
Keesokan harinya, Lala dan Ibunya datang bersama seorang pengacara. Yah, setelah kemarin mereka mengambil uang di brankas Rian, mereka langsung mencari pengacara yang bisa mengeluarkan Rian dari penjara. Mereka tak akan membiarkan Rian berlama-lama di penjara karena itu pasti tak akan membuat Rian betah hidup di sell tahanan.
Melihat tangan Rian yang tengah di bungkus membuat Ibu Meri dan Lala mengernyitkan dahi.
"Tanganmu kenapa, Nak?" tanya Ibu Meri sambil menghampiri Rian dan memegang tangannya yang di balut kain kain putih.
"Aku gak papa, Bu. Oh ya ini pengacaraku?" tanya Rian mengalihkan perhatian, ia melihat laki-laki yang cukup muda namun terlihat tegas dan ramah.
"Iya, dia Firman. Pengacara kita, dia yang akan membantu kita membebaskan kamu, Nak," ujar Ibu Meri, matanya terus menatap ke arah tangan Rian.
"Oh, Pak Firman. Saya Rian, mohon bantuannya," ujar Rian sopan, ia tak bisa berjabat tangan karena kedua tangannya yang kini tengah terluka. Yah, saat ia bangun, ia sudah melihat kedua tangannya yang sudah di obat dan ia ada di ruangan kesehatan. Ia tak tau siapa yang sudah menggotongnya hingga sampai di ruang kesehatan, karena seingatnya, setelah ia memukul tangannya sendiri, ia merasa sangat frustasi, tertekan hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
Di ruang kesehatan itu, ia juga di kasih makan karena perutnya yang keroncongan.
Setelah merasa agak sehat, barulah ia di antar ke sel lagi. Dan di sana ia melihat ketiga temannya yang tadinya sangat ramah, tatapan mereka tak lagi bersahabat. Tapi ia berusaha untuk memakluminya, karena ia sadar, dirinya salah dan ia berhak mendapatkan tatapan tak menyenangkan dari mereka.
"Kak, ituloh Pak Firman lagi ngomong," ujar Lala membuyarkan lamunan Rian.
"Maaf, maaf. Kenapa ya?" tanya Rian seperti orang bodoh, ia duduk di kursi panjang bersama dengan Ibu Meri dan Lala. Sedangkan Pak Firman, ia duduk di depannya sedangkan di tengah-tengah mereka ada meja panjang berberntuk persegi panjang.
__ADS_1
"Bapak akan melakukan sidang pertama Minggu depan, apakah Bapak sudah tau?" tanya Firman bersikap untuk profesional. Walaupun mereka kelihatan seperti seumuran.
"Ya, saya sudah tau, kemarin sudah diberitahu," jawab Rian.
"Baik, di sini jika melihat kasus yang Bapak alami, kemungkinan besar Bapak akan mendapatkan hukuman enam bulan kurungan penjara dan denda tiga puluh lima juta,"
"Apakah gak ada cara lain, agar saya bisa bebas hari ini? Saya mohon," ujar Rian yang tak mau berlama-lama di penjara ataupun melakukan sidang ini dan itu. Ia terlalu lelah, lagian ia ingin segera keluar agar bisa mencari keberadaan Rara dan meminta maaf.
"Baiklah, saya usahakan. Kalau gitu saya permisi dulu" jawab Pak Firman tegas tapi juga ramah. Ia memilih pulang lebih dulu karena urusan dengan Rian sudah selesai dan ia juga ingin memberikan waktu buat Rian untuk mengobrol dengan Ibu dan adiknya.
"Terima kasih." Rian pun menaruh harapan yang cukup besar kepada Firman, ia ingin segera keluar dari penjara agar bisa meminta maaf pada Rara.
"Aku gak bertemu dengan Kak Rara, Kak," jawab Lala dengan raut wajah sedih. Ia bahkan tak tidur semalaman karena terus di hantui rasa bersalah.
"Hemm ... kemana kira-kira Rara pergi?" tanya Rian dengan wajah lesu.
"Aku gak tau, Kak. Tapi aku akan mencari dia, aku ingin minta maaf padanya," jawab Lala. Sedangkan Ibu Meli, ia hanya diam aja, ia bahkan bingung tak tau harus berbuat apa. Otaknya seperti tak mau berfungsi. Namun di sudut hatinya yang paling dalam, ia pun juga merasa sangat menyesal.
"Iya sudah, kalau kamu dan Ibu butuh uang, ambil aja dulu uang yang di brankas. Tapi tolong jangan di habiskan, karena aku sekarang tidak bekerja, di tambah, aku pasti butuh uang banyak untuk bisa keluar dari sini,"
__ADS_1
"Gimana kalau uang Kakak gak cukup buat bayar?" tanya Lala.
"Kakak akan jual mobil, sepeda motor dan barang-barang yang berharga dulu agar bisa membuat Kakak bebas dan setelah itu, Kakak mau lamar kerja sambil mencari keberadaan Rara. Tapi jika Kakak gak dapat pekerjaan, seperti kakak kemarin, Kakak mau membuka usaha,"
"Tapi kan itu butuh modal besar, Kak," ujar Lala.
"Itu nanti bisa di fikir lagi," jawab Rian tersenyum, ia berusaha untuk terlihat baik-baik aja, walaupun sekarang hatinya sedang bergemuruh.
"Kalau gitu, aku pulang dulu, Kak."
"Iya hati-hati ya," ujar Rian sambil memeluk Lala sebenar.
"Ibu pulang dulu ya, Nak. Kamu jaga diri baik-baik dan jangan terluka lagi," ujar Ibu Meri sambil memeluk putra sulungnya itu.
"Iya, Ibu juga jaga diri baik-baik ya,"
"Iya. Ibu pulang dulu."
Dan setelah itu, Ibu Meri dan Lala pun pulang, meninggalkan Rian yang harus balik ke sel tahanannya.
__ADS_1