
Seminggu kemudian, kini di rumah Mama Sarah dan Papa Irvan cukup ramai. Bahkan di halamannya di dekor sedemikian rupa, ada seratus orang yang hadir di sana, termasuk beberapa dosen tempat Rayyan mengajar, beberapa teman terdekat Rara. Saudara Papa Irvan dan Mama Sarah serta tetangga dan juga rekan bisnis hadir di sana. Bahkan Lala dan Rian pun juga ikut hadir setelah dua hari yang lalu mereka mendapatkan undangan dari Rara yang datang langsung ke sana untuk memberingan undangan itu.
Sejujurnya, Rian tak ingin datang, hatinya terlalu sakit, bahkan selama dua hari ini, ia tak bisa bekerja, bahkan ia tak bisa makan, setiap kali makan bawaannya pengen muntah terus, ia hanya bisa diam di kamar dengan badan yang lemas. Kepala yang terasa pusing, anehnya tak bisa tidur.
Lala sendiri tak bisa melakukan apapun, karena ia sadar, kakaknya seperti ini karena mendapatkan undangan dari mantan istrinya. Mantan yang masih menempati posisi pertama di hatinya. Lala sendiri hanya bisa berdoa, semoga kakaknya segera mendapatkan pengganti yang lebih baik.
Dan hari ini, Lala dan Rian hadir di pesta pernikahan Rayyan dan Rara. Dengan tubuh yang lemas, Rian memaksakan dirinya untuk datang menemani Lala. Awalnya ia tak ingin datang, tapi setelah Lala memintanya dan memohon, mau gak mau Rian pun menyanggupinya. Karena bisa jadi ini hati terakhirnya ia bertemu dengan Rara. Lagian ia ingin membuktikan bahwa dirinya tak apa-apa, dan ia sudah ikhlas melepaskan Rara dan membiarkan Rara hidup bahagia bersama dengan laki-laki lain.
Rara memakai gaun pengantin yang sangat sederhana namun terlihat elegant, tertutup dan sangat cocok di tubuh Rara. Apalagi hiasannya membuat Rara terlihat seperti bidadari. Rayyan pun juga memakai baju dan jas yang senada dengan gaun pengantin milik Rara.
Rara dan Rayyan keluar dengan di temani oleh dua orang yang ada di samping kanan kiri mereka. Mereka berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan dimana pak penghulu sudah menunggu di sana. Rayyan dan Rara duduk di depan pak penghulu. Rara merasa gugup, karena saat ini ada banyak mata yang menatap ke arahnya. Rayyan pun juga gugup, padahal ia ingin ijab qobul cukup di dalam aja, tapi Mama Sarah malah meminta ijab qobul di depan dan para undangan yang akan menjadi saksi pernikahan mereka.
"Sudah siap?" tanya Pak Penghulu dan Rayyan pun menganggukkan kepala.
"Baik, kita mulai sekarang ya," ujar pang penghulu dan lagi-lagi Rayyan hanya menganggukkan kepala.
Dan akhirnya ijab qobul pun di lakukan dengan mahar uang sebesar SATU MILIAR. Bahkan semua orang yang mendengarny pun terkesima, termasuk Rian dan Lala, mereka tak percaya kalau maharnya akan sebesar itu. Rara sendiri pun juga tak kalah kagetnya, padahal ia hanya minta satu juta, bukan satu miliar. Sedangkan Mama Sarah dan Papa Irvan hanya tersenyum mendengarnya, karena tadi malam, Rayyan sudah membicarkan masalah ini dengan mereka, dan mereka pun menyetujuinya.
Setelah ijab qobul selesai, kini tinggal menikmati pestannya. Rayyan dan Rara pun mendapatkan selamat dari mereka semua, bahkan Rara dan Rayyan berdiri di pentas untuk berjabat tangan dengan para tamu undangan yang datang. Mama Sarah dan Papa Irvan pun juga sibuk untuk menyapa para tamu undangan yang datang. Sedangkan Pak Penghulu, setelah ia selesai menikahkan Rayyan dan Rara, langsung berpamitan pulang karena masih ada pengantin lain yang menunggunya.
Rian dan Lala naik ke atas pentas untuk berjabat tangan dengan Rayyan dan juga Rara.
"Selamat ya, Ra. Semoga kamu bahagiaa, aku minta maaf atas kesalahanku dulu," ujar Rian tulus.
"Makasih ya, Mas. Semoga kamu pun juga segera mendapatkan pengganti yang lebih baik dari aku," balas Rara yang di aminin oleh Rian.
Lalu Rian puun juga berjabat tangan dengan Rayyan, " Jaga Rara ya, dia wanita yang sangat baik." ucap Rian dan Rayyan pun menganggukkan kepala.
"Pasti, aku akan menjaga dan melindunginya segenap hatiku. Terima kasih sudah mau hadir di pernikahan kami,"
"Sama-sama," sahut Rayyan.
"Kak, selamat ya. Dan semoga Kakak bahagia dengan pernikahan Kakak kali ini, kita tetap berteman kan?" tanya Lala, dan Rara pun menganggukkan kepala.
"Tentu, selamanya kamu adalah adikku. Dan kamu bisa menhubungi aku, jika kamu butuh sesuatu," jawab Rara, karena memang mereka sudah bertukar nomor Hp.
"Iya, Kak."
Setelah memberikan selamat kepada Rara dan Rayyan, mereka pun berpamitan pulang dari sana, karena mereka tak bisa lama-lama mengingat kondisi Rian yang kurang baik.
Putri dan yang lainnya pun juga memberikan selamat kepada Rara dan RAyyan, sebenarnya mereka tak menyangka jika Rara dan Rayyan akan menikah meningat merkea itu saudara, tapi setelah tau, jika mereka hanya saudara angkat, mereka pun memakluminya.
\====
Satu tahun kemudian, Rara melahirkan bayi seorang laki-laki dan perempuan. yah, Rara melahirkan tiga anak kembar yang sangat cantik dan tampan. Tiga bulan setelah pernikahannya, Rara di nyatakan positif hamil. Namun walaupun begitu, Rara tetap melanjutkan kuliah, tentu Rayyan menjaga RAra dengan ketat, bahkan tak jarang, RAyyanlah yang mengerjakan tugas Rara di rumah jika Rara merasa capek dan lelah. Nafsu makan Rara pun jgua meningkat hingga membuat tubuh Rara bengkak, tapi setelah tau, jika bayi yang di kandungnya kembar, Rayyan dan kedua orang tuanya pun sangat bahagai sekali. Sejak saat itu, mereka malah sangat antusias membelikan apa yang Rara mau, bahkan tak peduli jika Rara makan dua sampai tiga piring. Bahkan sehari juga makan lebih dari lima kali, belum camilan yang selalu sedia di samping Rara.
__ADS_1
Rara kuliah sampai usia kehamilannya tujuh bulan, awalnya ia ingin sampai delapan bulan, tapi sayangnya kakinya bengkak, dan ia tak bisa jalan sehingga hanya bisa diam di kamar, bahkan untuk ke kamar mandipun harus di gendong. Rayyan selalu memperhatikan Rara dan menjadikan dia perioritasnya. Mama SArah dan Papa Irvann pun juga ikut merawat Rara dan membantu Rara. Perut Rara yang besar membuat Rara kadang kewalahan melakukan aktivitasnya sehingga membutuhkan orang lain.
Dan kinni dua bayi laki-laki tampan dan satu bayi cantik tengah di gendong oleh Rayyan, Mama SArah dan Papa Irvan. Rayyan menggendong anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki yang di kasih nama Rafathar yang artinya anak pertama yang tinggi derajatnya, sedangkan anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki yang kini tengah di gendong oleh Papa Irvan di kasih nama, Rafael yang artinya di berkati, sedangkan yang di gendong oleh Mama Sarah di kasih nama Rania yang artinya seorang Ratu. Rayyan berharap dengan di kasih nama Rania, ia akan menjadi anak yang bijaksana, cerdas dan cantik.
\====
Satu Minggu setelah Rara di rawat di rumah sakit, akhirnya kini ia bisa keluar. Rara menggendong Rafathar, karena Rayyan harus mendorong kursi roda mengingat kondiri Rara yang masih lemah. Sedangkan Mama Sarah berjalan di samping kanannya sambil menggendng Rania. Begitupun dengan Papa Irvan yang berjalan di samping kanan sambil menggendong Rafael.
Sesampai rumah, Rara langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan memberikan Rafathar ke Rayyan.
"Kamu istirahat dulu ya," ujar Rayyan dan Rara pun menganggukkan kepala. Semalaman Rara hampir tak tidur karena ketiga anaknya yang menangis dan harus di susui. Dan Rara tak ingin mereka minum susu formula, untuk itu, mereka akan gantian minumnya. Jadi sekali menyusui, ada dua anak yang harus di susui dan Rafathar selalu mendapat jatah belakangan karena Rafathar tak terlalu rewel seperi kedua adiknya.
Rayyan keluar dengan menggendong Rafathar. Sebenarnya bisa aja ia menaruhnya di box yang sudah di sediakan di samping ranjangnya, tapi RAyyan tak bisa melakukannya, karena ketiga anaknya sedikit manja, kalau taruh di box tidurnya hanya sebentar, lalu menangis kencang, berbeda jika di gendong, tidurnya akan sedikit lama.
"Rara sudah tidur, Ray?" tanya Mama Sarah yang duduk di ruang keluarga begitupun dengan Papa Irvan.
"Iya, Ma. Aku kasihan sama Rara, karena hampir semalaman dia tak tidur," sahut Rayyan sambil duduk di samping Mama Sarah.
"IYa, Mama juga gak tega. Sebenarnya kita bisa bantu dengan susu, kita bisa beli susu mahal yang bagus," ujar Mama Sarah.
"Iya, tapi Rara tak mau. Katanya ia masih sanggup menyusui ketiga anaknya."
"Iya dan kita tak bisa membantahnya. Apa kita perlu babysitter?" tanya Papa Irvan.
"'Ya kamu benar, lagian juga Mama gak ada kerjaan. Mama bisa bantu kamu merawat mereka," ucap Mama SArah.
"Baiklah, Papa juga akan bantu kamu, Papa akan mengambil kerjaan yang dekat aja dan menolak pekerjaan yang ada di luar kota apalagi luar negeri. Lagian tabungan keluarga kita sudah banyak, jadi gak perlu terlalu ngoyok lagi," ujar Papa Irvan.
"Makasih ya, Ma, Pa. Tanpa kalian, aku dan Rara pasti akan kebingungan merawat anak kami,"
"KIta kan keluarga, sudah seharusnya saling bantu. Lagian Mama senang mempunyai banyak cucu. Mama sungguh masih tak menyangka, jika kamu akan punya anak kembar tiga. Padahal di keluarga kita bahkan tak ada yang kembar,"
"Aku juga tak menyangka, Ma. Sekali Rara hamil, ia langsung melahirkan tiga anak," ucap Rayyan terkekeh
"Hehe iya, lebih baik setelah ini Rara KB dulu, bukan apa-apa, takutnya mereka masih kecil, Rara sudah hamil lagi. Nanti malah keteteran,"
"Iya, Ma. Nanti aku akan ngasih tau, Rara," ucap Rayyan, ia juga setuju karena ia tau, dirinya dan Rara sangat subur. Buktinya tiga bulan menikah, Rara langsung hamil dan langsung melahirkan anak kembar tiga. Jika mereka masih kecil lalu Rara hamil lagi, pasti akan kesulitan ke depannya.
Saat mereka berbincang tiba-tiba Rania menangis, "Kayaknya cucu Oma haus nih, apa kita bangunkan Rara, Ray?"
"Ya bangunin aja, Ma. Dari pada nanti Rafathar dan Rafael ikut-ikutan menangis karena mendengar saudaranya yang tengah menangis kehausan, lagian ini sudah lima belas menit sejak Rara tidur," ucap Rayyan.
Mama Sarah pun menganggukkan kepala, lalu ia berjalan ke kamar menantunya dan membangunkan Rara. Rara pun langsung bangun ketiga mendengar bayinya menangis, ia langsung duduk dan mengambil Rania dan menyusuinya.
"Kamu pasti masih ngantuk banget ya?" tanya Mama Sarah yang merasa kasihan.
__ADS_1
"Enggak papa, Ma. Lagian aku senang menjalani ini semua," jawab Rara sambil melihat putrinya yang tengah menyusu.
"Kamu hebat Ra, bisa melahirkan tiga anak sekaligus. Mama kagum sama kamu,"
"Hehe, aku pun tak menyangka. Tuhan akan memberikan kepercayaan tiga anak sekaligus. Semoga mereka semua menjadi anak yang sholeh dan sholehah ya Ma,"
"Aamiin, Sayang. Semoga."
\===
Di saat Rara dan Rayyan sudah hidup bahagia berbeda dengan Rian, ia juga sudah menikah enam bulan lalu. Ia menikah dengan mantan pacarnya saat SMA. Hanya saja kehidupan Rian sangat menyedihkan karena keuangan di atur oleh istrinya. Ia bahkan cuma di kasih jatah satu juta untuk pegangan selama sebulan. Sedangkan Lala, ia cuma di kasih jatah lima ratus ribu.
Rian sudah salah mengabil langkah, seharusnya ia fokus dulu membahagiakan adiknya itu, tapi setelah bertemu dengan mantarn pacaarnya, entah kenapa perasaan itu tumbuh kembali sehingga tanpa berfikir panjang, ia melamar dan menikahinya.
Lala pun hanya bisa pasrah mendapatkan jatah yang sedikit itu, untungnya ia kerja di toko sehingga ia bisa mendapatkan uang lebih dari sana dan tetap sekolah mengejar paket C. Lala juga memutuskan ngekos di tempat yang tak jauh dari tempat kerjanya, karena ia tak bisa hidup satu atap dengan kakak iparnya. Karena akan selalu ada selisih faham dan ia tak ingin membuat kakanya itu bingung harus membela siapa, antara adiknya atau istrinya.
Untuk itu, Lala mengalah, ia yang memilih keluar dari rumah itu dan belajar mandiri. Lagian ia kerja di gaji satu juta setengah perbulannya, di tambah ia juga mendapatkan jatah lima ratus ribu dari kakak iparnya, jadi total dua juta. Buat bayar kos lima ratus ribu tiap bulannya sedangkan sisanya untuk memenuhi kebutuhannya.
Sesekali Rian akan berkunjung ke kosan Lala untuk mengecek keadaan Lala dan memberikan oleh-oleh buat Lala seperti membelikan martabak atau yanng lainnya, tentu tanpa sepengetahuan istrinya. Jika sampai istrinya tau, pasti akan menjadi perang dunia di rumah tanggannya.
Rian sebenarnya ingin menceraikannya, karena kadang lelah di atur oleh istrinya itu, tapi saat ini istrinya itu tengah mengandung dua bulan, sehingga Rian hanya bisa pasrah dan berharap, istrinya itu bisa berubah dan hidup bahagia.
"Maafin kakak ya, La. Maaf karena kakak harus menikah lagi dan kalli ini kakak menikahi orang yang salah," ucap Rian merasa bersalah.
"Sudahlah, Kak. Jangan di fikirkan, mungkin ini balasan dari Tuhan karena dulu kakak menyia-nyiakan Kak Rara, pelit terhadap Kak Rara dan selalu mengatur Kak RAra. Mungkin sekarang Kak Rian mendapat karmanya sehingga Kak Rian mendaptkan posisi yang dulu pernah Kak Rara rasakan,"
"Huefft mungkin benar katamu, La. Padahal Kakak sudah menyesalinya dan sudah bertobat, tapi ternyata Tuhan kayaknya masih marah hingga memberikan ujian ini. OH ya La, kamu sudah tau kalau Rara sudah melahirkan?" tanya Rian.
"Iya, Kak. Aku sudah lihat di status Wanya bahkan juga di IG nya. Hebat ya Kak Rara, ia melahirkan tiga anak kembar,"
"Iya, La. Hidupnya benar-benar beruntung dan kakak ikut senang melihat kebahagiaannya."
"Semoga kelak Kak Rian pun bahagia hidup bersama pasangan kakak saat ini."
"Aamiin, semgoa aja. Kakak pulang dulu ya, Kamu makan aja terangbulannya mumpung masih hangat,"
"Iya, Kak."
"Kalau ada apa-apa, telfon kakak ya, La. Hp kakak aktiv dua puluh empat jam,"
"Iya, Kak. Siap."
Dan setelah itu, Rian pun pulang dengan wajah lesunya. Entahlah setiap kalli ia harus pulang ke rumahnya, ia merasa kesal, sedih, kecewa, marah dan yang lainnya. Karena setelah sampai rumah itu, pasti istrinya itu akan menyuruh Rian melakukan ini dan itu dengan alasan ia mager karena mengandung anaknya. Bahkan istrinya itu malas bersih-bersih sehingga Rian harus bersih-bersih sebelum berangkat kerja dan beli makanan di luar, karena istrinya yang tak mau memasak. BEgitupun saat pulang kerja, ia masih harus bersih-bersih lagi baru bisa istirahat. Entah sampai kapan ia harus bertahan dengan rumah tangga seperti ini. Setelah seharian ia bekerja keras dan berharap sampai rumah mendapatkan sambutan yang hangat, tapi yang ia dapatkan malah seperti ini. Ia diperlakukan layaknya pembantu. Dan Rian hanya bisa diam karena ia tak ingin membantah karena jika itu terjadi, istrinya akan mengomel sepanjang hari yang akan membuat telinganya panas karena mendengarkan ceramahnya yang panjang kali lebar.
"Ra, aku kini merasakan apa yang kamu rasakan. Rasanya berat sekali, Ra," gumam Rian dalam hati.
__ADS_1