Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Pelukan Terakhir


__ADS_3

Melihat Rian membuat emosi Rara seperti ingin meledak, ia ingin segera masuk ke dalam mobilnya, hanya saja Rian langsung mencegahnya, ia memegang tangan Rara sehingga membuat Rara mendengus kesal. Awalnya Rian pun tak tau, jika ada Rara di sini. Untungnya Ibu Sri, tadi mengetuk pintu rumahnya dan mengatakan jika Rara ada di rumah Ibu Arsih, tak mau membuang waktu sia-sia, Rian langsung segera berlari menuju Ibu ARsih dan benar saja ia melihat wanita cantik, namun hanya sekali lihat, ia tau, itu adalah istrinya. Walaupun tampilan Rara kini telah berubah, tapi Rian tau betul, jika wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini adalah Rara.


"Ra, maafin aku," Rian menangis, ia bersujud di kaki Rara membuat Rara melongo, tak menyangka jika Rian akan bersujud di kakinya. Bahkan Ibu ARsih yang tak sengaja melihat ke arah Rian pun juga di buat terkejut.


"Ra, tolong jangan tinggalin aku, Ra. Aku menyesal, Ra. Aku menyesal," Rian menangis tersedu-sedu, ia terlihat sangat frustasi. Rara masih diam, karena ia bingung mau ngomong apa.


"Aku mohon, Ra. Aku mohon, jangan tinggalin aku. Aku gak mau pisah sama kamu, RA. Aku cinta sama kamu, maafin aku, Ra. Maaf sudah menyiksa kamu selama ini, maafin aku, aku menyesal hiks hiks ...." mendengar itu membuat hati Rara menjadi dingin. Ia mengingat dengan jelas bagaimana selama ini, Rian memperlakukan dirinya dengan kejam.


"Aku rela, kamu pukul aku, aku rlea kamu tendang aku, seperti apa yang aku lakukan ke kamu. Aku rela kamu hina dan caci maki aku, aku rela, Ra. AKu rela kamu siksa aku, seperti aku menyiksa aku selama ini. Tapi aku mohon, jangan tinggalin aku, Ra. Aku menyesal." Rian terus menangis, ia bahkan terus bersujud di kaki Rara.


"Tolong, jangand diam, Ra. Ngomong sama aku, kalau kamu mau maafin aku dan memberikan aku kesempatan, bilang sama aku, Ra." Rian mendongak, melihat wajah Rara yang terlihat dingin sekali.


"Maaf, Mas. Aku belum bisa maafin kamu, hatiku masih sakit atas perlakukan kamu selama ini," jawab Rara dengan suara tegas. Mendengar hal itu membuat hati Rian semakin sakit.


"Ra ...."


"Tolong lepasin aku, Mas. Aku harus pulang," Rara berusaha untuk menjauh dari Rian, namun Rian memegangnya dengan erat.


"Enggak boleh, kamu gak boleh kemana-mana. Kamu istri aku, Ra. Aku suami kamu dan aku gak mengizinkan kamu pergi dari aku," Rian ingin egois, ia gak mau melepaskan Rara. Baginya, Rara adalah miliknya, istrinya dan harta berharga miliknya.


"Tolong jangan egois, Mas. Apa kurang cukup penderitaan yang kamu berikan buat aku selama kita bersama,. Satu tahun, Mas. Satu tahun kamu siksa aku secara lahir dan batin. Kamu bukan hanya merusak mental aku, tapi kamu juga siksa fisik aku, kamu pukul aku, bahkan ketika aku memohon belas kasihmu, tapi gak kamu hiraukan. Bahkan ketika aku teriak kesakitan, kamu malah semakin menyiksa aku, memukul fisikku. Aku capek, Mas. Aku gak mau mengulangi hal buruk itu lagi. Sekarang aku sudah bahagia dengan kehidupan aku, jadi tolong jangan ganggu aku lagi,"

__ADS_1


"Enggak, Ra. Aku janji, aku gak akan menyiksa kamu, Ra. Tapi tolong jangan tinggalin aku," Rian memohon dengan wajah memelas, ia benar-benar tak mau pisah dengan istrinya.


"Maaf, Mas. Aku gak bisa. Aku gak mau menderita lagi." Rara berusaha untuk melepaskan diri dari Rian. Sedangka Rian, ia berusaha untuk tetap memegang Rara. Sedangkan Ibu ARsih, ia ingin membantu Rara, tapi ia juga takut dengan sikap Rian yang tempramental.


"Tolong, Mas. Lepasin aku."


"Enggak, Ra. Kamu harus pulang sama aku, ayo kita pulang, Ra." Rian berusaha untuk membawa Rara pulang ke rumahnya.


"Sudah cukup, Mas. Sudah cukup kesabaranku selama ini." Rara melepaskan tangan Rian dengan kasar dan menampar Rian dengan keras hingga membuat sudut bibir Riain terluka. Namun Rian tak marah dengan apa yang di lakukan oleh Rara. Karena ia pantas diperlakukan seperti itu. Ia rela di tampar, asal Rara terus ada di dekatnya.


"Tolong jangan tinggalin aku, Ra. Ayo kita buka lembaran baru, aku janji akan menjadi suami yang baik buat kamu, aku akan memberikan semua gaji aku buat kamu."


"Maaf, Mas. Aku sudah tak butuh uang kamu, kamu lihat Mas. Aku bahkan bisa memakai baju dengan harga jutaan. Kamu lihat tampilan aku dari atas sampai bawah, Mas. Kamu lihat, aku sekarang sudah cantik, aku sudah punya banyak uang, aku bahkan sudah bisa beli apapun yang aku mau. Aku sudah bahagia, Mas. Aku sudah gak butuh uang kamu lagi," ujar Rara, ia mulai merasa kesal karena Rian yang bersikeras meminta dirinya pulang ke rumah, rumah yang bak seperti neraka.


"Enggak Mas. Aku gak mau, aku sudah capek. Sejak nikah sama kamu, aku hanya menerima kepahitan, aku harus berjuang keras, memikul beban yang cukup berat hanya untuk mendapatkan uang agar bisa memberimu makan, aku harus berjuang menjadi buruh cuci sampai tangan aku terluka hanya untuk membeli lauk pauk yang enak agar kamu tak lagi marah padaku. Di saat kamu tidur, aku bahkan tak bisa tidur nyenyak, aku harus mikir, bagaimana aku besok bisa dapat uang dan bisa memberikan kamu makan dengan lauk pauk yang cukup mahal, bagaimana agar aku bisa memenuhi kebutuhan kita. Bahkan setelah aku bekerja keras tanpa mengenal lelah, kamu masih siksa aku, Mas. Kamu masih memukul aku, tubuh aku sudah lelah bekerja demi memberikan kamu makan, tapi apa yang aku dapat, hanya hinaan dari mulut kamu dan siksaan dari tangan kamu. Aku lelah hidup seperti itu, Mas. Aku lelah, aku capek." Rara menangis setiap kali ingat betapa ia harus hidup menderita bersama suaminya.


"Bahkan ketika aku sakit, aku masih harus bangun pagi, berlari ke pasar agar aku bisa menghasilkan uang. Aku harus jadi kuli panggul, kamu tau bagaimana rasanya. Di saat kepala pusing, tubuh menggigil, tapi aku harus berdiri tegak dan tetap memikul barang mereka untuk bisa memberimu makan yang enak. Itupun, aku bahkan hanya di berikan sisa-sisa darimu, Mas. Bahkan kamu gak bertanya, apakah aku sudah makan atau belum. Kamu tau, bagaimana rasanya kepalaran, Mas. AKu kerja keras, tapi aku sendiri malah kelaparan. Kamu pernah merasakan itu? Kelaparan bahkan sampai kakimu bergetar karena tak punya tenaga. Aku pernah, Mas. Aku pernah merasakan itu semua." teriak Rara emosi.


"Kamu lihat baju aku yang ada di lemari, itu baju aku yang dulu, baju yang aku beli sebelum aku nikah denganmu. Dan kini semua baju itu warnanya sudah pudar karena seringkali aku pakai, apakah pernah kamu membelikan aku baju walaupun seharga sepuluh ribu? Pernahkah? Kamu punya gaji banyak mas, tapi kamu hanya memberikan aku seratus ribu sebulan, kamu fikir uang itu cukup buat beli beras dan lauk pauk yang enak, buat bayar listrik dan yang lainnya. Kamu fikir itu cukup?" bentak Rara yang sudah terlanjur emosi. Mendenar itu membuat Rian membeku. Ia tau, terlalu banyak dosa yang sudah ia lakukan, ia hanya bisa menangis menyesali semua yang terjadi.


"Aku bisa hidup sampai detik ini pun aku bersykur, Mas. Tapi aku gak yakin, aku bisa berumur panjang jika aku terus mempertahankan pernikahan kita yang sudah tak sehat ini. AKu tak ingin mati sia-sia di tanganmu. Untuk itu, ayo kita selesaikan ini baik-baik. Jika memang kamu mencintai aku, tolong lepaskan aku. Biarkan aku bahagia dengan kehidupan aku yang sekarang." tutur Rara dengan suara lemah. Mendengar itu membuat hati Rian seperti di tusuk ribuan jarum, tapi ia sadar, terlalu banyak kesalahan yang ia buat, dan ia tak mau jika Rara harus menderita karenanya.

__ADS_1


"Baiklah, Ra. Jika memang itu mau kamu, aku akan melepaskan kamu, aku gak akan mengganggu kehidupan kamu lagi," ucap Rian dengan suara yang lemah, bahkan setiap kata yang ia ucapkan ada getaran karena ia merahan rasa sakit di hatinya.


"Terima kasih, Mas. Sungguh saat ini aku gak ingin apa-apa lagi, kecuali berpisah darimu."


"Ya, aku tau. Aku akan melepaskan kamu, tapi bisahkan kamu memeluk aku untuk terakhir kalinya, setelah itu, aku janji, aku janji aku akan melepaskan kamu dan mentalak kamu saat ini juga," ucap Rian memohon.. Mendengar hal itu membuat Rara mengangguk pelan.


Rian tersenyum, ia berjalan mendekati Rara dan memeluk Rara dengan lembut. Ia mencium bau parfum Rara yang lembut.


"Setelah ini, berjanjilah sama aku, Ra. Kamu akan bahagia," ujar Rian sambil terus memeluk Rara.


"Aku janji, Mas. Aku akan bahagia,"


"Terima kasih. Sekali lagi, aku minta maaf. Maaf sudah menghancurkan hidup kamu, membuat kamu menderita dengan pernikahan yang kita jalani." Rara tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala.


Setelah itu, Rian pun melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Rara yang kini berubah menjadi wanita yang sangat cantik. Melihat hal itu, membuat Rian tersenyum kecut. Betapa bodohnya dia dulu, yang menyia-nyiakan Rara.


"Ra, aku mentalak kamu hari ini. Dan mulai detik ini, kamu bukan lagi istri aku." ucap Rian dengan hati yang hancur. Mendengar kata talak, Rara tidak sedih sama sekali, ia malah seperti lepas dari belenggu penderitaan.


"Terima kasih, Mas. Semoga setelah ini, hidup Mas Rian bahagia sama sepertiku. OH ya uang yang Mas kasih, sama aku di kasih ke Panti ASuhan, gak papa kan?" tanya Rara sebelum dirinya pergi.


"Enggak papa, itu hak kamu, Ra." Rian mengerti, jika Rara membahas uang kompensasi yang membuat dirinya keluar dari penjara.

__ADS_1


"Terima kasih, aku pulang dulu." Setelah itu, Rara pun segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana, sedangkan Rian, ia menjatuhkan dirinya di tanah, ia menangis tersedu-sedu, kini ia dan Rara sudah pisah secara agama dan bentar lagi ia dan Rara juga resmi berpisah secara negara.


Sungguh sakit rasanya, tapi ia ikhlas. Jika memang perpisahan ini bisa membuat Rara bahagia, maka Rian ikhlas menjalani ini semua. "Ra, semoga kamu bahagia, Ra."


__ADS_2