
[Annastasia Sherlyna Veronica]
"Kakak makasih ya hadiahnya, Ferry suka banget sama hadiahnya. Ferry kira kakak udah nggak ingat sama ulang tahun Ferry."
Gue cuma bisa melongo nggak ngerti, karena dengan tiba tiba Ferry memeluk gue dan mengucapkan terima kasih dengan hadiah yang gue kasih.
Hadiah?
Lah emang gue kasih dia apa?
Tunggu?!
Apa tadi katanya, ulang tahun?
Gue bahkan lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun Ferry karena sebulan ini gue sibuk dengan pekerjaan baru gue.
Jadi kenapa tadi Ferry mengatakan bahwa ia sangat menyukai hadiah yang gue kasih?
"Kakak Sherlyna pilih kasih deh sama Ramma, waktu Ramma ultah kakak cuma ngasih sepeda. Giliran Kak Ferry yang ultah di beliin motor besar, bagus banget lagi." ucap Ramma yang menatap gue kesal sambil bersedekap dada bertanda bahwa ia sangat marah.
"Ya kan lo masih anak SD jadi pake sepeda aja." ucap Ferry yang sudah tak lagi memeluk gue.
"Gue udah SMP ya." ucap Ramma tidak terima.
Ferry mendengus. "Baru juga mau masuk kelas tujuh aja udah sombong."
"Udah jangan berantem, nanti kalau Ramma udah SMA kakak beliin yang sama kayak Ferry." ucap gue melerai.
Ramma tersenyum ceria lalu berlari kearah gue dan memeluk gue. "Kakak memang yang terbaik." ucapnya dan Ferry yang juga ikut memeluk gue.
Walau gue masih bingung tentang dari siapa Ferry mendapatkan hadiah yang mengatas namakan nama gue itu, tapi gue cuma bisa pasang senyum karena gue nggak mungkin bilang sama Ferry kalau bukan gue yang memberinya hadiah.
"Kalian udah makan belum?" tanya gue setelah mereka melepaskan pelukannya.
Ferry dan Ramma dengan kompak langsung mengangguk. "Udah kak, kan tadi kakak yang beliin kita makanan, yang di antar bareng sama motor juga kue ulang tahun buat kak Ferry."
Lagi dan lagi gue kembali melongo tidak mengerti dengan ucapan Ramma. Jadi gue cuma bisa garuk garuk hidung gue lalu tertawa garing.
"Hehehe gue lupa, kirain kalian mau nungguin gue makannya."
Gue dan kedua adik gue berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa. Gue menyalakan tv, mencari acara yang enak di lihat.
"Kak Ferry kan belum cukup umur, jadi belum boleh bawa motor sendiri ya... Nanti kena tilang karena nggak punya SIM." ucap Ramma tiba tiba.
Gue pun mengangguk menyetujui ucapan Ramma yah memang benar adanya. Ferry kan baru 15 tahun, tepat hari ini tanggal 26 Juni.
__ADS_1
Ferry terlihat cemberut "Tapi gue kan mau kayak yang lainnya kak, bisa bawa kendaraan sendiri..."
"Bukanya kakak nggak ngebolehin Fer, tapi kan lo masih lima belas tahun... Gini aja deh, taun depan lo boleh bawa tuh motor." ucap gue.
"Lama banget, terus motor Ferry buat apa?" keluh Ferry lesu.
"Buat pajangan." celetuk Ramma.
"Oh iya, Ayah udah makan belom ya?" tanya gue mengalihkan pembicaraan yang gue yakin akan berakhir dengan perdebatan antara kedua adik gue lagi.
"Udah kok kak, tadi Ramma yang anterin ke kamar Ayah." balas Ramma.
Baru saja gue mau membuka mulut kembali, tiba tiba suara ketukan pintu terdengar membuat gue mengurungkan niat berbicara.
"Perasaan bel rumah kita masih bagus deh kak." ucap Ramma.
"Mungkin orang itu nggak tau kalau rumah kita ada bel-nya kali." balas gue.
"Gue buka dulu ya kak."
Ferry bangkit dari sofa menuju pintu utama rumah kita, selang beberapa detik kemudian Ferry kembali masuk sambil berseru senang.
"Kakak, pacar kak Sherlyna dateng bawa Pizza."
Gue mendengus mendengar itu, mau apa lagi dia kesini?
Gue terkekeh dalam hati, walau sudah beberapa kali dia bertemu Michael tapi ia masih tidak ingat nama Michael dengan benar. Walau dengan tampang muka bete Michael duduk di sofa single sebrang gue.
"Mau apa lo kesini?" tanya gue.
"Gue kesini mau minta maaf." ucap Michael.
Ferry beranjak dari sofa dan menarik tangan Ramma. "Kak kami ke atas dulu ya, makasih lo pizza-nya... Sering sering kesini bawa pizza kami nggak keberatan."
Michael hanya mengangguk lalu kedua adik gue itu pergi meninggalkan gue berdua dengan Michael.
"Gue bener bener minta maaf, gue tau gue salah... Tapi gue bener bener nggak suka lo nyanyi di club itu.... Apa yang yang gue transfer waktu itu kurang. Kenapa nggak bilang, kan gue bisa transfer lagi, lo nggak perlu kerja lagi di club malem walau hanya sebatas penyanyi." ucap Michael panjang lebar.
Gue cuma diam menatap Michael sambil bersedakap dada. Enak banget dia bilang maaf, setelah apa yang di bilang ke gue tadi di club.
"Please gue harus apa biar lo maafin gue." ucap Michael.
"Bilang maaf itu gampang, tapi memaafkan itu nggak semudah orang mengucapkan kata 'maaf'.... Lo itu udah keterlaluan tau nggak, gue janji bakal bayar utang gue yang gue pinjem sama perusahaan lo dan gue juga bakal kembali in uang yang lo kirim waktu itu, tapi gue emang nggak bisa balikin sekarang karena gue nggak punya uangnya kalau sekarang." ucap gue kesal karena teringat kejadian di club beberapa menit yang lalu.
"Gue --
__ADS_1
"Sebaiknya lo pergi dari rumah gue sekarang juga, kalau nggak gue nggak akan pernah mau maafin lo." ucap gue memotong ucapan Michael.
Michael menghembuskan nafas panjangnya lalu beranjak dari sofa dan pergi dari hadapan gue.
Gue Masih nggak terima sama ucapan dia tadi yang ngatain gue senak jidadnya dan sekarang dia dengan mudahnya datang kerumah gue mau minta maaf.
Hati gue masih sakit mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Gue memejamkan mata gue lalu kembali membukanya, mematikan tv lalu beranjak naik ke lantai atas.
Sesampainya di kamar, gue langsung menghempaskan diri keatas ranjang... Kepala gue terasa sangat pusing memikirkan hidup gue yang berantakan sejak lima tahun yang lalu.
Bunda, Sherlyna pengen kayak dulu lagi...
Tapi itu semua nggak akan pernah terjadi. Bunda sudah memilih jalannya sendiri dan gue hanya bisa menerimanya dengan berat hati.
Gue masih ingat ucapan Bunda sebelum benar benar pergi meninggalkan kami.
"Kalau seseorang bisa meninggalkan orang yang mencintainya demi orang yang dia cintai... Kenapa orang yang di cintainya tidak bisa pergi meninggalkan orang yang lebih dia cintai."
Gue sampai sekarang masih nggak ngerti sama kata kata Bunda yang satu itu. Maksudnya apa?
Gue menghela nafas lalu meraih ponsel gue yang memang bergetar di saku celana gue.
"Ya."
"Hallo Sherlyna cintaku sayangku kamu lagi apa? Sudah tidur atau belum?"
"Jijik gue."
"Hehe lo lagi apa? Sombong ya sekarang lo Sherlyna mentang mentang udah punya pacar gue jadi dilupain."
"Yaelah drama lo Ben."
"Hehe kangen gue sama lo."
"Masa? Kok gue nggak ya."
"Tai lo."
Gue tertawa saat mendengar nada suara Beni yang merajuk, mukanya pasti lucu banget kayak anak anjing yang gemesin.
Andai gue punya kakak, apa dia bisa seseru Beni, atau bahkan lebih seru?
Dari dulu gue sering berandai-andai kalau gue itu punya kakak, tapi nyatanya semua itu cuma khayalan gue aja. Karena pada kenyataan yang sebenarnya guelah yang menjadi seorang kakak bagi kedua adik gue saat ini.
__ADS_1