Bahagia Usai Bercerai

Bahagia Usai Bercerai
Pertemuan Rara Dengan Papa Angkat


__ADS_3

Malam harinya, Ibu Sarrah, Rara dan Rayyan berkumpul duduk santai di ruang tamu sambil menunggu seseorang datang. Tadi Rara dan Ibu Sarrah juga sudah memasak cukup banyak dan membuat beberapa kue untuk bisa di nikmati bersama. Awalnya Ibu Sarrah gak mau Rara terlalu capek, takut jika kepalanya masih sakit, tapi Rara yang kekeh ingin membantu Ibu Sarrah akhirnya Ibu Sarrah pun mengizinkan. Namun Ibu Sarrah tetap membatasi agar Rara tak terlalu kecapean.


"Ma, kok Papa lama ya?" tanya Rayyan yang duduk di dekat Rara sambil mengaji Rara aplikasi yang belum di ajari oleh mamanya, dan lagi Rayyan juga mengajari banyak hal serta memberikan nasihat buat Rara agar tak menyalah gunakan media sosialnya.


"Bentar lagi pasti sampai," jawab Ibu Sarrah yang juga sibuk dengan hpnya. Rayyan hanya geleng-geleng kepala melihat mamanya yang begitu santai menanggapinya, tak seperti dirinya, yang selalu khawatir, takut jika papanya kenapa-napa.


"Mas, ini gimana?" tanya Rara ketika ia bingung dalam mempelajari aplikasi Xy.


"Kayak gini, mudah kok, kalau kamu memperhatikannya, oh ya sekalian kamu download aplikasi ini deh buat kamu belajar bahasa inggris dan belajar beberapa bahasa yang kamu inginkan, dan di sini juga banyak ilmu yang kamu pelajari, seperti ilmu manajemen dan yang lainnya," jawab Rayyan sambil mengajari Rara memakai aplikasi Xy lallu setelah itu mengarahkan Rara untuk mendownload aplikasi yang lagi booming saat ini, aplikasi yang sangat membantu para mahasiswa/i yang butuh pemahaman lebih dalam lagi. Ada banyak pelajaran yang bisa di pelajari yang di ajari langsung oleh orang yang memang ahlinya. Tentu untuk memakai aplikasi itu gak gratis, harus bayar pebulannya dan lebih irit jika daftar satu tahun, harganya lebih murah.


"Mas Ray, aplikasi yang ini bayar ya," ucap Rara mengernyitkan dahitnya lalu memberitahu ke arah Rayyan.


"Iya, biar aku yang bayar, tagihannya langsung arahkan ke aku aja," ujar Rayyan sambil mengambil alih hp Rara dan memasukkan pembayaran ke hpnya, sehingga Rara bisa memakai sepuas mungkin tanpa harus bingung bayar perbulannya.


"Ini sudah bisa di pakai," Rayyan memberikan Hpnya lagi.


"Makasih ya, Mas."


"Sama-sama."


Setelah itu, Rara pun fokus ke hpnya, sedangkan Rayyan sesekali memperhatikan apa yang Rara pelajari. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu. Ibu Sarrah dengan sigap langsung bangun dari tempat duduknya dan menaruh Hpnya di meja begitu aja, lalu ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Asalamualaikum, Sayang," ucap seseorang paruh baya. Sambil memeluh Ibu Sarrah dan memberikan beberapa kecupan di wajahnya.


Melihat itu, Rara langsung mengalihkan wajahnya, ia malu melihat adegan itu, walaupun ia sudah bersuami, tapi Rara bahkan tak pernah terang-terangan ciuman seperti itu. Berbeda dengan Rayyan yang sudah terlihat biasa aja, melihat adegan mesra mereka.


Setelah menjawab salam, Rayyan langsung bersalaman dengan papanya itu, tak ada pelukan atau ciuman yang ia dapatkan. Karena ia anak laki-laki, dan ia juga pasti akan merasa geli jika mendapatkan pelukan seorang ayah, karena Rayyan merasa dia sudah dewasa dan ia sudah tak mau mendapatkan ciuman pipi lagi, ataupun pelukan yang biasanya ia dapatkan saat masih kecil.


"Loh Zahra," ujar laki-laki itu yang mengenali wajah Rara.


"Zahra? Om kenal aku?" tanya Rara.

__ADS_1


"Kamu lupa sama Om?" tanyanya balik.


Zahra berusaha mengingat, tapi ia tetap saja tak ingat.


"Ya ampun, padahal masih muda, sudah lupa," ujarnya terkekeh. "Dulu, Om yang menolong kamu waktu di bully sepulang sekolah sama teman-teman kamu, terus kita ketemu lagi saat kamu jualan bantu Ibu kamu, dan ketiga kalinya, Om bantu kamu karena uang kamu yang di rampas oleh para preman pasar itu, kamu lupa?" tanya Om Irvan sambil geleng-geleng kepala karena ia bahkan sangat ingat dengan wajah wanita yang ada di hadapannya.


"Bentar, aku lupa hehe," Rara mencoba untuk mengingatnya lagi dan yah setelah beerapa menit, ia pun akhirnya mengingatnya.


"Ya Allah, Om Irvan kan?" tanyanya.


"Iya, baru ingat. Astaga, kamu benar-benar gadis pelupa," ucap Om Irvan terkekeh.


"Habisnya penampilan Om sekarang sama dulu beda, jadi aku agak bingung sih," jawab Rara jujur.


"Jadi kalian pernah bertemu?" tanya Ibu Sarrah.


"Pernah," jawab Rara dan Om Irvan bersamaan.


"Ya, Mama ingat,"


"Ya, anak kecil yang Papa maksud ya Zahra ini," ucap Om Irvan.


"Ya Ampun, kenapa kebetulan sekalli ya. Jadi wanita yang Papa tolong itu, Rara,"


"Iya, Ma," balas Om Irvan terkekeh.


"Makasih ya, Om. Dulu Om sering bantu aku, dan sekarang Mama Sarrah dan Mas Rayyan juga bantu aku dari kesulitan hidup aku," ucap Rara tak enak hati.


"Ya, mungkin Tuhan mempertemukan kita, karena pasti ada tujuannya, Ra. Jadi kamu di panggil Rara sekarang?" tanya Om Irvann.


"Iya, Om. Sebenarnya Zahra hanya nama panggilan aku saat di sekolah aja, tapi di luar sekolah aku di panggil Rara, lebih simple," jawab Rara.

__ADS_1


"Oh ya, jangan panggil Om dong, Ra. Panggil Papa mulai sekarang, iya kan pa?" tanyya Rayyan.


"Iya, masak ke istriku manggil Mama, terus ke aku panggil Om, kan gak lucu. Jadi sekarang, kamu resmi jadi putriku nih," goda Om Irvan.


"Hehe iya, Pa. Semoga Papa menerima kehadiran aku,"


"Pasti, Papa menerima kamu di rumah ini dengan tangan terbuka, kamu wanita baik, pekerja keras. Bagaimana mungkin Papa gak nerima kehadiran kamu, apalagi Mama dan Ray sudah sangat menyayang kamu. Mulai sekarang, kita adalah keluarga dan kedepannya, jika ada apa-apa, jangan ragu bilang sama Papa ya, Papa akan menjadi pelindung buat kamu, entah itu dulu, saat ini atau dimasa depan, Papa akan melindungi kamu," ujar Om Irvan.


"Iya, Pa. Terima kasih ya, Pa." Om Irvan pun memeluk Rara seperti putrinya sendiri, melihat itu, Rayyan dan Ibu Sarrah pun tersenyum, mereka senang karena akhirinya apa yang di khawatirkan gak terjadi.


"Iya sudah ayo masuk, Pa. Tadi aku dan Mama bikin kue, tapi lebih baik makan malam dulu deh, biar gak dingin. Soalnya kalau lauk paukknya sudah dingin semua pasti ga enak," ujar Rara sedikti manja.


"Baiklah, Tuan Putri. Papa akan makan, pasti rasanya enak karena kamu yang bantu Mama," ucap Om Irvan.


"Pastinya dong," ujar Rara tersenyum.


Dan setelahnya, mereka pun akhirnya pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama. Setelah selesai makan, mereka pun duduk di ruang tamu di temani kue kering buatan Rara dan Mama Sarrah. Mereka mengobrol sekitar sejaman, karena setelah itu, Om Irvan pamit untuk istirahat lebih dulu, Ibu Sarrah pun mengikuti suaminya ke kamarnya.


Dan kini hanya ada Rara dan Rayyan.


"Kamu mau ke kamar juga?" tanya Rayyan.


"Enggak, aku mau di sini dulu, lagian belum ngantuk," jawab Rara sambil memainkan hpnya lagi.


"Aku gak nyangka, ternyata sebelumnya kamu sudah pernah ketemu Papa," ucap Rayyan sambil melihat ke arah Rara.


"Aku juga gak nyangka, orang yang dulu pernah menolongku berkali-kali, ternyata Om Irvan, eh maksud aku Papa Irvan. Lucu ya, jika dulu Papa yang bantu aku, kini Mama dan Mas Ray yang bantu aku,"


"Yah, mungkin ini adalah takdir Ra, dan kini kamu adalah adikku, bagian dari keluarga ini,"


"IYa, Mas. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu."

__ADS_1


Mereka pun mengobrol hingga jam setengah sepuluh, Rara pamit untuk masuk ke kamarnya karena ia sudah mulai mengantuk.


__ADS_2