
Dua bulan berlalu sejak Rara dan Rayyan terakhir bertemu Ibu Arsih. Dan kini, Rara mendapatkan info kalau Ibu Arsih meninggal dunia, padahal Ibu Arsih sudah operasi tapi sayangnya, kanker itu menjalar di tubuhnya hingga membuat Ibu Arsih menutup mata selamanya. Rara pun segera pergi ke sana, ia tak bisa mengajak Rayyan karena Rayyan ada rapat sesama dosen dan baru bisa pulang sore hari. Rara tak mungkin mengacaukan itu semua. Jadi Rara memutuskan untuk berangkat sendiri. Ia memakai pakaian hitam dan hijab hitam, kaos kaki dan sepatu sandal yang lagi trend. Ia juga memakai jam tangan berwarna coklat. Dan juta tas yang berwarna senada.
TAk lupa ia juga sudah menyiapkan amplop dan menaruh uang sebesar satu juta di dalamnya karena biasanya orang yang melayat akan datang membawa amplop dan menaruhnya di kotak yang sudah disediakan.
Kedatangan Rara membuat orang iri, melihat tampilan Rara sekarang, membuat mereka tak percaya. Bahkan sebagian dari mereka, ada yang berfikir Rara menjual diri untuk sebuah kemewahan, tapi ada juga yang berfikir, ini hasil Rara bekerja keras, dan ada juga yang berfikir seseorang sudah mengangkat derajat Rara hingga bisa seperti sekarang. Namun apapun pendapat mereka tentang Rara, Rara tak memperdulikannya, karena setiap orang mempunyai pendapat masing-masing, mempunyai sudut pandang masing-masing dan Rara terlalu malas untuk menjelaskan ke mereka, dari mana ia mendapatkan kemewahan itu.
Rara berjalan dengan tas mahal yang ia tenteng. Sejujurnya ia ingin memakai tas biasa, tapi masalahnya tas yang ia punya semuanya bermerk karena semua itu di beli oleh Rayyan, bahkan masih ada beberapa tas yang belum ia pakai sama sekali. Saat Rara menaruh amplop itu, orang-orang juga melihatnya.
"Gila, amplopnya tebel banget, berapa kira-kira dia ngasih uang?" tanya seseorang yang masih di dengar oleh Rara. Namun lagi-lagi Rara tak menghiraukannya. Ia ke sini hanya untuk ikut takziah (melayat).
"Kak Rara," panggil seserang, Rara melihat ke asal suara itu.
"Lala kamu di sini juga?" tanya Rara.
"Iya dong, Kak. Ibu Arsih kan masih tetangga, kalau aku gak datang bisa jadi omongan para tetangga nantinya hehe." ucap Lala dengan cengir kuda.
"Oh sama siapa?"
"Sama Kak Rian. Tuh Kak Rian lagi kumpul sama bapak-bapak. Kak Rara sendiri sama siapa?"
"Sendirian."
"Hemm gitu, mobil Kakak ganti ya?" tanya Lala, tadi ia emang melihat Rara turun dari mobil mewahnya.
"Bukan ganti, La. Itu mobil milik calon suami Kakak, kakak minjem."
"Wah sudah ada calon suami, kapan nikah?" tanya Lala, walaupun ia masih berharap Rara menjadi kakak iparnya. Tapi ia sadar, kini posisi dirinya dan Rara sudah jauh berbeda, mereka bagai langit dan bumi. Rara sudah sukses, tak seperti dirinya. Dan lagi, tak mungkin Rara mau kembali dengan Rian, mengingat selama ini Rian selalu memberikan luka kepada Rara.
"InsyaAllah dua bulan lagi, Ra. Doakan ya,"
"Jangan lupa undang aku dan Kak Rian ya, Kak," pinta Lala.
"Pasti."
Mereka mengobrol santai dan sesekali, Rara juga menyapa para tetangganya, bahkan ikut mengobrol sama mereka. Namun jika ada pertanyaan yang kurang berkenan, Rara memilih diam atau tersenyum saja. Rara juga bersyukur dengan adanya Lala, dia yang membantu dirinya menjawab, jika ia merasa mati kutu dengan pertanyaan Ibu-ibu yang punya banyak pertanyaan itu, bahkan sudah seperti wartawan saja.
Tak terasa setengah jam sudah Rara berada di sana, Ibu Arsih juga sudah selesai di makamkan. Dan saat Rara mau pulang, Lala memaksa Rara untuk menemanninya lebih dulu karena Rian masih sibuk membantu para bapak-bapak. Awalnya Rara ingin menolak, tapi karena Lala terus memaksa dirinya, akhirnya Rara pun mengiyakan. Mereka pergi ke rumah Lala lebih dulu, rumah yang dulu di tempati oleh Rian dan Rara.
"Ayo masuk, Kak," ajak Lala sambil membuka pintu rumahnya.
Rara memperhatikan rumah itu, tidak lagi sama seperti dulu. Semua barang banyak yang hilang bahkan rumah itu terkesan luas karena hanya ada sedikit barang yanga ada di sana.
"Maaf ya, Kak. Harus duduk di karpet kayak gini,"
"Enggak papa, Kok. Malah duduk di sini enak karena bisa selonjoran juga,"
"Bentar ya, aku ambilkan minuman dulu."
"Enggak usah repot-repot La, duduk aja sini,"
"Enggak enaklah aku, Kak. Jarang ke sini, masak sekali ke sini, Kakak bahkan gak dapat suguhan apapun,"
"Ya gak papa, lagian tadi kan sudah minum di rumah Ibu Arsih,"
"Tapi itu kan di rumah Ibu Arsih, Kak. Dan itu sudah tadi, di sini beda lagi. Aku masakin aja ya sekalian, nanti makan siang bersama."
"Emang kamu bisa masak?"
"Bisa, tapi gak terlalu jago hehe. Tapi kalau cuma goreng telur, tempe, tahu dan gorengan aku bisa. Asal jangan masak yang berat-berat aja," jawab Lala jujur.
"Atau gini aja, karena aku sudah di sini, gimana kalau kita masak bareng, aku ajarin kamu masak yang enak, mau?"
__ADS_1
"Mau, Kak."
"Iya sudah, ayo tunjukkan dapur kamu,"
"Iya, Kak."
Lalu mereka berdua pun pergi ke dapur. Lala memperlihatkan sayuran dan bumbu yang ada di dapur. Rara mengernyitkan dahi karena di dapur itu hanya ada garam, micin, bawang merah, bawang putih dan cabe. Sedangkan sayurannya hanya ada telur, tempe dan kacang panjang.
"Apaa boleh aku beli bahannya dulu?" tanya Rara ragu-ragu.
"Kenapa? Bahannya kurang lengkap ya?" tanya Lala merasa malu.
"Bukan gitu, kakak ingin masak yang lain juga buat sarapan siang,"
"Oh kalau gitu, apa Lala beli di warung dulu bahannya, kebetulan masih ada warung buka kok."
"Enggak usah, kakak akan manggil seserang aja ke sini, tapi tunggu tiga puluh menit ya masaknya. Gak papa kan? Sambil nunggu kita ngobrol dulu,"
"Iya sudah gak papa, Kak."
Akhirnya mereka kembali ke ruang tamu, Rara mengambil Hpnya dan memesan bahan-bahan makanan lengkap dengan bumbunya,, tak lupa ia juga memesan makanan ringan. Setelah selesai ia menaruh HPnya lagi dan mengobrol dengan Lala.
Hingga setengah jam kemudian, seseorang mengetuk pintu. Lala pun membukakan pintu dan ternyata pengantar jasa pesanan.
Lala pun mengambil barang-barang itu, di bantu oleh Rara. Setelah selesai, orang itu pun pergi.
"Loh gak bayar dulu, Kak?" tanya Lala.
"Sudah bayar. Ayo kita bawa ke dapur."
"Iya, Kak."
Lalu setelah itu, Rara dan Lala membawa semua belanjaan itu ke dapur. Untungnya di sana ada kulkas. Lala tadi cerita kulkas itu beli second bulan lalu, seharga 400 ribu. Kalau beli yang baru pasti harganya sekitar satu juta setengah.
"Ini taruh di mana lagi, La?" tanya Rara karena masih ada yang belum di taruh.
Sedangkan mie sedap dengan varian rasa, indomie, supermi, mie instan ABC, mie sukses dan mie lainnya taruh di lemari yang ada di sana. Lemari yang di beli dari tetangga sebelah saat mau pindahan. Yah, Lala bercerita ada tetangga yang mau pindah, terus barang-barangnya banyak yang di jual murah, Lalu Ray membeli lemari itu untuk taruh di kamar dan juga di dapur untuk menaruh barang-barang.
Rara hanya menganggukkan kepala saat mendengar cerita Lala itu.
Untuk bumbu sendiri juga di taruh lemari itu, biar enak ngambilnya dan gak berserakan.
"Oh ya, Ra. Walaupun kakak membelikan banyak mie, jangan di makan setiap hari ya. Soalnya kan bagus buat kesehatan, kamu masak mie, kalau lagi benar-benar malas masak atau lagi kepepet. Usahakan setiap hari makan makanan sehat aja, perbanyak minum air putih, makan sayuran dan buah. Harus belajar hidup sehat. Kakak juga membelikan kamu es krim, jangan langsung di habiskan semua, nanti sakit perut,"
"Iya, Kak. Terima kasih ya, Kak. Kakak pasti habis banyak beli ini semua," ujar Lala tak enak hati.
"Sudahlah, jangan bahas uang. Ayo kita masak, bentar lagi waktunya makan siang, kan?"
"Iya, Kak."
Rara dan Lala pun memasak bareng, Rara juga menjelaskan cara masak yang benar dan bumbu apa aja yang harus di pakai. Lala pun mendengarkannya agar ia bisa memasak yang enak seperti mantan kakak iparnya itu. Sejujurnya, Lala berhatap Rara bisa menjadi kakak iparnya lagi. Ia senang bisa bersama seperti ini. Ia menyesal kenapa gak dari dulu, ia dengan Rara. Kenapa ia harus dekat, setelah Rara sudah pergi dari kehidupan kakaknya.
"La, jangan bengong kalau goreng. Nanti gosong loh," tegur Rara menatap ke arah mantan adik iparnya itu.
"Hehe iya, Kak. Maaf." Rara hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Lala itu.
Setelah setengah jam memasak, akhhirnya semua masakan pun tersaji di atas meja makan.
"Ayo, Kak. Makan, ini pasti enak," ujar Lala yang sudah gak sabar pengen mencicipi hasil masakannya bersama Rara.
"Iya, tapi gimana dengan kakak kamu?"
__ADS_1
"Biar nanti Kak Rian makan belakangan aja, lagian aku yakin, dia pasti makan siang di rumah Ibu Arsih," ujar Lala. Rara pun menganggukkan kepala.
Lalu mereka pun makan bersama. Selesai makan, Rara membantu Lala untuk mencuci piring dan peratalan kotor yang tadi di buat masak. Selesai mencuci piring, mereka mengobrol sebentar, lalu setelah itu, Rara pamit pulang. Tak lupa ia memberikan uang kepada Lala sebesar lima ratus ribu. Lala awalnya menolak, tapi bukan Rara namanya, jika tidak memaksa. Akhirnya Lala pun menerimanya. Dan setelah itu, Rara pun pulang dari sana. Ia memasuki mobilnya dan segera pulang menuju rumahnya.
Tak lama setelah Rara pulang, Rian datang.
"Kak Rian, kenapa lama banget sih pulangnya?" tanya Lala kesal, padahal ia menahan Rara sedikit lebih lama agar kakaknya itu bisa bertemu dengan Rara.
"Kenapa emangnya dek?" tanya Rian bingung.
"Tadi itu Kak Rara datang ke sini,"
"Oh ya, kok kamu gak bilang sama Kakak?"
"Kakaknya sibuk, padahal Kak Rara tuh di Rumah Ibu Arsih aja hampir setengah jam, terus di rumah ini sejam lebih,"
"Ya Maa, kakak gak tau, tadi kakak sibuk banget bantu bapak-bapak di sana. Kamu sudah masak, La?"
"EMang Kak Rian belum makan?"
"Ya makan tapi sedikit, Kakak malu mau nambah lagi. Kamu masak, kan?"
"Masak, tadi aku masak bareng Kak Rara."
"Oh ya, jadi Rara juga ikut masak di rumah ini?"
"Ya awalnya sih aku yang mau masak terus sama Kak Rara di bantu, sekalian Kak Rara juga ngajarin aku masak yang enak sama ngasih tips cara mengolah bumbu."
"Kalau gitu, Kakak ingin makan Ra." Rian segera menuju dapur dan ia melihat banyak makanan di atas meja. Rian mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Ia memakan itu dengan sangat lahap, sudah lama sekali ia gak makan masakan Rara. Jadi ia gak mau menyia-nyiakannya, karena ia gak tau, kapan ia bisa makan makanan yang di masak oleh Rara lagi.
Setelah selesai makan, Rian melihat lemari kaca yang penuh dengan mie.
"Itu kamu yang beli?" tanya Rian.
"Bukan tapi Kak Lala. Yang di dalam kulkas juga, Kak Lala semua yang beli," Lala membuka kulkasnya sehingga Rian bisa melihat isi kulkas yang penuh itu.
"Kamu meminta Rara membelikan itu semua, La?"
"Enggaklah, Kak. Yakali aku minta dibelikan banyak kayak gini, ini semua Kak Rara yang punya inisiatif sendiri. Bahkan aku juga di kasih uang lima ratus ribu. Aku sih sudah nolak, Kak. Tapi Kak Rara maksa terus, bahkan ngancem gak mau ketemu aku lagi, jika aku nolak. Jadi aku terima uang dari dia," ujar Lala.
"Pasti dia habis banyak, La."
"Iya, tapi kayaknya dia gak mempermasalahkan itu semua, Kak. Kak Rara kan sekarang sudah kaya, pasti uang bagi Kak Rara sudah bukan masalah lagi,"
"Iya, Kamu benar. Dia sudah beda, La. Dia sudah kaya, gak kayak kita."
"Semoga kehidupan kita ke depannya lebih baik ya, Kak. Aku yakin, suatu saat Kak Rian akan sukses dengan usaha yang kakak jalani saat ini. Oh ya, katanya Kak Rara akan menikah dua bulan lagi,"
"Syukurlah, kakak senang mendengarnya. Setidaknya, dia sudah mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari Kakak,"
"Kakak gak sedih?"
"Bohong jika kakak gak sedih, La. Sampai detik ini, Kakak masih mencintainya. Tapi Kakak sadar, kakak tak bisa memiliki dia lagi. Jadi, kakak cuma bisa berharap, dia bahagia dengan kehidupan yang saat ini ia jalani. Hanya doa yang bisa kakak berikan untuknya."
"Kak Rian sudah banyak berubah, aku harap, Kak Rian juga mendapatkan pengganti Kak Rara dan hidup bahagia dengan pasangan kakak."
"Entahlah, jika mikir pasangan, kakak gak berfikir ke situ dulu. Kakak masih ingin membahagiakan kamu, La. Ini aja kadang kakak merasa bersalah, karena kamu harus putus sekolah gara-gara kakak tak lagi mampu menyekolahkan kamu,"
"Sudah aku bilang, aku putus sekolah karena aku yang ingin. Aku terlalu malas belajar, jadi kakak gak perlu merasa bersalah lagi. Lagian ilmu gak harus dapat dari sekolah kan. Banyak yang lulus SD, hidupnya malah lebih sukses dari yang lulus S2. Bukan aku meremehkan gelar yang mereka dapatkan dengan susah payah, hanya saja aku berfikir, kalau ilmu itu bisa kita dapatkan dari mana saja. Jadi jangan merasa bersalah lagi,"
"Baiklah, kalau gitu Kakak mandi dulu ya. Gerah banget rasanya."
__ADS_1
"Iya, Kak."
Dan setelah itu, Rian pun masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, sedangkan Lala. Ia membereskan meja makan sebelum akhirnya ia ikut masuk ke kamarnya sendiri yang ada di sebelah kamar Rian.