
" Roy!!!" teriakan aksa menggema di seluruh penjuru ruangan itu. Baik Roy, Siska dan Mama berlarian ke arah kamar Aksa. Aksa segera memakaikan jasnya pada yushka.
" Jangan berani-beraninya menyentuh istriku sedikit saja atau anda akan melihat bagaimana putramu ini bertindak seakan bukan putramu tuan ivander. Jika kamu mencintainya seharusnya dia tidak pergi dari sini. Koreksilah dirimu sendiri sebelum kamu menyalahkan gadis itu!" seru aksa. Sedangkan Mereka bertiga yang sudah sampai dalam kamar kaget saat melihat yushka akan di lecehkan oleh papa mereka.
" Pa .... " lirih Siska.
" Jangan katakan bahwa dia orang lain aksa kamu pasti sedang melindunginya. Jangan bercanda denganku!" serunya tak percaya.
" Sudah ku katakan bahwa dia benar-benar yushka! Sebenarnya kamu ini mencintai Yushna atau bagaimana? Mengenalinya saja tidak bisa," ejek aksa pada papanya. Perdebatan itu terdengar sangat sengit. Tak ada yang bisa melerai jika aksa sudah marah.
" Apa buktinya jika dia bukan yushna???" tanya Ivander masih kekeh pada pendiriannya.
" Bahkan dia masih perawan saat kunikahi tuan Ivander. Jika kamu ingin tahu datanglah ke rumah akan kuberikan rekaman dimana istriku kesakitan saat malam pertama kita. Roy antar kami pulang sekarang! Tidurlah di rumahku," ajak aksa yang kemudian diikuti oleh Roy keluar. Aksa menggendong yushka yang masih menangis. Hati Roy sakit saat melihat gadis itu akan di lecehkan kembali kedua kalinya.
Jika kau bukan papaku sudah kuhabisi semenjak tadi. Sayang sekali kau sangat beruntung tuan Ivander. Jika mamaku tidak mencintaimu susah habis kau saat ini. Bahkan kau berani-beraninya ingin menggagahi menantumu sendiri. Dasar brengsek! Marah aksa dalam hati.
" Kak ... Ku tutup ya jendela tengah," ucap Roy.
" Thank's Roy ... " jawaban itulah yang bisa aksa ucapkan saat ini pada adiknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" Ivander tak bisakah kau berfikir jernih? Aku bahkan tak menyangka kamu akan melecehkan menantumu sendiri!" seru Amoora yang tak lain adalah mama aksa. Siska hanya terbengong melihat papanya bersikap demikian.
__ADS_1
" Kau tidak tahu Amoora bagaimana rasanya kehilangan yushna!" seru Ivander.
" Dan kau tidak tahu bagaimana tidak diinginkan oleh pasanganmu sendiri. Aku sudah berusaha setia di sampingmu Ivander tapi nyatanya kau tak pernah menganggapku ada. Ceraikan saja aku jika kau tak membutuhkanku lagi. Aku sudah lelah seperti ini setiap waktu," jawab amoora dengan berjalan menjauh dari sana.
Siska yang sedari tadi diam mendekati papa angkatnya itu. Dia duduk di sebelahnya.
" Pa ... Cukup! Jangan menyakiti siapapun. Yushna adalah masa lalu, dia pergi karena memiliki alasannya sendiri. Jangan membuat keluarga kita kembali renggang. Setelah sekian lama putra kandungmu mau datang kemari karena ingin menikah. Jadi, berhentilah bersikap seperti anak muda yang gila cinta. Siska percaya papa bisa! Jangan seperti ini lagi pa ... Papa akan menyesal jika semua orang pergi meninggalkanmu. Pikirkanlah semuanya baik-baik. Siska sayang sama Papa ... Inilah alasan siska berani berkata saat ini," ujar siska yang kemudian melangkah keluar.
Di perjalanan pulang roy sebenarnya merasa sakit saat melihat yushka di perlakukan seperti itu oleh papanya. Tapi aksa memang cocok untuk gadis itu setidaknya aksa bisa melawan papa saat istrinya di perlakukan tidak baik.
Seharusnya tidak seperti ini pa. Papa salah saat ini. Hmmmm, maafkan ayahku yush dia sangat mencintai saudarimu. Batin Roy sebelum memasuki pelataran rumahnya itu.
Aksa nampak menggendong yushka masuk. Roy hanya mengikutinya dari belakang. Sebelum aksa naik tangga.
Sesampainya ...
" Sayang ... " panggilnya lembut sekali.
" Tidak mas ... Jangan melihatku! Saat ini aku sudah merasa sangat hina di hadapanmu. Maafkan aku mas, aku benar-benar tak menggoda ayahmu dia datang ke kamar dan merobek pakaianku. Hiks hiks hiks, a.. Aku tak bisa mencegahnya," ucap yushka sambil menangis.
" Sttttt ... Sudah sayang jangan katakan apapun. Maafkan papaku yang begitu bajingan. Ku mohon maafkan aku yang tak segèra datang tadi," peluk aksa memeluk yushka yang masih sok atas kejadian tadi.
Aksa mencoba membantu yushka ganti baju. Aksa tak menyangka papanya seberani itu dalam kehidupannya. Bahkan saking cintanya pada yushna dia tak dapat membedakan mana istrinya dan mana orang lain. Aksa menemani istrinya yang sedang agak trauma itu dan mencoba untuk meredam rasa takutnya.
__ADS_1
" Mas kumohon dengarkan ceritaku tentang yushna ... Dan katakanlah kembali pada tuan Ivander," lirih yushka terlihat putus asa. Aksa menggeleng.
" Tidak ... Saat ini kamu harus istirahat dan tenang. Mas tidak ingin membuatmu tak nyaman atas kejadian tadi. Tidurlah sayang kita bercerita jika kamu sudah tenang," jawab aksa.
" Tapi ... Ku mohon jangan menyerahkanku pada tuan Ivander apapun yang terjadi," pinta yushka dengan takut pada aksa.
" Sampai matipun kau tetaplah istriku takkan ku barter dengan apapun. Aku sangat mencintaimu yush. Jangan pernah berpikir aku akan memberikanmu walaupun itu pada ayahku sendiri," jawabnya membuat yushka kembali menangis dalam dada bidang aksa. Hatinya sakit saat yushka tak kunjung berhenti menangis. Tangan aksa terkepal ingin mengurai dan melepas amarahnya. Tapi ia urungkan dia tak mungkin ngamuk di depan istrinya itu. " Tidurlah sayang," ucap aksa lagi-lagi sambil menciumnya dengan mesra. Yushka mulai memejamkan matanya dengan sempurna.
Aksa yang melihat istrinya sudah tertidur. Dia keluar dan segera menuju ruang keluarga/santai. Aksa sendirian di sana. Namun Roy mendekati kakaknya yang sedang sendiri.
" Kak ... Maafkan ayah untuk kali ini saja. Beritahulah kisah yang sebenarnya,"ucap Roy dengan sangat hati-hati khawatir kakaknya marah besar.
" Roy ... Aku bahkan ingin menangisi hidupku. Lihatlah istriku hampir di lecehkan oleh ayahku sendiri. Nasib seperti apa yang kualami ini. Bertahun-tahun aku mencoba melupakan permasalahanku dan papa. Aku pun mulai merintis bisnisku sendiri karena aku tak ingin menjadi parasit bagi papa. Tapi lihatlah papa kembali berulah dia hampir saja menodai kehormatan yushka di hadapanku sendiri. Bukankah aku suami yang sangat bodoh Roy?" keluh aksa atas dirinya sendiri. Roy memegang pundak kakaknya dengan pelan.
" Kau ... Sangat pemberani kak! Yushka beruntung memilihmu menjadi suaminya. Setidaknya kau bisa melawan papa. Tapi jika yushka menikah denganku entah apa yang akan aku lakukan," ucap Roy membuat aksa menitikkan air mata. Roy menepuk perlahan pundak kakaknya.
" Roy bahkan saat aku melihat yushka ketakutan seperti itu hatiku sakit sekali. Aku merasa gagal menjadi pendampingnya," ucap aksa dengan nada penuh penyelasalan.
" Tidak ... Kau sangat baik. Tidurlah kak khawatir dia histeris jika kau tak bersamanya," usir Roy secara tak langsung dari sana. Aksa memeluk Roy sebelum dia pergi meninggalkannya.
" Thank's Roy ... Aku butuh kamu untuk menemaniku saat ini," ucap Aksa dengan pergerakan tubuh yang ingin meninggalkan tempat itu.
" Tentu kak," jawab Roy tegas.
__ADS_1