
Bab 12
Sehabis sholat, mereka pergi ke resto di lantai dua. Rara yang belum pernah makan di resto pun merasa gugup, Rayyan yang melihat Rara seperti merasa tak nyaman pun hanya tersenyum geli. "Santai aja, Ra. Enggak usah gugup, anggap aja, kita lagi makan di warung-warung, hanya bedanya ini tempatnya lebih bagus dan ada menu yang bisa kita pilih, selebihnya mah sama aja," ucap Rayyan berusaha menenangkan Rara.
"Aku takut melakukan kesalahan, Mas,"
"Ngapain takut, anggap aja makan di warung atau makan di rumah, enggak usah pedulikan orang lain, okay," ujar Rayyan dan Rara pun menganggukkan kepala. Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan buku menu.
"Kamu mau makan apa, Ra?" tanya Rayyan yang kini tengah membuka buku menu.
"Terserah Mas Ray aja sih, kalau aku yang penting halal, semua masuk," jawab Rara tersenyum malu.
"Baiklah, tapi kamu gak ada alergi apapun kan?" tanya Rayyan.
"Ada," sahut Rara.
"Apa?" tanya Rayyan.
"Udang, selebihnya aku aman,"
"Baiklah. Mama mau mesen apa?" tanya Rayyan sambil melihat ke arah Mamanya.
"Seperti biasa aja deh, minumannya juga jus alpukat aja,"
"Oke, kamu Ra, minumannya apa?"
"Jus melon adakah?"
"Ada dong,"
"Iya sudah jus melon aja," ucap Rara.
Lalu, Rayyan pun mengucapkan menu apa aja yang ia pesan sedangkan pelayan itu mencatatnya di buku kecil yang ia pegang.
"Baik, Pak. Tunggu tiga puluh menit lagi, makanan akan siap di antarkan," ujar pelayan itu sopan sambil mengambil buku menu itu lagi dari tangan Rayyan.
"Baiklah."
Dan setelah itu, pelayan itu pun pergi membawa buku menu. Sambil menunggu makanan, Rayyan pun mengajak Rara mengobrol.
__ADS_1
"Ra, nomermu berapa?" tanya Rayyan yang kini tengah memegang Hp, ia sudah bersiap untuk mencatat nomer Rara dan menyimpannya.
"A ... aku gak punya Hp, Mas,"
"Apa?" Rayyan sangat kaget mendengar Rara yang tak punya handphone. Padahal di zaman sekarang, anak kecil pun sudah punya.
"Astaga, iya sudah kamu tunggu bentar ya." Tanpa menunggu persetujuan dari Rara, Rayyan langsung bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari sana. Karena tadi, ia melihat ada toko Hp, mumpung dirinya masih ada di Mall. Dan toko Hp ada di lantai atas, ia pun segera menaiki eskalator dari pada harus pakai tangga untuk mempercepat dirinya sampai ke lantai atas.
Tanpa mau buang-buang waktu, ia langsung menuju toko Hp dan membeli Hp yang sama dengan dirinya lengkap dengan kartunya. Tak lupa, ia juga membeli tiga kamera kecil yang nantinya akan terhubung dengan hpnya. Setelah mendapatkannya dan mencoba Hp serta kameranya, barulah ia segera membayarnya dengan kartu yang ia ambil dari dompetnya. Lalu setelah itu, ia pun segera pergi dari sana.
Tak butuh waktu lama kini ia pun sudah duduk kembali ke tempatnya.
"Dari mana sih, Mas?" tanya Rara penasaran.
"Ini aku belikan Hp buat kamu, di sini sudah ada nomernya dan sudah aku aktifkan juga barusan," ujar Rayyan sambil memberikan Hp itu ke Rara.
"Ya Allah, Mas. Hp ini pasti mahal kan?"
"Enggak papa, biar kembar sama kayak punyaku. Kamu bisa kan makeknya?" tanya Rayyan.
Rara pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Hhh kamu yakin?" tanya Rayyan dan Rara pun menganggukkan kepala.
"Tapi kan aku harus pulang, Mas,"
"Tapi ini sudah malam, biasanya suamimu pulang jam berapa?" tanya Rayyan.
"Gak nentu, Mas. Kadang sore, tengah malam bahkan kadang pagi baru pulang. Tapi tadi pagi, dia sudah bilang, kalau malam ini dia gak pulang," jawab Rara jujur.
"Iya sudah kalau gitu, kamu nginep aja di rumah aku," ujar Rayyan.
"Iya, Sayang. Kamu nginep aja ya di rumah Mama," rayu Ibu Sarrah.
"Enggak bisa, Ma. Aku takut ketahuan, ini aja aku mau pulang malam aja rasanya takut," ujar Rara.
"Iya sudah, nanti biar dari sini kamu langsung pulang aja, gimana. Besok kamu janji akan datang lagi kan ke rumah Mama,"
"Iya, Ma. Aku janji."
__ADS_1
"Iya sudah, nanti masalah belanjaan kamu yang barusan, akan Mama taruh di kamar kamu ya. Biar besok kamu yang beresin sendiri, kalau Mama yang beresin, takutnya malah gak cocok,"
"Iya, Ma. Makasih ya, Ma."
"Sama-sama, Sayang."
"Belajar Hpnya besok juga kan, tapi besok aku ada kelas. Gimana kalau besok kamu minta belajar ke Mama dulu, nanti dari kampus, aku yang akan mengajari kamu," ujar Rayyan.
"Iya, Mas."
"Dan jangan lupa, surat-surat penting kamu, besok bawa juga ya ke rumah, biar aku segera mendaftarkan kuliah kamu," lanjut Rayyan mengingatkan.
"Iya, Mas. Besok pasti aku bawa," ucap Rara dengan mantap. Melihat hal itu, Rayyan pun hanya tersenyum.
Tak lama kemudian, makanan pun datang. Mereka pun makan sambil sesekali bercanda. Rayyan yang melihat Rara sedikit kesulitan makan makanan yang ia pesan pun, dengan hati-hati, Rayyan mengajari Rara makan dengan benar, agar terlihat elegant. Awalnya Rara pun merasa malu, namun ia sadar, ia harus bisa menguasai bagaimana makan dengan benar dan bersikap dengan benar, agar ia tak membuat Mama dan kakak angkatnya itu malu.
Untungnya Rara yang cukup cerdas, langsung mengerti saat Rayyan mengajarinya, walaupun hanya sekali, namun penjelasan yang cukup detail apalagi langsung di praktikkan membuat Rara mudah untuk mengikuti apa yang di lakukan oleh Rayyan. Melihat Rara yang mulai bisa makan dengan benar, RAyyan pun tersenyum. Walaupun terlihat sedikit kaku, tapi tak apa. Lama kelamaan Rara akan terbiasa. Sebenarnya Rayyan sendiri tak masalah, bagaimana cara Rara makan. Tapi setelah ia berfikir, masa depan Rara. Ia pun mencoba mengajarinya, karena ini demi Rara sendiri. Karena bisa jadi, saat ia kuliah nanti, ia akan bertemu dengan teman yang memang sudah di ajari makan dengan benar sejak kecil. Atau saat ada acara, dan ia harus membawa Rara, setidaknya Rara bisa bersikap dengan benar dan tak akan membuat ia dan dirinya malu nantinya.
Setelah selesai makan, Rayyan segera membayar tagihannya.
"Ayo pulang ini sudah jam tujuh malam," ajak Rayyan, Rara pun menganggukkan kepala.
"Ayo," ucap Ibu Sarrah. Namun saaat mau keluar dari resto itu, Rara melihat suaminya yang tengah bergandengan mesra dengan cewek lain dan hendak masuk ke resto. Rara pun segera bersembunyi di belakang punggung Rayyan yang cukup lebar itu.
"Kenapa, Ra?" tanya Rayyan melihat Rara yang tengah bersembunyi.
"Hust," ucap Rara sambil menaruh jari telunjuknya ke bibirnya.
"Ada apa?" tanya Ibu Sarrah dengan suara rendah.
"Ada suami aku, Ma," jawab Rara.
"Mana, Ra?" tanya Rayyan yang penasaran dengan suami Rara.
"Itu yang mau jalan ke sini," ujar Rara tanpa berani menunjuk ke arah suaminya.
"Yang mana?" tanya Rayyan bingung.
"Yang menggandeng cewek seksi," jawab Rara pelan, namun masih cukup bisa di dengar oleh Rayyan dan Ibu Sarrah.
__ADS_1
"Astaugfirullah, jadi itu suamimu," ucap Rayyan yang menahan rasa geram, bagaimana ia tidak geram, ia melihat suami Rara yang bergandengan mesra bahkan sesekali ia mencium wanita yang bergelayut manja di lengannya.
"Sudah, ayo pulang dulu. Kita fikirkan besok, jangan sampai kamu ketahuan olehnya, Ra," bisik Ibu Sarrah. Rara pun menganggukkan kepala. Lalu mereka pun segera pergi dari sana, bahkan di saat mereka salipan, Rian tak meresponnya karena ia tak tau jika kini Rara tengah berjalan di sampingnya bersama seorang laki-laki dan wanita paruh baya. Rian terlalu fokus dengan wanita di sampingnya, hingga ia tak menyadari jika ada istrinya di dekatnya.