
Setelah hampir dua jam Rara pingsan, ia pun akhirnya sadar juga. Dan orang yang pertama kali ia lihat adalah Ibu Sarah. Sedangkan Ray, ia bersembunyi di dalam kamarnya, karena ia tak ingin ada kecanggungan antara dirinya dan Rara. Ray akan keluar setelah Ibunya memanggil.
"Ibu Sarah," Rara langsung mencoba untuk bangun dari sova.
"Hati-hati. Kamu pasti masing pusing, kan?" tanya Ibu Sarah sambil membantu Rara duduk.
"Sedikit. Maafin saya ya, Bu. Di hari pertama saya kerja, malah pingsan," Rara merasa tak enak hati. Ia sudah ingat, kalau dirinya merasa pusing sesaat setelah ia menekan bell. Tanpa bertanya, ia sudah tau, kalau dirinya pingsan setelahnya.
"Gak papa, santai saja. Kamu kenapa, sampai pingsan?"
"Saya hanya sedikit kelelahan saja," jawab Rara tersenyum sambil melirik ke arah minuman yang ada di atas meja, tepat di hadapannya.
Ibu Sarah yang mengerti jika Rara sedang haus pun, langsung tersenyum. "Ini tadi Ibu buatkan minuman buat kamu. Mungkin sudah gak terlalu dingin, soalnya sudah sedari tadi. Ini juga ada kue buatan Ibu, coba cicipi. Enak apa gak?" ucap Ibu Sarah lembut.
Rara pun menganggukkan kepala. Dengan malu-malu, ia mengambil gelas dan memegangnya dengan erat agar tak tumpah.
"Saya minu dulu ya, Bu."
"Iya, Nak."
Dan setelah itu, Rara pun meminumnya hingga tak tersisa. Sungguh ia merasa kehausan dan tenggorkannya pun terasa sangat kering. Dan setelah ia selesai minum, ia langsung merasa lega. Bahkan tubuhnya yang tadi terasa lemas pun seakan sudah kembali segar bugar.
"Ini kuenya coba kamu cicipi, enak gak?" Ibu Sarah menyodorkan kue yang ada di atas piring putih.
Rara pun mengambilnya satu dan memakannya dengan pelan. "Wah, rasanya sangat enak, Bu. Rasanya lezat, empuk dan manisnya pas. Gak terlalu hambar dan gak terlalu kemanisan juga. Ibu sangat pintar bikin kue," puji Rara tulus. Ia bahkan menghabiskan kue yang ada di tangannya itu.
"Kalau gitu, habiskan aja. Soalnya anak dan suami Ibu gak terlalu suka makan. Jadinya kue yang ibu buat kadang malah terbuang sia-sia," ujar Ibu Sarah yang membuat Rara melongo. Mendengar kata sia-sia membuat Rara tak habis fikir, bagaimana mungkin makanan seenak ini akan terbuang gitu aja.
"Kalau gitu, biar saya aja yang makan," ucap Rara mengajukan diri, dari pada di buang. Lebih baik di makan, kan? Biar gak mubadzir.
"Iya, habiskan aja. Ibu malah senang jika kamu menghabiskan kue ini. Ibu ambilkan air lagi ya, kamu mau air apa? Air putih, es teh, teh hangat, es buah atau apa. Biar ibu buatkan?" tanya Ibu Sarah ramah.
"Air putih aja, Bu. Maaf ya, jika merepotkan."
"Gak papa, Sayang. Ibu ambilkan air putih dulu ya," ujar Ibu Sarah dan Rara pun menganggukkan kepala. Lalu ia menikmati kue itu sambil melihat ruangan tempat ia berada saat ini.
"Rumahnya sangat besar, harum dan bersih juga," gumam Rara dengan sangat pelan sambil menikmati kue yang ia makan. Tanpa Rara ketahui, seseorang sedang melihat Rara lewat CCTV yang terhubung di Hpnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Rayyan. Memang di depan rumah, ruang tamu, ruang tengah, samping rumah, dapur juga ada CCTV nya yang langsung terhubung ke Hpnya. Rayyan memakai CCTV sejak beberapa tahun lalu. Karena mamanya tinggal sendiri, sehingga saat Rayyan pergi keluar untuk mengajar atau lain sebagainya. Ia tetap bisa memantau keadaan mamanya yang ada di rumah. Karena Papanya juga jarang berada di rumah karena kesibukannya yang harus bekerja keras dan kadang juga harus pergi keluar kota untuk beberapa hari. Rayyan pun tak mempermasalahkan, begitupun dengan mamanya. Selama papanya tak melakukan hal-hal yang akan membuat dirinya dan sang mama kecewa padanya.
Karena terlalu serius melihat di setiap sudut ruangan sambil makan, tak terasa kue yang ada di piring pun sudah habis tak tersisa. Bahkan saat Rara mau mengambilnya lagi, ia sampai kaget sendiri. "Eh, kok habis. Siapa yang makan?" tanyanya pada diri sendiri dengan wajah kebingungan dan itu sukses membuat Rayyan yang melihatnya ketawa.
"Ya Tuhan dia lucu sekali. Dia gak sadar, kalau dirinyalah yang dari tadi mengambil kue itu dan memakannya sambil matanya melihat setiap sudut ruangan," Rayyan sampai ketawa sendiri di buatnya. Ia terus melihat ke layar hpnya dan menatap ke arah Rara.
"Rara, ini airnya," Ibu Sarah memberikan segelas air putih ke Rara. Ibu Sarah melirik ke piring yang sudah kosong. Namun ia tak marah, ia malah senang karena ternyata Rara sangat menyukai kue buatannya.
"Makasih ya, Bu. Maaf, kuenya saya habiskan."
"Iya gak papa, Ibu malah seneng loh. Itu artinya kue buatan ibu enak dan kamu menyukainya," balas Ibu Sarah tersenyum.
__ADS_1
"Ya, kue buatan Ibu enak. Kapan-kapan, saya ingin belajar bikin kue dari ibu. Jika boleh?"
"Boleh dong, nanti saya pasti ajarin kamu," ujar Ibu Sarah.
Rara menganggukkan kepala, lalu ia minum segelas air putih dan kali ini ia tak menghabiskannya tapi menyisakan sedikit air di gelas itu dan menaruhnya di meja yang ada di hadapannya.
"Saya kerja apa hari ini, Bu?" tanya Rara yang sudah merasa kenyang karena sudah makan banyak kue dan menghabiskan hampir dua gelas air. Tadi es teh dan sekarang segelas air putih.
"Emm apa ya, gimana kalau bantu Ibu berkebun," ujar Ibu Sarah, karena ia sendiri bingung mau ngasih pekerjaan apa. Karena rumahnya sudah bersih dan ia sudah selesai masak dan lain sebagainya.
"Berkebun?"
"Iya, kamu suka berkebun, kan?" tanya Ibu Sarah.
"Suka," jawab Rara semangat.
"Baiklah, kita bisa ke samping rumah. Di sana Ibu menanam banyak bunga dan sayur-sayuran."
"Iya udah, ayo Bu kita berangkat sekarang?"
"Berangkat kemana?"
"Berkebun, kan?" tanya Rara sambil melihat ke arah Ibu Sarah.
"Hehe iya-ya. Kenapa Ibu jadi pikun gini, iya sudah ayo,"
"Tapi ini gelas dan piringnya gimana?" tanya Rara sambil menunjuk ke arah piring dan dua gelas kosong yang ada di atas meja.
"Enggak usah, biar Rara saja,"
"Iya sudah." Ibu Sarah pun mengalah, ia tak akan memaksa Rara. Ia akan membiarkan Rara merasa nyaman lebih dulu tinggal di rumahnya.
Ibu Sarah membawa Rara ke dapurnya. Lagi-lagi Rara di buat kaget dengan luasnya dapur itu. Semuanya tertata begitu rapi, berwarna putih dan coklat. Terlihat elegant.
"Taruh di wastafel aja, biar Ibu nanti yang nyuci."
"Biar saya saja, Bu. Lagian ini cuma sedikit." Rara yang merasa gak enak pun, tetap memaksa untuk mencuci sendiri. Lagian ia yang makan dan minum, tak mungkin malah Ibu Sarah selaku majikannya yang mencuci bekas miliknya.
"Iya sudah, Ibu Tunggu di samping rumah ya. Nanti setelah selesai, kamu tata aja di rak piring samping wastafel. Nanti kalau kamu mau ke samping rumah, kamu lewat pintu tengah ya, di sana." Ibu Sarah menunjuk pintu yang berwarna coklat muda.
"Iya, Bu."
Setelah itu, Ibu Sarah pun pergi lebih dulu. Sedangkan Rara, ia mencuci piring dan dua gelas dan menaruh di tempatnya. Lalu ia segera pergi ke samping rumah lewat pintu yang tadi di kasih tau oleh Ibu Sarah.
Dan saat ia sudah berada di samping rumah, lagi-lagi ia di buat kaget. Di sana ada beberapa macam bunga yang bermekaran. Dan yah, semuanya tertata rapi sehingga enak di pandang mata. Tak jauh dari bunga itu, ada pohon jeruk, pohon pepaya dan pohon jambu. Sedangkan di pinggir-pinggir tembok di kelilingi kemangi, ada sayur kangkung, bayam, cabe, tomat, terong, labu, timun dan gambas.
"Ini semua Ibu yang nanam?" tanya Rara sambil menghampiri Ibu Sarah yang tengah menyiram sayurannya.
__ADS_1
"Iya, kadang di bantu Ray,"
"Ray?" ulang Rara.
"Ya, anaknya Ibu. Oh ya kamu belum kenalan ya, dia sekarang gak ke kampus. Ada di kamar, nanti Ibu kenalin ya,"
"Eh, iya." Rara pun hanya menjawabnya dengan canggung.
"Kalau sama Ibu, jangan terlalu formal. Biasa aja, anggap Ibu ini seperti Ibu kamu sendiri," ucap Ibu Sarah yang sudah selesai menyiram sayuran. Lalu ia membawa Rara duduk di kursi yang di sediakan di sana.
"Ra, boleh Ibu ngomong sesuatu?" tanya Ibu Sarah dan Rara pun hanya menganggukkan kepala. Ia duduk di samping Ibu Sarah.
"Boleh, Bu."
"Ra, kamu mau gak jadi anaknya Ibu. Kamu tau kan, Ibu pengen punya anak perempuan. Hanya saja, Ibu sudah gak bisa hamil lagi. Begitupun dengan Ray, dia pengen punya saudara, tapi Ibu gak bisa mengabulkan. Jujur, Ibu suka sama kamu, Ibu sayang sama kamu. Jika kamu bersedia, Ibu pengen mengangkat kamu sebagai anak Ibu," ucap Ibu Sarah to the point. Ia tak mau berbelit-belit, sehingga berputar-putar tak tau ujungnya. Ia ingin ngomong dengan jelas, agar ia pun segera tau bagaimana tanggapan Rara.
"Ibu ...." jujur mendengar kata Ibu Sarah, membuat hati Rara tak karuan. Di satu sisi, ia ingin merasakan kasih sayang seorang Ibu. Ia emang pernah merasakan mendapatkan kasih sayang dari Ibu angkatnya. Tapi sekarang Ibu angkatnya sudah tiada. Ia juga ingin merasakan punya sebuah keluarga, keluarga yang bisa menerima dia apa adanya, menyayanginya dengan dengan tulus dan memberikan ia perlindungan. Ia juga sudah lelah berjuang seorang diri, ia lelah dengan semua kesakitan yang ia harus hadapi seorang diri. Ia ingin egois, ia ingin mendapatkan keluarga yang utuh dan merasakan kehangatan sebuah keluarga.
"Ibu ... aku bingung,"
"Bingung kenapa, Sayang?"
"Apakah suami Ibu dan anaknya Ibu mau menerima kehadiran aku dalam hidup mereka?" tanya Rara getir. Melihat itu Ibu Sarah tersenyum, ia ingin menjawabnya, hanya saja sudah keduluan yang lain.
"Aku menerima kamu jadi adikku. Papa juga sudah menerima kamu jadi putrinya. Hanya saja saat ini, Papa tak ada di sini karena ada di luar kota. Dan baru pulang lusa. Tapi aku, Mama dan Papa sudah sepakat untuk mengangkat kamu jadi bagian dari keluarga kami," ucap Ray yang kini tengah berdiri di samping Rara.
"Dia siapa?" tanya Rara dalam hati.
Melihat Rara seperti kebingungan, Rayyan pun menjelaskan dirinya sendiri.
"Aku Rayyan," ucap Rayyan memberitahu.
"Dia putra Ibu, Nak," ujar Ibu Sarah menjelaskan.
"Mas Ray," entah kenapa, Rara langsung menyebut Rayyan dengan sebutan Mas Ray tanpa sadar. walaupun sangat kecil, namun Ibu Sarah dan Rayyan mendengar itu.
"Iya mulai sekarang kamu adik aku dan kamu boleh manggil aku, Mas Ray," kata Rayyan.
"Dan mulai sekarang, jangan panggil Ibu lagi. Tapi panggil saya Mama ya," ucap Ibu Sarah.
Mendengar hal itu, Rara menitikkan air mata. Entah ia mimpi apa, sampai ia bertemu dengan orang baik, yang sangat menyayangi dia dengan tulus.
"Mama ... Mas Rey ...." Rara mengucap itu dengan Bibit bergetar. Tak terasa ia menitikkan air mata bahagia.
"Jangan nangis, mulai saat ini. Aku akan melindungimu. Aku gak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu lagi, okay." Rayyan berjalan untuk lebih dekat lagi dengan Rara. Lalu ia memeluk Rara dengan erat. Ia seakan ingin memberikan Rara ketenangan.
"Kamu harus jadi anak yang kuat, kamu gak boleh lemah. Kamu harus bisa melawan jika ada yang menyakiti kamu. Kamu gak boleh takut, karena sekarang ada aku dan Mama yang akan melindungi kamu." Rayyan masih dalam posisi memeluk Rara. Tangan kanannya mengelus rambut Rara dengan lembut.
__ADS_1
Mendapatkan perhatian seperti itu membuat Rara semakin menangis. Sungguh, perhatian seperti ini yang ia inginkan dari dulu. Ia tak mau apa-apa. Ia hanya ingin di perhatikan seperti ini.
Ibu Sarah pun ikut bergabung memeluk Rara. Sungguh walaupun ia baru kenal Rara, entah kenapa ia sangat menyayangi Rara. Apalagi wajah Rara mengingatkan dirinya dengan wajah seseorang di masa lalunya.