
Rara segera pulang dan memasak, ia takut, takut jika suaminya pulang dan makanan belum ada yang matang. Ia tak ingin mendapatkan bentakan dan pukulan lagi dari suaminya. Luka yang ia dapatkan dari kemarin-kemarinnya aja bahkan belum sembuh.
Rara segera memasak dengan kecepatan yang ia bisa, hingga dalam hitungan setengah jam, nasi dan lauk pauknya pun sudah siap di atas meja makan. Tak lupa ia mencuci piring dan membersihkan dapur agar bersih seperti sedia kala.
Setelah selesai, ia menunggu suaminya. Namun sampai malam, suaminya tak kunjung pulang. Rara hanya bisa menghela nafas, perutnya juga sudah terasa sangat perih karena belum makan sedari tadi siang. Sedangkan tadi pagi, ia hanya sarapan nasi satu centong sisa tadi malam, dan itu pun hanya makan dengan garam saja.
Rara juga tak berani makan lebih dulu, karena takut jika suaminya akan murka padanya. Jadi ia memilih untuk minum air cukup banyak, untuk meredakan rasa perih di perutnya.
Rara terus menunggu suaminya di ruang tamu hingga tak terasa ia ketiduran di kursi ruang tamu. Ia bangun ketika ia mendengar suara pintu terbuka.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Rara, ia melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul 11 malam
__ADS_1
"Hem," jawabnya sambil berjalan ke arah kamarnya.
"Mas, aku sudah masak. Tapi mungkin sudah dingin, aku hangatkan lagi ya," ucap Rara.
"Buang aja, aku sudah makan."
"Tapi, Mas ...."
"Ma ... maaf, Mas," Rara menjawab dengan gugup, ia bahkan meremas baju yang ia pakai.
"Aku mau tidur, jadi jangan di ganggu. Kamu tidur aja di kamar sebelah," ucapnya lalu pergi dan mengunci pintu dari dalam.
__ADS_1
Setelah suaminya masuk ke dalam kamar, Rara sedikit bisa bernafas lega. Setidaknya, tak ada pukulan untuk malam ini.
Rara pergi ke ruang makan, yang bersebelahan dengan dapur. Ia mengambil piring dan makan nasi beserta lauk pauknya. Ia makan dengan cepat, takut jika tiba-tiba suaminya keluar kamar dan memergoki dirinya yang lagi makan.
Hanya dalam hitungan menit, Rara pun sudah selesai makan dan mencuci piringnya. Sisa nasi dan lauk pauknya akan ia taruh di dalam lemari agar bisa di makan besok pagi.
Untungnya tadi berasnya hanya di masak separuhnya, jadi besok ia cukup beli lauk pauknya aja. Karena tak mungkin suaminya mau makan lauk pauk sisa malam ini.
Selesai makan, Rara mengunci pintu depan lalu masuk ke kamar sebelah untuk istirahat. Di rumah ini emang ada dua kamar. Dulu awal-awal nikah, ia tidur di kamar depan bareng suaminya. Tapi setelah beberapa bulan, suaminya mengusir dirinya dari kamar itu, jadinya ia tidur di kamar belakang. Tapi jika suaminya dalam situasi baik, ia kadang meminta Rara tidur di kamar depan. Entahlah, Rara tak mengerti rumah tangga macam apa yang ia jalani.
Sejujurnya, Rara berharap suatu saat ia bisa bertemu kedua orang tua kandungnya dan bisa keluar dari rumah yang bak neraka ini. Hanya saja saat ini, ia tak tau harus kemana, jadi ia memilih untuk bertahan sampai suaminya sendiri yang menendang dirinya dari rumah ini.
__ADS_1