Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Uang Kompensasi


__ADS_3

Dua hari sejak Rian mendapatkan surat dari pengadilan agama, kini ia datang untuk memenuhi panggilan itu, berharap bisa bertemu dengan Rara. Tapi sayangnya, dia hanya bertemu dengan pengacara yang di utus oleh Rara. Melihat hal itu membuat Rian merasa sangat sedih, kecewa, terluka dan juga marah. Sedih karena ia tak bisa melihat Rara, kecewa karena ia sudah menaruh harapan besar untuk bisa bertemu Rara dan meminta maaf dan mengajak Rara untuk memulai semuanya dari awal, kecewa karena ia sadar, Rara bahkan tak mau melihat dirinya lagi hingga ia memilih untuk mengutus pengacaranya saja. Dan marah, karena ia tak bisa bertemu Rara dan sampai detik ini pun ia bahkan tak tau, Rara ada di mana dan bagaiman keadaannya.


Bahkan ketika Rian menanyakan keberadaan Rara dan bagaimana kabarnya kepada sang pengacara, pengacara itu hanya bilang, Rara baik-baik aja dan kini hidup bahagia. Jawaban yang membuat Rian merasa tak puas. Rian mencoba mendesak pengacara itu untuk memberi tau keberadaan Rara, namun pengacara itu dengan sombongnya malah pergi begitu aja dan membuatnya frustasi. Ia akhirnya memilih pulang dengan keadaan yang sangat kacau. Apalagi tadi hakim seakan tak berpihak kepadanya setelah, Hakim itu mendapatkan banyak bukti tentang bagaimana buruknya ia selama ini sebagai seorang suami. Dan persidangan perceraian ini hanya di adakan dua kali, dan pertemuan selanjutnya adalah Minggu depan dan setelah itu akan benar-benar berakhir.


SEharusnya butuh waktu enam bulan lamanya untuk bisa pisah, tapi ternyata Rara seakan tak mau berlama-lama berstatus istrinya, hingga ia memaksa pengacara itu agar mempercepat waktu, menghadapi kenyataan yang cukup menyakitkan itu membuat Rian hanya bisa mengoceh sepanjagn jalan, ia marah marah sendiri seperti orang gila.

__ADS_1


Rian juga tak bisa menyewa pengacara lagi karena ia sudah tak mampu bayar pengacara, jangankan buat bayar pengacara, ia bahkan bingung untuk makan setiap harinya. Ia juga tak mau pergi ke rumah ibunya karena tak mau menyusahkan mereka, sehingga sampai detik ini, Rian tak tau apa-apa dan masih menganggap jika ibunya sibuk dan lala juga sibuk sekolah.


Rian sampai rumah dengan wajah kusut dan rambut berantakan, namun Rian sudah tak lagi peduli dengan penampilannya. Ia benar-benar frustasi karena kini ia benar-benar akan kehilangan Rara untuk selamanya dan itu membuat Rian ingin melampiaskan emosi yang kini seakan menguasari dirinya


"AAAAAAaaaaaaaaa, kenapa kamu tega sama aku, Ra. Bahkan kamu tak mau melihat wajahku lagi, kamu jahat Ra. Kamu jahat sama aku, padahal aku sudah menyesali semuanya, tapi kenapa, Ra. Kenapa kamu gak mau maafin aku, apakah kamu takut sama aku, Ra. Apakah kamu berfikir aku akan menyiksa kamu lagi, makanya kamu gak berani muncul di hadapanku. AAaaa ... brengsek." Rian menghancurkan apa aja yang ada di dekatnya, ia benci, benci dengan kehidupannya yang sekarang. Andai waktu bisa berputar, ia ingin memanjakan Rara, memberikan dia perhatian penuh, menyayangi dan mencintainya dan membelikan apapun yang Rara mau. Tapi semuanya sudah terlambat, ia sudah kehilangan Rara. Ia sudah kehilangan karirnya yang ia dapatkan dengan susah payah, ia kehilangan hartanya yaang ia kumpulin sedikit demi sedikit, ia juga kehilangan separuh semangatnya. Dan kini dirinya benar-benar hancur. Hancur sehancur-hancurnya. Rian menangis, menangis sendirin di rumahnya.

__ADS_1


Sedangkan di lain sisi, kini Rara hidup penuh kebahgiaan. Apalagi ia sangat di manja oleh Rayyan. Setiap pagi, Rayyan akan menemani Rara untuk olah raga, lalu berangkat ke pasar, lalu memasak bersama dan sarapan bersama. Dan setelah itu, Rayyan akan mengajar di kampus dan akan pulang dengan cepat, sedangkan Rara, sambil menunggu Rayyan pulang mengajar, ia menghabiskan waktunya di rumah, tapi jika ia bosan, ia akan mengemudi mobil milik Mama Sarrah ke toko buku atau pergi ke tempat yang membuat dia bisa menghilangkan rasa bosan..


Tiba-tiba Rara kefikiran untuk pergi ke Panti Asuhan Mutiara Kasih. Rara pun akhirnya memutuskan pergi ke sana, namun sebellum itu, ia pergi ke toko dulu untuk membelanjakan sesuatu untuk anak-anak panti dan pengurus di sana. Tentu ia menggunakna ATM milik Rayyan yang sudah di berikan untuknya. Bahkan ia juga mendapatkan uang dari Papa angkatnya. Sehingga isi ATM itu pun lumayan banyak, apalagi jika ia keluar, selalu Rayyan yang mentraktirnya sehingga ia jarang mengeluarkan uang kecuali ia pergi sendiri seperti ini.


Setelah belanja cukup banyak, barulah Rara pergi ke panti asuhan. Dan yah sebenarnya uang yang di berikan Rian sebagai kompensasi kebebasannya, uang itu juga di berikan kepada panti asuhan. Awalnya ingin Rara pakai sendiri, tapi entah kenapa, ia tak ingin memakai uang milik Rian. Bahkan walaupun hanya sedikit, tapi ia juga tak rela jika uang itu di kembalikan ke Rian, ia ingin Rian kehilangan banyak uang dan hidup susah sama seperti dirinya.

__ADS_1


Akhirnya setelah memutuskan dan bertanya kepada Rayyan dan kedua orang tua angkatnya, mereka sepakat, uang itu untuk Panti Asuhan Mutiara Kasih, apalagi panti itu emang kekurangan dana, sehingga ketika Rara memberikan uang milik Rian, itu seperti udara segar untuk panti asuhan tersebut karena bisa keluar dari masalah krisis keuangan.


Dan Rara pun merasa bersyukur karena memberikan uang itu kepada orang yang tepat sehingga juga bisa di kelola dan di manfaatkan dengan baik. Rara juga memberikan uang itu atas nama Rian, bukan atas namanya. Sehingga yang mereka tahu, uang itu pemberian Rian yang di titipkan kepada Rara.


__ADS_2