sampe lepas tuh mata ✌
"Lo denger kan gue ngomong apa tadi?" tanya Michael menatap gue penuh selidik.
Gue mengangguk. "Gue denger kok." Jujur, gue emang denger kok, cuma gue udah lupa dia ngomong apa 😂.
"Bagus, kalau begitu.... Gue harus ke kantor dulu, karna Papa gue nggak ada jadi gue yang harus handel semua pekerjaan Papa.... Dan lo jaga diri baik-baik ya di rumah, ingat lo nggak boleh keluar rumah kalau nggak izin dulu sama gue." ucap Michael panjang lebar.
Gue cuma ngangguk-anggukkan kepala bertanda ya. Tapi kok, gue merasa ada yang -- oh astaga! Bagaimana bisa gue di rumah sendirian tanpa adanya Michael? Apa yang bisa gue lakuin seharian penuh.
Uh!
Maksud gue bukan gitu, duh gini loh ya... Gue nggak ngarep bisa seharian sama Michael, karena gue udah bosen seminggu di rumah cuma sama Michael doang. Ya walau sebenarnya nggak beneran berdua karena masih ada beberapa pelayan dan juga tukang kebun dan juga pak supir di rumah ini. Detail banget yak gue nyebutnya 😂.
"Terus gue di suruh jadi kambing ompong gitu, mlompong nggak ngapa-ngapain." ucap gue kesal.
"Ck! Biasanya ada gue juga lo malah tidur seharian penuh." ucap Michael nggak kalah kesel.
Hehe, bener sih 😂😂 ya tapi kan kan?
"Udah lo tidur aja lagi hari ini, nanti kalau ada apa-apa lo langsung telfon gue." ucap Michael.
"Iya, iya." ucap gue malas dengan memutar bola mata gue.
"Nggak boleh muter mata kayak gitu kalau di bilangin suami, nanti dosa." ucap Michael.
"Udah sono lo berangkat, ngomel mulu kapan lo ngantornya." ucap gue kesal.
"Ini juga udah mau berangkat." ucap Michael, ia bangkit dari kursi meja makan dan mulai berjalan meninggalkan gue yang menatapnya sedikit bingung.
__ADS_1
"Michael." panggil gue.
Michael menghentikan langkahnya lalu menengok kearah gue dengan tersenyum lebar. "Gue tau, lo nggak bisa jauh dari gue. Tapi gue harus ngantor, ini udah jam sebelas siang." ucap Michael dengan pedenya.
Gue mendelik kesal. "Bukan, bukan itu... Gue cuma mau bilang, masa lo mau ngantor pake boxer pororo?"
Gue tersenyum mengejek setelah mengatakan hal itu. Michael langsung melihat kearah bawah, gue nggak bisa liat reaksi wajahnya karena gue ada di belakang dia.
"Oh iya gue lupa, kok lo nggak bilang sih."
"Lah bukan-nya gue barusan bilang ya."
Michael mengabaikan gue dan berlari kecil menuju anak tangga, naik ke lantai atas. Gue cuma bisa tertawa lepas saat nggak melihat Michael lagi. Oh ayolah, dari sekian banyak celana boxer, kenapa seorang Michael malah menyukai pororo?
gue juga heran, apa dia nggak punya malu, berkeliaran di rumah ini cuma pake boker? tapi anehnya pakian atasnya sudah lengkap dengan kemeja panjang dan dasi.
Nggak ada yang bakalan ngira kalau seorang Michael itu sangat menyukai kartun yang bernama Pororo itu kan? Gue juga memang suka kartun, tapi ayolah dia itu seorang pria dewasa!
Duh kok jadi ngomongin Michael terus sih?
Drrttt!!
Hp gue bergetar dengan kencang saat gue baru saja merebahkan tubuh gue di atas ranjang. Ck, siapa sih yang ganggu orang mau tidur.. Nggak tau apa ya kalau gue ini udah siap mau tidur cantik.
"Ada apa?" tanya gue malas saat tau ternyata Michael yang menelfon gue.
"Lo lagi ngapain?"
"Eh jangan dong, gue nelpon lo karena gue kangen sih sama suara lo hehe...."
Tut! Tut!
Gue memutuskan sambungan telfon dari Michael, oh ayolah dia nelfon gue cuma mau bilang hal yang nggak guna kan ya?
Bikin gondok, ngapain coba nih nelfon lagi.
"Nomor yang anda tuju orangnya sedang tidur, cobalah nanti sore jika orangnya mungkin sudah bangun."
"Sherlyna, jangan di matiin dulu."
"Apa?"
"Gue lupa bawa berkas penting yang harusnya sekarang gue pake buat meeting.... Lo cari berkas itu di laci dekat ranjang, terus bawa kesini ya.... Gue tunggu, cepet!"
Gue mendelik karena Michael langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja setelah berbicara panjang lebar seperti itu. Oh ayolah, apa nggak ada kata 'tolong' darinya. Dia main nyuruh gue gitu aja kayak lagi nyuruh pelayannya.
[ Author ]
Dengan langkah malas , Sherlyna berjalan kearah sekertaris Michael.
__ADS_1
"Hallo Nyonya Blackwell." sapa sekertaris itu dengan senyum menggoda Sherlyna.
"Gue cuma mau ngasih ini doang." ucap Sherlyna menyerahkan map cokelat kepada sekertaris Michael, Sherlyna sedikit lupa namanya. Karena selama Sherlyna bekerja di kantor ini, Sherlyna tidak pernah mencoba mengenal mereka.
"Pak Michael bilang, Nyonya di suruh keruangannya langsung."
"Ck, nama gue Sherlyna bukan nyonya."
Sherlyna menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan dengan malas menuju ruangan Michael.
Brak!!
Sherlyna membuka pintu ruangan Michael dengan tidak santai, kemudian ia langsung masuk begitu saja.
"Nggak punya sopan banget sih lo jadi orang." ucap seseorang perempuan yang entah siapa ada di ruangan Michael.
Sherlyna cuma menatap perempuan itu datar, lalu menatap Michael yang tersenyum lebar sambil berjalan kearahnya.
"Nih." Sherlyna melemparkan map itu kearah Michael dan Michael pun langsung menangkapnya.
"Mau kemana?" tanya Michael saat melihat Sherlyna memutar badannya hendak keluar ruangan Michael.
"Pulang." balas Sherlyna malas.
Dengan cepat Michael mengejar Sherlyna untuk menggapai tangan Sherlyna. "Apaan lagi?" tanya Sherlyna kesal.
"Ngapain pulang, lebih baik lo di sini aja. Temenin gue." ucap Michael.
"Ngapain gue nemenin lo, kan udah ada mbak-mbak itu." ucap Sherlyna menunjuk perempuan yang sejak tadi memperhatikan mereka.
"Emang lo nggak cemburu gitu?" tanya Michael.
"Ngapain gue cemburu sama mbak mbak itu?" Tanya Sherlyna balik.
"Yang ada nanti mbak-mbak itu yang cemburu kalau gue masih ada di ruangan lo." lanjut Sherlin.
"Michael, udahlah biarin dia pergi. Ngapain pake di tahan segala sih, kan udah ada gue yang nemenin lo." ucap perempuan itu dengan nada manja membuat Sherlyna ingin muntah seketika.
Perempuan itu menatap Sherlyna dari atas sampai bawah, "apa sih yang lo liat dari dia, Michael? Rata banget gitu." ucap perempuan itu sinis.
Sherlyna mendelik, tapi Michael malah tersenyum lebar membuat Sherlyna kesal setengah mampus, karena itu artinya Michael menyetujui ucapan perempuan yang mengatakan dirinya rata itu.
"Mending rata tapi masih fress, dari pada lo yang err bekas orang banyak." celetuk Michael membuat perempuan itu melotot kesal.
Perempuan itu menghentakkan kakinya kesal, ia melangkah mendekati Sherlyna lalu berkata. "Liat aja, suatu saat gue pasti akan rebut Michael dari lo." ucap perempuan itu berbisik di telinga Sherlyna.
Perktaan yang sama pernah di ucapkannya saat pernikahan Sherlyna dan Michael.
"Gue tunggu hari itu tiba." tantang Sherlyna dengan senyum manisnya.
__ADS_1