
Pesan singkat itu membuat aksa terlihat geram. Bagaimana ada email masuk dari wanita sinting itu. Wanita yang sudah membuat dirinya dan Roy bertengkar bahkan bersiteru. Seingat aksa dia sudah memblokirnya.
" Ahhh .... Biarkan saja! Selama dia tak merugikanku biarkan saja," gumamnya sambil mematikan laptop. Saat aksa ingin merebahkan diri ada mobil masuk ke arah parkirannya. Aksa beranjak dan melihat Roy sudah pulang. Aksa mengernyitkan alisnya dan memilih untuk keluar.
Sesampainya di bawah ...
" Kok sudah pulang?" tanya aksa bertanya sambil memasukkan punggung tangannya ke saku celana pendeknya.
" Tak betah di hotel kak," jawab Roy dengan jujur.
" Emmm ... Baiklah istirahatlah! Besok pergilah jalan-jalan," jawab aksa. Namun niat aksa untuk naik ke tangga tidak jadi karena perkataan Roy membuatnya berhenti.
" Besok aku kerja kak! Biar Dhara menemani kakak ipar," ujarnya sebelum aksa menghilang. Aksa jadi menoleh dengan sempurna.
" Apa tidak apa-apa? Kalian bqru nikah loh," tanya aksa heran. Roy tersenyum saat kakaknya perhatian.
" Bisa di lakukan saat di rumah kak. Sekarang waktunya kerja ya bekerja saja jika waktunya berdua juga berdua saja," jawabnya di ulang-ulang membuat aksa mengangguk.
" Baiklah! Permisi ... selamat bersenang-senang," pamitnya kemudian pergi dari sana.
Roy pun mengajak istrinya ke kamar. Dhara membersihkan diri dan membiarkan Roy merebahkan dirinya. Di kamar mandi Dhara menatap dirinya di cermin.
Apakah tuan Roy tidak salah memilih istri? Kenapa mudah sekali baginya untuk mengatakan iya tanpa protes? Apakah dia tak memiliki kekasih?? Aneh tuan itu. Batinnya sambil memandangi cermin dengan intens.
Sedangkan Roy di luar merasa istrinya itu sangatlah lama. Kemanakah dirinya kenapa tak kunjung keluar dari sana.
" Apakah dia tidur di kamar mandi???? Lama sekali? apa jangan- jangan pingsan karena capek. Wah, bahaya ini jika benar," lirih Roy dengan berdiri dari tidurnya menuju kamar mandi. Mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
__ADS_1
" Kau tidur di dalam??? Apakah yang kau lakukan selama ini????" tanya Roy sambil mengetuk pintu kamar mandi dan hal itu sukses membuat istrinya membuyarkan lamunan tadi. Wajah itu kemudian nongol di balik pintu dan senyuman tanpa rasa bersalah telah terpajang di sana.
" Sedang merenung mas," jawabnya dengan langkah seribu dan berlari ke arah tempat tidur. Tapi seketika diq berbalik dan berhenti sebelum duduk di ranjang. " Eiiiitssss ... Boleg gak nih Dhara tidur di sini???" tanyanya dengan menatap Roy. Suaminya itu langsung menggelengkan kepala.
" Terserah ... Mau salto mau lompat tali mau guling-guling sak karep-karep anda yang penting jika saya tidur kondisikan kaki jangan merayap ke mana-mana," ujarnya sebelum masuk ke kamar mandi. Dhara jadi mengedip-ngedipkan matanya.
" Kok cara bicaranya ada yang beda??? Aku yang halu apa tuli apa memang iya ya?" lirihnya sambil berfikir. Lagi- lagi teriakan suaminya menghancurkan imajenasnyai yang sedang berfungsi itu.
" Dhara!!! Siapkan baju tidurku,"teriakan Roy terdengar nyaring di telinga.
" Oke," jawabnya singkat padat jelas.
Malam ini tak ada sesuatu apapun yang terjadi. Roy bukanlah maniak **** sehingga harus setiap saat mendekati istrinya dan mencumbunya. Dia hampir sama dengan aksa berkunjung secukupnya hahahah.
Malam yang indah datang karena manusia mensyukuri segala nikmat yang di berikan oleh Tuhan. Jangan mengatakan Tuhan tak adil karena sesungguhnya Tuhan sudah maha Adil hanya saja waktu dan tempat terbaik hanya DIA yang mengerti jangan meragukan setiap pergerakan yang Tuhan berikan pada kita. Sesungguhnya setiap insan hanyalah menunggu gilirannya saja.
Pagi ini Aksa yang baru bangun di suguhkan dengan pemandangan yang mengenakkan mata. Bagaimana tidak indah jika istrinya itu sangatlah cantik di pagi hari. Aksa tersenyum tak bersuara. Dia memberikan kesempatan pada yushka untuk memanjakan dirinya di depan cermin.
" Mau ngantorlah mas. Kan aku masih boleh kerja," jawabnya mengingatkan bahwa dia masih ingin bekerja.
" No ... Tidak secantik ini," jawabnya dengan posesifnya. Dia berjalan ke arah istrinya. " Sayang jangan ke kantor hari ini Kasihan Dhara jika di tinggal sendiri," ujar aksa duduk berjongkok di hadapan Yushka.
" Loh ... Kok sudah di rumah mas?" tanya yushka bingung bukankah dia merasa membooking 2 hari.
" Entahlah, Roy memutuskan untuk pergi bekerja. Jawabannya hanya itu saja," jawabnya dengan mengedikkan bahunya.
" Hmmm ... Oke baiklah aku akan menemani Dhara," jawabnya pada pertanyaan suami posesifnya itu.
" Baiklah ... Aku bersiap dulu!" pamit aksa yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Yushka yang sudah berada walk in closet memilihkan baju dinas suaminya dia memilihkan warna maroon dan celana press body yang padu padan dengan stok kemejanya.
" Mana yang ???" tanya aksa sambil memejamkan mata. Yushka menggapai tangan itu dan memberikan yang suaminya berikan. Aksa mendengar suara istrinya jadi tersenyum.
" Bentar lagi jalan mas," jawabnya tanpa menunggu lama. Dia segera bergegas dan segera memgambilkannya.
Beberapa saat kemudian ...
" Sayang ... Baik-baik di rumah ya! Mas kerja dulu doakan rapat dengan klien pagi ini mrmbuahkan hasil yang baik dan membuat kita tersenyum," jawab aksa sambil berkaca.
" Aamiin ... Tentu mas semoga lancar dan sukses.
Perbincangan pagi ini yang menurut aksa sepele dan tak perlu di lakukan karena saat ini baginya penting melakukakan hal itu. Bukan karena hal apa tapi setidaknya dengan melakukan hal sepele menurut seglintir orang itu ternyata adalah satu hal terbaik jika di lakukan bagus untuk kehidupan manis yang akan dia jalani.
Yushka yang kini berada di ruang tengah sampai melihat punggung suaminya berjalan menjauh darinya karena harus menemani istri Roy. Dia tak memgantarkan ke depan karena Aksa benar-benar tak ingin istrinya itulah. Maklumlah nitizen anak pertama masih hot-hotnya mau menjadi papi baru dong.
" Nyonya .... " lirih istri Roy itu.
" Haaiiiiissw ... Ngapain panggil nyonya! Kamu itu istri adik iparku panggil kakak aja biar nyaring di dengarnya Dhara," jawabnya dengan enteng. Dhara tersenyum saat melihat orang kaya tapi tak membatasi dirinya dan tak membedakan kelas.
" Nyonya kenapa sebaik ini? Kita beda jauh kelasnya nyonya," tanya Dhara memberanikan diri.
" Aku sama sepertimu Dhara. Aku adalah karyawan di perusahaan suamiku kala itu. Tapi karena suamiku yang dingin itu ingin menjodohkan dengan Roy malah dia embat sendiri. Hahahahahah pura-pura jodohin aku sama Roy padahal dia sendiri mau ya!" seru Yushka sambil terkekeh sampai mengeluarkan air mata karena keanehan suaminya kala itu.
" Nyonya ini .... Bisa saja merendahnya," jawabnya dengan tersenyum kecil.
" Ya ... Karena memang aku dari keluarga biasa saja Dhara. Kekasih suamiku malah orang ternama di negara ini namun mereka tak jadi menikah denganku. Ya, sudahlah ya Dhara mungkin dia jodohku. Semoga kita semua bahagia," ucap Yushka pada akhirnya.
" Aamiin ... " jawab Dhara singkan namun penuh makna.
__ADS_1
Nyonya ini tak menampakkan bahwa dia orang kaya. Benar-benar humble pada siapapun. Dia bahkan terlihat biasa saja meskipun dia sebenarnya istri seorang CEO. Dia juga tak bergabung dengan ibu sosialitanya. Dia cenderung di rumah membantu suaminya bekerja. Cantik dan rajin memasak. Batin Dhara yang kemudian ke dapur mengambilkan asupan gizi untuk istri kakak Roy itu.
Jangan lupaaaaa likeeee dong ya!!!!! Makasihhh loh yaaaaa