Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Ungkapan Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Keesokan harinya, Rara bangun pagi dan memasak kesukaan Rayyan. Dan tepat jam enam pagi, RAra sudah selesai masak bahkan ia juga sudah selesai menyuci peralatan yang tadi dipakai untuk masak. Lalu setelah itu, Rara segera menyapu dan mengepel, terakhir ia mencuci baju dirinya dan juga baju milik Rayyan dan menjemurnya di tempat biasa. Saat ia melihat jam menunjukkan pukul tujuh. Rara segera masuk ke dalam kamarnya. Ia harus bersiap-siap sekolah atau ia akan telat di jam pertamanya.


Tepat jam tujuh, Rara sudah selesai semuanya, tinggal makan lalu berangkat kuliah bareng Rayyan. Tapi bentar, kenapa pintu Rayyan belum juga di buka. Karena merasa khawatir, Rara pun segera pergi ke kamar Rayyan, untungnya pintunya tak di kunci sehingga Rara bisa masuk. Namun sebellumnya ia mengetuk pintu lebih dulu dan memanggil Rayyan, tapi karena tak ada sahutan, barulah Rara masuk ke kamar Rayyan dan ia melihat Rayyan yang masih tidur.


"Tumben jam segini belum juga tidur?" tanyanya. Ia menghampiri Rayyan dan ingin membangunkannya. Namun tanpa sengaja, Rara menyentuh kulit Rayyan yang panas.


"Astaga, Mas Ray sakit," ucap Rara panik.


"Mas, Mas Ray kenapa?" tanya Rara sambil berusaha membangunkan Rayyan.


"Pusing, Ra. Biarkan aku tidur dulu ya bentar," ucap Rayyan dengan mata yang masih tertutup.


"Tapi Mas, Mas Ray makan dulu ya bentar, lalu minum obat, terus tidur. Bentar aku buatkan bubur dulu." Rara segera pergi dari sana, untuk membuatkan bubur dan teh jahe untuk Rayyan. Rara membuatnya dengan cepat, karena ia tak bisa meninggalkan RAyyan terlalu lama.


Setelah membuat bubur dan teh jahe, tak lupa ia pergi ke lemari, di mana di sana menyimpak banyak stok obat. Dan untungnya ada paracetamol yang ia butuhkan. Setelah itu, ia pun membawa ke kamar Rayyan..


"Mas, ayo bangun dulu. Makan bubur dulu, baru minum obat," ucap Rara.


"Pusing banget, Ra. Enggak kuat aku," ucap Rayyan yang memang tak tahan dengan sakit kepalanya, bahkan untuk buka mata aja rasanya susah banget, seperti di kasih lem. Tubuhnya juga terasa sakit semua. Ini semua karena beberapa hari ini, ia tidak memperhatikan makanannya dan kurang tidur. Bahkan ia kadang tidur jam dua pagi, jam tiga pagi, bahkan kadang jam empat shubuh baru tidur. Dan hari ini, tubuhnya benar-benar lelah dan tak bisa di ajak kerjasama lagi. Padahal masih ada pekerjaan yang harus ia kerjakan.


"Ya sudah, gak usah bangun. Aku suapin ya, gak perlu buka mata, yang penting Mas makan aja dulu, mau?" tanya Rara.


"Makan nanti aja ya, aku mau tidur dulu," tolak Rayyan, yang memang hanya butuh tidur aja. Lagian perutnya juga belum terasa lapar.


"Gak boleh, harus makan sekarang. Ayo," paksa Rara. Rayyan pun menganggukkan kepala, melihat hal itu, Rara merasa senang. Ia pun menyuapi Rayyan dengan telaten. Hingga di suapan ke enam, Rayyan menyerah karena perutnya yang terasa bergejolak.


Rara pun tak memaksa lagi, ia menaruh bubur itu di meja sampig tepat tidur. Minum jahe dulu ya, terus minum obat," ucap Rara.


"Gak baik Ra, minum jahe sama obat, gak bagus buat pencernaan, pakai air putih biasa aja," ujar Rayyan, ia berusaha membuka matanya dan melihat Rara yang sudah rapi.


"Baiklah, aku ambilkan air dulu ya."

__ADS_1


"Di meja kerjaku ada air aqua, ambil itu aja,"


"Oh, okay." Rara langsung mengambil air aqua di meja kerja Rayyan lalu memberikan ke Rayyan. WAlaupun agak susah, Rayyan tetap mengambilnya dan minum obat paracetamol yang Rara berikan.


"Kamu sudah berangkat kulliah?" tanya Rayyan setelah ia selesai minum obat, ia menaruh air aqua itu di meja.


"Tadinya sih iya, tapi gak jadi."


"Kenapa?"


"Aku mau nemenin Mas Ray aja,"


"Berangkat aja ga papa, lagian habis ini aku mau tidur."


"No, aku gak mau. Aku akan tetap di sini, untuk jaga Mas Ray," ucap RAra yang bersikeras. Rayyan hanya geleng-geleng kepala.


"Iya sudah, jangan lupa izin ke dosen kamu hari ini. Dan jika ada tugas, kirim via email ke dosennya, jangan sampai lupa lagi. Nanti kamu gak bisa lulus tepat waktu,"


"Iya, Mas."


Rara menganggukkkan kepala, ia membawa lagi, sisa bubur itu dan teh jahe yang bahkan belum di sentuh sama sekali. Ia membawanya dan menaruhnya di meja makan.


"Aku makan dulu deh," ucap Rara. Ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Ia menikmati makanan yang ia masak itu. Setelah selesai, ia menutup kembali lauk pauknya agar bisa di makan siangnya. Tak lupa, Rara minum teh jahe itu agar tak terbuang sia-sia. Selesai makan, ia melihat bubur yang masih terlihat utuh itu karena cuma di makan sedikit.


"Inii bubur di buang apa aku makan aja ya?" tanya Rara pada dirinya sendiri. Setelah berfikir sejenak, akhirnya ia mengabil sendok lagi dan menghabiskan bubur itu.


Dan setelah itu, ia pun segera mencuci piring, gelas dan mangkok tempat bubur tadi. Setelah selesai semua dan tak ada yang kotor lagi, ia pun mengambil Hpnya dan mengirim pesan ke Putri untuk minta tolong di buatkan surat ketidak hadirannya.


"Put, aku gak masuk hari ini. Tolong buatkan surat ya," ketiknya. Tak lama kemudian, Putri pun membalasnya karena memang lagi online.


"Pantas aku tunggu dari tadi gak datang-datang. Okay, tapi kamu kenapa gak masuk, sekarang banyak tugas loh,"

__ADS_1


"Mas Ray sakit, aku gak bsia ninggalin dia gitu aja, masalah tugas, nanti aku kirim via email ke dosennya langsung."


"Baiklah. Nanti juga catatannya aku kirim lewat foto biar bisa kamu pelajari."


"Siap, makasih ya."


"Iya. Oh buku yang itu, masih ada sama aku, tadinya mau aku kembalikan sekarang ke kamu, tapi kamunya malah gak masuk."


"Simpan kamu aja, nanti kalau sudah masuk, aku ambil."


"Iya udah deh kalau gitu, semoga kakakmu cepat sembuh ya."


"Iya. Makasih doanya."


"Sama-sama."


Setelah selesai chatan dengan Putri, Rara masuk ke dalam kamarnya dan mengganti bajunya dengan baju rumahan. Daster anak remaja, yang membuat dirinya lebih nyaman pakai itu ketimbang pakai yang lainnya. ENtahlah kenapa jiwa emak-emak menempel seperti ini, apakah karena kini ia sudah jadi janda. Tapi jika di perhatikan, Rara malah terlihat seperti anak SMP, wajah yang imut dan cantik lalu menggunakakn daster kuning membuat aura kecantikannya malah semakin terlihat.


Setelah menggantinya dengan daster, Rara mengambil Hp dan laptopnya lalu membawanya ke kamar Rayyan. Ia ingin mengerjakan di kamar Ray sambil menjaga Rayyan yang tengah sakit itu.


Rara duduk di kursi yang tak jauh dari Ray, ia menghadap ke arah jendela yang langsung mengarah ke taman. Ia juga mematikan AC di kamar kakaknya itu dan menggunakan kipas biasa aja, ia juga membuka jendela sehingga angin sejuk dari luar masuk ke dalam kamar. Ia pun mulai membuka laptop dan melanjutkan cerita yang belum selesai tadi malam. Namun sebelum itu, ia mengirim file tugasnya ke email sang dosen yang mengajar hari ini. Baru setelah itu lanjut buat cerita.


Namun baru setengah jam ia buat cerita, tiba-tiba ia mendengar suara Ray. Rara pun langsung menghampirinya.


"Ra, jangan tinggalin aku, Ra. Aku mohon, aku sayang kamu, Ra. Jangan balikan lagi sama mantan suamimu, Ra. Aku sayang kamu, aku gak mau kita pisah, Ra. Tolong jangan tinggalin aku, RA. Aku mohon," ucap RAyyan dengan suara kecilnya, namun cukup terdengar jelas di telinga Rara. Bahkan ia melihat Rayyaln menangis dalam tidurnya.


"Mas, bangun Mas. Mas Ray kenapa?" tanya Rara, ia menghapus air mata Rayyan.


"Ra, jangan tinggalin aku Ra." Rayyan masih dengan mata terpejamnya terus memohon dengan suara yang lirih hingga membuat hati Rara tersentuh. Bahkan keringat mulai membanjiri tubuh Rayyan, entah Rayyan mimpi apa, sehingga sampai mengigau seperti ini.


"Mas, kamu kenapa, Mas. Bangunlah, Mas. Aku gak akan ninggalin kamu," bisik Rara di telinga Rayyan. Dan baru setelah itu, Rayyan tak lagi mengigau dan tidur dengan tenang.

__ADS_1


"Mas, apakah kamu mencintai aku? Apakah kamu menyayangi aku sebagai wanita, bukan sebagai adik kamu? Jika memang iya, aku gak akan nolak kasih sayang itu, Mas. Karena aku pun juga mulai menyukai dan menyayangi kamu sebagai laki-laki bukan sebagai kakakku," ucap Rara tanpa sadar, sedangkan Rayyan yang sudah bangun dan masih memejamkan mata itu, mulai tersenyum. Awalnya ia mimpi Rara balikan lagi dengan mantan suaminya, hingga akhirnay ia mendengar bisikan yang menentramkan hatinya dan setelah itu, ia pun bangun. Namun belum juga buka mata, ia malah mendengar pengakuan dari Rara.


"Tidurlah, Mas. Semoga kamu mimpi indah, dan tak lagi mimpi buruk. Percayalah, jika Tuhan emang menakdirkan kamu jodohku, maka aku gak akan kemana-mana. Aku akan selalu ada di sini, untuk kamu," Rara memberanikan diri untuk mencium pipi Rayyan dan setelah itu, ia pun kembali ke tempat duduknya dan menerukan membuat cerita yang tadi tertunda. Sedangkan Rayyan, ia merasa girang bukan main, ia tak menyangka jika kasih sayangnya tak bertepuk sebelah tangan. Ia berharap, ia bisa memililki hati Rara seutuhnya. Dan setelah itu, ia akan mengatakan perasaan ini kepada kedua orang tuanya dan mengatakan yang sejujurnya bahwa ia menginginkan Rara sebagai calon istri masa depannya, bukan sebagai adik angkatnya.


__ADS_2