
Sherlyna membuka matanya yang terasa berat secara perlahan, pandangannya sedikit mengabur dan kepalanya amat teramat pusing.
"Ahh....."
Sherlyna mengerang sakit saat akan memegang kepalanya yang terasa pusing, Sherlyna melihat kearah tangan kirinya yang dia angkat tinggi tinggi namun hanya sebentar karena tangan itu kembali lunglai jatuh ke samping tubuhnya.
Dahinya berkerut dalam saat sadar bahwa itu adalah sebuah infusan. "Gue di mana." ucapnya, tapi suara itu hanya bisa ia ucapkan dalam hati karena rasanya mulutnya sama sekali tidak bersuara.
"Gue di mana sih, ini kenapa gue di infus segala? Ini lagi apa yang nyangkut di hidung gue, bikin susah napas aja!" gerutu Sherlyna kesal, namun itu semua hanya mampu ia ucapkan dalam hati karena lagi lagi mulutnya tidak dapat mengeluarkan suara.
"Sherlyna lo udah bangun... Syukurlah."
Itu suara Michael dan Sherlyna yakin itu, walau suaranya tidak dapat keluar tapi telinganya masih dapat mendengar dengan jelas.
Sherlyna membuka mulutnya dan berbicara sesuatu tapi karena tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya, membuatnya mengerang frustasi.
"Sherlyna lo baik-baik aja kan?" tanya Michael khawatir.
"Baik-baik aja palalo peyang! Kepala gue sakit banget bego, ini hidung gue juga gatel karena ada benda sialan ini! Tangan gue juga sakit tau di infus gini, ini juga apaan jari telunjuk gue kenapa di jepit! Kayak orang sekarat aja gue di giniin!" gerutu Sherlyna kesal, namun yang Michael lihat hanyalah Sherlyna yang membuka mulutnya seperti ikan koi. Hal itu membuat Michael meringis karena menahan tawa melihat Sherlyna yang terlihat lucu.
Sherlyna melotot, saat ia akan memukul Michael menggunakan tangan kanannya yang tidak terinfus, namun gagal karena baru saja sampai di udara tangannya itu malah kembali terjatuh di sisi tubuhnya.
Sherlyna mengeryit bingung. 'Kok tangan gue mati rasa?'
"Sebaiknya lo tidur aja dulu..."
Sherlyna hanya bisa melotot tidak setuju dengan ucapan Michael yang menyuruhnya tidur. Bagaimana ia bisa tidur dengan kepala yang teramat pusing, bahkan pandangan pun masih agak kabur.
Di mata Sherlyna bahkan Michael kadang bisa menjadi dua atau bahkan lebih. Ada apa sebenarnya dengan dirinya?
Seingatnya, tadi Sherlyna ada di rumah dan ia masuk kedalam kamar mandi untuk mengangti pembalut karena memang ia sedang mendapatkan tamu bulanan. Tapi karena rasa sakit di perutnya yang luar biasa membuat nya tiba-tiba pingsan.
Pingsan...
Dan berakhir dirumah sakit.
__ADS_1
Ya Sherlyna baru sadar bahwa ini adalah rumah sakit. Memangnya apa yang terjadi padanya hingga dia berakhir di rumah sakit, bahkan dengan banyak alat yang menempel pada tubuhnya dan juga sepertinya Sherlyna juga mengalami mati rasa, bahkan tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.
"Tadi lo pingsan di kamar mandi." ucap Michael tiba-tiba membuyarkan lamunan Sherlyna.
Sherlyna menatap Michael, ia memang ingat bahwa ia tadi pingsan di kamar mandi. Tapi bagaimana bisa Michael ada di hadapannya sekarang?
Maksudnya, bukankah Michael sedang berada di singapura. Bahkan selama satu bulan Michael pergi, mereka tidak pernah kontak sama sekali.
Seakan tau kebingungan Sherlyna, Michael lantas berucap. "Tadi gue baru pulang dari Singapure dan gue liat lo nggak sadarkan diri di kamar mandi, jadi gue bawa lo kerumah sakit. Kan nggak mungkin gue biarin lo mati di rumah gue, yang ada entar gue di tuduh yang nggak-nggak lagi. Padahal gue baru dateng waktu itu."
Sherlyna langsung melotot kearah Michael. Tapi lagi-lagi sialnya Sherlyna tidak dapat menyuarakan apa yang akan di ucapkannya yang ada ia hanya bisa membuka mulutnya lalu menutupnya kembali, sama persis seperti ikan koi.
Michael hampir saja tidak dapat menahan tawanya karena melihat Sherlyna dan akhirnya ia memutuskan untuk keluar ruangan Sherlyna dan mengatakan akan memanggil dokter.
"Gue panggil dokter dulu ya."
Sherlyna menatap kepergian Michael dengan kesal karena dia tau jika Michael sudah menertawakannya dalam hati, ia bisa melihat itu dari ekspresi wajah Michael.
Lihat saja nanti apa yang bisa dia lakukan jika ia sudah bisa bersuara dan juga bisa menggerakkan seluruh tubuhnya dengan benar.
'Astaga ada apa dengan suaraku sebenarnya? Kenapa hanya berbicara -aku- saja susahnya setengah mati!'
Pintu ruangan terbuka membuat Sherlyna melihat kearah pintu dan ternyata itu Michael bersama dokter dan juga seorang suster yang membawa papan seperti yang di pakai anak untuk ujian.
"Dokter, apa dia baik-baik saja?" tanya Michael.
Sherlyna hanya diam saja memperhatikan dokter yang sedang memeriksanya. Memangnya dia bisa apa selain diam, toh ia juga tidak dapat berkata-kata dan juga menggerakkan tubuhnya. Hanya tangan yang bisa ia gerakkan, itu pun terasa sangat lemas sekali.
"Tentu, dia akan baik-baik saja."
"Lalu kenapa dia hanya diam saja. Kurasa dia tadi ingin mengatakan sesuatu tapi suaranya nggak bisa keluar dan saat ia mengangkat tangannya, sepertinya juga nggak bisa di gerakkan." ucap Michael panjang lebar.
Dokter yang memeriksa Sherlyna tersenyum. "Itu biasa, setelah beberapa jam kedepan ia akan bisa beraktivitas dengan normal kembali... Ini hanya efek dari sisa-sisa obat bius yang kami berikan tadi." jelas dokter itu.
Sherlyna hanya menatap Michael dam dokter itu tidak mengerti. Oh ayolah, dia tadi hanya pingsan saja. Lalu kenapa dia harus di bius?
__ADS_1
"Jadi, apa setelah ini saya bisa membawanya pulang?" tanya Michael lagi.
"Mungkin nggak untuk hari ini karena selain detak jantungnya yang belum berjalan dengan normal dan juga tekanan darahnya yang terlalu rendah. Jadi lebih baik kita lihat saja bagaimana perkembangannya besok, kami nggak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan pasien jika ia pulang hari ini." jelas dokter itu panjang lebar.
Michael hanya mengangguk-anggukan kepalanya bertanda bahwa ia mengerti dengan penjelasan dokter. Tapi ternyata sebenarnya ia tidak terlalu mengerti dengan penjelasan dokter yang menurutnya ribet itu.
Sementara Sherlyna semakin mengerutkan dahinya bingung dengan semua pembicaraan Michael dan juga dokter yang terasa aneh.
"Dok."
Itu suara Sherlyna, akhirnya setelah bersusah payah ia bisa mengatakan sesuatu dengan benar.
"Ya, apa masih terasa pusing?" tanya dokter itu.
Dan Sherlyna menjawab dengan anggukan kepalanya. "To-lo-ng-le-pa-s-kan-se-su-a-tu-ya-ng-nya-ng-kut-di-hi-du-ng-sa-ya."
Sherlyna berucap dengan terbata-bata,Michael hanya mengeryit tidak mengerti melihat itu.
Sementara dokter itu tersenyum. "Iya saya akan melepaskannya, tapi nanti ya... Setelah anda bisa bernafas dengan normal tanpa bantuan oksigen..."
Sherlyna mendengus karena ia merasa nafasnya malah susah karena selang yang ada di hidungnya itu, sangat menganggu.
"Ta-pi-dok-i-n-i-sa-ng-at-me-ng-ga-ngg-u." ucap Sherlyna protes.
"Lo bicara apa elah, kayak kodok ke jepit gitu." cetus Michael yang tidak mengerti dengan ucapan Michael.
Sherlyna melotot kesal kearah Michael dan dokter tadi hanya tersenyum lalu berkata. "Sabar ya... Saya permisi dulu, satu jam lagi saya akan kembali untuk memeriksa kondisi anda lagi." ucap dokter itu lalu keluar diikuti suster yang sedari tadi sibuk mencatat sesuatu.
'Sabar sabar sabar, keburu gue mati karena terganggu dengan selang sialan ini.' gerutu Sherlyna dalam hati.
Michael mengangkat tangannya saat dilihatnya Sherlyna akan mengatakan sesuatu. "Lebih baik lo tidur aja sekarang... Percuma lo bicara juga gue nggak bakalan ngerti bahasa alien lo itu karena gue bukan dokter tadi yang bisa bahasa alien kayak lo." cerocos Michael.
Sherlyna mengumpat dalam hati, dia hanya ingin bertanya kenapa dia bisa berada dirumah sakit ini dan apa maksud dari pembicaraan dokter tadi.
__ADS_1