BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 43. Rumah sakit.


__ADS_3

Bagian 43.


"Mama nggak ngizinin kamu ninggalin rumah ini." ucap Ibu Siska tidak setuju dengan keinginan Michael membawa Sherlyna dan baby Devandra pindah.


"Papa juga nggak setuju sama ide kamu Michael." ucap Ayah Adrian.


"Ma, Pa..."


"Kami tau maksud kamu baik Michael, mau belajar mandiri... Tapi kamu itu anak kami satu satunya." ucap Ayah Adrian.


"Kami akan sering datang kemari Ma, Pa." ucap Michael


"Mama tetap nggak setuju." ucap Ibu Siska.


Saat ini mereka bertiga tengah sarapan bersama, Sherlyna tidak ikut sarapan bersama karena masih sibuk dengan Baby Devandra. Jadi memutuskan untuk sarapan di kamar saja.


"Kakek kamu sedang sakit sakitan, Mama sama Papa bakalan nginep di sana sampe beliau sehat... Rumah ini bakalan kosong kalau kamu membawa istri dan anak kamu keluar dari rumah ini." jelas Ayah Adrian.


Michael hanya mengangguk lesu, "Perusahaan Papa serahkan kamu dan Mario yang urus semua." ucap Ayah Adrian lagi.


"Hmm..."


"Michael."


"Iya Ma."


"Jaga Sherlyna baik baik, sejak kedatangan Baby Devandra dia jadi sering begadang... Mama takut kondisi kandungannya terganggu." ucap Ibu Siska, yang melihat Sherlyna semakin hari semakin pucat.


Michael mengangguk. "Mama jangan khawatir, Michael pasti jaga Sherlyna dan Baby Devandra dengan baik."


"Jangan sering lembur." ucap Ibu Siska.


"Kami pergi dulu."


Ayah Adrian dan Ibu Siska pun pamit pergi kerumah Kakek nenek Michael setelah selesai sarapan.


Michael mengantar mereka sampai garasi, dalam hati brdoa agar kondisi kakeknya cepat membaik.


Michael kembali masuk ke dalam rumah, dengan langkah lesu dia masuk kedalam kamar. Dilihatnya Sherlyna tengah memberikan susu pada Baby Devandra.


"Kamu belum sarapan?" tanya Michael saat melihat nampan di atas meja isinya masih belum tersentuh.


Sherlyna menggelengkan kepalanya pelan. "Sebentar lagi." ucapnya.


Michael mendekati Sherlyna dan memperhatikan wajah Sherlyna yang memang lebih pucat dari biasanya. Michael pikir itu efek karena Sherlyna tidak memakai make up, tapi setelah di perhatikan ternyata bukan.


"Sini biar aku yang memberikan susu pada Baby Devandra, kamu sarapan dulu." ucap Michael.


Sherlyna kembali menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, biar aku aja... Aku lagi nggak enak sarapan." ucap Sherlyna.


"Tapi kamu harus makan, liat wajah kamu sudah pucat kayak mayat hidup." ucap Michael seraya mengusap wajah Sherlyna lembut.


"Nanti aja, aku lagi nggak enak makan Michael," ucap Sherlyna. "Sebaiknya kamu berangkat ke kantor aja, nanti kesiangan." lanjut Sherlyna.

__ADS_1


Michael menghela nafas dan mengambil sarapan Sherlyna.


"Kamu mau apa?" tanya Sherlyna saat Michael membawa makanan itu mendekatinya.


"Mau nyuapin kamu, aku nggak mau kamu nggak makan." ucap Michael.


Sherlyna menggelengkan kepalanya. "Please, jauhin makanan itu dari aku. " pintanya memelas.


Perutnya langsung bergejolak mau muntah saat melihat makanan yang Michael bawa.


Michael mengerutkan dahinya bingung. "Tapi--


Michael tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat Sherlyna mau muntah, dengan cepat ia kembali meletakkan nampan itu dan mengambil alih Baby Devandra.


Sherlyna dengan cepat berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang bahkan belum terisi sama sekali, hanya cairan berwarna kuning yang keluar dari mulutnya dan itu terasa pahit.


Entah kenapa, beberapa hari terakhir ini Sherlyna sangat sensitif dengan bau makanan. Perutnya langsung akan bergejolak mau muntah saat ia melihat atau sekedar mencium bau makanan.


"Sherlyna kamu baik baik saja kan?" tanya Michael khawatir.


Sherlyna keluar dari kamar mandi, kepalanya terasa pusing dan wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya.


"Aku baik baik saja." ucapnya lirih.


"Wajah kamu pucat banget, kita kerumah sakit ya." ucap Michael.


"Michael, tolong jangan jalan jalan saat memberikan susu untuk Baby Devandra, nanti dia tersedak." ucap Sherlyna, ia duduk di tepi kasur dan memijat keningnya yang terasa pening.


"Jangan khawatir, aku baik baik saja." ucap Sherlyna saat melihat Michael tidak fokus memberikan susu pada Baby Devandra.


"Kita kerumah sakit, aku nggak mau kamu dan calon bayi kita kenapa napa." ucap Michael setelah susu Baby Devandra habis.


"Tapi kamu harus ke kantor." ucap Sherlyna lemah.


"Di kantor sudah ada Mario." ucap Michael, lalu ia membaringkan Baby Devandra di atas kasur dan mulai menyusun kebutuhan Baby Devandra ke dalam tas.


Setelah siap, Michael mengendong tas Baby Devandra di punggungnya dan menggendong Baby Devandra.


"Ayo." ajak Michael.


Sherlyna tersenyum melihat Michael yang kerepotan membawa tas dan menggendong Baby Devandra. Dia terharu melihat Michael sudah hafal semua barang yang harus di bawa untuk Baby Devandra jika ingin bepergian.


"Biarkan aku yang membawakan tas itu." ucap Sherlyna.


Namun Michael menggelengkan kepalanya. "Biar aku saja." ucapnya, mana tega dia membiarkan Sherlyna membawa tas dalam keadaan kurang baik seperti itu.


"Tuan, Nyonya.."


"Nggak perlu Bik, kami bisa."


Michael mencegah pelayan yang hendak membantunya.


Dengan susah payah Michael membuka pintu mobil dan membantu Sherlyna masuk kedalam mobil. "Kamu bisa kan gendong baby Devandra?" tanya Michael.

__ADS_1


Sherlyna mengangguk dan mengambil alih baby Devandra.


Setelah meletakkan tas Baby Devandra di jok belakang, Michael pun naik ke kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


At rumah sakit.


Setelah hampir satu jam menunggu, akhirya Sherlyna mendapatkan panggilan untuk di periksa.


Michael tidak peduli dengan tatapan orang orang yang menatapnya dengan berbagai pandangan karena menggendong Baby Devandra dan membawa tas di punggungnya.


"Jadi apa keluhan Anda?" tanya dokter sebelum memeriksa Sherlyna.


"Mual dan muntah muntah kalau melihat atau bau makanan dok." ucap Sherlyna.


Dokter itu mengerutkan dahinya mendengar ucapan Sherlyna, lalu menatap Michael yang tengah menggendong Baby Devandra.


"Mungkin Anda kena asam lambung, mari saya periksa dulu." ucap Dokter itu menyuruh Sherlyna berbaring di ranjang yang sudah tersedia untuk periksa pasien.


Sherlyna berbaring dan membiarkan dokter memeriksanya.


Dokter itu semakin kebingungan saat mendapati Sherlyna sedang hamil.


"Anak Ibu usianya berapa bulan?" tanya dokter itu setelah kembali duduk di kursinya.


"Belum genap satu bulan dok." balas Sherlyna.


"Dok yang sakit itu istri saya, kenapa malah tanya umur anak kami." ucap Michael bingung.


Dokter itu menghela nafas bingung. "Jika Anak kalian belum genap satu bulan, bagaimana Anda bisa hamil lebih dari dua bulan." ucap dokter itu kebingungan.


Dokter itu menatap Michael dan Sherlyna secara bergantian meminta penjelasan.


Michael menghela nafas panjang. "Tentu saja bisa dok, karena ini bukan anak saya dan istri saya."


"Hah?"


"Jadi saya kenapa dok?" tanya Sherlyna tanpa peduli kebingungan sang dokter, dia sengaja mengalihkan topik karena tidak mau membahas tentang baby Devandra lebih lanjut.


"Sudah jelas Anda hamil." ucap dokter itu cepat.


"Mual dan muntah itu sudah biasa di alami ibu hamil, saat hamil indra penciuman memang sangat sensitif..." lanjut sang dokter.


"Beberapa hari terakhir ini saya nggak bisa makan dok." ucap Sherlyna.


"Nggak apa apa, ibu hamil memang seperti itu... Ini adalah resep vitamin dan anti mual yang harus anda tebus."


"Terima kasih dok."


"Oh iya, karena tekanan darah anda sangat tinggi.. Tolong jangan terlalu banyak begadang dan kurangi makan daging untuk sementara waktu ini, perbanyak makan ikan dan sayur." ucap dokter itu.


"Baik dok, kami permisi."


Michael dan Sherlyna pun pulang setelah menebus obat di lantai dasar.

__ADS_1


__ADS_2