Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Keberuntungan Rara


__ADS_3

Selesai makan siang, Ibu Sarah menyiapkan kamar tidur khusus untuk Rara di rumahnya. Kamar yang bersebelahan dengan kamar Rayyan. Awalnya Rara merasa sedikit sungkan, tapi karena di paksa, akhirnya Rara pun memasuk kamar yang mulai saat ini dan seterusnya akan menjadi kamar miliknya. Kamar itu cukup luas, bahkan ada TV di dalamnya, bahkan bagi Rara kamar itu sangat mewah sekali.


Sebelum tidur, Rara memilih untuk mandi lebih dulu, untungnya di kamar itu di lengkapi kamar mandi, sehingga ia tak perlu keluar hanya untuk membersihkan dirinya. Ia tak ingin kasurnya jadi kotor, jika ia langsung tidur tanpa membersihkan lebih dulu.


Kini Rara tengah berbaring di atas kasur sambil menatap langit-langit rumah, sungguh ia tak percaya dengan takdir yang ia jalani saat ini. Bagaimana mungkin, di hari pertamanya ia bekerja, ia malah mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Di angkat menjadi seorang anak dan di limpahi kasih sayang yang luar biasa. Entah ia mimpi apa semalam, hingga Tuhan memberikan ia kejutan seperti ini.


Tapi jujur, ia bahagia. Bahagia dengan apa yang ia jalani saat ini. Dan ia sangat berterima kasih dengan Tuhan, ia berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Ia gak akan menjadi manusia lemah lagi, di mana harga dirinya di injak-injak oleh suaminya dan keluarga suaminya. Ia ingin menjadi kuat, karena ia sadar, dirinya terlalu berharga untuk menerima perlakukan menyakitkan dari suami, mertua dan adik iparnya. Dan ia akan membalas rasa sakit yang ia terima saat ini. Ia tak akan menjadi wanita lemah lagi, ia akan melawan mereka semua.


Ia bahkan sangat ingat bagaimana ia perlakukan dengan sangat tak manusiawi, ia sudah berjuang selama ini, berusaha bertahan dengan rumah tangga yang hanya memberikan ia kesakitan. Dan sekarang, ia tak mau menjadi manusia sabar lagi, bagaimanapun kesabaran seseorang itu ada batasnya. Toh ia punya Rayyan dan Ibu Sarah, mereka yang kini menjadi keluarganya. Dan akan menjaga serta melindungi dirinya dari orang-orang yang ingin menjahati dirinya.


Setelah lelah berfikir, Rara akhirnya mengantuk juga, hingga akhirnya ia ketiduran. Apalagi adanya AC dan pengharum ruangan yang membuat dirinya semakin mengantuk dan terlelap begitu cepat.


Sedangkan di luar Ibu Sarah terngah berbicang dengan Rayyan.


"Ray, gimana nanti setelah Rara bangun tidur, kita bawa dia ke salon untuk memanjakan diri sekalian membeli baju untuk Rara. Mama lihat bajunya bahkan warnanya pun sudah pudar dan sudah bolong sana sini," ujar Ibu Sarah.


"Aku setuju, Ma. Biar nanti aku yang akan mengantar kalian berdua,"

__ADS_1


"Ck ... mentang-mentang ada Rara. Kamu mau jadi sopir, dari dulu setiap Mama butuh bantuan, ada aja alasannya,"


"Hehe ... habisnya Mama kalau butuh bantuan, di saat aku lagi sibuk-sibuknya. Di saat aku senggang, aku ajak jalan malah gak mau," ujar Rayyan cengengesan.


"Sekalian nanti aku mau beli kamera, Ma," lanjut Rayyan.


"Buat apa?" tanya Ibu Sarrah.


"Buat jaga-jaga kalau Rara kenapa-napa di sana, Ma. Setidaknya dengan kamera itu, kita bisa jaga Rara dari jauh. Dan lagi, jika sampai Rayyan macam-macam dan terekam kameran, kita bisa jadikan kamera itu sebagai bukti untuk menggugat dia ke pengadilan. Dan lagi, aku tadi sudah menelfon seseorang untuk menyelidiki tentang suami Rara di luar sana. Apa aja yang di lakukan, dan aku harap ia tidak seperti yang aku fikiran sih,"


"Dia berkhianat dengan Rara."


"Astagfirullah, Ray. Kamu kok mikirnya sampai ke situ," ujar Ibu Sarah mengucap istigfar.


"Ya siapa tau kan, Ma. Semakin banyak kejelekan suaminya, maka akan semakin mempermudah Rara nantinya untuk bercerai dengannya."


"Iya juga sih, terserah kamu aja deh. Mama pasti dukung selama untuk kebaikan Rara."

__ADS_1


"Nah gitu dong, aku ingin Rara segera pisah dengan suaminya. Agar Rara bisa menjalani kehidupanya dengan normal tanpa di ganggu suaminya. Dan Rara bisa fokus dengan kuliahnya nanti. Aku ingin Rara jadi wanita yang sukses, Ma,"


"Iya, semoga aja. Mama lihat juga Rara cukup pintar dan sangat rajin anaknya."


"Iya dia tak seperti wanita kebanyakan, yang hanya bisa pintar menghamburkan uang orang tua, foya sana sini dan melakukan hal hal yan tak ada manfaatnya sama sekali. Rara wanita berbeda, dia pekerja keras, baik, jarang mengeluh dan bisa mempelajari sesuatu dengan cepat. Aku yakin, jika dia di rawat, Rara pasti akan menjelma menjadi wanita yang sangat cantik,"


"Ck ... jangan sampai kamu jatuh cinta dngannya, ingat mulai sekarang dia adik angkat kamu loh,"


"Iya, Ma. Aku tau, tapi aku gak janji loh. Karena kita gak tau bagaimana ke depannya. Mungkin saat ini, aku menyayangi Rara sebatas adikku aja, tapi untuk ke depannya, aku gak tau apakah tetap akan seperti ini, atau aku mempunyai rasa lebih padanya. Tapi aku usahakan, aku tetap menyayangi dia layaknya adik, bukan rasa sayang seorang laki-laki kepada wanitanya yang akan menjadi pasangannya."


"Tapi jika pun kelak kamu mencintainya, Mama juga gak akan marah sih,"


"Loh kok gitu,"


"Karena kalian kan gak ada hubungan darah, Ray. Tapi ya sudahlah, apa kata nanti aja."


Rayyan pun menganggukkan kepala, lalu mereka pun membahas hal yang lain sambil menunggu Rara bangun dari tidur siangnya.

__ADS_1


__ADS_2