BAD : Michael Dan Sherlyna

BAD : Michael Dan Sherlyna
Part 7. Sherlyna sayang Bunda.


__ADS_3

[Author]


"Bunda apa kabar?" Tanya Sherlyna sambil tersenyum ceria.


"Baik." balas perempuan itu masih berkutat dengan ponselnya.


"Bunda mau pesan apa?" tanya Sherlyna lagi.


"Nggak perlu."


"Bunda---


"Aku kesini bukan mau basa-basi-busuk sama kamu, tapi cuma mau kasih ini." ucap Bunda mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas dan menyerahkannya pada Sherlyna.


"Ini apa Bunda?" Tanya Sherlyna bingung.


"Aku kira kamu nggak bodoh Sherlyna." ucap Bunda membuat Sherlyna menatap nanar amplop coklat itu setelah tau isinya.


"Bunda ini untuk apa?"


"Terserah mau kamu gunakan untuk apa." ucap Bunda lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Sherlyna sendirian di cafe.


Sherlyna menghapus air matanya yang tanpa sadar sudah mengalir deras dari kedua bola matanya. Menatap sang Bunda yang memasuki mobil dan pergi tanpa mau menatap dirinya barang sedetik pun.


"Apa sebenarnya kesalahan Sherlyna, Bunda?" gumamnya lirih.


Sherlyna menghela nafas panjang dan kembali menghapus air matanya, dia menguatkan dirinya agar tidak menangis lagi. Sudah cukup selama ini Sherlyna selalu mengangap bahwa hubungannya dengan Bundanya baik baik saja. Nyatanya tidak.


Sherlyna bahkan tidak tau apa kesalahan dirinya yang membuat Bundanya berubah padanya.


"Tapi Sherlyna tetap nggak bisa membenci Bunda... Sherlyna sangat menyayangi Bunda?."


[ BAD ]


Malam harinya Sherlyna menghabiskan malamnya di club tempat biasanya dengan meminum minuman yang hanya ia minum jika datang ketempat pesta temannya.


"Sherlyna kalau ada masalah sebaiknya lo bicarain baik baik, udah cukup jangan minum lagi... Lo udah banyak minum."


"Gue harus gimana lagi San, biar Bunda bisa kayak dulu lagi..." Sherlyna berucap lemah seraya menempelkan wajahnya di meja Bartender.


"Ya lo nggak harus kayak gini, Sherlyna... Sebaiknya lo biacara baik baik sama Bunda lo." ucap Sander, Bartender club yang kebetulan kenal dengan Sherlyna.


"Gimana mau bicara, Bunda aja nggak mau liat gue. Sebenarnya apa kesalahan gue?"

__ADS_1


Sander menghela nafas karena ia tidak tau harus bagaimana, ia tidak terlalu mengenal Sherlyna dan keluarganya. Sander hanya kenal Sherlyna karena memang gadis itu sering datang ke club tempat Sander bekerja.


"Hp lo bunyi tuh." ucap Sander melihat ponsel Sherlyna yang ada di letakkan di meja bergetar sedari tadi.


Sherlyna tidak menggubris Sander, ia malah kembali meminum wine yang masih tersisa di gelas miliknya. Entahlah itu adalah gelas keberapa, dia pun sudah tidak ingat.


Sander pun mengambil ponsel Sherlyna dan mengangkatnya.


[ Michael Verrali Blackwell ]


Gue menghentikan mobil gue di parkiran club , dan langsung masuk kedalam dengan terburu-buru. Sesampainya di dalam gue langsung mengedarkan pandangan gue untuk mencari seseorang perempuan yang akhir-akhir ini sering membuat gue merasa aneh.


"Udah dong Sherlyna jangan minum lagi."


Gue langsung menuju bartender saat mendengar suara bartender itu sedang melarang Prilly untuk meminum wine. Tadi gue iseng-iseng menelfon Sherlyna, tapi yang mengangkat malah seorang lelaki dan ia mengatakan bahwa Sherlyna sedang mabuk berat di club.


"Sherlyna udah." ucap gue mengambil gelas dari tangannya.


"Lo apaan sih, balikin." ucap Sherlyna.


"Kayaknya dia lagi ada masalah, biasanya dia nggak pernah kayak gini." ucap Bartender itu sama gue.


Gue mengangguk singkat lalu membawa Sherlyna keluar dari club ini dan memasukkan nya kedalam mobil gue.


[ Author ]


Michael memutuskan untuk membawa Sherlyna ke apartemen nya karena tidak mungkin ia membawa Sherlyna kerumah orang tuanya, itu akan menjadi masalah. Dia juga tidak enak bila harus memulangkan Sherlyna dalam keadaan seperti itu.


Dengan susah payah Michael membuka pintu apartemen, karena ia sedang menggendong Sherlyna. Sherlyna tidak mau jalan sendiri tadi.


Setelah berhasil membuka pintu apartemen dan menutupnya kembali, ia berjalan menuju kamarnya yang kebetulan tidak di kunci jadi tidak terlalu susah untuk membukanya.


"Lo berat banget sih Sherlyna, padahal badan lo kurus kerempeng kayak gini... Kebanyakan dosa lo." ucap Michael sambil merebahkan badan Sherlyna keatas kasur.


"Mau kemana?" tanya Sherlyna masih dengan mata terpejam dan kedua tangan yang menggalungi leher Michael dengan erat.


"Nyusahin banget sih lo itu, lepasin tangan lo." ucap Michael.


Sherlyna menggelengkan kepalanya. "Nggak mau." ucapnya dengan nada merajuk, mungkin efek mabuk.


"Lepasin tangan lo..." ucap Michael berusaha melepaskan tangan Sherlyna, namun yang ada malah Sherlyna menarik Michael hingga membuat Michael terjatuh di atas tubuh Sherlyna.


"Astaga!" pekik Michael.

__ADS_1


"Temani gue malem ini, jangan tinggalin gue." ucap Sherlyna masih dengan nada merajuk manja.


Michael memperhatikan wajah Sherlyna dengan mata yang masih terpejam. "Lo itu cantik banget sih." ucap Michael tersenyum tulus, tangannya mengusap wajah Sherlyna dengan lembut.


"Oke, ini posisinya ambigu banget buat gue ga tahan." gumam Michael lirih.


Michael menggulingkan badannya kesamping, membuat Sherlyna kini berada di atas badan Michael karena dia tidak mau melepaskan pelukannya pada leher Michael.


"Sherlyna lepas dong." ucap Michael.


"Jangan."


"Jangan salahin gue ya kalau gue nggak tahan..."


[ Annastasia Sherlyna Veronica ]


Gue mengerjapkan mata gue yang terasa berat, kepala gue pun terasa sangat berat. Mungkin efek gue minum semalem, ck menyebalkan. Gue benci kalau abis gue minum pasti kepala gue langsung pusing banget.


"Udah bangun lo." ucap seseorang membuat gue mengeryit bingung karena itu bukan suara Ferry maupun Ramma apalagi Ayah, lalu siapa?


Gue membuka mata gue lebar lebar lalu menatap kesamping ranjang, refleks gue langsung melotot saat tau siapa orang itu.


"Ngapain lo ada di kamar gue?" tanya gue kesal.


Michael malah bersedekap dada lalu menatap gue sinis. "Yakin ini kamar lo?" tanyanya balik.


Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar ini dan gue baru sadar kalau ini memang bukan kamar gue. Kamar ini terasa sangat asing bagi gue, mungkin ini kamar Michael.


"Kenapa gue bisa ada di kamar lo?" tanya gue hati hati.


"Nih minum dulu." ucap Michael memberikan gue obat pereda pusing tanpa membalas pertanyaan gue tadi.


Gue pun mengambil obat dan gelas yang Michael sodorkan ke gue, dengan cepat gue meminum obat itu dan memgembalikan gelas kosong ke Michael.


"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi, kenapa gue bisa ada di kamar lo?" tanya gue sekali lagi.


Michael menatap gue datar, "bisa nggak lo benerin dulu itu selimut."


Ucapan Michael membuat gue menunduk lalu melotot dan membenarkan selimut yang Michael maksud.


"Baju gue mana?!"pekik gue kaget karena nggak pake baju!


__ADS_1


__ADS_2