
Keesokan harinya, Rayyan berangkat mengajar, sedangkan Rara, ia di ajak pergi jalan-jalan bareng Mama Sarrah dan Papa Irvan. AWalnya Rara gak mau karena takut menganggu mereka berdua, apalagi mereka sudah berhari-hari tak bertemu, tentu mereka ingin menghabiskan waktu bersama, namun Mama Sarrah malah memaksa Rara untuk ikut, biar Rara gak kesepian di rumah dan lagian biar sekalian ribuan. Di tambah Papa Irvan yang juga memaksa Rara untuk ikut bareng mereka, akhirnya mau gak mau Rara pun pergi bareng mereka ke resto, buat makan bertiga, lalu ke taman, ke Mall, dan terakhir jalan-jalan keliling kota. Rara yang duduk di belakang hanya sibuk dengan hpnya, ia tak mau menjadi penganggu, ia hanya menjawab jika Mama dan Papa angkatnya itu sedang bertany sesuatu. Sungguh Rara merasa canggung berada di antara mereka, ingin rasanya ia memilih untuk tetap diam di rumah tapi ia pun tak punya kuasa untuk menolak keinginan mereka, dan lagi Rara mengerti mungkin mereka tak ingin Rara bosen di rumah terus. Sebenarnya Rara pun senang bisa jalan-jalan kayak gini, hanya saja ia merasa canggung apalagi kalau mereka bermesraan membuat pipi Rara ikut merona karena keintiman mereka.
Namun walaupun begitu, Rara merasa bahagia melihat betapa besar rasa sayang mereka. Walaupun umur pernikahan sudah puluhan tahun, namun mereka tetap harmonis bahkan seperti pengantin baru, mungkin karena jarang bertemu, jadi sekalipun bertemu, selalu nempel dan terlihat sangat romantis sekali.
Di saat Rara tengah jalan-jalan bersama Mama dan Papa angkatnya berbeda dengan Rian yang kini tengah frustasi. Bagaimana tidak, tadi ia sudah bicara dengan pengacaranya, dan ia bisa bebas jika ia bayar uang sekitar 300 juta, dapat dari mana ia uang sebanyak itu. Mendengar hal itu membuat Rian benar-benar frustasi, ia ingin segera keluar, tapi uang 300 juta juta tidak sedikit, tadinya Rian berfikir, ia hanya akan mengeluarkan uang sekitar seratus jutaan ternyata malah berkali kali lipatnya.
"Kak, gimana?" tanya Lala, saat ini ia tengah ada di ruang tunggu, Ibu Meri gak bisa ikut karena tiba-tiba ia merasa pusing. Sehingga Lala ia berangkat sendiri menemui Rian.
"Entahlah, La. Aku bingung," jawab Rian sambil mengusap rambutnya secara kasar.
"Kalau menurut aku, jual aja mobilnya dan pakai juga uang yang ada di brankas, terus kan masih ada sepeda motor, itu jugal juga. Dan barang-barang apa aja yang bisa di jual, mending jual dulu. Nanti kalau ada uang baru beli lagi. Toh uang bisa di cari, yang penting kakak bisa bebas dari sini," ucap Lala yang tak tega jika kakaknya terlalu lama di penjara.
"Baiklah, kamu urus aja semuanya ya. Kakak minta tolong," ucap Rian.
"Iya, Kak. Setelah dari sini, aku akan langsung mencari seseorang yang mau membeli mobil kakak dan yang lainnya,"
"Makasih ya, Dek. Kakak gak tau kalau gak ada kamu, La," ujar Rian menitikkan air mata.
__ADS_1
"Maafin aku, Kak. Kakak kayak gini juga karena aku, aku terlalu ikut campur urusan Kakak. Aku selalu minta uang sama Kakak, padahal aku tau, Kak Rara jauh lebih berhak atas gaji Kakak, bukan aku. Tapi aku seperti gak rela, jika uang Kak Rian di nikmati oleh orang lain. Maafin aku, karena aku sering memfitnah Kak Rara dan menjelekkan Kak Rara, sehingga Kak Rian mendengarkan omonganku dan menyakiti Kak Rara. Aku menyesal, Kak. Aku sangat menyesal, seharusnya aku gak boleh gitu, seharusnya aku seneng karena aku punya kakak ipar yang baik, seharusnya aku seneng nambah saudara, tapi rasa iri aku membuat aku gelap mata dan ingin menguasai harta Kakak. Maafin Ibu juga, karen Ibu juga sama kayak aku yang gak rela uang kakak di nikmati oleh istri Kakak," Lala menangis menyesali semua yang terjadi. Rian pun juga membenarkan, bahwa ini bukan sepenuhnya salah dirinya, tapi Lala dan Ibunya juga yang membuat dirinya menjadi laki-laki dan suami yang pengecut. Tapi semuanya sudah terlanjur, ia tak bisa mengembalikan waktu, ia gak bisa memutar waktu. Yang bisa ia lakukan hanya menebus dosa yang sudah ia lakukan terhadap Rara.
"Sudahlah, Dek. Gak usah disesali. Toh sudah terjadi, yang penting jadikan ini pelajaran agar ke depannya tak lagi melakukan hal seperti ini," sahut Rian.
"Iya, Kak." Mereka berpelukan, menangis bersama menyesali dosa-dosa mereka.
"Iya sudah aku pulang dulu ya Kak, aku usahakan Lusa kakak sudah bebas dari sini,"
"Makasih ya, aku titip Ibu. Bawa Ibu ke dokter juga agar di periksa, aku gak mau Ibu kenapa-napa,"
"Tadi sebelum ke sini, sudah aku aja Kak, tapi Ibu gak mau, katanya cuma pusing aja, nanti sudah sembuh minum obat,"
"Entahlah, Kak. Aku juga gak tau."
"OH ya gimana, apa kamu sudah tau keberadaan Rara?"
"Belum, Kak. Aku sudah mencari Kak Rara bahkan aku juga pergi ke pasar, karena aku fikir Kak Rara masih jadi kuli panggul di sana, tapi ternyata sudah beberapa hari Kak Rara gak ke sana lagi. Aku juga sudah tanya ke tetangga, tapi mereka juga bilang gak tau, Kak Rara bahkan sudah beberapa hari gak kelihatan,"
__ADS_1
"Apakah Rara beneran pergi dari aku ya, La?"
"Aku gak bisa jawab, Kak. Kita berdoa aja, semoga dimana pun Kak Rara berada, dia selalu baik-baik aja."
"Aku jadi gak sabar untuk segera keluar dan mencari sendiri keberadaan Rara,"
"Sabar ya, Kak. Kalau gitu aku pulang dulu, agar aku bisa segera menjual mobil Kakak dan yang lainnya."
"Iya, kamu hati-hati ya di jalan."
"Iya, Kak."
Dan setelah itu, Lala pun pergi dari sana. Sedangkan Rian, ia kembali ke dalam sel tahanan. WAlaupun baru beberapa hari, namun berat badan Rian turun cukup drastis, mungkin karena tempatnya gak enak, dan ia gak terbiasa tidur di sell tahanan bersama beberapa teman yang baru ia kenal. Rian bahkan hanya bisa tidur sambil duduk dan bersender ke tembok. Itupun hanya hitungan menit, karena setelah itu, ia tak bisa tidur lagi. Sejak kemarin, Rian bahkan beberapa kali menangis setiap kali ia mengingat betapa ia sudah menyakiti Rara selama ini. Menyakiti fisik dan juga mental.
Setiap kalli ingat itu, dadanya terasa begitu sesak, Rian bahkan tak peduli jika teman satu selnya menatap dirinya dengan iba. Ia tak malu untuk memperlihatkan betapa rapuhnya dia saat ini, betapa ia sangat menyesali apa yang sudah terjadi. Rian bahkan sulit untuk menelan makanannya. Ia selalu ingat, selama ini ia makan dari hasil jerih payah Rara. Ia bisa makan enak karena perjuangan dan pengorbanan Rara selama ini. Bahkan Rara sendiri yang bekerja keras hanya makan nasi dan garam, karena ia selalu menghabiskan lauk pauknya.
Padahal Rara lah yang bekerja mencari uang, Rara juga yang memasak, tapi dengan egoisnya ia menghabiskan itu semua sendiri dan hanya menyisakan Rara sisa makanannya. Ia tak peduli Rara sudah makan aapa belum, ia tak peduli bagaimana Rara mendapatkan uang untuk bisa masak makan makanan yang enak, yang ia pedulikan, hanya dirinya sendiri. Bahkan tak jarang, ia memukul dan membentak Rara jika makanan yang di masak oleh Rara tak sesuai keinginannya, bahkan ia tak peduli jika Rara menangis dan mengeluh karena tak ada pegangan uang sama sekali, bahkan ia pernah mendengar bahwa Rara malu karena banyak hutang di warung. Tapi dengan teganya, ia masih memaksa Rara untuk menyediakan makanan tanpa peduli bagaimana kesusahan Rara saat itu.
__ADS_1
Mengingat itu semua, membuat dada Rian semakin sesak. Ia memukul dadanya agar bisa menghilangkan rasa sesak itu, nyatanya sekeras apapun ia memukul dadanya, rasa sesak itu tetap ada.
"Rara, maafin aku, Ra. Aku menyesal, Ra. Aku menyesal ... hiks ... hiks ...." Lagi, Rian menangis sendirians sambil menyakiti dirinya sendiri. Walaupun temannya tak suka karena Rian sudah menyianyiakan istrinya yang baik hati, tapi mellihat Rian menyiksa dirinya membuat mereka tak tega dan berusaha menenangkan Rian.