
Jika Rara kini tengah menikmati hidupnya, berbeda dengan Rian yang kini tengah meratapi nasibnya. Ia hanya duduk diam dan memikirkan ucapan Lala tadi pagi. Seharian ini ia bahkan tak bisa makan dan memberikan jatah makannya kepada teman satu selnya. Ia tak bisa makan dengan fikiran yang kini penuh beban.
"Apa aku salah selama ini? Apa aku sejahat dan sekejam itu? Bagaimana jika suatu saat Lala mendapatkan suami yang sepertiku, suka ringan tangan dan pelit terhadap istrinya. ENggak, aku gak akan biarkan itu terjadi. Lala adalah adik yang aku jaga sepenuh hati, dia saudaraku satu-satunya, aku gak akan biarkan siapapun menyakitinya," gumam Rian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir fikirannya yang saat ini tengah kacau.
Tiba-tiba terlintas semua kejahatan dia selama ini, di mana ia berkali-kali membentak Rara, menampar Rara, menjambak Rara, membenturkan kepala Rara ke pintu, memukul Rara, menghina Rara dan banyak lagi yang ia lakukan. Bahkan ia hanya memberikan uang seratus ribu sebulan. Padahal ia tau betul, uang itu tak akan cukup sebulan, tapi dengan teganya, ia malah membiarkan Rara mencari sendiri kekurangannya. Bahkan ia baru tau jika selama ini Rara jadi kuli panggul di pasar dan menjadi tukang gosok baju di rumah tetangga.
Padahal jika di fikir-fikir, Rara tak pernah melakukan kesalahan apapun, wajar juga jika Rara semakin hari semakin kurus dan dekil, karena ia tak pernah memberikan uang buat Rara perawatan, bahkan ia melihat baju Rara hanya itu itu aja, baju yang ia beli jauh sebelum ia menikah dengannya. Jika ia memberikan uang yang lebih buat Rara, pasti Rara akan cantik seperti dulu bahkan jauh lebih cantik.
Ia juga ingat bagaimana perjuangan ia dulu mendapatkan Rara, meyakinkan Rara agar mau menikah mendengannya. Memberikan banyak janji agar Rara tak menolak lamarannya. Ia juga pernah berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia akan membahagiakan Rara dan hidup bersama selamanya. Tapi apa yang ia lakukan?
__ADS_1
"Ya Tuhan ... betapa buruknya aku selama ini? Betapa aku begitu kejam kepada istri, istri yang seharusnya aku jaga dan aku lindungi. Istri yang seharusnya mendapatkan cinta dan kasih sayang aku, bukan malah mendapatkan siksaan dariku dan juga pengkhianatan dariku. Rara, maafin aku, Ra. Maaf sudah menyakitimu selama ini, maaf sudah membuat banyak luka di hatimu. Maaf sudah menyiksa kamu dengan tangankku ini." Rian menangis, ia menangisi kebodohannya. Ia memukul tembok sekuaat tenaga hingga membuat tangannya terluka dan berdarah, ia terus memukul tangan itu, tangan yang sudah menyakiti istrinya. Tangan yang sudah membuka luka istrinya. Ia tak perlu jika darah itu terus merembes, ia terus memukul tembok itu.
"Maafin aku, Ra. Maafin aku," gumam Rian sambil terus meninju tembok.
Beberapa temannya yang satu sel tahanan melihat Rian yang menyiksa dirinya langsung menahan Rian agar tak terus menerus memukul temboh.
"Kamu kenapa, Bung. Jangan siksa dirimu seperti ini," ujar Herman, laki-laki yang mirip preman itu. Ia memeluk Rian dari belakang agar Rian tak terus menonjok tembok itu.
"Aku jahat, Bang. Aku jahat sama istriku. AKu sudah mukul dia, Bang. Aku sudah menyiksa dia," Rian meraung-raung. Entah kenapa kejadian ia yang terus menyiksa Rara selama ini seperti kaset yang berputar di kepalanya.
__ADS_1
"Sabar, Bung. Kamu pasti gak akan mukul dia, kalau dia gak salah, Bung. Aku juga mukul istriku, tapi aku gak menyesal karena istriku emang pantas mendapatkan semua itu," ucap Tono, laki-laki yang kurus namun berkulit putih itu.
"Iya, jangan terlalu di buat beban. Santai aja, Bang," sahut Mail, atau lebih tepatnya Ismail, laki-laki yang berambut keriting.
"Tapi aku laki-laki jahat, aku sudah menyiksa istriku, aku sudah menghianatinya, aku sudah memukul dia, padahal dia wanita yang baik." Rian merosotkan tubuhnya di lantai, ia menangis tersedu-seduh.
Mendengar Rian yang ternyata berkhianat, membuat Herman, Tono dan Mail merasa geram, ia fikir bahwa istrinyalah yang bersalah, jadi pantas Rian memukul istrinya. Tapi setelah tau apa yang terjadi, membuat Herman, Tono dan Mail menjauhkan dirinya dari Rian. Mereka tak lagi respek terhadap apa yang di lakukan oleh Rian, mereka bahkan seakan tak lagi peduli dengan tangn Rian yang terluka.
"Aku berdosa, aku emang laki-laki bangsat, akulah sumber masalah untuknya. Akulah yang bersalah di sini, aku emang kejam, aku tak punya hati hiks .... hiks .... Pasti Raraku kesakitan saat aku memukulnya. Rara, maafin aku sayang." Rian meratapi hidupnya yang begitu menyedihkan. Ia bahkan tak menyangka kenapa ia bisa setega itu sama istrinya selama ini.
__ADS_1
"Rara, maafin aku," gumam Rian hingga akhirnya ia merasa semuanya buram dan setelah itu ia tak tau apa yang terjadi.