Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Bertemu Mantan Suami


__ADS_3

Tak terasa satu bulan sudah Rara menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi. Yah, setelah ia berhasil menjalani ospek selama seminggu lamanya, setelah itu, Rara mulai masuk kuliah dan untungnya dia dan Putri satu kelas, mereka sama-sama di kelas MN A. Sedangkan Nabila di MN B. Citra dan Mayang di Ak A. Jadi mereka berpencar tapi jika ada waktu, mereka akan menyempatkan diri untuk makan di kantin bersama. Jadwal kuliah mereka kadang tak sama, seperti Rara dan Putri, merkea masuk kuliah jam delapan pagi sampai jam setengah tiga sore. Sedangkan Nabila sendiri jam tujuh pagi sampai jam satu siang. Citra dan Mayang, jam setengah sembilan sampai jam dua. Hari senin masuk jam pelajaran pertama jam 9, hari selasa masuk kuliah pagi jam 7, hari Rabu jam setengah delapan pagi, hari kami jam delapan pagi dan hari jumat jam setengah sembilan. Jadi memang tak pasti, tak seperti saat masa-masa SD, SMP dan SMA. Yang jadwalnya sudah pasti. Kalau kuliah, jamnya pun bahkan bisa di majukan atau di mundurkan saat dosen berkhalangan. Dan sebagai mahasiswa/i hanya bisa menuruti sesuai kemauan dosen.


Rara juga kadang berangkat kuliah satu mobil dengan Rayyan, tapi juga kadang bawa mobil sendiri, jadi gak nentu. Tapi keseringan bawa mobil sendiri karena selain jadwal paginya berbeda, pulangnya juga berbeda, dan tak mungkin Rara menunggu Rayyan yang punya jadwal sampai sore.


Dan seperti hari ini, di hari Jumat, Rara membawa mobil sendiri karena Rayyan ada jadwal sampai jam lima sore, sebenarnya jadwal ngajar sampai jam empat sore, tapi setelah itu, ada rapat dosen sampai jam lima. Sedangkan Rara sendiri jadwalnya cuma sampai jam sebelas siang. Dan untungnya Rara membawa mobil sendiri sehingga ia bisa pulang lebih dulu.


Namun sayangnya, sesampai di jalan yang cukup sepi, mobilnya mogok dan itu membuat Rara kesal. Ia bisa aja menghubungi Rayyan, namun Rara tak ingin menyusahkan kakaknya. Akhirnya Rara mencoba untuk mencari bengkel terdekat, namun sayangnya saat ia bertanya ke beberapa orang yang ada di sana, bengkelnya cukup jauh dan itu membuat Rara merasa sedih dan juga was-was.


Rara hanya duduk di depan mobilnya sambil mencoba untuk mencari nomer bengkel terdekat lewat google, untungnya Rara menggunakan kaca mata hitam membuat ia tak terlalu malu dengan orang yang melihat ke arahnya.


Saat Rara tengah sibuk mencari nomer bengkel, tiba-tiba ia di kagetkan dengan seseoranga.


"Rara, kamu ngapain di sini?" tanya seseorang.


"Loh Mas Rian, ini mobil aku mogok," ujar Rara sambil berdiri di samping mobilnya.


"Oh, di sini jarang ada bengkel, sekitar lima ratus meter dari sini, baru ada," jawab Rian dengan baju yang sedikit kotor, di tangannya memegang kotak yang entah isinya apa.


"Mau aku bantu?" tanya Rian menawarkan.


"Emang kamu bisa?" tanya Rara.


"Bisa kok, kebetulan aku buka bengkel dan ini aku juga baru aja dari rumah pelanggan aku," jawab Rian sambil memperlihatkan kotak yang ia pegang. Yah, selain membuka bengkel di tempatnya, Rian juga menerima jasa online. Jadi kalau misal di tempatnya sepi, lalu ada yang menyewa lewat online, maka Rian akan menerimanya. Ia akan senang hati datang ke rumah pelanggannya dengan membawa beberapa alat yang cukup penting untuk ia pakai. Memang sudah hampir tiga Minggu ini, Rian mulai membuka usahanya. Setelah ia menyewa sebuah toko, ia juga sudah membeli banyak perlengkapan. Di toko bengkel itu juga ada Lala yang membantu dirinya menjaga toko sambil jualan.


"Iya sudah, aku minta tolong ya, bantuin mobil aku," pinta Rara.


"Pasti." Rian pun menaruh kotak itu di depan mobil RAra dan mulai mengeceknya.


"Kamu dari mana, Ra?" tanya Rian sambil fokus benerin mobil Rara.


"Pulang kuliah," jawab Rara jujur.


"Oh kamu kuliah?" tanya Rian kaget, tak menyangka jika mantan istrinya itu melanjutkan studinya.


"Iya, sudah sebulan ini aku masuk kuliah," jawab Rara.


"Syukurlah, aku senang karena kehidupan kamu saat ini sangat baik,"


"Iya. Aku juga bersyukur akan hal itu, aku juga senang melihat Mas Rian sudah punya usaha sendiri, semoga rame ya Mas."


"Aamiinn. Coba kamu hidupkan, La," suruh Rian.


"Iya."


Rara masuk ke dalam mobilnya dan mulai menghidupkan mobilnya dan alhamdulillah menyala.


Jujur melihat tampilan Rara saat ini membuat Rian sangat tercengang, Rara yang semakin cantik, penampilan semakin keren, membawa mobil yang harganya cukup mahal, di tambah kini Rara sudah menjdi mahasiswi, dan terlihat seperti kalangan atas membuat Rian merasa sedikit malu. Malu karena dulu ia pernah menyakiti Rara, tapi jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa bahagia melihat Rara bahagia seperti sekarang.


"Makasih ya, Mas. Berapa semuanya?" tanya Rara sambil membuka dompetnya, namun Rian langsung mencegahnya.


"Enggak usah, Ra. Aku lagian ikhlas bantuin kamu," ucap Rian, mana enak dia mengambil upah dari mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Loh gak boleh gitu, dong,"


"Beneran, Ra. Enggak usah," tolak Rian.


"Iya sudah gini aja, Mas pulang naik apa?" tanya Rara.


"Tadi sih aku naik ojek, tapi karena lihat ada mobil mogok, aku berhenti, eh gak taunya mobil kamu hehe,"


"TErus kamu pulang naik apa?" tanya Rara lagi.


"Nanti juga ada angkot lewat, atau ojek lewat, gampanglah,"


"Gimana kalau aku yang anter?" tanya Rara, yah, setidaknya ini sebagai balas budi. Karena Rian sudah membantu dirinya.


"Enggak usah, Ra. Lagian baju aku kotor gini, nanti mobil kamu kotor loh," ucap Rian.


"Kotor kan tinggal di bersihkan, Mas. Ayo, masuk."


"Tapi Ra ...." Rian masih ragu untuk masuk ke dalam mobil mantan istrinya itu.


"Ayo, gak papa. Kamu sudah bantuin aku, sekarang gantian, ayo," ajak Rara. AKhirnya Rian pun mengiyakan, ia membuka pintu belakang, karena tak enak kalau duduk di kursi depan.


"Loh duduk di depan aja, Mas. Kalau gini, berasa aku sopir," ujar Rara membuat Rian tak enak hati. Ia pun akhirnya membuka pintu depan dan duduk di samping Rara.


Sejujurnya, Rara merasa sedikit gugup. Tapi ia sudah memaafkan Rian dan sudah mengiklaskan masa lalunya, ia juga tak mau membenci orang terlalu dalam, ia ingin hidup bahagia tanpa menyimpan rasa benci, untuk itu, ia ingin damai dengan masa lalu dan berteman dengan Rian, mantan suaminya.


"Kamu kuliah di mana, Ra?" tanya Rian basa basi.


"Oh, semangat ya belajarnya, semoga nanti kamu jadi orang sukses," ujar Rian.


"Aamiin. Oh ya ini Mas di antar pulang ke rumah atau kemana?" tanya Rara bingung.


"Ke bengkel aku aja, kamu tau Jalan Xy kan?"


"Iya, tau."


"Nah bengkel aku gak jauh dari Toko Batako milik Pak Haji Dahlan, bahkan tepat di depannya" ucap Riian.


"Oh aku tau, Mas nywa toko itu?"


"Iya, soalnya tempatnya cukup strategis, jadi aku mencoba membuka usaha di sana,"


"Iya tempatnya emang cukup strategis, apalagi di sana juga jarang ada bengkel," ujar Rara.


"Ada kok, milik Bima,"


"Itu kan cuma bengkel sepeda motor, Mas," ucap Rara yang sedikit tau.


"Iya tapi sekarang bukan cuma bengkel sepeda motor tapi juga mobil, dan tokonya juga makin lebar, dan sudah punya banyak karyawan, tiap hari juga rame banget," ucap Rian yang membicarakan tentang bengkel Bima, dua ratus meter dari bengkel miliknya.


"Iya gak papa, rezeki sudah ada yang mengatur, siapa tau kelak bengkel Mas Rian jauh lebih ramai ketimbang Mas Bima," ucap Rara.

__ADS_1


"Iya semoga aja, Aaamiin."


"Kabar Ibu sama Lala gimana?" tanya Rara sambil sesekali melihat ke arah Rian lalu fokus lagi ke depan.


"Ibu sudah meninggal, Ra. Satu hari setelah aku mentalak kamu, Ibu meninggal,"


"Innalillahi, maaf ya Mas aku gak tau," ucap Rara, ia tak menyangka jika mantan mertuanya itu sudah tiada.


"Enggak papa, sekarang aku sudah mengikhlaskan semuanya, Ra. Aku ikhlas dengan apa yang aku jalani, sekarang Lala tinggal bareng aku di rumah kita. Soalnya rumah Ibu juga sudah di jual buat bayar hutang sama buat buka usaha. Awalnya sih rumah kita mau aku sewakan, tapi eman juga kalau di sewakan, nanti aku dan Lala malah bingung mau tinggal di mana, jadinya rumah itu tetap di pertahankan dan memilih uang penjualan rumah Ibu yang aku gunakan buat buka usaha, soalnya aku sudah gak di terima kerja sana sini, lamaranku di tolak hehe," ucap Rian yang masih menyebut rumah itu dengan rumah kita, karena Rara pernah tinggal di rumah itu dulu.


"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu dan Lala, Mas,"


"Makasih ya, Ra. Walaupun dosa aku banyak banget ke kamu, tapi kamu masih baik ke aku,"


"Aku cuma gak mau nyiimpen dendam, Mas. Aku ingin berdamai dengan masa lalu," balas Rara. Saat ia asyik mengobrol tiba-tiba Hpnya berbunyi, ada nama Rayyan di layar hpnya. Rara pun segera mengangkatnya dengan tangan kirinya.


"Iya, Mas," jawab Rara saat menerima panggilan dari Rayyan.


" .... "


"Aku belum sampai rumah,"


" .... "


"Tadi mobil aku mogok di jalan, untung ada Mas Rian yang bantu aku,"


" .... "


"Iya ini aku bareng Mas Rian, aku nganterin Mas Rian dulu ke bengkel terus pulang,"


" .... "


"Mas pulang jam lima, kan?"


" .... "


"Oh gitu, iya sudah gak papa. Tapi nanti malam makan di rumah kan?"


" .... "


"Okay, nanti aku masakin yang spesial buat Mas Ray,"


" .... "


"Iya, aku tutup dulu ya, soalnya masih nyetir ini."


Dan setelah itu, Rara pun menaruh Hpnya lagi setelah selesai telfonan dengan Rayyan.


Sedangkan Rian, ia hanya diam aja, ia tak bertanya tentang Mas Ray yang di sebut Rara tadi, karena dirinya sadar, bahwa ia gak punya hak untuk mengatur Rara. Ia hanya bagian dari masa lalunya dan Rara berhak bahagia dengan laki-laki yang sangat mencintainya. Tapi jika boleh jujur, hati Rian masih terasa hancur sampai sekarang, ia hanya mencoba untuk terlihat baik-baik aja, seakan-akan dirinya tak masalah dengan apa yang ia jalani. Padahal, kadang saat malam hari, Rian sering menangis sendirian di kamarnya sambil menyebut nama Rara.


Sesampai di depan bengkel, Rian pun segera turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih sudah di antar sampai bengkelnya. Rara pun hanya menganggukkan kepala, lalu ia segera pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2