
Sedangkan di rumah sakit, Rara sudah sadar dan ia sedikit meringis saat kepalanya masih terasa sakit. Bahkan ia juga sedikit kesusahaan saat bicara karena bibirnya yang terluka dan sedikit bengkak, terlebih pipinya yang juga terasa sakit membuat Rara mencoba untuk menahan rasa sakit itu. Di tambah Rian juga menjambak rambutnya dengan sekuat tenaga membuat Rara benar-benar merasa pusing sekali.
"Alhamdullillah, Sayang. Kamu akhirnya, sadar juga," ujar Ibu Sarrah sambil memeluk Rara.
"Ma, kamera, ijazah dan buku nikahnya mana?" tanya Rara yang keingat dengan apa yang ia bawa tadi pagi.
"Tenang aja, Ra. Semuanya aku simpan, kok. Enggak hilang. Dan lagi vidio saat Rian menyiksa kamu, sudah aku upload di sosmed dan kini tengah viral. Bahkan akun suamimu itu di serang netizen sekarang," jawab Rayyan yang melihat raut wajah panik Rara.
"Syukurlah, aku fikir hilang. Jadi vidio itu di upload di sosmed?" ulang Rara.
"Iya, Ra. Apa kamu keberatan dengan apa yang aku lakukan?" tanya Rayyan.
"Enggak kok, Mas. Malah aku senang, setidaknya orang-orang tau bagaimana sifat Mas Rian sebenarnya dan semoga tak ada wanita di luar sana yang akan bernasib seperti aku," sahut Rara.
"Syukurlah jika kamu gak marah, soalnya aku juga mengupload vidio suamimu yang tengah melakukan hubungan dengan pacarnya di hotel, juga," ucap Rayyan memberitahu.
"Aku gak akan marah kok, Mas. Malah aku senang, setidaknya kini banyak orang yang membenci Mas Rian, dan menghancurkan karirnya,"
"Kalau itu, kamu jangan khawatir, karena tadi aku dapat kabar, jika suamimu sudah di pecat secara tidak hormat,"
"Benarkah? Akhirnya, aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya sulitnya mencari uang, aku ingin dia gak di terima kerja di manapun,"
__ADS_1
"Kamu tenang aja, Ra. Itu semua bisa di atur, dan lagi siapa yang mau memperkerjakan dia, setelah vidio itu viral, di tambah ia di pecat secara tak hormat, pasti akan susah buat dia cari kerja lagi," balas Rayyan.
"Aku ingin Mas Rian merasakan apa yang aku rasakan, Mas."
"Aku akan bantu kamu, untuk membuat dia hancur sehancur-hancurnya," ujar Rayyan tanpa ada keraguan sedikitpun di matanya.
"Nak, kamu harus segera pulih ya. Mama dan Rayyan juga sudah menghubungi pengacara untuk menggugat cerai suamimu itu, lagian buktinya sudah cukup banyak. Dan mulai sekarang, kamu akan tinggal di rumah Mama ya," ucap Ibu Sarrah.
"Iya, Ma. Terima kasih ya, aku janji, aku akan membalas semua kebaikan Mama dan Mas Ray suatu saat nanti,"
"Hey, Mama dan Rayyan gak butuh balasan dari kamu, Nak. Bagi Mama, kamu sudah mau jadi Putri Mama, itu sudah membuat Mama bahagia. Tidak perlu kamu balas kebaikan kami. Dengan keberadaan kamu aja, sudah membuat Mama senang karena Mama tak lagi kesepian," sahut Ibu Sarrah.
"Oh ya kamu pasti lapar, kan. Tadi aku beli makanan di kantin, kamu makan dulu ya," Rayyan memberikan bubur Ayam yang tadi sempat ia beli di kantin rumah sakit. Ia juga membeli sebotol aqua.
"Makasih ya, Mas," ucap Rara yang perutnya emang sudah lapar dari tadi.
"Aku suapain ya," ujar Rayyan. Awalnya Rara ingin menolak, tapi karena kepalanya yang masih pusing, akhirnya ia pun mengiyakan saja.
Melihat Rayyan menyuapi Rara membuat Ibu Sarrah tersenyum karena melihat dua anaknya yang akur dan saling menyayangi satu sama lain.
"Besok Papa pulang, katanya Papa gak sabar pengen ketemu kamu, Ra," ujar Ibu Sarrah memberitahu. Tadi memang suaminya menelfon dan mengatakan jika besok ia sudah pulang dan kemungkinan malam baru sampai.
__ADS_1
"Aku juga gak sabar pengen ketemu, Papa, Ma," jawab Rara walaupun sedikit gugup, ia masih takut kalau keadaannya tidak di terima sepenuhnya oleh Papa angkatnya.
"Kamu jangan takut, Ra. Papa itu orang baik, bahkan hatinya selembut hello kitty hehe, walaupun kelihatannya garang sih, tapi Papa is the best, hanya saja kesibukannya aja sih yang membuat akhirnya aku dan Mama seakan berjarak dengannya. Tapi ya mau gimana lagi, Papa emang harus kerja dan tanggung jawabnya cukup besar di perusahaan," ujar Rayyan sambil terus menyuapi Rara.
"Iya, Mas. Aku percaya, kamu aja baik banget sama aku. Pasti Mama dan Papa juga orang baik," sahut Rara tersenyum.
"Sudah ya, aku kenyang," ujar Rara, Rayyan pun tak memaksa Rara menghabiskannya. Ia menaruh sisa bubur Ayam itu di meja di dekat brankar.
"Aku boleh pulang hari ini kan?" tanya Rara.
"Boleh, Sayang. Oh ya mengenai suamimu, kamu mau melaporkan dia ke polisi?" tanya Ibu Sarrah.
"Entahlah, Ma. Aku bingung enaknya gimana. Kalau dia di penjara, ia pasti akan merasa baik-baik aja, berbeda jika dia bebas seperti sekarang, dimanapun Mas Rian berada, dia akan selalu di kelilingi oleh orang yang akan terus menghina dan mencibirinya karena vidio nya yang sudah viral," ujar Rara yang bingung keputusan apa yang mau ia ambil.
"Kalau menurut Mas sih mending laporkan aja, Ra. Setidaknya jika ia ingin bebas, ia bisa menebusnya dengan uang. Dan bisa jadi, dia menguras tabungannya untuk bisa bebas dari penjara, apalagi dia juga kan punya Ibu dan adek perempuan. Tak mungkin ia membiarkan keluarganya terkena imbas dari apa yang ia lakukan," usul Rayyan.
"Kalau menurut Mas itu baik, laporkan saja gak papa. Dokter pasti punya bukti visumnya kan?" tanya Rara.
Rayyan pun mengiyakan.
"Iya sudah laporkan aja, kalau gitu. Sekalian gugat cerai dia juga, biar aku bisa bebas sepenuhnya," ujar Rara. Rayyan dan Ibu SArrah pun menganggukkan kepala karena memang itu yang ia mau.
__ADS_1