
Seminggu sejak Rian keluar dari penjara, ia sudah melamar ke sana kemari, nyatanya sampai detik ini, tak ada satupun yang menerima dirinya bekerja di tempat mereka, dan itu membuat Rian cukup frustasi apalagi ia juga tak bisa menemukan keberadaan Rara sampai detik ini. Sedangkan Lala, ia juga tak bisa menemani Rian karena ia kini tengah menjaga Ibunya yang terbaring di rumah sakit. Yah, ibunya menderita stroke setelah jatuh di kamar mandi. Melihat itu, membuat Lala hanya bisa menangis. Apalagi perawatan Ibunya pun tak murah hingga membuat Lala terpaksa menjual semua barang-barang yang ada di rumahnya, dari emas miliknya dan milik ibunya, sepeda motor miliknya, dan juga kursi, dan barang-barang yang bisa ia jual, ia jual semuanya, termasuk lemari baju. Karena ia tak bisa meminta bantuan ke kakaknya karena ia tau kakaknya pun juga kesulitan dan belum mendapatkan pekerjaan sampai saat ini, bahkan barang-barang yang ada di rumah kakaknya pun juga sudah gak ada sehingga rumah itu kosong dan hanya menyikakan kasur lantai dan lemari plastik untuk menampung baju kakaknya.
Mengingat itu membuat Lala sedih, tak menyangka jika kehidupannya berubah drastis seperti ini, tapi ia tau, ini adalah akibat dia sudah dzlim terhadap kakak iparnya, jadi ia akan berusaha menerimanya dengan ikhlas. Ia juga tak mengatakan ke Rian, jika ibunya masuk rumah sakit, karena Lala tak ingin membuat beban kakaknya semakin bebat dan ia pun masih bisa mengatasi masalahnya, dan Lala juga akan memutuskan untuk berhensi sekolah dan fokus sama keluarganya yang jauh lebih membutuhkan dirinya.
Untungnya Rian yang sibuk mencari kerja sana sini, dan sibuk mencari keberadaan istrinya, membuat ia lupa untuk menjenguk Ibunya dan bahkan ia tak sadar jika sudah berapa hari ini, Lala tak datang ke rumahnya. Namun Rian pun juga tak mempermasalahkan, karena ia mengira ibunya sibuk jualan sembako di rumahnya dan Lala sibuk sekolah, tanpa tau apa yang terjadi sebenarnya.
Dan hari ini, setelah ia membeli nasi bungkus yang tujuh ribuan dan air mineral tiga ribu untuk sarapan pagi, Rian akan mencari kerja lagi. Namun sebelum ia berangkat, seseorang datang dan mengantarkan surat padanya.
"Apa benar ini rumah Pak Rian?" tanya laki-laki itu.
__ADS_1
"Ya, saya sendiri. Ada apa ya?" tanya Rian balik.
"Oh ini ada surat panggilan dari Kantor Pengadilan Agama," laki-laki itu memberikan amplop itu ke Rian. Dan setelah memberikan amplop itu, laki-laki itu segera pergi karena masih ada kerjaan yang lainnya.
Rian pun segera membuka amplop tersebut dan betapa katenya dia setelah tau, kalau ternyata Rara telah mengajukan cerai. Rian tau, buku nikahnya sudah tak ada, dan ia yakin Rara membawanya. Tapi yang membuat ia tak menyangka, kenapa Rara berani menggugat cerai dirinya. Apakah Rara ingin benar-benar ingin berpisah dengannya. Membayangkan hal itu membuat Rian emosi. Ia meremas surat itu dengan tangan mengepal. Ia tak ingin menceraikan Rara, ia akan mempertahankan Rara untuk terus berada di sampingnya dan menjadi istri satu-satunya dan menjai ibu dari anak-anaknya kelak.
"Rara, kamu dimana? Kamu jahat, Ra. Kenapa kamu menggugat cerai aku, sefatal itu kah kesalahanku, Ra. Sebenci itukah kamu ke aku, Ra. Sampai kamu ingin lepas dariku?" tanya Rian menangis. Ia memukul tembok hingga membuat tangannya terluka, tak peduli rasa sakit yang ia rasakan, saat ini bahkan hatinya jauh lebih terasa sakit dan terasa sesak.
"Kamu boleh siksa aku, Ra. Kamu boleh pukuli aku seperti aku yang mukul dirimu selama ini, kamu boleh menghiina dan memaki aku, kamu boleh melakukan apapun, tapi jangan pernah tinggalin aku, Ra. Aku menyesal, Ra. Aku menyesal," RIan berbicara dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
"Aaaaaaa .... Kenapa, Tuhan? Kenapa hidupku seperti ini. Kenapa? AKu menyesal, Tuhan. AKu menyesal, sudah menyia-nyiakan istriku selama ini. Tak adakah kesempatan kedua untukku. AKu akan memperbaikinya, aku akan memperbaiki semua kesalahanku, Tuhan." Rian benar-benar frustasi dengan semua yang terjadi ke dalam kehidupannya.
Sedangkan Lala, saat ini ia pun juga tengah frustasi karena kondisi Ibunya yang semakin memburuk dan harus segera di operasi secepat mungkin.
"Kemana aku harus dapat, uang? Haruskan aku membebani Kak Rian lagi dengan masalah Ibu. Selama ini Kak Rian sudah memanjakan aku dan IBu, sampai mengabaikan istrinya. Apalagi saat ini kondisi Kak Rian pun juga tak seperti dulu lagi dan aku yakin, Kak Rian juga tak akan punya uang sebanyak itu. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Lala menangis, ia merasa putus asa. Ia sekarang sendirian menatap wajah ibunya.
"Aku harus menyelamatkan, IBu. AKu gak mau Ibu ninggalin aku gitu aja, baiklah aku akan pinjam Ke Pak Karto dulu, masalah bunga dan yang lainnya, aku bisa memikirkan belakangan. Yang penting Ibu bisa di operasi lebih dulu." Akhirnya Lala pun pergi dari sana, dan pergi ke rumah Pak Karto, seorang rentenir di desanya.
Lala naik menggunakan ojek dengan uang yang ada padanya, uang hasil dari kemarin ia jugal barang-barang di rumahnya, bahkan isi tokonya pun ia jual murah agar cepat laku, tentu para tetangga di dekatnya, langsung membeli banyak untuk stok di rumahnya, apalagi Lala menjual dengan harga miring agar cepat laku dan uangnya bisa buat tambah-tambah bayar rumah sakit dan membeli obat ibunya.
__ADS_1
Dan kini rumah itu sama seperti rumah milik kakaknya, tak ada isinya. Hanya ada cangkang, tapi isinya kosong, tak aada lagi barang berharga yang bisa di jual kecuali rumah itu sendiri. Dan ia tak mungkin jual rumah itu karena ibunya pasti akan marah, di tambah rumah itu adalah rumah yang punya banyak kenangan. Ia pun juga pasti akan di marahi oleh kakaknya jika itu sampai terjadi.