Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Hari Pertama Rara Kuliah


__ADS_3

Hari ini Rara sudah masuk kuliah, ia pergi pagi-pagi sekali dengan semangat empat lima, bahkan Rayyan yang melihatnya pun sampai geleng-geleng kepala, tapi ia turut bahagia melihat wajah Rara yang sangat ceria bahkan tersenyum terus menerus.


"Enggak capek, Ra. Senyum terus dari tadi?" sindir Rayyan.


"Hehe, habisnya aku seneng banget, Mas. Bisa sekolah lagi, rasanya sudah gak sabar," jawab Rara sambil duduk di ruang makan.


"Iya sudah, sarapan dulu ini. Gak papa kan sarapan roti sama susu dulu?" tanya Rayyan.


"Enggak papa, nanti jika masih lapar, aku bisa beli makanan di kantin. Mas berangkat jam berapa?" tanya Rara sambil menyantap makanannya.


"Aku berangkat bareng kamu,"


"Eh maksudnya gimana?" tanya Rara sambil menatap ke arah Rayyan.


"Maksudku, kita berangkatnya bareng, tapi pakai mobil sendiri-sendiri, nanti di pertigaan depan, kamu ke arah kanan, aku ke kiri," balas Rayyan terkekeh.


"Oh, aku fikir kita berangkat bareng ke kampus,"


"Emang kenapa kalau kita berangkat bareng?" tanya Rayyan.


"Ya gak papa, sih. Cuma kan sekarang Mas Rey ada seminar, kalau sudah gak ada seminar, terus jadwal Mas Ray pagi, kita bisa berangkat bareng satu mobil," jawab Rara. Rayyan pun menganggu-anggukkan kepala.


Selesai makan, mereka pun akhirnya berangkat bareng. Melihat Rara seperti ini, tak akan menyangka bahwa dia sudah menjadi janda di usianya yang bahkan masih belasan tahun. Yah, sekarang usianya depalan belas tahun karena Rara menikah saat usianya tujuh belas tahun, saat baru aja lulus SMA. Dan pernikahan itu hanya bertahan satu tahun lamanya, jadi sekarang Rara kuliah saat umur delapan belas tahun, sama seperti murid lainnya bahkan ada yang umurnya di atas Rara.


Rara menyetir mobil dengan semangat, ia juga menyetel music untuk menikmati perjalanan ke kampus. Sungguh, Rara tak menyangka, bisa punya keluarga, punya kakak yang sangat menyayangi dirinya, tak lagi kekurangan ekonomi, uang di ATM nya bahkan sudah buncit karena sering mendapatkan kiriman dari orang tua angkatnya, belum lagi tinggal di rumah mewah, bisa mengendarai mobil sendiri, bisa kuliah dan bisa menikmati hidupnya. Sungguh, siapa yang akan menyangka, jika kehidupan Rara benar-benar berubah drastis.


Bahkan dulu Rara tak pernah bermimpi punya kehidupan seperti ini, dulu ia hanya sibuk bekerja agar bisa memberikan makan yang enak untuk Rian, tak peduli jika ia harus menahan rasa lapar, lelah dan sebagainya. Tapi sekarang, Tuhan seakan sangat menyayangi dirinya sehingga memberikan Rara kesempatan untuk bisa merasakan hidup dengan enak.


Sesampai di kampus, Rara langsung memarkirkan mobilnya, ia turun dari mobil, beberapa anak yang ada di sana, menatap ke arah Rara. Rara hanya tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala, agar tak terlihat sombong. Bagaimanapun, ia tak mungkin sombong dengan apa yang ia miliki, karena jika tanpa keluarga angkatnya, ia tak mungkin bisa seperti sekarang.


Tiba-tiba seseorang wanita menghampiri dirinya, "Kak, kakak anak baru juga?" tanyanya sok akrab.


"Iya, kamu juga?" tanya Rara balik.


"Iya, kenalin aku, Putri. Aku dari tadi bingung, soalnya aku gak punya temen. Terus aku lihat Kakak, dan aku yakin Kakak juga anak baru, makanya aku samperin,"


"Panggil Rara aja, jangan kakak," ucap Rara tersenyum ramah.


"Hehe iya, kita kan seumuran, umur kamu berapa?" tanya Putri.


"Delapan belas tahun," jawab Rara.


"Eh malah lebih tua aku hehe. Umurku sekarang sudah sembilan belas tahun, lebih dua bulan sih," ucap Putri malu-malu.


"Enggak papa, umur mah cuma angka saja," ujar Rara.


"Iya, kamu benar. Aku sebenarnya lulusan tahun lalu," kata Putri, mereka kini berjalan ke arah depan gedung, dimana di sana banyak anak baru yang duduk dan berdiri sambil mengobrol dengan yang lainnya.


"Sama, aku juga lulusan tahun baru," sahut Rara.


"Loh, jadi kita sama-sama lulusan tahun baru, kenapa kamu gak langsung kuliah?" tanya Putri kepo.


"Biasalah, lagi pengen cari pengalaman. Lagian bosen kalau belajar terus jadi di jeda dulu setahun, kalau kamu?" tanya Rara.

__ADS_1


"Aku kerja di kafe mawar. Sebenarnya orang tua aku kurang mendukung aku untuk kuliah, karena ekonomi mereka yang kurang bagus. Tapi aku juga gak mau kalau cuma tamatan SMA. Makanya aku kerja, kumpulin uang biar bisa bayar uang kuliah," jawab Putri sendu. Mendengar jawaban Rara membuat hati Rara bergetar.


"Enggak papa, kamu hebat. Kamu bisa kuliah dengan hasil jerih payah kamu sendiri, gak semua orang bisa seperti kamu. Terus sekarang kamu masih kerja di kafe?" tanya Rara.


"Enggak, soalnya kan mulai sekarang aku sudah masuk kuliah, jadi aku gak bisa kerja di sana lagi. Aku sekarang buka les gitu di rumah, lumayan sih sudah ada empat anak yang mau les di tempat aku, uangnya juga lumayan hehe," balas Putri tersenyum.


"WAh syukurlah, semoga ke depannya makin rame ya,"


"Aaamiiin, makasih doanya."


Mereka pun terus berbincang dan berkumpul dengan mahasiswa baru lainnya. Rara merasa senang, di hari pertama ia masuk kuliah, ia sudah mendapatkan teman baru, awalnya Rara berfikir, ia akan susah mendapatkan teman, tapi ternyata, Putri datang dan mengajak dirinya mengobrol.


Kini Rara dan Putri tengah duduk bersama yang lainnya sambil nunggu pengumuman, tiba-tiba Hp Rara berbunyi. Rara pun segera mengangkatnya, melihat HP Rara, membuat Putri merasa sedih, karena hp miliknya masih jadul. Putri juga ingin hp mahal seperti punya Rara, tapi jika ia ingin memilikinya, tentu ia harus nabung berbulan-bulan lamanya, karena ia juga harus menabung uang untuk uang kuliah dan kebutuhan dirinya. Walaupun dirinya punya orang tua, tapi ia masih punya adik yang harus mereka urus.


Rara yang sedang membalas pesan dari Rayyan, menatap ke arah Putri, ia tau, Putri mungkin iri dengan kehidupannya yang saat ini ia jalani. Andai Putri tau apa yang ia alami selama ini, mungkin Putri gak akan merasa iri dengan kehidupannya.


Rara pura-pura tak tau jika Putri menatap Hpnya, Rara segera membalas pesan Rayyan dan setelah itu, menaruh hpnya lagi. Ia tak ingin membuat Putri semakin sedih melihat Hp mahalnya.


"Oh ya, nanti habis pulang kuliah kamu ada kegiatan?" tanya Rara.


"Enggak, kenapa. Aku ngajar jam empat sore, sedangkan pulang kuliah kan paling jam dua siang dan mungkin bisa lebih awal mengingat ini masih hari pertama," jawab Putri.


"Aku ingin mengajak kamu jalan, kamu mau? Aku males di rumah sendirian,"


"Emang orang tua kamu dimana?" tanya Putri.


"Mereka ada di luar negeri, sedangkan kakak aku mungkin pulang sore, karena harus seminar di kampus lain,"


"Oh, kakak kamu kerja apa?"


"Wow, kamu adiknya dosen yang ngajar di sini?" tanya Putri terkejut.


"Hehe iya," jawab Rara malu.


"WAh kamu hebat, kamu pasti gak akan kesulitan ke depannya, karena kamu bisa mengandalkan kakak kamu jika kamu ada tugas yang gak di mengerti." Mendengar hal itu membuat Rara hanya tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, penguman terdengar. Semua mahasiswa/i di suruh kumpul di lapangan. Mereka pun segera berjalan ke arah lapangan dan berbaris rapi. Di depan sana, ada belasan kakak kelas yang berdiri menghadap ke arah mahasiswa/i. Ada yang terlihat ramah, murah senyum, galak, sinis, acuh tak acuh dan lainnya. Melihat hal itu hanya membuat Rara bergidik ngeri.


"Entah kenapa kalau lagi OSPEK gini, perasaanku gak nyaman," gumam Putri yang masih di dengar oleh Rara karena Rara ada tepat di samping Putri.


Ospek adalah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau kegiatan awal bagi setiap peserta didik yang menempuh jenjang perguruan tinggi.


Untungnya karena ini hari pertama, jadi tak ada kegiatan selain hanya penjelasan tentang kampus, dan senior itu juga meminta para murid untuk membentuk sebuah kelompok karena besok dan beberapa hari ke depan, akan ada kegiatan seperti membuat yel-yel, games dan juga akan ada talksshow, seminar dan sejenisnya yang berhubungan dengan pengenalan kampus.


Saat Putri dan Rara ingin mencari anggota baru, tiba-tiba ada dua anak datang, namanya Citra dan Mayang. "Kami boleh gabung, gak?" tanya Citra malu-malu.


"Boleh, kebetulan, kami juga butuh beberapa anggota," jawab Rara ramah.


"Syukurlah, namaku Citra dan ini temanku, namanya Mayang," ujar Citra memperkenalkan diri.


"Namaku Rara," ucap Rara.


"Dan aku Putri, semoga ke depannya kita bisa menjadi teman baik," kata Putri tersenyum ramah.

__ADS_1


"Semoga aja, oh ya ini kan sudah ada empat anak, berarti kurang satu ya," tanya Citra.


"Iya, siapa ya yang mau gabung lagi?" tanya Putri.


"Kalau anak laki-laki mau gak?" tanya Citra. Sedangkan Mayang memilih diam karena emang orangnya sedikit pemalu.


"Kalau bisa sih, perempuan aja," jawab Rara.


"Oh gitu, iya sudah aku boleh ngajak satu lagi gak? Namanya Nabila, aku juga baru kenal barusan sih, itu kayaknya anaknya lagi bingung cari kelompok," ujar Citra sambil menunjuk ke arah perempuan yang tengah kebingungan.


"Boleh, ajak ke sini," jawab Rara semangat.


"Baiklah."


Lalu Citra pun menghampiri Nabila dan mengajak Nabila untuk bergabung sama mereka.


"Sekarang kelompok kita sudah pas nih, kita tinggal buat lagu yel-yelnya kan buat persembahan besok," ujar Putri.


"Iya kita buat di mana?" tanya Citra.


"Gimana kalau pulang sekolah, kita ke warung lesehan aja, sekalian makan siang di sana, jadi kita bisa sambil mikir buat lagunya," ujar Rara.


"Eh, tapi ...." Putri merasa keberatan, karena jika makan di warung lesehan, ia harus mengeluarkan uang buat bayar makannya.


Melihat Putri, membuat Rara mengerti.


"Aku yang traktir, anggap aja ini merayakan hari pertemanan kita hari ini," ucap Rara membuat mereka senang.


"Baiklah, aku setuju," ujar Putri bernafaas lega.


"Aku juga," ucap Nabila.


"Aku juga setuju," sahut Mayang.


"Aku sih kalau gratisan, selalu terdepan," ujar Citra tanpa malul-malu.


"Baiklah sepakat ya, habis ini kita langsung ke warung lesehan di Jalan GAtot kaca itu enak makannya, murah, tapi rasanya bikin lidah bergoyang," ujar Rara memberitahu, karena ia pernah di ajak Rayyan makan di sana, dan rasanya emang sangat nikmat.


"Kamu seperti suka kulineran aja, Ra," ujar Citra.


"Hehe gak juga sih, kebetulan aku di ajak kakaku makan di sana, terus karena makannya enak, makanya aku merekomendasikan makan di sana aja, lagian gak jauh dari kampus kok," ucap Rara.


"Baiklah, nanti kita ke sana naik apa?" tanya Nabila.


"Aku naik angkot aja," ucap Putri.


"Aku juga, bareng aku aja Put," ujar Nabila.


"Okay," sahut Putri.


"Aku sih sepeda motoran sama Mayang, kita goncengan," ujar Citra, karena rumah dia dan Mayang bersebelahan, yah mereka tetanggan dari kecil bahkan mereka berteman sejak kecil sampai sekarang.


"Gini aja deh, gimana kalau kalian naik mobilku aja, nanti pulangnya, aku akan antar Citra sama Mayang ke kampus lagi buat ambil sepeda motornya, lalu aku akan antar Nabila, terakhir aku akan antar Putri. Setuju gak?" tanya Rara, ia sengaja mengantar Putri belakangan karena ingin membelikan Putri sesuatu.

__ADS_1


"Iya deh, aku setuju," ujar Citra bersemangat, begitupun dengan yang lainnya.


__ADS_2