Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Meninggal


__ADS_3

Rara menyetir dengan air mata yang mengalir di pipinya, di satu sisi ia merasa bahagia karena akhirnya secara agama ia sudah pisah dengan suaminya dan kini statusnya pun sudah menjadi janda, hanya tinggal menunggu surat cerai dari negara, maka ia akan benar-benar terlepas dari Rian. Tapi entah kenapa, melihaat wajah Rian yang begitu putus asa dan frustasi membuat hati Rara tergugah. Ia merasa kasihan, apalagi kini tubuh Rian yang kurus dan juga tak terawat, hatinya sempat tergerak, tapi ia berusaha untuk tetap bertahan dengan prinsipnya, bahwa ia gak akan pernah memberikan kesempatan apapun pada Rian.


Berbeda dengan Rian, ia pulang ke rumahnya dengan hati hancur, walaupun ia mencoba untuk menerima takdirnya, meencoba untuk mengiklaskan kepergian Rara demi kebahagiaannya, tapi jujur, tak bisa ia pungkiri bahwa hatinya begitu sakit dan perih.


"Ra, aku rela menanggung rasa sakit ini, aku rela merasakan patah hati seperti ini, aku rela, Ra. Asal kamu bahagia. Kamu benar, Ra. Kamu benar, kamu gak bahagia sama aku, aku hanya memberikan penderitaan buat kamu. Semoga dengan perpisahaan kita, bisa membuat kamu merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku berikan untuk kamu." Rian memukul dadanya dengan keras, ia menjambak rambutnya dengan kedua tangannya dengan cukup kasar. Air matanya mengalir tiada henti. Ia benar-bener merasa putus asa, menyesal, dan ia merasa kehilagan separuh hidupnya.


Sedangkan di tempat yang beda, kini Lala tengah menunggu ibunya yang tengah di operasi. Yah, ia berhasil mendapatkan uang dari Pak Karto, ia terpaksa meminjam puluhan juta dan menjaminkan sertifikat rumah yang kini ia tempati bersama ibunya. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan ibunya. Bagi Lala, Ibu Meri adalah segalanya dan ia akan melakukan apapun demi kesembuhan ibunya.


Dan jika ibunya sudah sembuh, Lala bisa bekerja untuk melunasi hutang bersama bungannya yang cukup mahal itu.


----


Malam harinya, Rian tertidur di ruang tamu, dan ia bermimpi ibunya yang tengah kesakitan. Dan itu membuat Rian takut. Saat ia bangun, ia melihat jam masih menunjukkan pukul dua pagi, tak mungkin Rian pergi jam segini untuk menemui ibunya, akhirnya ia pun memutuskan untuk mandi di tengah malam dan menunggu pagi hari untuk pergi ke rumah Ibunya.


Sebenarnya bisa aja, Rian menelfon Lala, hanya saja ia berfikir Lala pasti lagi tidur, jadi ia tak mau menganggu adeknya yang lagi istrirahat. Ia pun memilih untuk duduk diam memikirkan masa depannya, karena ia tak mungkin seperti ini terus meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.


"Ra, aku akan bangkit, Ra. Aku akan memulai semuanya dari nol, aku akan mencoba keberuntungannku untuk buka usaha. Aku berharap, aku bisa hidup lebih baik ke depannya, dan aku juga berharap, kamu bahagia bersama dengan apa yang kamu jalani saat ini." Rian mencoba untuk menerima keadaaannya saat ini, menangis dan meratapi nasibnya hanya akan membuat dirinya semakin sakit dan lemah, ada banyak hal yang harus ia lakukan.


---


Saat pagi hari, Rian pun membeli nasi bungkus di depan yang seharga tujuh ribuan, setelah selesai sarapan pagi, ia pun mengunci pintunya dari luar agar tak ada orang lain masuk ke dalam rumahnya saat ia pergi keluar. Namun baru aja, ia mengunci pintu, tiba-tiba, Hpnya berbunyi dan ia mendapatkan telfon dari adeknya. Rian pun segera mengangkat hpnya.


Sebenarnya Hpnya yang dulu, sudah di jual oleh Lala untuk menambah uang agar bisa keluar dari penjara. Sedangkan Hp yang ia pegang saat ini, adalah Hp biasa, Hp second yang ia beli dengan harga murah. Ia tak mungkin tidak menggunakan Hp. Apalagi di zaman sekarang, Hp itu sangatlah penting. Walaupun harganya cuma 150 ribu, tapi masih layak untuk di pakai.


"Ada apa, La?" tanya Rian sambil berjalan menuju rumah Ibunya.


"Kak ... Ibu Kak hiks hiks ...." Lala menangis dengan sesegukan.


"Kenapa dengan Ibu, La? Aku sekarang lagi mau ke rumah Ibu. Kamu tunggu aku di rumah ya,"


"Ka, Ibu di rumah sakit."


"APAH! Ibu kenapa, La?" tanya Rian yang mulai panik.

__ADS_1


"Kakak segera ke sini ya, Rumah sakit, XX. Nanti aku tunggu Kakak di depan rumah sakit," ujar Lala tanpa memberitahu lebih lanjut, ia ingin Rian melihat sendiri kondisi Ibunya saat ini.


"Iya sudah kakak ke sana sekarang." Tanpa membuang waktu, Rian pun pergi ke sana naik ojek dengan uang yang ia punya, untungnya tadi saat ia memakai celana jeans, ia menemukan uang dua ratus ribu di saku celananya, setidaknya cukup buat pegangan dirinya.


Sesampai di rumah sakit, Rian langsung membayar tukang ojek pangkalan itu, lalu ia menghampiri Lala yang tengah menunggu dirinya di depan rumah sakit.


"Kakak," Lala berlari dan memeluk Rian dengan erat, ia terus menangis sesegukan sehingga membuat orang-orang di sekitarnya menatap ke arah mereka.


"La, ada apa dengan IBu? Kenapa kamu gak bilang kalau Ibu masuk rumah sakit?" tanya Rian kesal, marah dan juga kecewa dengan adiknya. Karena Lala tak mau terbuka dan jujur padanya. Namun sekesal apapun dirinya, ia tak bisa memarahi Lala, karena ia sangat menyayangi Lala lebih dari apapun.


"Nanti aku jelasin di dalam, Kak. Sekarang ayo kita masuk dulu." Lala enggan untuk menjelaskan, ia menarik tangan Rian dan menuju ke sebuah ruangan.


"Ra, kenapa dengan Ibu?" tanya Rian sambil menatap ke arah Lala menuntut penjelasan.


"Ibu sudah enggak ada," jawab Lala dengan air mata yang mengalir.


"Enggak ada gimana maksudnya," bentak Rian sambil menghampiri Ibunya.


"Ibu sudah enggak ada, Kak," jawab Lala. Ya, kemarin operasinya berhasil, tapi sayang, tak lama kemudian, keadaan Ibunya turun drastis dan kembali kritis. Hingga tadi pagi, Ibunya kejang-kejang sebelum akhirnya berhenti bernafas.


Rian histeris di samping ibunya, ia memeluk Ibunya seperti anak kecil, berusaha membangunkan Ibunya. Tapi sayangnya, ibunya hanya diam, tak ada lagi detak jantung yang bisa ia dengar, tak ada lagi helaan nafas yang bisa ia rasakan. Ibunya sudah pergi menyusul ayahnya dan kini hanya ada dirinya dan Lala.


"Kenapa kamu gak bilang, kalau Ibu sakit La?" tanya Rian sambil memeluk ibunya, ia ingin terus memeluk ibunya untuk melepas rindu. Walaupun ia tau, ibunya tak lagi bernyawa, tapi ia ingin memeluk untuk terakhir kalinya.


"Ceritanya panjang, Kak. Ibu sakit sejak Kakak di penjara, sejak saat itu, Ibu terlihat seperti tak punya semangat hidup dan mulai sakit-sakitan, apalagi setelah jatuh dari kamar mandi," Lala pun akhirnya mulai menceritakan awal ibunya sakit hingga akhirnya bisa seperti ini.


"Jadi, Ibu sudah di operasi kemaren?" tanya Rian setelah mendengar penjelasan Lala.


"Iya, Kak. Aku terpaksa minjem uang ke Pak Karto. Aku bingung harus berbuat apa lagi," jawab Lala dengan deraian air mata.


"Lalu kamu menjaminkan rumah Ibu, La?" tanya Rian merasa geram dan kesal.


"Maaf, Kak." Lala menunduk karena ia merasa bersalah.

__ADS_1


"Ya Allah, La. Kamu tau sendiri, bunganya itu gede kalau minjem ke Pak Karto. Kenapa kamu gak menghubungi aku, La."


"Karena aku gak mau membuat beban Kak Rian semakin berat, Kakak sudah banyak masalah, aku gak tega untuk mengatakan semuanya ke Kakak. Aku fikir dengan operasi itu, Ibu akan sembuh. Dan setelah itu, aku akan bekerja keras buat melunasi semuanya. Tapi aku gak tau, kalau ternyata Ibu meninggal setelah selesai operasi kemarin. Maafin aku, Kak." Lala menghampiri Rian dan bersujud di kakinya.


Ingin rasanya, Rian menampar pipi Lala karena sudah melakukan semuanya sendiri, bahkan tak memberitahu dirinya tentang kondisi ibunya. Tapi setelah ia berfikir jernih, ia pun mengerti bahwa adiknya itu tak ingin membuat dirinya semakin terbebani dengan banyak masalah. Akhirnya ia pun mencoba untuk memaafkan adiknya itu.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Toh semuanya juga sudah terjadi, lebih baik kita jual aja rumah Ibu lalu segera lunasi hutangnya ke Pak Karto beserta bungannya sebelum membengkak, atau kita akan kehilangan rumah itu dan malah gak dapat apa-apa," ucap Rian sambil membangunkan Lala yang tengah bersujud di kakinya. Ya, ia berfikir lebih baik, rumah ibunya di jual aja, lalu setelah itu, uangnya buat melunasi hutangnya ke Pak Karto beserta bungannya dan sisanya akan ia gunakan untuk buka usaha. Lagian kalau semakin lama, gak di lunasin, bungannya akan semakin bengkak, dan bisa jadi rumahnya itu akan di ambil alih oleh Pak Karto. Dan dirinya gak dapat apa-apa.


"Maafin aku, Kak."


"Sudah, jangan minta maaf terus, kita fokus aja sama Ibu. Ibu harus segera di makamkan, kamu harus menghubungi Pak RT biar ada yang mengurus di rumah," ujar Rian.


Lala pun akhirnya mengiyakan, ia segera menghubungi Pak RT dan memberitahu tetangga terdekat untuk meminta bantuannya.


\====


Satu minggu sudah Ibu Meri di makamkan, dan Rian juga berhasil menjual rumah Ibunya. Lalu setelah itu, ia segera melunasi hutangnya ke Pak Karto lengkap dengan bungannya.


"Sekarang kamu akan tinggal di sini, La bareng aku," ucap Rian memberitahu. Ya, mulai hari ini, adeknya akan tinggal di rumah miliknya.


"Makasih ya, Kak," ujar Lala, ia senang karena Rian sangat peduli padanya.


"Sama-sama. Oh ya La, bolehkah uang sisa jual rumah, aku pakai buat buka usaha, soalnya kalau rumah ini di sewakan, rasanya eman banget La. Karena itu artinya kita harus cari kontarakan atau kos di luar sana,"


"Enggak papa kok, Kak. Pakai aja," balas Lala. Yah, dari pada kakaknya menyewakan rumah ini. Lalu, uang sewanya di gunakan buat modal buka usaha, mending Rian memakai hasil jual rumah milik ibunya aja. Lebih praktis dan gak ribet.


"Makasih ya, La. Nanti jika kakak untung, akan kakak ganti,"


"Ngapain di ganti, Kak. Itu juga uang kakak, kok."


"Enggak, La. Kakak tetap akan ganti uang ini buat kamu,"


"Terserah kakak aja deh," balas Lala pasrah. Ia tak mau beradu argumen dengan kakaknya.

__ADS_1


"Iya sudah, kamu istirahat aja di kamar tengah, kamu pasti capek kan," ucap Rian, Lala pun menganggukkan kepala, lalu ia pergi ke kamar tengah, karena kamar utama, milik Rian. Kamar tengah adalah kamar yang dulu di tempati oleh Rara. Dan kini kamar itu menjadi milik Lala.


__ADS_2