
[ Author ]
"Ada apa, Ayah?"
Rezardian menatap putra sulungnya yang bertanya kepada dirinya, ia menghela nafas lalu menghembuskan nafas dengan kasar. Rezardian menyodorkan amplop yang baru saja ia terima ke arah putranya, ia tidak mau mengatakannya secara langsung.
Beni menerima amplop itu dengan bingung, matanya terbelalak kaget saat telah membaca ini amplop itu. "Apa-apaan ini, Ayah?" tanya Beni.
Rezardian hanya mengenhendikkan bahu, "seperti yang kamu baca."
"Ck! Rasanya aku ingin sekali mencekik nenek lampir itu." ucap Beni kesal, ia meremas kertas putih itu hingga tidak berbentuk.
"Marinka nggak akan menyerah sebelum ia benar benar mendapatkan hak asuh, Ferry dan Ramma." ucap Rezardian.
"Kenapa nenek lampir itu juga menuliskan bahwa dia menginginkan hak asuh Anna?!"
"Ayah nggak tau." balas Rezardian.
"Ck! Dasar nggak tau diri, Anna itu adikku bukan anak nenek lampir itu." ucap Beni.
"Aku tau, tapi bagaimana dengan Ramma. Jika Ferry, mungkin aku masih bisa mendapatkan hak asuhnya karena dia putraku. Tapi Ramma? Walau dia bukan darah dagingku, tapi aku sudah sangat menyayanginya seperti putraku sendiri selama ini. Ayah nggak rela kalau suatu saat dia akan mengambilnya." ucap Rezardian lirih.
"Ayah jangan khawatir, Anna, Ferry dan Ramma adalah adik-adikku... Aku nggak akan membiarkan nenek lampir itu mendapatkan hak asuh mereka, Ayah." kata Beni sungguh-sungguh.
Rezardian menatap putra sulungnya itu dengan nanar, walau dulu dirinya pernah dengan bodoh nya meninggalkan Beni, tapi Beni tidak pernah sekalipun membenci dirinya. Rezardian merasa sangat beruntung mempunyai putra seperti Beni.
"Jadi siapa orang tua Ramma, Ayah?"
Beni dan Rezardian terkejut mendapati Ramma yang tiba tiba berada di samping mereka, masih dengan seragam SMP-nya. Ramma menatap Beni dan juga Rezardian secara bergantian, matanya sudah berkaca-kaca karena ia telah mendengarkan semua kenyataan yang sangat amat menyakitkan baginya.
"Ramma anak siapa, Ayah. Kak Ben?" tanya Ramma sekali lagi Anak berusia 13 tahun itu benar benar merasa sangat terpukul saat mendengar semua kenyataan pahit ini.
"Ramma, kamu anak Ayah sayang." ucap Rezardian.
Ramma menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ayah, jangan berbohong. Ramma sudah mendengar semuanya, Ramma bukan anak kandung Ayah. Lalu siapa Ayah Ramma?"
Rezardian menghela nafas panjang lalu berkata. "Kamu memang bukan anak kandung Ayah. Tapi percayalah bahwa Ayah sangat menyayangi kamu..."
"Siapa orang tua kandung Ramma Ayah?" tanya Rama sekali lagi.
Rezardian menghela nafas panjang lalu berkata. "Marinka dan Samuel adalah orang tua kandung kamu."
__ADS_1
"Ramma!"
Rezardian dan Beni menyerukan nama Ramma karena bocah lelaki itu langsung berlari keluar rumah. Entah mau kemana anak itu, Beni pun mengejarnya dan menyuruh agar Rezardian tetap di rumah.
•••••
Michael memperhatikan wajah Sherlyna yang tertidur di sofa ruang kerjanya dengan tersenyum - senyum sendiri, entah apa yang membuatnya tersenyum saat menatap wajah Sherlyna.
Michael yakin bahwa Sherlyna tadi merasa bosan saat Michael meninggalkannya di ruangan ini sendiri selama hampir dua jam lebih. Ya, tadi Michael memang memaksa Sherlyna untuk tetap tinggal bersamanya di kantor. Walau sebenarnya Sherlyna tidak mau, tapi jangan sebut dirinya Michael jika tidak bisa membuat Sherlyna bersamanya.
Bagi Michael, Sherlyna adalah tipe orang yang keras tapi juga mudah untuk lunakkan. Seperti Es batu, sekeras apapun es batu, maka tetap akan cair juga bila di biarkan terlalu lama keluar dari kulkas.
Dan Michael juga sangat berharap bahwa perasaan Sherlyna nantinya juga akan seperti itu kepada Michael, Aminn... Doakan ya teman teman.
"Harusnya kita itu lagi bulan madu sekarang... Seharusnya aku nggak bekerja disaat baru menikah." ucap Michael ia merasa kesal sendiri. jika saja Orangtua tidak pergi keluar negri, ia pasti tidak akan sibuk mengurusi perusahaan Ayahnya.
Michael melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, lalu kembali melihat kearah Sherlyna yang masih tertidur lelap.
"Bangunin nggak ya?"
"Kasian tapi, sepertinya Sherlyna sangat lelap sekali."
Akhirnya Michael pun memutuskan untuk menggendong Sherlyna karena tidak tega untuk membangunkan Sherlyna. Lagi pula, Michael masih ingat jika membangunkan Sherlyna itu juga akan percuma karena Sherlyna itu kan hampir mirip kebo, sangat susah di bangunin.
Setelah sampai di depan rumahnya, atau lebih tepatnya rumah orang tua Michael. Sherlyna sepertinya masih tertidur lelap dan tidak ada gambaran untuk bangun sama sekali. Dan Michael pun memutuskan kembali untuk menggendong Sherlyna.
Michael menutup pintu mobil menggunakan kaki, membuat seorang supir yang bekerja di rumah itu segera menghampiri Michael.
"Tolong kunci mobil masih ada di dalem mobil." ucap Michael dan lelaki itu mengangguk hormat. Dengan segera ia mengambil kunci mobil dan menguncinya, lalu ia buru-buru berlari mengikuti Michael yang menuju rumah dan membukakan pintu untuk Michael.
Seorang pelayan mendekati Michael dengan terburu-buru saat melihat Sherlyna berada di dalam gendongan Michael.
"Ada apa dengan Nyonya Muda, Tuan?" tanya pelayan itu hati-hati.
"nggak ada, dia cuma tertidur aja." ucap Michael dengan terus melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Pelayan tadi masih mengikuti Michael dan membukakan pintu kamar Michael, "Apa anda membutuhkan sesuatu Tuan?" tanya pelayan itu.
Michael menghentikan langkahnya lalu menatap pelayan itu seraya menggelengkan kepalanya. "nggak ada, tolong tutup pintu aja dari luar."
Pelayan itu mengangguk lalu menutup pintu kamar Michael dari luar. Michael pun membaringkan tubuh Sherlyna di atas ranjang lalu merenggangkan otot - otot tangannya yang terasa pegal.
__ADS_1
"Lo itu kurus, tapi kok berat ya. Kebanyakan dosa kali." gumam Michael.
"Hah." Michael melepas sepatu Sherlyna dan menjatuhkannya di samping ranjang.
Setelah itu, Michael memutuskan untuk membersihkan diri karena badannya juga sudah terasa sangat lengket dengan keringat.
Setelah selesai membersihkan diri, Michael melihat kearah Sherlyna yang masih memejamkan matanya rapat-rapat. Michael mengendikkan bahu asal lalu beralih mengambil kaos di dalam lemari dan memakainya.
Michael naik keatas ranjang dan memutuskan untuk tidur karena merasa mengantuk dan capek. Michael pun tertidur dengan memeluk tubuh Sherlyna.
Skip...
Sherlyna membuka matanya dengan malas, rasanya sangat malas untuk bangun jika saja dia tidak merasa lapar. Apalagi dia merasa sangat nyaman tertidur dengan memeluk bantal guling.
Sherlyna membuka matanya dengan lebar lebar saat sadar bahwa tdi dirinya kan tertidur di sofa kantor Michael, lalu bagaimana bisa ada guling?
"Brak!"
"Aduh!"
Sherlyna meringis sekilas saat melihat Michael yang terjatuh dari ranjang akibat dorongannya yang spontan tadi.
"Aduh, Sherlyna... Lo jahat banget sih, sakit tau."
"Kenapa gue bisa ada disini? Bukanya gue tadi tidur di sofa kantor lo?" tanya Sherlyna mengabaikan ucapan Michael.
Michael mendengus sebal lalu kembali naik keatas ranjang. "Gue udah bangunin lo tapi lo nggak bangun bangun, jadi gue terpaksa harus gendong badan lo yang beratnya ngalahin sekuintal beras itu."
"Apa?!"
"Ish nggak usah pake otot juga kali."
"Enak aja lo ngatain gue gendut?" ucap Sherlyna tidak terima dengan ucapan Michael tadi yang tidak langsung mengatakan dirinya gendut. Padahal berat badan Sherlyna hanya 49 Kg.
"Gue nggak bilang lo gendut ya."
"Tapi secara nggak langsung lo itu tadi udah ngatain gue gendut!"
"Tau ah gue laper mau makan." ucap Michael malas berdebat, ia beranjak dari ranjang dan meninggalkan Sherlyna.
Sherlyna menggertakkan giginya kesal, ia pun turun dari ranjang lalu mengikuti Michael keluar kamar karena dirinya juga kan lapar.
__ADS_1