
Melihat kakaknya datang, Lala langsung menghampiringnya. "Kakak, di antar siapa?" tanya Lala.
"Rara," jawab Rian dengan wajah sendu, dan jawaban Rian sukses membuat Lala kaget.
"Kak Rara, kok gak mampir?" tanya Lala sedih, padahal ia ingin meminta maaf kepada mantan kakak iparnya itu, karena sikapnya dulu yang sangat buruk.
"Dia masih ada kesibukan, La. Mungkin lain kali, dia akan mampir ke sini," jawab Rian yang tak ingin adiknya kecewa.
"Sekarang kehidupan kita berubah ya, Kak. Dulu kakak yang mengemudi mobil mewah, pakai jas kantor dan hidup berkecukupan, tapi sekarang hidup kita kayak gini dan Kak Rara malah hidup mapan, apakah ini karma?" tanya Lala sambil melihat ke arah Rian yang menaruh kotak isi peralatannya di atas lantai, lalu ia membuka baju luarnya yang membuat dirinya sangat gerah.
"Sudahlah, jangan terlalu difikirkan. Kakak janji, kakak akan berusaha agar kehidupan kita kembali seperti semula," ujar Rian sambil menghampiri Lala dan mengusap kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Tadi Kakak ketemu Kak Rara di mana? dan kenapa bisa satu mobil dengannya? Aku fikir setelah Kakak dan Kak Rara bercerai akan musuhan seperti pasangan lainnya?" tanya Lala kepo. Ia duduk di kursi kayu dan melihat ke arah kakaknya itu. Ia emang suka kepo akan urusan Rian.
"Aku tadi ketemu Rara saat di jalan, mobilnya mogok, terus aku bantu. Lalu dia nawari aku naik mobilnya, awalnya aku menolak tapi karena Rara sedikit memaksa, akhirnya akupun mau," balas Rian menceritakan semuanya.
"Apakah kalian akan kembali bersama?" tanya Lala penasaran. Rian menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Kenapa?" tanya Lala.
"Dia sudah punya pacar, tadi aku mendengar dia telfonan dengan pacarnya saat di mobil," jawab Rian lesu.
"Kakak yakin itu pacarnya?" tanyanya.
"Ya karena Rara ngomongnya sangat lembut seperti dia sedang nelfon pacarnya. Sudahlah, ngapain ngurus Rara. Sekarang Rara sudah bahagia dengan hidupnya, dan aku turut akan hal itu. Aku mandi dulu ya bentar, gerah." Rian langsung pergi ke kamar mandi, ya toko itu di lengkapi kamar mandi sehingga Rian tak perlu pulang ke rumah hanya untuk membersihkan diri. Sedangkan Lala hanya menatap kepergian Rian dengan sedih. Ia tau, dan sangat tau. Bahwa sampai detik ini kakaknya masih mencintai mantan istrinya. Tapi ia pun tak mau terlalu berharap, karena dirinya pun tak yakin, kakaknya bisa bersatu lagi dengan mantan kakak iparnya.
Sedangkan di tempat lain, setelah perjalanan setengah jam, akhirnya Rara sampai juga di rumahnya. Ia segera menghempaskan dirinya ke kursi yang ada di ruang tengah, ia juga menghidupkan tivinya. Sesungguhnya, Rara tak menyangka, bisa bertemu Rian. Terlebih kini hidupnya Rian tak lagi seperti dulu, dan sedihnya lagi, ia bahkan tak tau jika mantan mertuanya sudah tiada. WAlaupun Ibu Meri pernah jahat padanya, tapi Rara sudah memaafkan semua kesalahannya.
"Semoga usahamu berjalaln lancar, Mas," gumam Rara dalam hati. Setelah merasa tak lelah lagi, ia mematikan tivinya dan pergi ke kamar untuk membersihkan dirinya dan tidur siang.
\===
Sore harinya, setelah bangun tidur, Rara pergi ke pasar untuk membelli kebutuhan rumah. Untungnya ada pasar yang buka dua puluh empat jam, jadi ia bisa membeli kebutuhan dapur di sana dan juga beberapa buah untuk mengisi kulkasnya. Ia juga ingin membeli ikan segar untuk ia bakar. Yah, ia ingin memasak nasi, ikan bakar, sambal pedas manis, lalapan dan sayur oseng-oseng, pasti rasanya sangat mantap sekali.
Saat di pasar, Rara bertemu dengan nenek yang jualan jajanan tradisional. Rara pun menghampirinya. "Mbah, ini kuenya berapaan?" tanya Rara sambil berjongkok.
"Dua ribuan, Nak. Kalau yang ini seribuan," ucapnya memberitahu sambil memandang wajah Rara.
"Kalau gitu, saya beli semuanya ya," ujar Rara membuat Nenek itu kaget.
"Ini mau di beli beneran kan?" tanya nenek itu dengan wajah berbinar.
"Iya, Nek. Nenek bungkusin aja ya semuanya, tapi jadikan lima bungkus ya, Nek," pinta Rara.
"Iya, ya, ya." Dengan semangat, nenek itu memasukkan kue itu ke dalam kantong lima kresek.
Lalu setelah itu, Nenek itu memberikan kantorng kresek itu ke Rara.
__ADS_1
"Berapa semuanya, Nek?" tanya Rara.
"80 ribu," jawab nenek itu, karena kuenya belum laku sejak tadi siang. Ya, nenek itu jualan sejak siang karena paginya masih harus buat kue dan sampai sekarang belum ada yang belli kecuali Rara.
Rara mengambil uang seratus ribuan dan memberikannya ke Nenek itu, "Kembaliannya ambil Nenek aja," ucap Rara sambil mengambil lima kantong kresek itu.
"Makasih ya, Nak. Semoga Allah membalas kebaikan kamu," ujar Nenek itu terharu, ia memegang uang itu dengan erat, seakan ia takut jika uang itu akan hilang.
"Aamiin."
Setelah itu, Rara pun berbelanja yang lainnya seperti bumbu, sayur, ikan dan juga buah. Hingga setelah berkeliling sana-sini, ia pun akhirnya selesai membeli keperluannya. Rara mengangkat semua belanjaan itu seorang diri, karena dulu ia seorang kuli panggul, tentu seberat apapun, ia masih bisa mengangkatnya sendiri. Namun baru aja beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba seseorang menawarkan jasa untuk membawakan belanjaannya. Mellihat itu membuat Rara ingat akan masa lalunya. WAlaupun ia sebenarnya tak perlu pakai jasa, tapi ia tak tega untuk menolaknya. Akhirnya ia memberikan semua belanjaan itu kepada laki-laki itu. Yah, laki-laki yang sepertinya seumuran dengan kakak angkatnya.
Rara memberitahu di mana mobilnya berada dan laki-laki itu pun menganggukkan kepala, tanpa berbicara sepatah katapun.
Setelah sampai di mobil dan laki-laki itu menaruh barangnya, Rara langsung memberikan uang lima puluh ribu. "Ini kebanyakan," ucapnya tak enak hati.
"Gak papa itu rezeki kamu," balas Rara tersenyum ramah.
"Terima kasih." Laki-laki itu sedikit menganggukkan kepala, lalu setelah itu ia pergi dari sana. Rara pun memasukkan belanjaanya ke dalam mobil, dan setelah itu, ia pun langsung pergi dari sana.
Rara mengemudikan mobilnya sambil dengerin music. Saat di lampu merah, Rara merasa terkejut saat seseornag mengetuk pintu mobilnya. Rara pun menurunkan kaca mobilnya itu, dan ia melihat seorang Ibu dengan menggendong bayi menawarkan kerupuk yang ia jual.
"Berapaan, kerupuknya, Bu?" tanya Rara, walaupun sebenarnya ia tak ingin membeli kerupuk itu. Tapi melihat raut wajah ibu itu membuat ia tak tega.
"Dua ribuan Neng," jawabnya.
"Sisa berapa semuanya?" tanya Rara.
"Iya sudah saya beli semuanya ya," ucap Rara. Mendengar hal itu, membuat ibu itu senang.
Ibu itu pun memberikan semua kurupuknya yang ia pegang, lalu Rara mengambil dompetnya dan memberikan uang lima puluh ribuan ke Ibu itu.
"Kembaliannya ambil Ibu aja," ujar Rara sambil mengambil kerupuk itu dan menaruhnya di sampingnya.
"Makasih, Neng," ucap Ibu sambil menyatukan kedua tangannya, dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
"Oh ya, Bu. Bentar," Rara ingat dengan kue yang ia beli. Lalu ia berbalik ke belakang, dengan susah payah, ia mengambil lima kantong kresek yang berisi kue yang tadi ia beli di pasar.
"Ibu, ini buat Ibu ya. Dan bagikan ke yang lain juga, biar semuanya kebagian," ujar Rara karena ia melihat ada beberapa orang yang berada di samping tiang lampu merah, sepertinya menjual koran dan juga minuman botolan. Memang beberapa penjual lebih suka jualan di lampu merah dan saat lampu merah menyala, mereka akan menawarkan dagangan mereka ke setiap pengemudi.
"Terima kasih, Nak," ucap Ibu itu terharu, yang awalnya manggil Neng, langsung manggil Nak. Ibu itu lalu pergi ke pinggir sambil menenteng lima kantong kresek karena lampu sudah berwarna hijau. Sedangkan Rara, ia melanjutkan perjalanannya menuju pulang.
Sesampai di rumah, ia di buat kaget karena melihat mobil Rayyan. Rara pun segera turun dari mobil dan membawa belanjaannya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ra, dari mana?" tanya Rayyan yang ternyata baru keluar dari kamarnya.
"Aku habis belanja, katanya pulang telat?" tanya Rara sambil memberikan belanjaannya ke Rayyan. Rayyan pun mengambilnya dan membantu Rara membawanya ke dapur.
__ADS_1
"Iya, tapi gak jadi. Aku sudah ngirim pesan tapi gak di balas," ucap Rayyan.
"Iya, Maaf. Hpnya ketinggalan ada di kamar, terus Mas Rayyan masuk rumah pakai apa?" tanya Rara sambil menaruh belanjaan di atas meja.
"Aku kan punya kunci cadangan, jadi aku pakai itu," sahut Rayyan. Ia juga menaruh belanjaan itu di atas meja.
"Syukurlah, untung punya kunci cadangan, kalau gak kan kasihan, di luar nunggu aku hehe," ucap Rara ketawa.
"Kamu lama banget belanjaannya?" tanya Rayyan, mereka berjalan ke arah ruang tamu dan duduk santai di sana.
"Iya, kan belanjaannya banyak, Mas. Terus tadi aku ...." Rara pun menceritakan tentang ia yang beli kue ke nenek dan memberikannya ke Ibu-ibu yang jual kerupuk di pinggir jalan.
"Gak papa, kan Mas?" tanya Rara setelah selesai menceritakan kejadian tadi di pasar.
"Gak papa, malah aku senang karena kamu mau bantu mereka. Pantas tadi ada banyak kerupuk, aku fikir kamu mau jualan kerupuk," goda Rayyan.
"Hehe ya gak lah, ya kali aku jualan kerupuk, Mas. Iya kalau dulu, kalau sekarang, Mas kan sudah ngasih aku uang, Mama, Papa juga. Jadi aku gak mungkin jualan kerupuk,"
"TApi itu kerupuk buat apa, itu kebanyakan loh,"
"Ya buat makan, nanti aku taruh di toples," jawab Rara.
"Oh ya tadi kamu kan ketemu Rian, gimana perasaan kamu?" tanyanya. Ia tiba-tiba keingat saat ia nelfon Rara tadi siang dan mengatakan jika mobilnya mogok dan di bantu oleh Rian. Hingga Rara harus mengantarkannya sampai bengkel.
"Ya biasa aja sih, Mas. Sama kayak ke orang lain aja, sudah gak ada perasaan apa-apa lagi," sahut Rara jujur.
"Syukurlah,"
"Eh, kok syukur?" tanya Rara.
"Ya itu kan artinya kamu sudah move on, Ra,"
"Aku emang sudah move on, Mas. Udah dari dulu," ucap Rara terkekeh.
"Hemm, sudah siap buka hati lagi nih?"
"Enggaklah, aku mau fokus ke sekolahku dulu, aku baru aja merasakan bisa kuliah, masa mau mikir buka hati lagi, aku ingin menikmati masa-masa muda dulu, fokus kuliah dan kumpul bareng temen, udah itu aja,"
"Jadi aku gak masuk prioritas nih?"
"Masuk dong, Mas prioritas utama aku,"
"Beneran?" goda Rayyan.
"Iya dong, karena Mas segalanya buat aku," sahut Rara jujur.
"Masak?" tanya Rayyan tak percaya.
__ADS_1
"Iya sudah kalau gak percaya, aku mau ke kamar dulu, mau mandi, gerah. Ntar lagi juga sudah adzan, setelah itu aku mau masak buat makan malam," ujar Rara sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamarnya.
Sedangkan Rayyan, ia juga pergi ke kamarnya setelah Rara pergi. Karena ia masih ada pekerjaan yang harus di kerjakan.