
Keesokan harinya, Rara tak lagi pergi ke pasar untuk menjadi kuli panggul lagi. Sudah cukup, apa yang ia lakukan selama ini. Ia tak mau berjuang sendiri, ia tak mau berkorban lebih banyak lagi. Toh seharusnya suaminyalah yang mencukupi kebutuhan rumah tangganya, bukan dirinya yang harus banting tulang untuk bisa memberikan makanan yang layak untuk suaminya. Sedangkan uang suaminya, ia tak tau di kemanain. Dan mungkin untuk bersenang-senang dengan wanita yang kemarin ia bawa ke restoran.
Setelah selesai bersih-bersih, Rara duduk santai di kamarnya. Ia menunggu suaminya datang, tak mungkin jika suaminya tak pulang pagi ini, sedangkan ia harus ganti baju dulu sebelum berangkat ke kantor.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian, ia mendengar suara pintu depan terbuka, siapa lagi kalau bukan suaminya. Rara memilih tak keluar, ia membiarkan suaminya melakukan apapun, ia akan keluar jika suaminya memanggil.
"Ra ... kamu dimana?" bentaknya.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Rara ketus. Untuk pertama kalinya, ia tak lagi menunduk atau ketakutan berhadapan dengan suaminya.
"Mana makanannya?" bentak Rian, sambil membanting tutup makanan ke lantai.
"Aku gak masak, aku gak ada uang," jawab Rara tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Aku kan sudah memberi kamu uang lima puluh ribu dua minggu lalu," ujar Rian tak mau mengalah.
"Kamu fikir uang lima puluh ribu cukup Mas untuk dua Minggu, Hah! Kamu fikir, makanan yang kamu makan setiap hari itu dari mana, itu dari aku jadi kuli panggul di pasar. Kamu cuma kasih aku seratus ribu setiap bulannya, sedangkan kamu ingin makan enak setiap hari. Aku harus banting tulang untuk bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga kita dan memberikan kamu makan yang enak. Aku capek, aku capek setiap hari ke pasar untuk jadi panggul. Aku capek kerja setiap hari hanya untuk memberikan kamu makan, sedangkan aku, aku yang kerja keras hanya di kasih makanan sisa, bahkan tak jarang, makanan itu kamu habiskan seorang diri. Aku capek, Mas. Aku capek," teriak Rara mengungkapkan isi hatinya.
Plak ....
Rian menampar Rara dengan keras hingga membuat sudut Rara berdarah. Namun Rara tak marah, ia malah tertawa sinis.
"Kamu bisanya hanya mukul, mukul dan mukul. JIka kamu gak bisa bahagiakan aku, setidaknya jangan menyakiti aku, Mas."
__ADS_1
"Sekali lagi kamu bicara, aku tampar kamu,"
"Silahkan, aku gak takut. NIh tampar, bukankah dari dulu kamu emang suka banget mukul aku. Bahkan tak jarang kamu tendang aku sampai aku kesakitan berhari-hari," ujar Rara sambil memberikan pipinya ke Rian.
Plak ... plak ... plak ....
Rian memukul Rara tiga kali hingga membuat Rara terjatuh.
"Sudah puas, Mas?" tanya Rara yang berusaha bangun. Namun belum juga berdiri tegak, Rian langsung menendang perut Rara.
"Aku bersumpah, Mas. Aku bersumpah akan membalas semua deritaku selama ini," ucap Rara dalam hati.
"Kamu itu jadi istri tak mau bersyukur. Sudah untung aku kasih kamu uang seratus ribu setiap bulannya, bukannya bersyukur kamu malah mengeluh. Dasar istri durhaka," bentak Rian sambil menjambak rambut Rara.
Ia membenturkan kepala Rara ke dinding hingga membuat kepala Rara sedikit mengeluarkan darah. Namun itu tak membuat Rian merasa kasihan.
"Sekali lagi kamu bantah aku, aku pantaskan, aku akan bunuh kamu," bentak Rian, sambil pergi ke kamarnya. Rara memilih untuk diam, ia tak ingin jika suaminya membunuhnya hari ini juga. Karena ia harus hidup, untuk membalas rasa sakitnya selama ini.
Tak lama kemudian, Rian keluar dari kamarnya dengan memakai pakaian kerja dan langsung pergi dari sana, tanpa menoleh ke arah Rara yang tengah duduk di lantai sambil memegang kepalanya yang terluka.
Setelah kepergian Rian, Rara hanya memandang Rian dengan penuh luka. "Mulai saat ini, aku akan pergi dari sini, sudah cukup penderitaanku Mas. Dan penderitaanmu akan di mulai dari sekarang," ucap Rara tertawa pelan. Ia berjalan tertatih-tatih, ia mengambil dua kamera tersembunyi yang ia taruh di belakang bunga plastik dan di belakang rak piring.
Setelah itu, ia mengunci pintu dari luar dan pergi ke rumah Ibu Arsih.
__ADS_1
"Ya Allah, Ra. Kamu kenapa?" tanya Ibu Arsih kaget melihat RAra yang tengah terluka, ada darah yang mengalir dari kepalanya dan sudut bibir Rara yang juga terluka dan berdarah serta pipi Rara yang bengkak.
"Aku gak papa, Bu. Saya mau ambil ijazah dan buku nikahnya,"
"Oh ya bentar." Ibu Arsih langsung mengambil ijazah dan buku nikah milik Rara.
"Ini, Ra."
"Makasih ya, Bu. Mungkin aku gak akan pulang ke sini lagi, aku akan menggugat cerai Mas Rian, Bu."
"Ibu mengerti, Nak. Semoga setelah ini, kamu tak lagi mendapat kekerasan fisik seperti ini, kamu juga hati-hati di luar sana. Ibu gak bisa bantu apa-apa selain doa,"
"Terima kasih, Bu. Terima kasih karena Ibu selama ini sangat baik terhadapku, bahkan mau memberikan aku hutangan saat aku tak ada uang,"
"Sudah seharusnya, kita saling menolong, Ra."
"Iya sudah, Bu. Saya pamit dulu."
Sebelum pergi, Ibu Arsih menyempatkan waktu untuk memeluk Rara sebentar, Rara pun membalas pelukan Ibu Arsih.
"Aku pergi, Bu."
Rara pun berjalan menuju gang tiga, ia yakin Ibu Arsih dan Rayyan sudah menunggu di sana. Dan benar saja, saat ia sudah sampai, ia melihat mobil Rayyan. Namun saat sudah hampir sampai mobil, ia merasa kepalanya begitu sakit, dan setelahnya ia pun tak tau apa yang terjadi.
__ADS_1