
Setelah cukup lama menangis. Ibu Sarah pun mengajak Rara dan Rayyan pergi ke ruang keluarga. Di sana mereka menonton tivi sambil bercerita. Rara pun tak sungkan untuk menceritakan kehidupan dirinya sedari kecil sampai akhirnya ia menjalani rumah tangga. Bahkan ia tak malu saat mengatakan dengan terang-terangan jika ia hanya mendapatkan uang nafkah seratus ribu untuk satu bulan.
"Wah, dzolim banget suamimu itu, masak gaji dia sebulan lima juta, tapi kamu cuma di kasih seratus ribu sebulan untuk uang makan dan yang lainnya. Ia fikir uang seratus ribu itu banyak," ucap Rayyan merasa geram, bahkan ia ingin sekali meninju laki-laki yang bernama Rian itu.
Ibu Sarah yang mendengarnya pun ikut merasa geram, entah bagaimana ada laki-laki yang seperti itu. Berani menikahi seorang wanita tapi bukannya bertanggung jawab tapi malah menyengsarakannya.
"Aku juga gak tau, sejujurnya aku lelah dan ingin lepas dari semua ini," ungkap Rara dengan mimik sedih, ia bahkan selalu ingat dengan semua hinaan yang terlontar dari mulut suaminya. Dan kekerasan fisik yang selalu ia dapatkan jika ia melakukan kesalahan sekecil apapun itu.
"Kalau gitu, mulai sekarang, kamu harus menjadi pemberani. Kamu gak boleh tunduk lagi padanya. Ingat kamu sekarang punya aku, punya Mama. Kamu punya orang yang akan melindungi kamu. Kamu gak boleh jadi cewek penakut lagi, atau aku bantu kamu mengurus surat perceraian?" tanya Rayyan.
"Aku akan bertahan sampai aku menemukan bukti," balas Rara.
"Bukti apalagi, sudah jelas selama ini dia sudah mengabaikan kewajiban dirinya sebagai suami dan kepala rumah tangga."
"Tapi kan mengajukan cerai, juga butuh alasan yang cukup kuat dan bukti yang akurat," sahut Rara.
"Apa yang di ucapkan adik kamu benar, Ray. Kita gak boleh gegabah, kita harus mengumpulkan banyak bukti, sehingga ia tak bisa mengelak saat sidang perceraian nanti karena kita punya bukti yang cukup kuat buat dia menceraikan Rara."
"Baiklah, aku akan membantu kamu mencari bukti," ucap Rayyan dengan yakin.
"Emang Mas Ray, ingin melakukan apa?" tanya Rara.
__ADS_1
"Kamu gak perlu tau, tapi yang pasti bukti yang akan membuat dia merasa malu di saat persidangan nanti,"
"Baiklah aku percaya sama Mas Ray. Terima kasih, walaupun kita baru kenal, tapi Mas Ray memberikan aku perhatian lebih seperti ini,"
"Hay, kamu ngomong apa. Kita kan sudah sepakat, kalau kita ini adalah keluarga. Kamu adalah adik aku, dan sebagai seorang kakak, aku gak akan diam aja, melihat adikku menderita," ujar Rayyan sambil menghampiri Rara dan memeluknya. ENtahlah, kenapa ia bisa sesayang ini pada Rara, orang yang baru ia kenal.
"Oh ya, apa kamu gak mau kuliah, umur kamu kan baru delapan belas tahun," ujar Ibu Sarrah.
"Mau, tapi ..." Rara bingung harus menjelaskan kondisinya saat ini.
"Kamu gak perlu khawatir masalah biaya, biar itu jadi urusanku. Gimana kalau aku daftarkan kamu kuliah di Universitas tempat aku mengajar?" tanya Rayyan.
Rara yang emang sangat ingin untuk melanjutkan sekolah pun hanya bisa menganggukkan kepala. Ia bersyukur, Tuhan berbaik hati mempertemukan dirinya dengan Rayyan dan Ibu Sarah.
"Iya, Mas. Besok aku bawa saat mau ke sini."
"Iya sudah ini kan waktunya makan siang, Rara mau bantuin Mama masak?" tanya Ibu Sarah.
"Mau, Ma," ucap Rara penuh semangat. Sejujurnya lidahnya belum terbiasa memanggil Ibu Sarah dengan sebutan Mama. Hanya saja, melihat ketulusan Ibu Sarah yang sangat menginginkan seorang anak perempuan, terlebih dirinya yang juga merindukan sosok seorang Ibu, membuat Rara harus bisa dan terbiasa mulai saat ini dan kedepannya untuk terus memanggil Ibu Sarah dengan sebutan Mama.
"Iya, sudah. Ayo," ajak Ibu Sarah.
__ADS_1
"Aku gak usah ikut, kan?" tanya Rayyan.
"Ngapain ikut? Kamu kan laki-laki." ujar Ibu Sarah.
"Walaupun aku laki-laki, aku kan jago masak juga, Ma," jawab Rayyan cengengesan. Memang benar, Rayyan itu juga jago masak dan jago bikin kue sama seperti Ibu Sarah. Dulu saat masih kecil sampai remaja, seseskali Rayyan pergi ke dapur untuk membantu Mamanya memasak dan bikin kue.
"Iya ... Iya ... tapi biarkan saat ini, Mama dan putri Mama aja yang masak, kamu diam aja di sini. Nanti kalau selesai, baru kita makan bersama," ujar Ibu Sarah.
"Iya deh, masak yang enak ya," ucap Rayyan santai sambil tersenyum ke arah dua orang yang ia sayani. Rara yang melihatnya pun hanya tersenyum, ia tak menyangka walaupun Rayyan sudah berumur 27 tahun, tapi tingkahnya kadang seperti uang dua puluh tahunan. Ibu Sarah sendiri hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putranya itu.
Setelah kepergian Ibu Sarah dan Rara ke dapur, Rayyan memilih untuk pergi ke kamarnya dan menyelesaikan pekerjaannya. Ia tak ingin menunda pekerjaannya karena bisa menumpuk dan itu akan menjadikan dirinya malas, karena menunda-nunda pekerjaan.
Sedangkan di dapur, Rara dan Ibu Sarah memasak bersama, Ibu Sarah bagian menggoreng sedangkan Rara bagian memotong sayur dan membuat bumbunya.
"Mama senang akhirnya Mama mempunyai anak perempuan. Inilah yang Mama mau dari dulu, bisa masak bersama, berkebun bersama, jalan bersama, belanja bersama, dan ke salon pun bersama. Mama juga gak akan kesepian lagi karena ada kamu yang akan menemani Mama. Terima kasih ya, Nak. Sudah mau menjadi putri Mama."
"Rara yang terima kasih, Ma. Karena Mama sudah mau menjadi Mama aku. Aku bahagia akhirnya bisa merasakan kehangatan keluarga lagi,"
"Mulai sekarang, dan seterusnya. Kamu pasti akan merasakannya lagi. Kamu gak akan kesepian lagi, Sayang."
"Iya, Ma."
__ADS_1
Mereka terus mengobrol satu sama lain, Rara sangat bersyukur sekali bisa bertemu dengan Ibu Sarah yang sangat baik hati, baginya Ibu Sarah seperti malaikat yang datang di saat ia sudah putus asa dengan kehidupannya yang begitu menyakitkan.