
Saat ini, Rara, Rayyan, Mama Sarrah dan Papa Irvan tengah duduk santai di taman samping rumah, setelah selesai sarapan pagi, mereka memutuskan duduk di sana sambil di temani teh hangat. Memang di samping rumah itu cukup enak untuk di jadikan tempat ngobrol di pagi hari, karena udaranya yang masih segar dan juga bisa melihat bunga yang tengah mekar di pagi hari dan juga melihat berbagai macam sayur dan pohon buah yang mulai menampakkan buahnya walaupun masih sangat muda sekali. Hari ini, Rayyan berangkat siang karena memang ia mengajar dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore, sehingga ia masih bisa ikut menikmati obrolan bersama Rara dan kedua orang tuanya.
Papa Irvan pun juga hari ini libur kerja karena nanti ia harus pergi keluar negeri karena ada kerjaan di sana, dan ia akan di sana selama enam bulan lamanya. Untuk itu Mama Sarrah akan ikut ke sana, karena ia tak bisa jika di tinggal terlalu lama oleh sang suami. Kalau cuma keluar kota, Ibu Sarrah masih sanggup karena seminggu sekali pasti pulang, walaupun setelah itu harus berangkat lagi. Tapi setidaknya dalam sebulan, mereka menghabiskan waktu walaupun hanya sebentar, dan bisaa melepas rasa rindu. Tapi jika enam bulan, sungguh Ibu Sarrah tak sanggup berjauhan terlalu lama. Untuk itu, ia akan ikut suaminya keluar negeri, dan Papa Irvan pun tak mempermasalahkan, malah ia senang karena ada temannya, jadi ia gak akan kesepian sepulang kerja karena ada istri yang menunggu.
"Papa kapan berangkat?" tanya Rayyan.
"Nanti malam, Ray. Kamu jaga Rara ya, kalau ada apa-apa, telfon Papa," jawab Papa Irvan dan Rayyan pun hanya menganggukkan kepala. Inilah kenapa, ia gak mau kerja seperti papanya, karena ia gak mau meninggalkan anak dan istrinya. Ia lebih suka menjadi dosen karena setiap hari bisa pulang dan bekerja sebagai penulis, karena bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, berbeda dengan papanya, yang suka keluar kota, apalagi sekarang keluar negeri.
"Pasti, Pa."
Mendengar jawaban putranya membuat Papa Irvan tersenyum, ia gak akan khawatir meninggalkan putri angkatnya itu, apalagi ia tau betul Rayyan adalah pria yang bertanggung jawab dan tak akan membiarkan Rara terluka.
Mereka terus mengobrol menghabiskan waktu bersama hingga tepat jam delapan pagi, Rayyan langsung pamit ke kamarnya karena ia harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.. Sedangkan Rara ia juga pamit untuk pergi ke kamarnya hingga kini sisa Papa Irvan dan Mama Sarrah yang mengobrol mesra. Mama Sarrah menaruh kepalanya di pundah suaminya, sungguh walaupun pernikahan mereka sudah puluhan tahun tapi tak membuat hubungan mereka retak, mereka saling mencintai satu sama lain.
Di dalam kamar, Rara membuat status di fb dan ig nya, setelah itu ia menonton vidio di YT tapi karena gak ada yang bagus, ia beralih menonton vidio di **. Rara sangat menikmati setiap Vidio yang lewat di berandannya. Bahkan sesekali ia tertawa jika ada adegan lucu, bahkan ia juga ikut komen di vidio itu.
__ADS_1
Setelah ia merasa matanya lelah, ia pun menaruh hpnya dan memutuskan untuk tidur. Berbeda dengan Papa Irvan dan Mama Sarrah, mereka memutuskan untuk pergi ke kamarnya, bukan untuk istirahat atau tidur siang, melainkan untuk olah raga di atas ranjang.
\===
Malam harinya, sehabis makan malam, Rayyan dan Rara mengantarkan orang tua mereka sampai di bandara.
"Ray, Ra. Mama dan Papa berangkat ya, kalian hati-hati di rumah, terutama kamu, Ra," ucap Mama Sarrah.
"Ya, Ma. Aku pasti akan selalu jaga diri dengan baik," sahut Rara tersenyum. Mendengar hal itu, Mama Sarrah tersenyum.
"Enggak Papa, Ma. Aku ngerti dengan kesibukan Mama dan Papa. Lagian ada Mas Ray, yang akan selalu jaga aku, jadi aku aman. Kita juga bisa vidio call setiap hari," ujar Rara yang membuat Mama Sarrah menganggukkan kepala, lalu ia memeluk Rara, walaupun baru bertemu, namun ia sangat menyayangi putri angkatnya itu.
"Ray, Papa berangkat ya. Papa titip rumah dan Rara. Kalau habis ngajar, langsung pulang, kasihan Rara sendirian," ujar Papa Irvan.
"Iya, Pa." sahut Rayyan.
__ADS_1
Setelah Mama Sarrah selesai memeluk Rara, ia pun memeluk Rayyan. Walaupun Rayyan sudah dewasa, tapi tetap aja, ia menganggap Rayyan seperti anak kecil.
Setelah puas berpelukan, mereka pun langsung berangkat. SEbelum itu, Papa Irvan juga memberikan Rara pelukan sebentar, sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi.
\====
"Ra, kita langsung pulang apa keliling dulu?" tanya Rayyan. Saat ini mereka tengah ada di mobil dan menuju pulang.
"Emmm gimana kalau kita jalan-jalan dulu, Mas?" tanya balik Rara.
"Boleh, lagian ini masih jam delapan," jawab Rayyan. Mereka pun berkeliling mengitari kota.
"Kayaknya di sana ada pasar malam, kita ke sana yuk," ajak Rara yang tak sengaja melihat pasar malam.
"Okay."
__ADS_1
Rayyan akan selalu menyetujui apapun permintaan Rara, entahlah melihat Rara tersenyum bahagia seakan membuat hatinya menghangat. Ia ingin selalu membahagiakan Rara, mungkin karena Rayyan tau, bahwa masa lalu Rara begitu menyedihkan berbeda dengan dirinya, yang selalu mendapatkan perhatian, kasih sayang, kebahagiaan dan ia juga begitu mudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan itu membuat Rayyan juga ingin memberikan kebahagiaan miliknya untuk Rara dengan memberikan Rara perhatian dan memanjakan Rara.