Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Kehidupan Rara Yang Menyedihkan


__ADS_3

"Ra, kamu gak masak?" tanyanya dengan membuang tutup makanan yang ada di atas meja hingga jatuh ke pojok dapur.


"Maaf, Mas. Berasnya habis," jawabku. Bagaimana bisa aku memasak, kalau beras dan yang lainnya habis tak tersisa.


"Kamu itu boros banget sih!" bentak Rian, suamiku. Matanya melotot seakan-akan ingin melahapku saja.


"Maaf, Mas." Hanya itu kata-kata yang bisa aku ucapkan.


"Aku tak mau tau, pokok sejam lagi makanan itu sudah harus ada. Kalau enggak, kamu tanggung akibatnya!" hardiknya lalu pergi keluar, entah mau kemana.


Aku hanya bisa menghela nafas. Ini bukan pertama kalinya Mas Rian membentakku, bahkan tak jarang ia main fisik hingga membuat tubuhku membiru akibat pukulan dan tendangan hebat darinya.


Aku pun mengambil tutup makanan dan menaruhnya di atas meja. Lalu aku pergi ke warung Bu Arsih untuk menghutang lagi. Sejujurnya aku malu, karena hutangku disana tidaklah sedikit. Tapi, mau bagaimana lagi, mau bayar juga uangnya tak ada.


Aku berjalan tanpa mengganti dasterku yang sudah banyak tambalannya, bahkan warnanya pun sudah membudar. Tak lupa sandal jepit yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, sandal jepit yang di bawahnya aku ikat pakai kawat karena sebelumnya pernah putus. Sehingga aku akali dengan bawahnya di kasih kawat sehingga tak mudah putus lagi.


Walaupun harga sandal jepit hanya lima ribu, tapi bagiku uang segitu sangatlah besar. Jadi dari pada buat beli sandal baru, aku tetap mempertahankan sandal lama, dan akan aku buang jika memang benar-benar sudah tak bisa di pakai lagi.

__ADS_1


Sesampai di warung Bu Arsih, aku sedikit gugup. Malu, sangat malu rasanya berhutang terus di sini. Tapi hanya Buk Arsih tempat aku belanja, karena yang lain akan langsung mengusirku jika aku belanja disana, bukan apa-apa, tapi karena hutangku di warung Bu Nita dan Bu Endang juga tak sedikit. Mungkin mereka takut, akan bangkrut jika aku hutangi terus, tanpa tau kapan aku bisa melunasinya.


"Neng Rara ada apa?" tanya Buk Arsih lembut.


"A ... aku mau hutang beras bu," jawabku menunduk.


"Ya ampun, mau hutang beras. Iya udah berapa?" tanya Buk Arsih walaupun ia kesal di hutangi terus, tapi ia juga tak tega untuk tak memberikan hutangan pada Rara.


"Satu kilo aja, Bu. Sama minyak setengah kilo, garam satu bungkus, tempe dua ribu sama bayam dua ikat, sambelan lima ribu," balasku.


"Neng, sebenarnya kamu itu di kasih berapa sih uang belanja, kok ngutang mulu?" tanya Bu Arsih penasaran.


"Astaghfirullah. Mana cukup, Neng. Pantas kamu kesana kemari cari hutangan. Itu mah sehari aja juga belum tentu cukup. Bukannya Rian kerja kantoran ya? Tapi kenapa cuma di kasih segitu?" tanya Bu Arsih yang semakin kepo. Sebenarnya dari dulu aku tak pernah menceritakan tentang rumah tanggaku pada orang lain. Mungkin untuk kali ini gak papa kali ya, siapa tau dengan aku berbagi cerita sama Ibu Arsih, bebanku sedikit berkurang.


"Aku juga gak tau, Bu." Sebenarnya aku tau gaji Mas Rian itu 5 juta lebih perbulan. Ia bekerja di PT Angkasa, pabrik sepatu sebagai desainer sepatu. Ia bekerja hanya Senin sampai Jumat sedangkan hari Sabtu dan Minggu atau tanggal merah libur. Itupun kerjanya dari jam delapan pagi sampai lima sore.


Tapi dari uang lima juta itu, aku hanya di jatah 100 ribu perbulan. Setiap aku protes hanya ada tamparan yang aku terima. Andai aku masih punya orang tua, pasti aku akan pergi dan mengadu sama mereka. Sayangnya, mereka tak tau ada dimana. Mereka membuangku di tempat sampah hingga akhirnya aku di temui oleh Ibu Dini. Beliaulah yang merawatku.

__ADS_1


Dia seorang janda tanpa anak, suaminya meninggal karena kecelakaan dan ia memilih untuk menjanda selamanya. Dan saat ia menemukanku, ia langsung mengangkat aku sebagai putrinya, ia memperlakukan aku dengan sangat baik. Tapi sayangnya, umurnya tak bertahan lama. Beliau meninggal tepat setelah aku lulus SMA.


Dan akhirnya aku pun di lamar oleh Mas Rian, aku yang tak lagi punya keluarga memilih untuk menerimanya. Tapi sayangnya, aku yang berfikir akan hidup bahagia, nyatanya malah di buat menderita seperti ini.


"Neng, ini belanjaannya." Ibu Arsih mengagetkanku dari lamunanku.


"Eh, Iya Bu. Berapa semuanya?" tanyaku.


"32 ribu. Sudah ibu catat kok." jawabnya tersenyum.


"Makasih ya, Bu. Maaf jika aku terus menerus hutang di sini. Aku janji, Aku akan membayarnya tapi tidak hari ini." Aku berucap dengan mata yamg berkaca-kaca. Sungguh, hanya Ibu Arsih yang selama ini baik sama aku. Sedangkan yang lain selalu memandangku dengan sinis karena aku yang suka ngutang sana-sini. Sedang suami, mertua, kakak ipar tak mau tau denganku.


"Ibu percaya kamu pasti bayar, kamu harus yang kuat. Ibu tak menyangka jika kamu di perlakukan seperti ini." Ibu Arsih yang bukan siapa-siapa aku, terlihat begitu peduli. Tapi kenapa mas Rian tak bisa memperlakukan aku dengan layak. Ia hanya bisa menyakitiku, memakiku dan memukulku.


"Aku pamit pulang dulu ya, Bu."


"Iya, Neng."

__ADS_1


Lalu aku pun segera pulang, aku harus segera masak agar Mas Rian tak marah-marah lagi. Andai aku boleh memilih, aku ingin lepas dari Mas Rian, tapi jika aku lepas darinya, aku harus tinggal dimana. Aku tak punya keluarga, aku hanya sebatang kara.


__ADS_2