
Rian kini tengah ada di ruangan Manager HRD. Ia duduk dengan menundukkan kepala, ia bahkan tak sanggup untuk menegakkan wajahnya di hadapan Pak Trio, manajer HRD.
"Rian, kamu itu laki-laki baik, pekerjaan kamu pun bagus, kamu juga sangat bertanggung jawab dengan pekerjaan kamu selama ini, bahkan kamu terkenal sangat royal dan juga punya etika tinggi. Kamu sangat menjaga tutur kata kamu, ramah, sopan dan berjiwa sosial tinggi. Bahkan kamu juga selalu membantu teman-temanmu yang kesusahan," jeda Pak Trio. Dia emang tau tentang Rian, karena Rian merupakan karyawan tetap yang pekerjaannya patut untuk di acungi jempol. Dan Pak Trio juga cukup dengan karyawan di sini, untuk itu, ia cukup tau setiap sifat mereka masing-masing.
"Tapi hari ini, hari ini saya dikejutkan dengan vidio yang beredar di kantor, bahkan vidio itu juga viral di media sosial. Banyak yang mengetaq perusahaan ini hinga perusahaan ini pun ikut tercoreng gara-gara perbuatanmu itu. Sampai detik ini, saya masih berfikir, itu hanyalah sebuah prank, tapi nyatanya apa yang saya tonton adalah vidio asli yang memperlihatkan sifat kamu yang asli. Jujur, saya kecewa. Bahkan masih tak menyangka, di balik sifat kamu yang terlihat sempurna, kamu pria yang sangat kejam dalam memperlakukan istri kamu, istri yang berjuang keras demi memberikan kamu makan yang enak, istri yang mencuci bajumu, istri yang membersihkan rumah yang kalian tempati, istri yang merawat kamu di kala sakit, istri yang selalu ada buat kamu. Kenapa, Rian? Kenapa kamu harus seperti ini? Kenapa kamu harus baik pada semua orang, jika pada akhirnya kamu malah menyiksa istrimu. Buat apa kamu mentraktir teman-temanmu, jika pada akhirnya kamu memberikan istrimu nafkah yang bahkan amat sangat tidak layak sekali. Kenapa?" tanya Pak Trio yang sangat kecewa terhadap karyawannya.
"Maaf, Pak," ucap Rian.
"Bukan kepada saya kamu meminta maaf Rian, tapi kepada istrimu. Istri yang kamu siksa sedemikiran rupa. Kamu gak ikut membesarkan dia dari kecil, kamu gak ikut merawat dia, tapi kenapa saat kamu menjadikan dia istri. Kamu malah menyiksa lahir bathin? Kenapa kamu menikahinya jika pada akhirnay kamu membuat dia menderita?" tanya Pak Trio. Jujur, ia juga benci dengan sikap Rian yang seperti ini, hanya hanya bisa menindas kaum lemah. Ia jadi keingat dengan putrinya, putri yang ia sayangi yang meninggal karena mendapatkan KDRT dari suaminya. Dan melihat sikap Rian mengingatkan dirinya dengan penderitaan putrinya yang selalu mendapatkan sikap kasar dari suaminya. Sayangnya putrinya terlalu bodoh, ia tak mau menceritakan semua itu ke orang tuanya dan memilih memendam semuanya sendiri hingga akhirnya ia meninggal di tangan suaminya sendiri. Mengingat hal itu, membuat Pak Trio mengepalkan tangannya. Ia benci, benci dengan laki-laki yang suka main tangan.
Rian sendiri pun merasa malu banget, malu karena sifat aslinya kini sudah di ketahui banyak orang. Tapi jujur, tak ada rasa kasihan sedikitpun untuk istrinya, karena ia berfikir Rara pantas mendapatkan itu semua. Lagian sudah seharusnya Rara bekerja keras untuknya, karena selama ini ia sudah bekerja dari pagi sampai sore. Walaupun ia tau, uang itu sepenuhnya bukan hanya untuk ia berikan kepada Rara, tapi kepada ibunya dan juga adiknya yang butuh uang sekolah. Serta untuk bersenang-senang agar bisa melepas rasa penat setelah kerja seharian.
__ADS_1
"Rian, mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja lagi,"
"Maksud Bapak apa?" tanya Rian kaget.
"Dengan berat hati, perusahaan mengeluarkan kamu. Saya dan beberapa pihak perusahaan sudah melakukan meeting tadi dan keputusan kami, kami terpaksa mengeluarkan kamu secara tidak hormat. Dan lagi pemilik perusahaan juga tak mau memperkerjakan seorang karyawan yang suka ringan tangan. Di tambah, kini perusahaan dalam kondisi tidak baik-baik saja, karena vidio kamu yang viral itu hingga mencoreng nama baik perusahaan. Ini pesangon kamu," Pak Trio memberikan amplop yang berisi kepada Rian.
"Tapi, Pak ...." belum selesai Rian bicara, Pak Trio langsung memotongnya.
Mendengar kata polisi, membuat Rian merasa takut. Tapi ia percaya jika Rara tak mungkin melaporkan dirinya ke polisi. Apalagi ini bukan pertama kali, ia melakukan kekerasan terhadap Rara, dan selama ini baik-baik aja.
Hanya saja, yang ia tak habis fikir, kenapa ia bisa terekam kamera saat ia memukul Rara. Apakah Rara memasang CCTV di rumah. Tapi dari mana Rara membeli CCTV yang harganya cukup mahal, dan kapan Rara menaruh CCTV itu. Dan lagi, sejak kapan Rara punya pemikiran untuk menaruh CCTV di dalam rumahnya. Dan masalah ia tidur dengan wanita lain di hotel, kenapa bisa tersebar dalam waktu bersamaan. Akankah ada seseorang yang tidak menyukainya dan mencoba untuk menjatuhkannya.
__ADS_1
Rian terus saja berfikir, hingga tak mendengar ucapan Pak Trio.
"Rian, jika sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, segera keluar dari ruangan ini. Karena saya masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," usir Pak Trio.
Mendengar hal itu hanya membuat Rian mengangguk pasrah, ia pun bangkit dari tempat duduknya dan segera pergi dari ruangan Pak Trio. Ia menatap ampop yang mungkin hanya cukup untuk kebutuhannya sebulan, dan setelah itu apa yang harus ia lakukan mengingat dirinya yang tengah viral, pasti akan susah buat dirinya cari kerja lagi, di tambah ia di pecat secara tidak hormat. Akankah ada perusahaan yang mau menerimanya bekerja di perusahaan mereka.
Melihat Rian keluar dari ruangan Pak Trio, lagi-lagi ia mendapatkan cibiran dari semua teman-temannya, apalagi saat tau jika Rian di pecat dari perusahaan, membuat mereka malah senang karena tak satu kantor lagi dengan laki-laki kejam seperti Rian.
Rian pun hanya bisa pasrah saat dirinya di hina, di cibir habis-habisan oleh temannya. Tak ada satupun di antara mereka yang mau menolongnya, padahal dulu Rian sering kali membantu mereka saat mereka lagi susah. Tapi saat ada kejadian seperti ini, mereka semua seakan kompak memusuhinya dan membencinya.
Ternyata benar, sebanyak apapun kita berbuat baik, tapi saat kita melakukan kesalahan. Maka kebaikan itu akan terlupakan begitu saja, yang di ingat hanyalah kesalahan yang ia buat. Mengingat itu membuat Rian tertawa miris.
__ADS_1
Ia pun segera pergi dari perusahaan itu, karena tak mau mendengar omongan mereka yang membuat dirinya semakin sakit hati.