
Keesokan harinya, Rayyan yang sudah sembuh, sudah terlihat segar bugar. Bahkan pagi-pagi sekali, sudah lari-lari di sekitar kompleks rumah sendirian karena Rara harus membersihkan rumah, cuci baju, nyetrika baju dan juga memasak. Sebenarnya bisa aja mereka sarapan di luar, tapi karena Rayyan baru sembuh, jadi Rara berfikir makan di rumah jauh lebih sehat karena Rara membeli bahan yang cukup berkualitas. Dan tidak memakai bumbu aneh yang merusak kesehatan.
Setelah bersih-bersih rumah, nyuci baju, nyetrika baju, masak, kora-kora dan yang lainnya. Rara pun masuk ke kamarnya untuk mandi dan memakai baju yang bagus, tak lupa ia memakai make up tipis sehingga membuat wajahnya terlihat cantik natural. Bagaimanapun sekarang, Rayyan adalah kekasihnya, jadi ia harus jaga tampilan agar Rayyan tak bosan melihat dirinya yang gitu-gitu aja.
Setelah Rara selesai mandi dan sudah terlihat cantik dengan make up dan baju yang ia kenakan, ia pun pergi keluar rumah sambil memainkan Hpnya. Ia duduk di kursi yang ada di depan rumahnya.
"Yank," panggil Rayyan yang ternyata sudah selesai olah raga. Rara menatap ke arah Rayyan yang sudah basah oleh keringat, bahkan kaosnya juga basah karena keringat, rambutnya juga sudah tak lagi rapi seperti saat sebelum olah raga. Namun walaupun begitu, Rayyan tetap terlihat tampan dan macho, apalagi dengan tubuhnya yang tegak, dada bidang dan sedikit berotot. Tak lupa, Rayyan juga punya perut sixpack yang membuat wanita ketagihan untuk melihatnya. Kulit putih, wajah tampan dan tubuh yang bagus, tentu akan menjadi incaran banyak wanita, sayangnya, tak ada yang beruntung mendapatkan Rayyan karena Rayyan hanya mencintai Rara, wanita yang diam-diam sudah menguasai hatinya dan membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya.
"Sudah olah raganya?" tanya Rara, ia menaruh Hpnya di sakunya. Lalu menghampiri Rayyan dan duduk di lantai.
"Capek?" tanya Rara. RAyyan menganggukkan kepala. Rara lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah, ia tadi sudah membuatkan teh panas dan mungkin sudah dingin karena ia buatnya sebelum mandi. Tak lupa Rara mengambil handuk kecil lalu setelah itu membawanya ke luar.
"Ini minum dulu, tapi mungkin sudah dingin," ujar Rara sambil memberikan segelas teh untuk Rayyan.
"Masih hangat kok, malah enak kayak gini, gak dingin, gak panas juga," sahut Rayyan sambil meminum teh itu dan menghabiskannya.
Setelah selesai minum teh, Rayyan menaruh gelas kosong itu di lantai. Dan setelah itu, Rara membantu Rayyan mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang ia pegang. MElihat Rara begitu perhatian padanya, membuat Rayyan tersenyum senang.
"Kenapa?" tanya Rara melihat Rayyan senyam-senyum sendiri.
"Aku senang mendapatkan perhatian dari kamu," jawab Rayyan jujur.
"Hmmm ...." Rara hanya berdehem karena ia bingung mau ngomong apa.
__ADS_1
"Oh ya mumpung sekarang libur, gimana kalau kita ke pantai?" ajak Ray. Mendengar kata pantai membuat Rara tertarik.
"Boleh, jam berapa berangkat?" tanya Rara dengan antusias. Ia sudah selesai mengelap keringat Rayyan.
"Habis sarapan aja,"
"Oke. Kalau gitu, Mas Ray mau sarapan dulu apa mau mandi dulu?"
"Mandi dulu aja deh, lalu sarapan bareng. Kamu belum makan, kan?"
"Belum, aku nunggu Mas buat makan bareng."
"Iya sudah, aku mandi bentar ya."
"Iya."
\==
Saat ini, Rayyan dan Rara tengah sarapan pagi bersama. Rayyan sangat menikmatinya, selain karena semua ini makanan kesukaannya, rasanya juga pas di lidah. Semakin hari, masakan Rara semakin enak. Yah, memang sih, dari awal Rayyan makan masakan Rara emang enak, hanya saja makin ke sini, ilmu masaknya makin terasah, bahkan hasil masakan ini sudah seperti seorang chef yang bertaraf internasional. Ia mengatakan hal itu bukan karena Rara kini sudah resmi menjadi kekasihnya, melainkan karena rasa masakannya sangat enak dan Rara pantas mendapatkan pujian itu.
Setelah selesai sarapan, mereka pun bersiap untuk pergi ke pantai. Tak lupa mereka membawa baju cadangan, siapa tau nanti di sana mereka akan bermain air. Rara juga membawa beberapa minuman yang ia ambil dari kulkas, beberapa buah seperti buat pir, apel, salak, jeruk, anggur dan juga buah kelengkeng. Rara tak mau jika nanti Rayyan jajan sembarangan karena bagaimanapun Rayyan baru sembuh, jadi ia harus bisa jaga pola makan yang sehat. Dan dari pada beli jajanan di luar, mending bawa buah dari rumah. Makan buah bagus buat kesehatan.
Saat mereka di jalan, Rayyan memutar musik romantis, sesekali Rara juga ikut menyanyikan lagu itu.
__ADS_1
"Ra,"
"Iya, Mas."
"Mama sama Papa akan pulang empat bulan lagi, aku ingin saat mereka pulang, aku mau kita lamaran dulu. Apa kamu mau?" tanya Rayyan hati-hati.
"Aku terserah Mas Ray aja, tapi gimana dengan kuliah aku?"
"Kamu tetap bisa kuliah seperti biasanya. Aku gak akan menghalangi kamu. Kita cukup tunangan aja, tapi jika kamu mau, kita juga bisa menikah sih hehe. Biar aku bisa memiliki kamu seutuhnya."
"Jadi, misal kita nikah, aku tetap boleh kuliah?"
"Tentu dong. Lagian aku kan jadi dosen di sana, jadi aku bisa antar jemput kamu, dan kita bisa bertemu di kampus, iya gak sih?"
"Terus bagimana jika aku hamil?"
"Ya gak papa, jika kamu sanggup, kamu bisa tetap kuliah. Tahun lalu juga ada yang kuliah dengan keadaan hamil, setelah kehamilannya memasuki usia delapan bulan, baru ia mengajukan cuti enam bulan. Setelah itu ia melahirkan, beberapa bulan ia melanjutkan kuliah lagi."
"'Terus kalau aku sudah jadi ibu, lalu masih kuliah, bayi kita apa di bawa ke kampus juga?"
"Haha ya gak lah sayang, kan ada Mama yang jaga bayi kita. Mama pasti senang, apalagi selama ini Mama selalu kesepian. Kalau ada cucu, pasti Mama senang banget, karena ada temannya dan juga ada hiburan di rumah. Lagian kan kamu kuliahnya cuma setengah hari, gak sampai satu hari full. Iya kan? Kamu bisa menaruh ASI buat cadangan jika kamu keberatan jika anak kita pakai susu formula."
"Baiklah aku setuju, kita menikah aja. Agar saat kita bersentuhan pun tak dosa."
__ADS_1
"Kamu benar. Dan aku jadi gak sabar menunggu kepulangan Mama dan Papa kita."
"Sabar, Mas. Kita jalani dulu hubungan kita saat ini. Nikmati aja, jika sudah saatnya kita pasti akan bersatu dalam ikatan yang halal." ujar Rara. Dan Rayyan pun menganggukkan kepala. Mereka pun terus mengobrol sepanjang jalan sambil menikmati perjalanannya, apalagi ada musik yang membuat perjalanan itu semakin menyenangkan. Hingga dua jam kemudian, mereka sudah sampai di pantai yang mereka tuju.