Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Reaksi Rara


__ADS_3

Ibu Sarrah mengantarkan Rara sampai depan rumahnya, dan ketika Rara baru turun dari mobil. Ia di sapa oleh Ibu Arsih yang kebetulan lewat sana.


"Loh Ra, baru pulang?" tanya Ibu Arsih sambil sedikit curiga karena Rara pulang malam, terlebih ia pulang di antar mobil mewah.


"Iya, Bu," jawab Rara kikuk. Padahal ia sudah berharap, jika kedatangannya tak di ketahui oleh siapapun, tapi ternyaa malah ketemu Ibu Arsih.


"Ini mobil siapa, Ra?" tanya Ibu Arsih, sedangkan Rara bingung mau menjelaskan bagaimana. Tiba-tiba Ibu Sarrah turun dari mobil karena melihat wajah Rara yang seperti kebingungan.


"Halo, Ibu. Perkenalkan saya Sarrah, majikan Rara awalnya. Tapi kini saya sudah mengangkat dia menjadi putri saya. Artinya mulai hari ini, saya akan menjadi Mamanya Rara," ucap Ibu Sarrah membuat Ibu Arsih kaget, namun setelahnya ia tersenyum senang karena ada seseorang yang berbaik hati mau mengangkat Rara jadi putrinya.


"Ya Allah, Alhamdulillah. Akhirnya ada orang yang mau menjadikan Rara sebagai putrinya. Ibu Sarrah, saya Ibu Arsih, pemilik warung di sana. Setiap hari, biasanya Rara akan belanja di warung saya. Saya senang, jika misalkan Rara kini sudah punya keluarga baru. Sungguh, selama ini saya prihatin dengan kehidupan Rara dan berharap suatu saat Rara akan bahagia dan keluar dari semua penderitaanya," ujar Ibu Arsih yang menitikkan air mata. Ia sangat bahagia misalkan kini Rara punya keluarga baru yang menyayanginya. Sudah cukup, Rara menderita selama ini. Sudah saatnya, ia bahagia dengan orang yang bisa mencintainya dengan tulus.


"Ya, saya pun perihatin dengan kehidupannya Rara. Saya mengenal Rara juga karena setiap pagi Rara bekerja sebagai kuli panggul di pasar, lalu saya menawarkan dia kerja di rumah. Namun setelah tau bagaimana kehidupannya, saya menginginkan dia sebagai putri saya, karena kebetulan juga saya hanya punya satu putra, dan saya tak bisa hamil lagi. Dengan kehadiran Rara di keluarga saya, berharap bisa mengisi kekosongan saya selama ini, terima kasih juga karena Ibu Arsih selama ini sudah berbaik hati dengan Rara," ucap Ibu Sarrah lembut dan sopan.


"Saya juga sangat menyayangi Rara, Bu. Tapi sayangnya, saya tak bisa menolongnya, karena saya pun tak berdaya,"


"Saya mengerti, Bu. Dan saya harap pertemuan ini untuk di rahasiakan dulu, karena saya dan Rara tengah menjalani sebuah misi. Dan saya tak ingin misi ini berantarakan jika sampai banyak yang tahu jika saat ini, Rara sudah punya keluarga angkat baru,"


"Baik, Bu. Saya mengerti, saya janji tak akan membicarakannya kepada siapapun,"


"Terima kasih, Bu. Dan tolong jaga Rara,"


"Iya, Bu. Pasti."


"Kalau gitu, saya permisi dulu," ujar Ibu Sarrah pamitan sambil bersalaman dengan Ibu Arsih.


"Sayang, Mama pulang dulu ya. Jangan lupa kamerannya untuk di sembunyikan di tempat yang aman, kamu masih ingat kan apa yang sudah di bicarakan di mobil tadi," ujar Ibu Sarrah. Memang tadi di mobil, Ibu Sarrah dan Rayyan sudah menjelaskan semua, apa yang harus di lakukan dan bagaimana untuk menghidupak kamera itu hingga tersambung di hp milik Rayyan.


Rara pun juga sudah mengerti karena Rayyan menjelaskan berulang-ulang secara detail.


"Aku ingat, Ma."

__ADS_1


"Iya sudah, Mama pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi Mama. Eh ya, HP nya ada di Rayyan ya,"


"Hehe iya, lagian aku belum tau cara menggunakannya."


"Iya sudah besok, Mama ajarin. Mama juga akan jemput kamu jam delapan gang tiga tadi, kan?" tanya Ibu Sarrah memastikan agar tak salah.


"Iya, Ma. Di jalan yang aku kasih tau tadi,"


"Baiklah, Mama mengerti. Mama pulang dulu," Ibu Sarrah mencium kening dan pipi Rara, baru setelah itu, ia masuk ke dalam mobil. SEbelum pergi dari sana, Rayyan membuka jendela mobilnya, dari tadi ia emang memilih berada di dalam mobil dan hanya mendengarkan apa yang di bicarakan Ibu Sarrah dan Ibu Arsih.


"Ra, aku pulang dulu ya," pamit Rayyan.


"Iya, Mas. Hati-hati." Rayyan membalasnya dengan acungan jempol, dan setelah itu, ia pun pergi dari sana.


Dan kini tinggal Rara dan Ibu Arsih yang masih ada di jalan.


"Ya Allah, Ra. Ibu gak nyangka, akhirnya kamu menemukan keluarga angkat yang sangat menyayangi kamu," ucap Ibu Arsih.


"Ya, Bu. Alhamdulillah, mereka baik banget. Bahkan aku juga gak menyangka di hari pertama aku kerja, malah di angkat jadi anak. Bahkan mereka sangat baik sekali, mereka sangat welcome banget. Tadi juga aku di ajak ke salon dan membeli barang-barang di Mall," jawab Rara dengan wajah berbinar.


"Aamiin, Bu.


"Terus tadi cowok itu siapa, Ra?"


"Oh itu, anaknya Mama Sarrah, Bu. Namanya Mas Rayyan, tapi aku manggilnya Mas Ray."


"Oh, kayaknya dia juga baik dan sayang sama kamu ya, Ra."


"Iya, Bu. Mama Sarrah dan Mas Ray emang baik banget."


"Iya sudah, kamu pasti capek banget kan, Ra. Sana masuk, suamimu juga belum pulang, Ra."

__ADS_1


"Ya, Mas Rian sudah bilang ke aku tadi pagi, Bu. Kalau malam ini dia gak pulang,"


"Oh gitu, iya sudah. Ibu juga mau pulang dulu,"


"Iya, Bu."


Dan setelah itu, Rara pun melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Lalu ia segera membuka pintu dengan kunci rumah yang ia bawa. Setelah pintu rumah terbuka lebar, ia pun menghidupkan semua lampu lalu, ia menutup kembali pintu rumah agar tak ada orang lain masuk. Tak lupa ia mengunci pintu itu dari dalam rumah.


Tak mau hanya duduk diam, Rara langsung menaruh kamera itu di ruang tamu dan di dapur. Setelah memastikan aman dan tak terlihat, ia segera masuk ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju.


Selesai mandi dan ganti baju, Rara hanya duduk diam, ia memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini. "Oh ya, Tuhan. Aku hampir lupa, aku harus mengambil buku nikah, dan ijazahku." Rarapun membuka lemari bajunya dan mengambil ijazahnya. Lalu ia pergi ke kamar depan, kamar suaminya, kamar yang dulu pernah ia tempati saat masih menjadi pengantin baru.


Ia melihat ke arah laci karena ia masih ingat, dulu suaminya menaruh di sana. Dan semoga aja belum di pindahkan. Rara buru membuka lacy dan ada banyak surat di sana, namun ia tak mengambil surat berharga itu karena itu bukan haknya. Ia hanya mengambil dua buku nikah. Yang nantinya akan sangat berfungsi untuk mengajukan cerai.


Setelah selesai, ia langsung pergi ke rumah itu menuju rumah Ibu Arsih.


"Bu .... Bu Arsih?" panggil Rara dari luar pintu.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka.


"Ada apa, Ra?" tanya Ibu Arsih.


"Bu, saya titip ini, boleh?" tanya Rara sambil memperlihatkan ijazah dan buku nikahnya.


"Boleh, Ra. Boleh banget," jawab Ibu Arsih. Lalu Rara pun memberikan itu semua ke Ibu Arsih.


"Besok akan aku ambil lagi,"


"Iya, Ra."


"Iya sudah, Bu. Aku pulang dulu ya, terima kasih sebelumnya."

__ADS_1


Dan setelah itu, Rara pun segera pulang ke rumahnya. Masalah ijazah dan buku nikah sudah beres, dan tinggal masalah baju dan yang lainnya. Namun Rara tak mempermasalahkan itu semua, toh itu semua sudah tak akan terpakai nantinya. Karena ia sudah punya yang baru yang bisa ia pakai saat pulang ke rumah Mama angkatnya.


"Tuhan ... aku tak tau, apa yang akan terjadi nantinya. Tapi aku harap, aku bisa keluar dari masalah ini," gumam Rara dalam hati.


__ADS_2