BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 48. Nenek lampir


__ADS_3

Bagian 48.


"Widya siapa?"


"Sejak kapan lo jadi kepo gini sih Verra?"


"Cuma penasaran aja."


"Kan gue udah bilang, Widya temannya teman gue."


Michael berdecak kesal lalu kembali duduk di kursinya, ruangan yang dulu hanya milik nya itu kini harus rela di bagi untuk Mario juga.


"Dari pada lo kepoin siapa Widya, mending lo urusin tuh pacar satu malam lo." ucap Mario saat melihat Anggun yang baru saja masuk ruangan mereka.


"Nenek lampir." gumam Michael lalu duduk di kursi miliknya.


Anggun dengan santai dan senyuman lebarnya berjalan kearah Michael.


"Michael gue kangen." Ucap Anggun.


Michael mengerutkan kening nya dan mengusap tengkuknya. "Mario, kok gue merinding ya."


Anggun melotot tidak percaya dengan ucapan Michael barusan, sementara Mario malah terawa ngakak. Karema tidak langsung Michael tengah mengatakan jika Anggun itu mahkluk tak kasat mata.


"Michael!"


"Mario, lo denger suara nggak?" tanya Michael.


Mario menggelengkan kepala pelan. "Nggak, gue keluar bentar ya."


Michael mengumpat dalam hati karena Mario meminggalkamnya bersama Anggun.


"Michael, kok lo gitu sih sama gue... Lo nggak lupa kan kalau gue lagi hamil anak lo." ucap Anggun.


"Terus gue harus bulan wow sambil lompat lompat gitu." ucap Michael bodo amat.


Michael yakin jika memang Anggun hamil itu bukan anaknya, karena waktu itu ia mengeluarkannya di luar, tidak didalam. Jika pun Anggun hamil, itu pasti bukan anaknya.


"Michael!"


"Gue nggak tuli ya, jadi tolong jangan teriak teriak." ucap Michael santai.


Anggun mendengus. "Gue mau kita nikah."


Michael menatap Anggun. "Nikah tinggal nikah kok repot?" tanyanya.


Anggun mengangguk. "Sama lo."


"Ogah, gue udah punya istri cantik, ngapain gue nikahin lo." Ucap Michael.


"Tapi gue lagi hamil anak lo," ucap Anggun.


"Ini bukti tes kehamilan dari rumah sakit, ada suratnya juga. Lo bisa langsung tanya ke dokternya kalau nggak percaya." ucap Anggun meletakkan amplop dengan logo rumah sakit di mei kerja Michael.


Dengan santai Michael mengambil Amplop itu dan membukanya. " Ya, gue percaya lo hamil."


"Jadi kapan kita akan nikah?" tanya Anggun antusias.


"Gue cuma bilang gue percaya kalau lo hamil dan nggak bilang kalau kita mau nikah." ucap Michael santai.


"Tapi,--

__ADS_1


"Apa buktinya kalau itu anak gue, lo tidur dengan banyak pria..." Michael memotong ucapan Anggun dengan tersenyum meremehkan.


"Lo--


"Gue tau gue ini ganteng dan banyak yang ngantri mau nikah sama gue, tapi maaf... Pintunya udah di tutup karena udah ada yang jaga." ucap Michael lalu meninggalkan Anggun seorang diri di ruangannya.


"Huh."


Michael menghela nafas panjang saat telah berada di dalam lift.


"Gila, gimana kalau Anggun beneran hamil anak gue." ucap Michael seraya mengacak rambutnya kesal.


Saat bersama Anggun tadi ia berpura pura santai, namun sekarang dia mulai khawatir. Apalagi setelah tahu, Hubungan Mario dan Sherlyna tidak sejauh yang dia pikirkan.


Karena pikirannya kacau, akhirnya Michael pun memilih untuk pulang saja. Mungkin jika melihat Sherlyna dan babby Devandra akan melupakan masalah Anggun.


Sesampainya di rumah, Michael mengerutkan dahinya saat melihat mobil Masa ada di garasi.


Saat memasuki rumah Michael sempat terdiam saat melihat Mario yang tengah sibuk dengan baby Devandra, di temani seorang pelayan yang dia jadikan pengasuh untuk baby Devandra.


"Eh lo kok pulang Verra, bukannya ini masih jam kantor ya?" tanya Mario saat melihat Michael menghampirinya.


"Lo sendiri kenapa pulang? Ini kan masih jam kantor." ucap Michael membalikkan ucapan Mario.


"Gue kangen sama baby Devandra." ucap Mario terus terang.


"Sherlyna dimana?" tanya Michael.


"Nggak tau, kata Neni dia baru aja keluar tadi." ucap Mario seraya menunjuk pengasuh baby Devandra.


"Pergi kemana dia, kok nggak bilang bilang." gumam Michael pelan lalu menghubungi Sherlyna.


"Bunda."


Sherlyna langsung bangkit dari kursi saat melihat Bunda dan Ramma berjalan ke arah nya.


"Kakak."


Ramma langsung memeluk Sherlyna dengan erat karena merindukan sang kakak.


"Kamu baik baik aja kan?" tanya Sherlyna, Ramma ingin protes karena kakaknya berbicara dengan bahasa aku-kamu, namun ia mengurungkan niatnya itu.


"Aku baik baik aja kak." ucap Ramma.


"Syukurlah kalau begitu." ucap Sherlyna.


"Maaf udah nunggu lama." ucap Bunda Marinka buka suara.


"Sherlyna baru datang kok bun."


"Bunda apa kabar?" tanya Sherlyna.


"Baik... Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya balik Bunda Marinka.


"Sherlyna juga baik kok Bunda." ucap Sherlyna dengan senyuman lebarnya.


Bunda Marinka menghela nafas dan memeluk Sherlyna.


"Bunda."


"Bagaimana kamu bisa bilang kamu baik baik aja, liat muka kamu begitu pucat, hampir mirip seperti mayat." ucap Bunda Marinka.

__ADS_1


Sherlyna hanya tersenyum menanggapi ucapan Bunda Marinka. Mereka lalu duduk bersama.


"Kak Sherlyna tambah kurusan ya." ucap Ramma setelah lama mengamati kakaknya.


"Jangan terlalu memaksakan diri, jika kamu nggak kuat kamu bisa mundur." ucap Bunda Marinka.


"Maksud Bunda?" tanya Sherlyna bingung.


Bunda Marinka tersenyum canggung, ia menatap Ramma lalu menggelengkan kepalanya.


"Bunda kesini cuma mau ngasih ini, kalau kamu ada waktu mampir yah." ucap Bunda Marinka.


Sherlyna mengecek undangan yang Bunda Marinka berikan. "Bunda mau nikah sama Om Sam?"


Bunda Marinka mengangguk. "Ya, kami akan meresmikan pernikahan kami."


"Selamat ya Bunda." ucap Sherlyna ikut senang jika Ibunya juga bahagia.


"Ehm, Bunda ke toilet sebentar ya."


"Ram, gimana kehidupan baru kamu?" tanya Sherlyna anak itu sejak tadi sibuk dengan ponsel nya.


"Keren kak... Papa Sammy baik, apapun yang Ramma mau selalu di kasih." ucap Ramma, lalu ia pun bercerita dengan antusias.


Sherlyna hanya bisa tersenyum, dia memang tidak selalu menuruti keinginan adiknya itu dulu. Jadi melihat Ramma yang bercerita begitu antusias pun lega karena itu artinya Ramm bahagia bersama Bunda Marinka dan Om Sammy. Orang tua kandung Ramma.


"Jadi anak baik ya." ucap Sherlyna saat mereka berpamitan akan pulang.


Ramma mengangguk. "Aye, siap kapten."


"Kamu yakin nggak mau Bunda antar?" tanya Bunda Marinka.


Sherlyna tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu Bun."


"Yaudah hati hati di jalan,kami pulang dulu yah... Kamu sudah tau alamat Bunda, kapan kapan mampir kalau ada waktu." ucap Bunda Marinka lalu meninggalkan Sherlyna.


Sherlyna menghela nafas, menatap Bunda Marinka dan Ramma yang kini sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Akhirnya rindunya pada sang Bunda terobati juga, Bundanya juga terlihat lebih lembut dari terakhir kali mereka bertemu.


Sherlyna baru saja akan melangkah pulang saat seseorang memanggil namanya.


"khawatir, Astaga... Jadi ini beneran lo."


"Eh."


"Gila udah lama banget nggak ketemu, bukanya tambah cantik kok lo tambah jelek sih."


Sherlyna cuma diam mematung saat seseorang itu memeluknya secara tiba tiba.


"Gimana kabar lo?"


"Baik."


"Syukurlah."


Sherlyna masih terdiam seraya mengerutkan dahinya, berpikir siapakah pria ini. Sherlyna tidak ingat.


"Ada apa? Jangan bilang lo lupa sama gue?"


Sherlyna tersenyum canggung, membuat pria itu mendengus kesal.


"Gue--

__ADS_1


__ADS_2