Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Bertemu Mantan Adik Ipar


__ADS_3

Pulang kuliah, sebelum pergi, Rara menelfon Rayyan terlebih dahulu dan memberitahu kegiatan hari ini dan tentang dirinya yang ingin mengajak teman barunya untuk makan di warung lesehan dan mentraktir mereka, serta tentang dirinya yang ingin memberikan sedikit hadiah untuk Putri. Mendengar hal itu, Rayyan tak keberatan sama sekali, ia malah senang karena Rara sudah punya banyak teman. Bahkan Rayyan ingin mentransfer uang jika Rara merasa uangnya kurang. Namun Rara segera mencegahnya, lagian di dompetnya bahkan ada uang cash dua juta, belum lagi di ATM nya yang bahkan belum berkurang sama sekali, yang ada malah makin bertambah.


Setelah Rayyan setuju, mereka pun akhirnya berangkat bersama. Putri duduk di kursi depan samping Rara yang tengah menyetir, sedangkan Nabila, Mayang dan Citra duduk di kursi belakang.


"Kamu sejak kapan bisa nyetir, Ra?" tanya Citra.


"Baru beberapa hari kemarin," jawab Rara santai yang membuat yang lain melongo.


"Tapi kamu sudah bisa kan mengendarai mobil?" tanya Nabila was-was.


"Iyalah, kalau gak bisa mana berani aku bawa mobil ke kampus, lagian aku sudah punya SIM kok," balas Rara.


"Loh katanya baru beberapa hari kemarin belajarnya?" tanya Citra.


"Iya kan, aku belajar nyetirnya cukup dua hari aja, lalu hari ketiga aku langsung buat SIM," balas Rara.


"WAh kamu hebat, Ra. Aku aja sampai sekarang belum juga bisa, pernah sama Papa di ajarin, tapi aku gemeteran rasanya," ucap Mayang, yah dia ekonominya cukup baik, ayahnya seorang pedagang di pasar sedangkan ibunya guru SD. Berbeda dengan Citra, walaupun hidupnya berkecukupan tapi hidupnya menderita. Itu karena ibunya meninggal saat ia masih kecil, lalu ayahnya menikah lagi dengan seorang janda anak satu. Membuat hidup Citra merasa gak damai. Karena kakak tirinya itu kadang suka nyakitin Citra belum lagi, ibu tirinya yang suka nyuruh ini itu membuat Citra merasa kesal. Untungnya ia punya ayah dan adik yang menyayanginya, membuat Citra bertahan di rumah bak nerakan itu. Yah, dia punya adik yang masih SD. Setelah ayahnya menikah lagi, beberapa tahun kemudian, ibu tirinya hamil dan melahirkan anak laki-laki.


Saat Citra merasa lelah dengan hidup yang ia jalani, ada Mayang yang selalu menghiburnya. Mayang yang selalu ada buat Citra saat Citra merasa tertekan dan yang lainnya. Sedagkan Nabila, ia hidupnya bahagia walaupun ekononi keluarganya pas-pasan. Ia punya ayah yang bekerja sebagai di kantor kelurahan, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Nabila juga punya kakak perempuan, tapi kakakknya sudah menikah.


"Aku juga awalnya gemeteran kok, atau kamu mau aku ajarin?" tanya Rara.


"Enggak deh hehe, makasih, aku cukup sepeda motor aja," jawab Mayang tersenyum.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di warung lesehan.


Setelah Rara memarkirkan mobilnya, mereka pun segera turun dari mobil dan berjalan ke arah warung, untungnya hanya ada dua orang di sana, dan banyak tempat yang kosong sehingga mereka bisa duduk berdekatan. Lalu Rara memesan makanan dan minuman untuk dirinya dan teman-temannya.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun mengobrol satu sama lain. Dan di sela-sela mereka ngobrol, pelayan pun datang membawa pesanan mereka dan menaruhnya di meja yang ada di hadapan mereka.


"Gila, makanannya enak banget," ucap Citra saat ia mencicipi makanannya.


"Iya, bumbunya pas," sahut Putri yang juga menikmati makanannya yang sangat enak.


"Lain kali aku ingin bawa orang tua aku makan di sini, pasti mereka suka," ujar Mayang.


"Sama aku juga, bahkan aku ingin makan di sini lagi kayaknya. Makasih ya, Ra. Sudah ngajak aku makan di sini," ucap Nabila di sela-sela makannya.

__ADS_1


"Sama-sama, lain kali kalau gak ada kesibukan, aku bisa ngajak kalian makan di sini lagi," ujar Rara senang.


"Wah, kamu emang dermawan banget, Ra. Makasih ya, berkat kamu uang jajanku aman hehe," ujar Citra tanpa tau malu, mendengar hall itu hanya membuat Rara geleng-geleng kepala.


Saat Rara menikmati makanannya dan asyik mengobrol dengan teman-temannya, tiba-tiba ia melihat wajah mantan adik iparnya. "Kenapa dengan Lala, kok wajahnya kusut banget gitu?" tanya Rara dalam hati. Melihat Lala begitu kurus dan wajah kusut, entah kenapa membuat hati Rara sakit. Walaupun dulu Lala begitu jahat banget, tapi melihat tampilan Lala saat ini membuat hati Rara bergetar. Lalu Rara berdiri.


"Mau kemana, Ra?" tanya Putri.


"Mau ke situ sebentar," ujar Rara sambil menunjuk ke arah pedagangnya. Putri pun menganggukkan kepala, karena ia berfikir, Rara ingin bayar makanan dan minumannya.


Rara emang pergi ke penjualnya, "Ibu, boleh minta tolong?" pinta Rara dengan suara pelan.


"Minta tolong apa, Neng?" tanya Rara.


"Tolong bungkusin makanan tiga ya, Bu. Terus kasih ke wanita itu," Rara menunjuk ke arah Lala.


"Oh ya, Neng," ujar ibu itu semangat.


"Oh ya sekalian saya bayar sama yang tadi, berapa semuanya?" tanya Rara.


"Tadi makanannya lima ya, sama minumannya juga lima. Total 90 ribu, karena makanannya itu lima belas ribu per porsi dan minumannya tiga ribu per porsi, dan Neng juga mesen tiga bungkus, jadi total 135 ribu," ucap ibu itu.


"Iya, Neng. Siap."


Setelah itu, Rara pun segera kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan makanannya sambil bercanda dengan temannya, sedangkan matanya sesekali melihat ke arah Lala yang berdiri di pinggir jalan,entah nunggu siapa.


Tak lama kemudian, Rara melihat ibu penjual itu menghampiri Lala dengan kantong kresek hitam dan memberikan ke Lala. Ia juga melihat Lala sedikit membungkukkan badan dan mengucap terima kasih, walaupun Rara tak mendengarnya, tapi ia bisa merasakannya hanya dengan lewat gerakan bibirnya.


Tak lama kemudian, Rara melihat Lala naik angkot. Melihat itu, Rara bernafas lega. Lalu ia mulai fokus mengobrol dengan teman-temannya itu. Rara dan yang lainnya sibuk merangkai kata untuk membuat yel-yel, lalu setelah selesai mereka menyanyikan bersama, walaupun sedikit kesulitan tapi pada akhirnya lagu yel-yelpun jadi, dan mereka cukup menggunakan gerakan tangan aja, tak perlu sampai melakukan gerakan badan, karena pasti akan malu jika bernyanyi di hadapan banyak orang nantinya.


Selesai makan, Rara menepati janjinya dengan mengantar Citra dan Mayang ke kampus, karena sepeda motor mereka yang masih ada di kampus, lalu setelah itu, Rara mengantar Nabila sampai depan rumahnya. Awalnya Nabila mengajak Rara untuk mampir, namun Rara menolak dengan halus, dan ia berjanji akan mampir jika ada kesempatan di lain hari.


Setelah mengantar Nabila, Rara langsung mengemudikan mobilnya menuju Mall.


"Kita mau ngapain, Ra?" tanya Putri.


"Jalan-jalan nikmati hidup, masih ada waktu satu jam," ujar Rara sambil melihat jam tangannya yang melingkar di tangan kirinya.

__ADS_1


"Tapi nanti anterin aku beneran ya, soalnya aku harus ngajar," ucap Putri.


"Beres, aku pastikan kamu sampai rumah sebelum jam empat," kata Rara sambil menggandeng tangan Putri menuju toko Hp.


"Kamu mau beli Hp, Ra. Aku lihat hp kamu masih bagus," ujar Putri saat mereka sudah sampai di toko Hp.


"Aku ingin beli buat seseorang," ucap Rara.


"Oh."


Rara dan Putri pun mulai melihat hp yang ada di dalam etalase. "Kamu suka yang mana?" tanya RAra. Mendengar hal itu, Putri mengernyitkan dahi.


"Aku bingung mau pilih yang mana, Put. Soalnya aku belum tau selera orang yang mau aku kasih hadiah, hehe," ujar Rara yang seakan tau apa yang ada di benak Putri.


"Owh, menurutku ini bagus, tapi cukup mahal harganya dua juta lebih," ujar Putri, ia berfikir kalau Rara ingin memberikan hadiah untuk pacarnya atau saudaranya. Jadi Putri memilihkan Hp yang menurutnya cukup bagus. Ia tak berani pilih yang mahal karena takut jika Rara tak ada uang buat membeli hadiah untuk pacar, saudara atau entah siapa yang beruntung mendapatkan hadiah hp itu.


"Kamu yakin, itu bagus?" tanya Rara.


"Iya, temanku ada yang punya Hp itu, kameranya bening banget," jawab Putri.


"Iya sudah aku beli yang itu aja," dan setelah itu, Rara memanggil pelayan di toko itu dan segera membayar hpnya.


Setelah selesai, Rara langsung mengajak Putri berkeliling dulu sebentar, sebelum akhirnya Rara mengantar Putri pulang. Sesampai di depan rumahnya, saat Putri ingin turun dari mobil, Rara mencegahnya.


"Ini buat kamu," ucap Rara sambil memberikan hp yang di beli tadi.


"Kamu serius, Ra?" tanya Putri tak percaya, jika hp itu untuknya.


"Iya, ambillah, gak baik nolak rezeki," ujar Rara.


"Tapi, Ra ..." sungguh, Putri merasa gak enak hati, apalagi ini hari pertamanya ia berteman dengan Rara, tapi Rara sudah membelikan Hp yang cukup mahal.


"Kita sekarang teman kan, jika kamu menganggap aku teman kamu, maka ambillah hp ini. Jika kamu gak mau, maka aku gak ingin berteman lagi sama kamu, karena aku merasas kamu gak menghargai niat tulus aku," ucap Rara menampakkan wajah sedihnya.


"Baiklah, aku ambil. Makasih ya, Ra,"


"Sama-sama, aku pulang dulu ya,"

__ADS_1


"Iya hati-hati di jalan." Putri pun turun dari mobil, dan setelah itu, Rara langsung pulang setelah ia melambaikan tangan ke arah Putri. Melihat Rara pergi, Putri menitikkan air mata bahagia. "Kamu baik, Ra. Dan aku bersyukur bisa bertemu kamu dan berteman baik sama kamu, semoga Tuhan membalas kebaikan kamu." Dan setelah itu, Putri pun berjalan ke arah rumahnya sambil memeluk HP pemberian Rara.


__ADS_2