
Michael tersenyum memperhatikan Sherlyna yang saat ini tengah menyusui Devandra dengan susu formula. Michael merasa amat bahagia karena Sherlyna tidak meninggalkan dirinya karena ada bayi yang dia akui anaknya dari wanita lain.
Sherlyna malah merat anak itu dengan telaten, di bantu dengan Ibunya tentu saja. Bahkan Sherlyna sampai lupa dengan keberadaan Mario yang masih di rawat di rumah sakit pasca operasi dua hari yang lalu.
"Terima kasih ya Sherlyna." ucap Ibunya Michael.
Michael hanya tersenyum melihat dua wanita yang dia sayangi itu.
Sherlyna menatap Ibu mertuanya lalu berkata. "Terima kasih untuk apa Ma, seharusnya Sherlyna yang berterima kasih karena Mama dan sekeluarga masih mau menerima Sherlyna, padahal Sherlyna kan bukan wanita baik baik."
"Terima kasih karena kamu nggak ninggalin Michael karena dia punya anak dari wanita lain..."
"Ma..."
"Mama pikir kamu akan meninggalkan Michael dan hidup bersama Mario."
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan memperbaiki diriku dengan mencoba menjadi istri yang baik untuk Michael Ma." ucap Sherlyna.
Ibu Siska memeluk Sherlyna dari samping. "Semoga kalian akan hidup bahagia selamanya ya, Mama pergi dulu."
"Aminn Ma."
"Terima kasih Sherlyna." ucap Michael lalu ikut bergabung duduk di samping Sherlyna.
"Kenapa kalian semua berterima kasih... Kamu tau bahwa aku juga bukan wanita baik baik kan." balas Sherlyna, dia pun memilih menggunakan kata aku-kamu pada Michael.
"Maaf jika selama ini aku---
"Jangan minta maaf terus, lebih baik sekarang kamu siap siap... Kita mau kerumah sakit kan?" ucap Sherlyna memotong ucapan Michael.
"Sebenarnya kalau boleh jujur, aku nggak mau kerumah sakit." ucap Michael jujur.
"Kenapa?" tanya Sherlyna.
"Aku malas bertemu Mario." ucap Michael.
Sherlyna tersenyum karena tau apa yang di maksud Michael. "Aku tau, tapi aku belum mengakhiri hubunganku dengan Mario secara resmi."
"Aku bisa mengatakannya untukmu." ucap Michael.
Sherlyna menggelengkan kepalanya. "Nggak Michael, aku mau hubunganku dan Mario berakhir baik baik."
Michael menghembuskan nafas panjang. "Baiklah..." ucap Michael pasrah. Dia hanya takut jika Sherlyna bertemu Mario maka istrinya itu berunah pikiran dan tidak jadi mengakhiri hubungannya dengan Mario.
"Oh ya, aku sudah memutuskan nama yang bagus untuk Devandra." ucap Sherlyna seraya mengusap lembut pipi bayi mungil di pangkuannya yang kini sudah tertidur nyenyak sehabis minum susu.
"Apa?" tanya Michael penasaran.
"Bagaimana kalau Devandra Putra Michael."
"Devandra putra Michael." ulang Michael.
"Kamu setuju?" tanya Sherlyna.
Michael mengangguk. "Aku setuju, siapapun namanya jika kamu tetap bersamaku."
"Udah jangan ngegembel, lebih baik kamu sekarang siap siap sana." ucap Sherlyna kembali mengingatkan Michael untuk bersiap.
Michael mendengus sebal, dia bicara serius bukan gombal.
Sherlyna tersenyum memperhatikan Michael yang berjalan ke kamar mandi dengan ngedumel pelan.
"Devandra kalau besar jangan kayak Papa kamu ya." ucap Sherlyna pada Devandra.
__ADS_1
Sherlyna pun membaringkan Devandra di box bayi, lalu dia pun bersiap ganti pakaian dan sedikit merapikan rambutnya.
Setelah Michael selesai mandi, Sherlyna pun sudah siap dengan tampilan sederhananya.
"Tumben kamu pakai gaun?" tanya Michael heran, biasanya kan Sherlyna lebih suka menggunakan celana dan kaos atau pun kemeja.
"Memangnya nggak boleh?" tanya Sherlyna balik.
"Bukan-nya nggak boleh, tapi ya tumben aja gitu. Kamu kan hobinya pake celana jeans robek robek kayak nggak pumya uang buat beli pakaian sama baju kaos onblong atau kemeja gitu." ucap Michael panjang lebar.
"Kan udah jadi seorang Ibu, jadi ya harus berpenampilan seperti orang Ibu kan." ucap Sherlyna.
"Yaudah ayo kita pergi." ajak Michael setelah dirinya siap dengan celana bahan warna hitam dan kemeja pendek gadis garis, hitam putih.
Sherlyna mengangguk dan mengambil Devandra dari box bayi.
"Michael kok di tingal, itu bawa tas aku."
Michael kembali masuk kedalam kamar dan dengan malas menenteng tas selempang Sherlyna.
"Ngapain sih bawa tas segala." ucap Michael.
Sesampainya di lantai bawah.
"Ma, apa nggak boleh Devandra Sherlyna bawa." ucap Sherlyna.
Ibu mertuanya itu tersenyum. "Nggak sayang, Devandra itu belum ada satu bulan, nggak boleh di bawa kemana mana dulu. Takutnya nanti dia kenapa napa lagi."
Sherlyna pun mengangguk dan menyerahkan Devandra pada Ibu mertuanya.
"Kami pergi dulu ya Ma, titip Devandra." ucap Sherlyna.
"Jangan khawatir, dia cucu Mama... Mama pasti akan menjaganya dengan baik." ucap Ibu mertuanya.
"Michael pergi dulu ya Ma." ucap Michael pamit.
"Iya Ma."
Di mobil.
"Kamu kenapa sedih gitu?" tanya Michael
"Nggak apa-apa, cuma nggak rela aja pisah sama Devandra." ucap Sherlyna.
"Yaudah kita sebentar aja di rumah sakitnya." ucap Michael dan Sherlyna pun mengangguk menyetujuinya.
Tidak tau kenapa Sherlynajuga tidak tau, Sherlyna bisa menyayangi anak itu sebagai anaknya sendiri. Bahkan dia merasa tidak peduli jika itu anak Michael dengan wanita lain. Toh Michael bilang Ibu dari anak itu sudah meninggal, jadi otomatis Sherlyna lah Ibu untuk anak itu.
Sesampainya di rumah sakit.
"Sherlyna lo kemana aja sih?" tanya Mario saat Sherlyna dan Michael baru saja tiba.
"Mario, Mama sama Papa keluar dulu cari makan siang ya." ucap Ibunya Mario, beliau sengaja keluar untuk memberikan privasi untuk anak dan cucunya.
"Titip Om-mu ya Michael." ucap Ibunya Mario lalu keluar ruangan bersama suaminya.
Michael pun hanya tersenyum dan mengangguk, mendekati ranjang Mario bersama Sherlyna.
"Lo baik baik aja?" tanya Sherlyna.
"Seperti yang lo liat." balas Mario.
"Sayang aku sebaiknya menunggu kamu di luar ya." ucap Michael.
__ADS_1
Sherlyna menganguk dan membiarkan Michael keluar ruangan Mario.
Sherlyna pun duduk di kursi dekat ranjang Mario. "Kenapa lo nggak pernah jujur sama gue kalau lo itu punya penyakit parah?" tanya Sherlyna.
"Ck! Gue cuma nggak mau di kasihani." balas Mario.
Sherlyna menghembuskan nafas panjang. "Gue minta maaf."
"Buat apa?"
"Sepertinya kita nggak bisa lanjutin hubungan kita karena---
"Gue tau." ucap Mario memotong ucapan Sherlyna.
"Jadi lo udah milih buat hidup sama Michael." ucap Mario setelah lama diam.
"Maaf, gue cuma mau belajar menjadi istri yang baik." ucap Sherlyna, ada rasa tidak rela karena harus mengakhiri hubungannya dengan Mario.
"Beni pasti akan bahagia kalau tau kita putus." ucap Mario.
"Kok jadi Beni sih?" tanya Sherlyna tidak mengerti.
"Ya karena dia orang yang paling menentang hubungan kita kan? Bahkan selama ini dia nggak pernah nganggap hubungan kita itu ada." jelas Mario dan Sherlyna mengangguk menyetujuinya.
"Sekali lagi gue minta maaf." ucap Sherlyna.
"Oke, nggak masalah kok. Selama lo bahagia, gue pasti akan bahagia." ucap Mario.
"Maaf." ucap Sherlyna lirih.
"Nggak perlu minta maaf lagi..." ucap Mario.
"Lo nggak apa-apa kan? Kita masih bisa jadi teman kan?" tanya Sherlyna.
"Nggak!"
"Eh."
"Lo kan keponakan gue sekarang."
"Oh hehee."
"Kalau Michael macam macam jangan sungkan buat hubungi gue."
"Oke kalau gitu gue pamit pulang dulu ya." ucap Sherlyna.
Mario menghela nafas panjang untuk mengghilangkan rasa sesak di dadanya.
"Gue nggak apa-apa." ucapnya lirih, tanpa sadar air matanya pun mengalir dengan sendirinya dari sudut matanya.
Sebenarnya Mario tidak rela putus hubungan dengan Sherlyna. Mario masih mencintai Sherlyna, tapi dia juga tidak bisa jika harus menahan Sherlyna untuk bersamanya.
Mario akan mencoba menghilangkan perasaannya dengan Sherlyna mulai sekarang, karena Sherlyna adalah keponakannya sekarang.
"Kamu baik baik saja sayang."
Mario menatap Ibunya yang terlihat khawatir.
"Mario nggak baik baik aja Ma." balas Mario jujur.
"Mama tau, tapi semua pasti akan segera membaik... Sherlyna itu adalah wanita yang baik, Mama juga mau dia menjadi menantu Mama, tapi Sherlyna sudah memilih menjadi cucu menantu Mama." ucap Ibunya Mario.
.
__ADS_1
.
.