Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Penyesalan Emang Selalu Ada Di Belakang


__ADS_3

Dua hari kemudian akhirnya Rian pun benar-benar bebas, karena Rara sudah mencabut kembali tuntutanyya. Dan awalnya Rian masih keberatan dengan uang tiga ratus juta itu, tapi setelah pengacara mengatakan uang itu di berikan untuk Rara, Rian pun akhirnya mengiklaskannya. Dan kini Rian bisa pulang kembali ke rumahnya, ia akan fokus untuk mencari Rara dan mencari pekerjaan. Karena kini uangnya benar-benar sudah terkuras habis buat bayar pengacara dan juga uang untuk menebus dirinya.


"Kak, kira-kira uang tiga ratus juta itu, apa sampai di tangan Kak Rara?" tanya Lala, saat ini mereka tengah berada di rumah Rian, dan hanya berdua karena Ibu Meri ada di rumahnya sendiri. Walaupun pusing, Ibu Meri masih membuka toko sembako miliknya agar tetap bisa menghasilkan uang walaupun tak seberapa, apalagi ia tak bisa mengandalkan Rian lagi yang kini tengah jadi pengangguran.


"Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu, La?"


"Ya kalau uang itu beneran sampai ke tangan Kak Rara, bukankah itu berarti pengacara kita tau, di mana Rara berada?" tanya Lala lagi.


"Dia gak tau, La. Aku sudah nanya berkali-kali, dia hanya bertemu dengan pengacara Rara aja,"


"Tapi dari mana Kak Rara dapat uang buat sewa pengacara, Kak?"


"Aku gak tau, La. Mungkin selama ini, diam-diam, Rara menyimpan sedikit uang hasil kerja kerasnya. Lagian kan dengan uang tiga ratus juta itu, Rara bisa bayar pengacara itu dan biaya hidupnya di luar sana,"


"Iya juga sih, Kak. Tapi kira-kira kemana Rara ya? Ada di mana dia sekarang?"


"Nah itu yang aku gak tau," ujar Rian dengan raut wajah kusut.

__ADS_1


"Terus rencana Kakak apa sekarang?"


"Aku besok mau cari kerja dulu, sambil cari keberadaan Rara,"


"Tapi apa ada yang mau menerima Kakak kerja di perusahaan?"


"Walaupun gak di perusahaan juga gak papa, La. Yang penting dapat kerja,"


"Terus kalau gak dapat?"


"Ya usaha sendiri dong. Kita gak boleh putus asa, seminggu ini aku cari kerja, jika dalam seminggu aku juga belum dapat kerjaan, baru aku buka usaha,"


"Aku akan cari pinjaman dulu?"


"Mau pinjam ke siapa, apa masih ada teman yang mau bantu Kak Rian setelah tau apa yang terjadi, bahkan selama ini aku setiap kali ketemu tetangga, saudara, aku seringkali di cemoh, apalagi Kak Rian, yang bahkan sempat viral dan wajahnya di mana-mana"


"TErus menurutmu gimana?" tanya Rian yang sudah putus asa.

__ADS_1


"Gimana kalau rumah ini di sewa aja, Kak. Kalau di jual kan eman. Kita sewa aja setahun dua tahun, uangnya buat buka modal usaha," jawab Rara penuh semangat.


"Boleh juga ide kamu," ucap Rian tersenyum.


"Iya sudah, ini sudah sore, aku pulang dulu ya, Kak. Kasihan Ibu."


"Baiklah, kamu hati-hati ya. Besok pagi aku ke sana,"


"Iya, Kak."


Dan setelah itu, Lala pun segera pulang karena ia tak bisa meninggalkan ibunya terlalu lama, takut jika ibunya kenapa-napa. Setelah kepergian Lala, Rian langsung menutup pintunya dari dalam, ia tak mau mendengar hinaan dari tetangga kanan kirinya, ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan hatinya.


Setelah menutup pintu, ia berjalan ke arah kamar Rara yang cukup sempit tak seperti kamar pertama, kamar yang dulu menjadi kamar miliknya dan kamar Rara.


"Ra, kamu di mana?" Rian memperhatikan baju Rara yang masih di posisi semula dan tak berubah, bahkan saat ia melihat baju Rara yang di lemari pun juga masih utuh. Baju yang hanya sedikit sekali, yang Rara beli jauh sebelum menikah dengannya. Baju yang sudah pudar warnanya dan sudah tak layak pakai, namun tetap harus di pakai oleh Rara karena tak ada pilihan lagi.


"Maafin aku, Ra. Maaf sudah jadi suami yang buruk sama kamu, di saat aku punya gaji besar, bahkan aku jangankan buat beliin baju untuk kamu, untuk makan pun, malah kamu yang berjuang ngasih aku makan. Padahal aku punya gaji yang cukup besar, gaji yang bisa membuat kamu bisa beli apa aja, nyatanya aku malah memilih memberikan uang itu untuk adik, ibu dan untuk wanita di luar sana dan untuk mentraktir teman-temanku. Maafin aku, seharusnya kamulah yang jadi prioritas aku, bukan yang lain. Aku menyesal, Ra. Aku mohon pulanglah, aku merindukan kamu. Aku akan bersimpuh di kaki kamu, asal kamu mau maafin semua kesalahan aku." Rian menangis di kamar Rara.

__ADS_1


Lagi-lagi ia merasa dadanya begitu sesak setiap kali ia ingat perlakuan dirinya terhadap Rara. "Ra, aku kangen kamu, Ra. Ya Tuhan ... kenapa aku harus merasakan sakit dan kerinduan yang begitu mendalam setelah Rara pergi. Kamu di mana, Ra. PUlanglah, Ra. Aku menunggu kamu di sini." Rian menangis sambil memeluk kedua lututnya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah tega menyakiti wanita yang selama ini sudah dengan tulus ikhlas merawat dirinya dan berusaha melayaninya dengan baik. Kini, wanita itu sudah pergi dan entah ada di mana sekarang.


__ADS_2