Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Muhammad Rayyan Alhusayn


__ADS_3

Rara tiba juga di depan gerbang Ibu Sarah. Gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi. Dengan susah payah, Rara memencet bell yang ada di dekat gerbang. Namun tak lama kemudian, Rara yang sudah merasa kelelahan dan kehausan, merasa sudah tak mampu lagi untuk berdiri. Semuanya tampak gelap hingga ia pun jatuh tak sadarkan diri.


Ibu Sarah yang mendengar bell rumahnya berbunyi, segera berjalan menuju gerbang dan membuka gerbang itu. Namun betapa kagetnya dia saat melihat Rara tidur di depan gerbangnya.


"Ra, bangun Sayang. Kamu kenapa tidur di sini?" tanya Ibu Sarah sambil menyentuh bahu Rara dan membangunkan Rara. Namun setelah beberapa kali di bangungkan tak juga bangun, tiba-tiba Ibu Rara merasa ada yang tidak beres.


"Rara ... kamu pingsan?" tanya Ibu Sarah, namun tak ada yang menjawab pertanyaannya karena hanya dia dan Rara yang ada di sana.


"Astaga, ini gimana. Oh ya, Ray kan gak ke kampus hari ini." Ibu Sarah pun segera bergegas memanggil putranya ke kamarnya.


"Ray ... Ray ...." Ibu Sarah menggedor pintu kamar putranya itu.


"Ada apa sih, Ma?" tanya Ray kesal karena ia baru tidur tadi sehabis sholat shubuh setelah tadi malam, ia begadang menulis novel semalaman. Yah, walaupun ia seorang dosen, ia juga merupakan seorang novelist. Ia suka membuat cerita yang bisa memberikan banyak motivasi untuk orang-orang di luar sana.


"Ayo bantuin Mama." Ibu sarah menyeret putranya itu menuju gerbang depan rumahnya. Ray yang terlalu malas untuk berdebat pun akhirnya hanya mengikuti langkah mamanya.


"Tolong bantu dia masuk ke rumah," ucap Ibu Sarah sambil melepas tangan putranya dan menunjuk ke arah Rara yang masih tergeletak di depan pagar rumahnya.


"Ya Tuhan Mama, anaknya orang di apain?" Ray tampak terkejut, pasalnya ia tadi tak menoleh ke arah depan sehingga ia cukup terkejut melihat seorang wanita yang tergeletak begitu saja di atas tanah.


"Sudah jangan banyak bicara, ayo angkat dia."

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya lagi, Ray pun segera mengangkat tubuh Rara dengan tenang. "Kenapa dia kurus sekali, bahkan tubuhnya sangat ringan sekali," gumam Rayyan yang sering di panggil Ra. Nama lengkapnya Muhammad Rayyan Alhusayn yang mempunyai arti anak lakil-laki sholeh tampan dan memiliki sifat yang terpuji serta selalu rajin melakukan ibadah puasa. Tapi sayangnya, Ray hanya puasa saat bulan Ramadhan saja. Ia jarang puasa sunnah seperti puasa senin kamis dan puasa sunnah lainnya.


Ray menaruh tubuh Rara dengan sangat hati-hati di atas sofa panjang yang ada di ruang tamu.


"Dia siapa, Ma?" tanya Ray penasaran.


"Rara, kuli panggul yang kerja di pasar," jawab Ibu Sarah sambil memperhatikan wajah Rara yang terlihat sangat pucat.


"Rara yang tadi malam mama ceritain itu?" tanya Ray. Memang tadi malam Ibu Sarah menceritakan tentang Rara ke putranya. Ray yang mendengar cerita Mamanya pun merasa terenyuh, tak menyangka jika ada wanita yang hidupnya begitu miris.


"Tapi kenapa ia bisa pingsan di depan rumah, Ma?" tanya Ray, sambil duduk di kursi sofa yang tak jauh dari Rara yang tengah berbaring.


"Kayaknya dia kelelahan. Mungkin karena dia lari-lari dari rumahnya ke sini," Ibu Sarah mencoba untuk menebaknya. Apalagi sebelumnya Rara sudah mengatakannya jika ia akan ke sini dengan jalan kaki.


Saat Rayyan tengah memperhatikan wajah Rara, tiba-tiba ia melihat Rara yang tengah mengigau.


"Jangan ... Jangan Mas. Jangan pukul aku lagi, Mas. Sakit Mas, sakit. Jangan pukul aku Mas. Aku mohon, sakit hiks ... hiks ...."


"Ya Allah, Ra. Apa yang sudah terjadi sama kamu, Nak," Ibu Sarah bahkan sampai menangis melihat Rara yang tengah mengigau dan terlihat ketakutan.


"Ma, apakah Rara selama ini mendapatkan kekerasan fisik dari suaminya?" tanya Ray.

__ADS_1


"Entahlah, Mama gak tau. Tapi sepertinya iya," jawab Ibu Sarah sambil mengelusrambut Rara dan berusaha untuk memeluknya. Ia ingin memberikan ketenangan untuk Rara agar Rara merasa nyaman dan tak lagi merasa ketakutan.


"Ya Tuhan, jahat sekali suaminya. Apa salah Rara sampai tega melukai fisiknya. Bahkan jika mendengar cerita dari Mama. Rara seperti menanggung beban yang sangat berat dan mungkin suaminya juga enggak menafkahi Rara hingga Rara harus jadi kuli panggul di pasar setiap hari."


"Mama gak tau, Ray. Andai di negara ini, tidak ada negara hukum. Ingin rasanya Mama datangi suami Rara dan memukulnya dengan keras karena sudah tega menyakiti Rara sampai seperti ini," ucapnya yang terdengar sangat marah.


"Mulai sekarang kita harus melindungi Rara, Ma. Bukankah kata Mama, Rara gak punya siapapun di dunia ini kecuali suaminya. Mungkin ini yang membuat Rara bertahan walaupun ia mendapatkan kekerasan dalam rumah tangganya. Rara mungkin bingung harus kemana jika berpisah dari suaminya. Jadi ia berusaha untuk bertahan sebisa mungkin walaupun ia harus menerima kekerasan dari suaminya."


"Iya kamu benar, Mama ingin mengangkat dia jadi putri Mama. Itupun jika kamu gak keberatan,"


"Aku gak keberatan kok, Ma. Malah aku senang karena aku punya saudara sekarang, gak enak rasanya jadi anak tunggal,"


"Maafin Mama ya, Maaf gak bisa memberikan adik buat kamu,"


"Enggak, Papa. Ini bukan salah, Mama. Oh ya Ma, lebih baik Mama buatin es teh deh, takutnya nanti dia sadar, dia haus. Sekalian sama makanan yang enak, siapa tau dia lapar,"


"Iya sudah, Mama mau buatin minuman dan makanan dulu ya. Kamu jaga dia,"


"Siap, Ma."


Setelah itu Ibu Sarah pun segera pergi dari sana untuk membuatkan makanan dan minuman untuk Rara. Sedangkan Ray, ia duduk di samping Rara dan menggenggam tangan Rara.

__ADS_1


"Mungkin kita belum kenal, tapi jujur, entah kenapa aku ingin melindungi kamu. Aku ingin kamu bahagia dan lepas dari semua jerat deritamu," Rayya mengucapkan itu dengan suara lirih, hingga tak ada yang mendengar suaranya kecuali dirinya sendiri.


Ia memperhatikan Rara dengan seksama, entah kenapa hatinya begitu sakit melihat tubuh Rara yang begitu kurus terlebih saat Rara mengigau tadi membuat hatinya bergetar menahan rasa amarah. Ia tak akan diam saja melihat seseorang yang sudah di dzolimi terutama seorang wanita yang sudah di dzolimi oleh suaminya sendiri. Suami yang seharusnya memberikan perhatian, perlindungan dan menjaganya dengan segenap hati. Bukan malah mengabaikannya dan menyiksanya sedekimian rupa.


__ADS_2