
Keesokan harinya, Rara berangkat kuliah bareng Rayyan. Karena mereka ada jadwal pagi, dan kebetulan Rayyanlah yang mengajar di kelas Rara pagi ini. "Semua tugas sudah selesai kan, Ra?" tanya Rayyan sambil fokus menyetir.
"Sudah dong, Mas. Aku dapat nilai A, kan?" tanya Rara sambil menatap ke arah Rayyan.
"Hemmm bisa jadi," jawab Rayyan tersenyum, ia suka menggoda adik angkatnya itu.
"Aish, bisa jadi iya, atau bisa jadi enggak nih?" tanya Rara kesal.
"Apa kata nanti," sahut Rayyan tak mau menjawabnya.
"Ish pelit, oh ya Nanti Mas Ray pulang jam dua kan?" tanyanya karena emang jadwal pulang RAyyan itu gak nentu.
"Iya, bareng kamu. Nanti aku nunggu di parkiran seperti biasa ya,"
"Okay."
"Oh ya gimana kabar Ibu Arsih kemarin?" tanya Rayyan, ia lupa menanyakannya karena tadi malem sibuk banget. Bahkan ia sampai gak mengobrol dengan Rara. Padahal biasanya, ia menyempatkan diri walaupun hanya mengobrol sebentar. Tapi tadi malem, ia benar-benar sibuk bahkan ia baru bisa tidur jam tiga pagi.
"Dia sakit, Mas. Sudah dua hari nutup warungnya," jawab Rara dengan wajah sendunya. Ia tak menyangka jika Ibu Arsih sakit kangker payudara, dan akan operasi Minggu depan. Andai ia tak mengantarkan Lala kemarin, mungkin ia gak akan sempat datang ke rumah Ibu Arsih dan tau keadaannya seperti apa sekarang. Memang tak ada yang tau, kalau Ibu Arsih sakit. Yang mereka tau, hanya Ibu Arsih tak enak badan jadi gak buka warung, tanpa tau penyakit apa yang kini tengah diderita oleh Ibu Arsih.
"Sakit apa?" tanya Rayyan.
"Kangker payudara, dan Minggu depan operasinya."
"Astagfirullah. Kamu gak ngasih uang, Ra?"
"Sudah, Mas." Iya, kemarin saat tau kalau Ibu Arsih mau operasi, Rara izin keluar sebentar dan mengambil uang cash tiga juta untuk ia berikan kepada Ibu Arsih. Awalnya Ibu Arsih dan suaminya menolak, tapi karena Rara memaksa, akhirnya uang itu pun diterima. Sebenarnya bisa aja, Rara ngasih uang lebih, tapi ia gak bisa karena bagaimanapun ia gak bisa boros, mengingat uang itu pemberian Rayyan, Mama dan Papa angkatnya. Ya walaupun dalam rekening itu juga ada uang dia hasil menulis. Yah, Rara mulai mendapatkan gaji walaupun tak sebesar gaji Rayyan.
"Gimana kalau nanti pulang dari kampus, kita ke sana lagi."
"Ngapain?"
"Aku pengen berkunjung, apa gak boleh?"
__ADS_1
"Bolehlah, malah aku seneng. Ya sudah nanti kita ke sana, kita bawa apa?"
"Biasanya kalau jenguk orang sakit, bawa apa?" tanya balik Rayyan.
"Buah, susu, roti dan makanan sehat khusus orang sakit,"
"IYa sudah nanti kita beli di jalan saat mau ke sana."
"Okay."
Mereka pun terus mengobrol hingga sampai depan kampus. Lalu Rara turun dari mobil dan menemui Putri yang menunggunya di tempat biasa sedangkan Rayyan, ia berjalan menuju kantor khusus dosen.
"Tumben lama?" tanya Putri.
"Ya, tadi sedikit macek di jalan," jawab Rara.
"Iya sudah yuk ke kelas," ucap Putri, Rara menganggukkan kepala lalu pergi menuju kelasnya.
Walaupun para mahasiswa/i di sana tau jika Rara adalah adik Rayyan, namun mereka bersikap biasa aja. Mungkin karena murid di sana berkelas, jadi tak ada kata bully membully, dan bersikap biasa sekalipun itu anak presiden. Bahkan mereka juga tak akan menghina, walaupun ada anak yang paling miskin sekalipun. Bagi mereka, semuanya sama. Dan jika ada, maka saat itu juga akan di DO, sehingga tak akan ada yang berani melakukan aksi bully itu.
"Selamat pagi," ucapnya sambil duduk di kursi depan, khusus dosen.
"Pagi, Pak," jawab mereka serempak.
"Apakah semua tugas sudah dikerjakan?" tanya Rayyan lagi, ia menaruh buku dan laptop itu di atas meja.
"Sudah, Pak,"
"Good. Seakrang kumpulkan tugas itu di meja Bapak," ucapnya tegas.
Anak-anak pun kompak membuka tas mereka dan mengambil buku tugas mereka dan menaruhnya di meja dosen. Dan di saat mereka sibuk mengumpulkan tugas, Rara malah sibuk mencari buku itu di tasnya
"Kenapa, Ra?" tanya Putri.
__ADS_1
"Buku tugasku gak ada, apa ketinggalakan di rumah ya," ujar Rara takut, walaupun yang jadi dosen adalah Rayyan, namun jika di kelas Rayyan cukup tegas, berbeda jika di luar sekolah.
"Kok bisa ketinggalan, tadi malam, gak kamu masukkan di tas?" tanyanya.
"Kayaknya sih udah, tapi aku benar-benar lupa. Gimana dong?" tanya Rara dengan raut wajah sedih.
"Ada yang tidak mengumpulkan tugas?" tanya Rayyan karena ia tak melihat Rara berdiri dan mengumpulkan tugas itu.
"Maaf, Pak. Tugas saya ketinggalan di rumah," ucap Rara membuat Rayyan hanya bisa menghela nafas.
"Kenapa bisa lupa? Seharusnya kamu cek dulu sebelum berangkat, atau disiapkan tadi malam," ujar Rayyan dingin. Dalam hati ia sedikit merasa bersalah, karena biasanya, ia yang suka mengingatkan Rara akan tugasnya dan mengingatkan Rara untuk mengeceknya sekali lagi sebelum tidur. Gara-gara kesibukannya tadi malam, membuat ia lupa untuk melakukan hal itu.
"Maaf," Rara menunduk tak berani menatap kakak angkatnya itu.
"Baiklah, karena kamu tak mengumpulkan tugas. Sekarang, silahkan maju ke depan dan jelaskan tugas yang kamu kerjakan tadi malam, jika kamu emang mengerjakannya, tentu kamu tau apa yang di bahas dalam tugas itu dan bagaimana pendapatmu. Kamu bisa jelaskan di depan murid-muridmu. Dan bagi kalian, silahkan bertanya, satu anak dua pertanyaan. Dan bagi yang bertanya, akan saya kasih lima point. Dan kamu Ra, jika kamu bisa menjawab pertanyaan temanmu, setiap satu pertanyaan, satu point. Jadi semakin banyak pertanyaan, semakin banyak point yang kamu dapatkan hari ini, faham?" tanyanya. Dan Rara pun menganggukkan kepala.
Di depan sana ada papan tulis berwarna putih, Rara berjalan menuju papan itu dan mengambil spdiol hitam yang ada di samping papan tulis. Lalu ia mulai menulis point-point penting di papan tulis itu, dan mulai menjelaskan setiap point yang ia tulis. Untungnya tadi malam, ia sudah belajar dengan keras sehingga ia bisa memahami hampir selurush materi ini. Dan lagi, kemarin-kemarinnya, Rayyan juga sudah mengajarkan materi ini. Sehingga ia tak perlu terlalu gugup.
Saat Rara menjelaskan, Rayyan dan semua teman-temannya melihat ke arah Rara dan menyimak apa yang Rara jelaskan. Rayyan merasa bersyukur karena Rara menguasai materi itu sehingga Rayyan bisa memberikan nilai plus untuknya.
Setelah Rara selesai menjelaskan, barulah, Rayyan membuka sesi tanya jawab. Tak lupa ia mencatat nama setiap anak yang mengajukan pertanyaan.
"Karena waktunya cuma sebentar, jadi ada tiga sesi. Setiap sesi, hanya di batasi sepuluh pertanyaan. Jadi akan ada tiga puluh pertanyaan, itu pun jika waktunya cukup. Dan kamu, Ra. Kamu cukup menjelaskan garis besarnya aja, tidak perlu secara detail agar setiap anak mendapatkan bagian untuk bertanya," ucap Rayyan dan Rara pun menganggukkan kepala. Rara mengambil buku tulis dan pulpen, lalu menulis setiap pertanyaan yang di ajukan.
Setelah ada sepuluh pertanyaan, barulah Rara mulai menjawab setiap pertanyaan itu dengan mudah. Karena yang di tanyakan hanya hal-hal yang paling mudah, mungkin mereka bertanya hanya karena ingin mendapatkan point saja, sehingga walaupun mereka sudah tau jawaban dari pertanyaannya, mereka tetap bertanya demi point yang ingin mereka dapatkan.
Dan pertanyaan pun tak garing seperti biasanya, karena kelas itu berisi tanya jawab sehingga mengubah suasananya menjadi menyenangkan, bahkan sesekali, Rara menjawabnya dengan guarauan yang membuat teman-temannya tertawa.
"Aku baru tau, kamu juga bisa ngelawak Ra," gumam Rayyan dalam hati.
Sejujurnya tinggal bersama Rara membuat jantung Rayyan seringkali berdebar, ia tau, jika ia menganggap Rara bukan hanya sekedar adik, tapi lebih dari itu. Namun Rayyan berusaha menekan perasaannya agar tak membuat hubungan dirinya dan Rara menjadi hancur berantakan karena sebuah rasa yang kini hinggap di dalam hatinya.
Tak terasa jam kuliah jam pertama pun habis, sehingga Rayyan segera mengakhiri kelas itu dan segera keluar dari kelas itu sambil membawa buku muridnya. Dan Rara, ia bisa bernafas lega dan segera duduk, karena ia lelah berdiri sedari tadi di depan teman-temannya.
__ADS_1
"Gila, kamu hebat banget, Ra. Kamu cocok jadi dosen," ujar Putri memuji penampilan Rara dari tadi. Bahkan bukan hanya Putri, tapi yang lainnya pun juga ikut memuji Rara yang tak terlihat gugup sama sekali, bahkan sangat mahir saat menjelaskan dan menjawab setiap pertanyaan yang di tanya oleh teman-temannya itu. Dan Rara pun hanya menjawabnya dengan senyuman.
Sesungguhnya ia malu mendapatkan pujian itu karena Rara merasa ia tak berhak mendapatkan itu semua, ia tadi hanya melakukan yang terbaik agar bisa mendapatkan nilai sempurna, dan ia tak ingin mempermalukan Rayyan, karena bagaimanapun mereka semua tau, jika Rayyan adalah kakaknya. Dan jika sampai Rara tak bisa menjelaskannya, itu pasti berpengaruh terhadap Rayyan dan Rara tak mau itu terjadi.