Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Mempercantik Diri


__ADS_3

Rara bangun jam setengah dua, lalu setelah itu, ia di bawa Ibu Sarrah dan Rayyan ke Salon. "Ma, kita mau kemana?" tanya Rara yang memang belum di kasih tau tujuan mereka saat ini.


"Ke salon, Sayang," jawab Ibu Sarah. Ia duduk di kursi belakang bersama dengan Rara. Sedangkan Rayyan, ia duduk di kursi depan dan fokus menyetir. Ia bahkan sudah mirip dengan sopir pribadi. Hanya bedanya, Rayyan terlalu tampan untuk di jadikan seorang sopir. Namun untuk saat ini, ia mengalah, demi membahagiakan Rara, adik angkatnya.


"Mau ngapain ke sana?" tanya Rara kebingungan. Seumur-umur, ia belum pernah ke Salon. Bahkan ia tak pernah perawatan ini itu, untuk potong rambut pun, ia kadang memotongnya sendiri atau meminta bantuan tetangga yang ahli memotong rambut.


"Nyalon dong, Ra. Kita akan bersenang-senang dan aku harap, kamu gak nolak, okay," jawab Rayyan, sedangkan Ibu Sarrah hanya tersenyum mendengar jawaban putranya itu.


"Baiklah, hari ini aku akan jadi anak dan adik yang nurut untuk Mama dan Mas Ray, dan aku gak akan menolak apa yang kalian lakukan, karena aku tau, kalian pasti akan memberikan yang terbaik buat aku," sahut Rara tersenyum, ia tak ingin menolak karena tak mau mengecewakan dua orang yang ia sayangi.


"Nah gitu dong, itu baru Rara, adikku. Baiklah, kita mulai dari Salon milik Tante Indah kan, Ma?" tanya Rayyan.


"Iya dong, Mama kan dari dulu selalu nyalon di sana, harga murah tapi kualitas nomer satu," jawab Ibu Sarrah yang emang suka banget nyalon di sana.


"Baiklah, kita akan meluncur ke sana." Lalu setelah itu, Rayyan pun menyetir menuju salon Indah. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar dua puluh lima menit perjalanan, akhirnya mereka pun sampai juga.


Setelah itu, Ibu Ratih dan Rara pun turun dari mobil. Sedangkan Rayyan memilih menunggu di mobil sambil nulis novel lewat tab yang ia bawa. Ibu Sarrah pun tak mempermasalahkan, toh Rayyan emang kurang suka berada di dalam. Lagian sekarang ada Rara yang akan selalu menemaninya, jadi ia punya teman mengobrol sepanjang menjalani perawatan.


"Hallon, Jeng. Tumben dua Minggu ini gak ke sini?" tanya Jeng Indah, sambil cipika cipiki dengan Ibu Sarrah.

__ADS_1


"Iya, Jeng. Lagi sibuk banget, jadi baru hari ini bisa nyalon lagi," jawab Ibu Sarrah.


"Oh, terus ini siapa Jeng?"


"Putriku,"


"Loh kamu punya anak perempuan toh, kok gak pernah tau aku," tanya Jeng Indah penasaran


"Iya, karena kamu kan gak pernah tanya Jeng,"


"Haha iya juga ya, tapi putrimu cantik loh," puji Jeng Indah tulus, ia tau walaupun kulit Rara dekil, tapi ia punya wajah yang cukup tirus, bulu mata lentik, hidung yang sedikit mancung, dan bibir tipis. Apalagi alisnya yang cukup tebal membuat wajahnya sangat sempurna, hanya saja kekurangannya ada di warna kulit yang terlihat dekil dan tak cerah.


"Iya sudah, ini perawatan seperti biasanya kan?" tanya Jeng Indah.


"Iya dong, pastinya. Tapi utamakan putriku ya,"


"Baiklah, jangan khawatir, nanti aku akan mengurusnya dan menjadikan dia cinderella," sahut Jeng Indah dengan wajah yang sungguh-sungguh.


"Aku percaya sama kamu," ujar Ibu Sarrah tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu, Ibu Sarrah pun langsung menjalani perawatan dan dia di tangani oleh karyawan di sana. Sedangkan untuk Rara sendiri, ia di tangani langsung oleh Jeng Indah.


Rara melakukan perawatan kulit, terutama bagian wajahnya. Bagian Jeng Indah juga memotong rambut Rara sampai bahu dan setelah itu melakukan perawatan rambut agar semakin berkilau.


Rara dan Ibu Sarrah menjalani perawatan hampir dua jam lamanya, untungnya hari ini Rian-suaminya Rara tak pulang, jadi Rara sedikit tenang dan tak perlu khawatir jika nanti ia pulang terlambat.


Tepat jam empat lewat lima belas menit, Rara dan Ibu Sarrah baru keluar dari salon. Melihat tampilan Rara, tak sia-sia Ibu Sarrah mengeluarkan cukup banyak uang karena kini tampilan Rara cukup memukau walaupun masih memakai baju yang warnanya sudah pudar. Jeng Indah tadi juga sudah mengajari Rara untuk belajar make up, dan apa saja yang di lakukan agar kulit Rara bisa terawat. Terutama wajah yang sangat penting untuk di jaga karena yang di lihat orang pertama kali adalah bagian wajahnya. Rara pun mendengarjakan penjelasan Jeng Indah, bahkan ia tak segan untuk bertanya jika ia kurang faham.


Rayyan yang tak sengaja menatap ke arah Rara pun juga ikut tercengang, tak percaya hanya dalam satu kali perawatan, sudah membuat wajah Rara sangat cantik sekali, lalu bagaimana jika Rara sering kali melakukan perawatan mungkin akan membuat Rara semakin cantik. Dan bisa jadi, Rayyan akan tergoda dengan kecantikkannya.


"Kamu kenapa, Ray. Lihat Rara sampai segitunya?" goda Ibu Sarrah yang kini mulai masuk dalam mobil. Ia pun duduk di kursi belakang seperti tadi, Rara pun juga ikut duduk di samping Ibu Sarrah.


"Hanya terpanah dengan kecantikan Rara, Ma," jawab Rayyan jujur membuat Rara malu sendiri mendengar kata kakak angkatnya itu.


"Sudahlah, ayo kita ke Mall," ujar Ibu Sarrah. Dan Rayyan pun menganggukkan kepala. Ia segera menghidupkan mobilnya dan menuju Mall terdekat yang tak jauh dari sana.


"Nanti kamu di sana beli baju yang banyak ya, pokoknya semua kebutuhan kamu, kamu beli aja, jangan mempermasalahkan uang, Mama masih sanggup untuk membelikan kamu banyak barang, bahkan jikapun Mama tak mampu, ada Kakak kamu yang bisa kita porotin," canda Ibu Sarrah, membuat Rayyan mendengus.


"Ish ... Mama mah gitu. Tapi demi Rara, gak papa deh. Bahkan tabunganku di habisin juga gak papa," ucap Rayyan dengan entengnya.

__ADS_1


Rara yang mendengarnya pun hanya geleng-geleng kepala. Rara sendiri, ia ingin mengeluarkan uang lima ribu aja, mikir ratusan kali. Tapi berbeda dengan orang kaya, yang dengan mudahnya menghambur-hamburkan uang, mungkin karena mereka mudah mendapatkan uang, sehingga tak perlu mikir ribuan kali untuk membeli apa aja yang mereka mau.


__ADS_2