
Keesokan harinya, seperti biasa. Rara melakukan aktivitas yang sudah ia lakukan setiap paginya. Pergi ke pasar jadi kuli panggul dan membeli tahu, tempe dan sayur di warung Ibu Arsih. Sebenarnya bisa aja ia beli di pasar dengan harga yang jauh lebih murah. Hanya saja, ia lebih suka belanja ke Ibu Arsih, karena jika ia tak ada uang. Ibu Arsih dengan suka rela mau memberikan ia hutangan, lalu bagaimana mungkin saat ia punya uang malah beli ke pasar. Bukankah itu gak adil.
Setelah dari pasar dan membeli tahu, tempe, sayur, cabe, tomat dan telur. Rara segera pulang ke rumah, ia segera memasak dan bersih-bersih rumah. Hingga tak terasa jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Dan ia melihat suaminya yang baru keluar kamar dengan pakaian rapinya yang sudah siap untuk berangkat kerja.
Rara melihat suaminya, mengambil piring, nasi dan lauk pauk. Lalu ia makan dengan nikmat tanpa memikirkan apakah Rara sudah makan atau belum. Dia terlalu memikirkan dirinya sendiri, tapi tak apa. Rara lebih suka seperti ini, di cuekin dari pada suaminya harus marah-marah dan membentak dirinya apalagi jika sampai main fisik.
“Nanti aku gak pulang,” ucapnya tanpa menoleh ke arah Rara. Rara pun tak berani menanyakan, alasan suaminya kenapa tak pulang ke rumah. Toh ini bukan sekali dua kali, sudah sering suaminya jarang pulang. Jadi, ia gak akan kaget lagi.
Setelah suaminya selesai makan, ia langsung pergi ke kamarnya dan berangkat kerja tanpa pamitan lebih dulu. Rara lagi-lagi hanya mendesah, menghilangkan rasa sesak di dada. Sejujurnya, ia juga lelah dengan rumah tangga yang seperti ini. Ia ingin menjalani rumah tangga normal seperti yang lainnya. Hidup bahagia, di perhatikan, di manjakan dan yang lainnya. Tapi Rara sadar, itu tak akan mungkin terjadi, kecuali ada sebuah keajaiban yang membuat suaminya mau berubah.
Setelah memastikan suaminya berangkat kerja, Rara langsung segera makan dengan cepat. Ia juga langung bersih-bersih rumah, kora-kora, nyapu, ngepel, menyapu halaman rumah, menata baju, menyetrika baju. Cuci baju dan menjemurnya, lalu ia menata kamarnya dan membersihkan semuanya sehingga benar=benar bersih tanpa ada satu benda yang tergeletak sembarangan.
Lalu ia segera mandi dan memakai baju yang cukup layak untuk ia pakai. Ia tak memakai bedak atau apapun, hanya cukup menyisir rambutnya saja, karena ia tak punya bedak untuk ia poles di wajahnya. Setelah berkaca sebentar, ia langsung keluar rumah, tak lupa ia mengunci pintu dengan rapat agar tak ada orang lain masuk ke dalam rumahnya saat ia tak ada di rumah.
“Mau kemana, Ra?” tanya Ibu Arsih yang melihat Rara lewat depan rumahnya.
“Mau kerja, Bu,” jawab Rara tersenyum.
__ADS_1
“Kerja di mana?” tanya Ibu Arsih yang kadang tak tega melihat hidup Rara yang penuh dengan ujian.
“Di rumah Ibu Sarah,”
“Ibu Sarah?” ulang Ibu Arsih.
“Iya, dia itu pelanggan aku, Bu. Yang sering memakai jasa aku buat bawa barangnya ke mobilnya. Aku kan kalau pagi jadi kuli panggul. Nah Ibu Sarah ini yang sering makai jasa aku, dan kemarin Ibu Sarah menawarkan aku jadi pembantu di rumahnya,” jawab Rara dengan semangat.
“Oh di mana rumahnya?”
“Wah itu cukup jauh, kamu naik apa ke sana?”
“Hehe jalan kaki,”
“Astagfirullah. Itu jauh loh Ra,”
“Gak papa, Bu. Sekalian olah raga, kalau lari pasti cepat nyampeknya,”
__ADS_1
“Biar di antar suami Ibu ya,” tawar Ibu Arsih karena kebetulan suaminya itu kerja narik becak. Hanya saja, sudah di modif jadi bentor, becak motor.
“Enggak usah, Bu. Saya lebih suka jalan kaki aja. Iya sudah ya, Bu. Saya pamit kerja dulu.”
“Iya sudah kamu hati-hati ya, Ra.”
“Iya, Bu.”
Dan setelah itu, Rara pun segera berangkat, sedangkan Ibu Arsih yang melihatnya hanya bisa mendoakan suatu saat Rara akan bahagia dan tak lagi menderita seperti ini. Ibu Arsih juga sejujurnya sangat kecewa dengan Rian, suami Rara. Yang tega memberikan uang nafkah hanya seratus ribu untuk sebulan. Jaman sekarang, uang seratus ribu hanya cukup untuk dua sampai tiga hari. Bahkan satu hari bisa habis.
Diriinya aja, yang suaminya hanya narik bentor, di kasih lima puluh ribu sampai seratus ribu perhari. Bahkan pernah dua ratus ribu perhati. Paling kecil tiga puluh ribu perhari. Sedangkan Rara yang suaminya kerja kantornya yang gajinya jutaan, hanya memberikan nafkah yang sangat tidak layak. Ibu Arsih hanya bisa mengutuk Rian, semoga Tuhan membalas suami yang suka dzolim terhadap istrinya.
Rara sendiri, ia sedari tadi terus berlari hingga keringat mulai membanjiri tubuhnya. Bahkan ketika ia sudah tak lagi mampu untuk berlari dan nafas mulai terengah-engah, ia akan berhenti dan duduk di pinggir jalan. Sungguh ia merasa lelah, padahal ia sudah lari hampir setengah jam dan ternyata jaraknya masih cukup jauh. Sialnya, ia lupa bawa uang sehingga ia tak bisa membeli air putih untuk mengobati rasa hausnya. Bahkan tenggorokannya pun terasa sangat kering sekali.
Setelah cukup lama duduk, ia akhirnya melanjutakn perjalanannya dengan lari lagi. Ia berharap ia bisa segera sampai agar ia bisa meminta sedikit air untuk mengobati tenggorokannya yang sudah sangat kering. Bahkan air liur pun tak bisa mengobati tenggorokannya saat ini.
“Tuhan … aku lelah. Mau sampai kapan hidupku seperti ini?” Rara hanya bisa mengeluh dalam hati.
__ADS_1