
Bab 11
Sesampai di depan Mall, Rayyan memarkirkan mobilnya di parkiran. Lalu setelah itu, ia turun dari mobil, begitupun dengan Ibu Sarrah dan Rara. Kali ini, Rayyan mau ikut turun dan tak lagi menunggu mereka di dalam mobil. Karena Rayyan juga ada yang ingin di beli. Lagian ia juga harus menjaga dan melindungi dua wanita kesayangannya dari orang-orang yang jahat.
"Kita kemana dulu?" tanya Rayyan.
"Ke toko baju dulu ya," jawab Ibu Sarrah. Rara dan Rayyan pun hanya bisa mengiyakan.
Ibu Sarrah berjalan di samping Rara sedangkan Rayyan berjalan di belakang mereka seperti bodyguard.
"Ayo pilih baju mana yang kamu suka," ujar Ibu Sarrah. Rara mengangguk, ia memilih dua baju yang menarik perhatiannya.
"Lok kok cuma dua, ayo pilih lagi. Ini loh bagus, bua kamu," Ibu Sarrah mengambil beberapa baju untuk Rara, tanpa menunggu persetujuan. Melihat banyak baju yang di pilih, sebagai laki-laki yang baik, Rayyan mengambil keranjang yang cukup besar dan meminta mereka menaruh belanjaan itu di atas keranjang yang ia dorong.
Yah, selain sebagai seorang sopir, bodyguard, kini ia juga berperan sebagai pelayan yang siap melayani majikannya. Namun itu tak membuat Rayyan berkecil hati, ia malah senang bisa menemani mereka, apalagi melihat kebahagiaan mereka, seperti ada kesenangan tersendiri yang menyelusup di relung hatinya.
"Ma, sudah cukup. Itu lebih dari dua puluh baju loh," cegah Rara karena melihat Ibu Sarrah yang dari tadi mengambil banyak baju karena memang banyak berbagai macam model yang membuat ia tertarik untuk mengambilnya. Yah, makhlum, untuk baju wanita emang modelnya itu cukup banyak berbeda dengan laki-laki yang hanya itu itu aja.
"Baiklah, kita sekarang beli BH dan CD kamu," ucapnya santai yang membuat pipi Rara merona karena malu mendengar ucapan Ibu Sarrah yang terlalu blak-blakan. Sedangkan Rayyan yang juga mendengar ucapan mamanya itu hanya mendengus kesal, karena Ibu Sarrah kalau sudah ngomong, tak di saring dan asal bicara aja.
"Mama, ih,"
"Kenapa?" tanya Ibu Sarrah pura-pura tak tau.
__ADS_1
"Malu," ucap Rara sambil menyembunyikan wajahnya di punggung Ibu Sarrah.
"Haha ngapain malu, santai ajalah. Lagian di sini cowoknya cuma Rayyan aja, yang lain cewek. Sudah ayo," Ibu Sarrah menggandeng tangan Rara menuju toko sebelah yang menjual berbagai macam CD dan BH.
"Ukuran kamu berapa?" tanya Ibu Sarrah.
"M," jawabnya.
"Baiklah." Ibu Sarrah langsung mengambil dua lusin CD dan BH dengan model berbeda-beda tapi yang berkualitas.
"Mama kok beli banyak?" tanya Rara.
"Enggak papa, buat ganti-ganti nanti," jawab Ibu Sarrah.
"Nanti banyak loh habisnya, tadi aja bajunya banyak banget yang Mama ambil," ujar Rara tak enak hati.
Rara sendiri pun hanya tersenyum malu ke arah Rayyan.
"Santai aja," ucap Rayyan yang seakan mengerti apa yang kini tengah ada di fikiran adik angkatnya itu. Mendengar hal itu, membuat Rara bernafas lega.
Di toko sandal dan sepatu, Rayyah juga ikut mengambil sepatu yang ia suka, setelah mencobanya dan cocok, ia menaruhnya di keranjang, ia letakkan bersama dengan barang milik Rara. Rara sendiri juga mengambil satu sepatu dan satu sandal. Sayangnya Ibu Sarrah yang kelewat baik itu malah mengambil tiga sandal dan tiga sepatu. Belum lagi ternyata Rayyan juga mengambilkan satu sepatu untuk Rara. Sehingga Rara mendapatkan lima sepatu dan satu sandal. Setelah memilih sandal dan sepatu, kini mereka beralih ke toko Tas.
Di sana, Rara hanya mengambil satu. Tapi Ibu Sarrah, malah mengambil tiga tas lagi untuk Rara. Karena katanya tasnya bagus-bagus, sayang kalau gak di beli. Dan Rara pun hanya bisa pasrah, dan ia tak bisa membantah ucapan Mama angkatnya itu.
__ADS_1
Setelah selesai membeli tas, mereka kini beralih ke tempat make up. Di sana, Rara yang sudah di ajari tentang make up, mengambil beberapa yang ia butuhkan. Parfum, bedak, pelembab, sisir, lipstik, dan crim siang malam dan body lotion. Rayyan juga membelikan Rara sabun yang cukup mahal, yang bisa mencerahkan dan melembabkan kulit, karena ia pun juga memamakainya. Rara pun mengucapkan terima kasih karena Rayyan begitu perhatian padanya. Rara juga mengambil kebutuhan lainnya, seperti softex dan lainnya.
Setelah merasa cukup, barulah Rayyan pergi ke tempat kasir untuk membayar semua belanjaannya.
"Mah, ini yang bayar siapa?" tanya Rara, karena kini ia tengah duduk santai bersama Ibu Sarrah sambil menunggu Rayyan yang tengah mengantri untuk bayar belajaannya.
"Rayyan dong, Sayang,"
"Tapi Ma, itu kan belanjaannya banyak banget," ucap Rara tak enak hati.
"Santai aja, gak usah merasa gak enak hati. Dia itu banyak uang, selain seorang dosen, ia juga penulis dan karyanya bahkan pernah di tayangkan di layar lebar. Penghasilannya cukup besar. Jadi kamu gak perlu merisaukan itu. Toh Rayyan belum juga nikah, kan. Kecuali dia sudah nikah, Mama gak akan berani meminta dia bayar. Karena ada yang lebih berhak atas uangnya dari pada Mama," ucap Ibu Sarrah menjelaskan.
Rara yang mendengarnya pun hanya menganggukkan kepala. Sungguh beruntung nantinya siapapun yang menikah dengan Rayyan, karena ia akan mendapatkan suami dan mertua yang baik, tak seperti dirinya.
Setelah Rayyan selesai membayar semua belanjaannya, ia langsung menaruh semua belanjaan itu ke mobil dengan di bantu oleh salah satu karyawan di sana, karena belanjaan Rayyan yang cukup banyak bahkan lebih dari sepuluh juta.
Namun Rayyan tak akan memberitahu Rara, karena itu pasti akan membuat Rara shok. Setelah memindahkan semua barang ke dalam mobil, ia langsung menghampiri Mamanya dan juga Rara. Tapi sebelum itu, ia mengucapkan terima kasih kepada salah satu karyawan mall yang tadi membantu dirinya membawakan barang ke mobil.
"Ayo kita ke musholla dulu, terus cari makan," ajak Rayyan sambil menatap jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Baiklah. Belanjaannya sudah di taruh di mobil, kan?" tanya Ibu Sarrah sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Sudah, Ma," jawab Rayyan.
__ADS_1
"Iya sudah, Ayo."
Dan setelah itu, mereka pun mencari musholla yang ada di Mall untuk melaksanakan sholat karena ini sudah memasuki waktu maghrib.